Polusi Mobil Listrik

Kamis, 12 Februari 2026 | 06:10 WIB
Polusi Mobil Listrik
[ILUSTRASI. Asnil Bambani Amri (KONTAN/Indra Surya)]
Asnil Bambani | Senior Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Permintaan adanya insentif atau subsidi kendaraan listrik kembali bergulir di ruang publik. Banyak pemangku kepentingan menyampaikan urgensinya dengan berbagai alasan, mulai dari menjaga momentum penjualan hingga mempercepat transisi energi, khususnya untuk segmen mobil listrik.

Di sisi lain, pelaku industri minim sekali menyikapi dampak lingkungan kendaraan listriknya. Perdebatan berhenti pada pengurangan emisi knalpot. Padahal, kendaraan listrik mulai dari produksi baterainya butuh penambangan skala besar. Termasuk dampak limbah baterai jika tak dikelola. Belum lagi dampak partikel ban mencemari udara. 

Karena industri kendaraan listrik kembali mengajukan insentif, maka penyetor pajak tentu berhak bertanya, apa yang telah dilakukan industri kendaraan listrik terhadap lingkungan? baik di hulu sampai ke hilir seperti limbah baterai. 

Memang, kendaraan listrik tak menghasilkan emisi gas buang langsung. Tetapi banyak riset menunjukkan, polusi kendaraan tidak hanya dari knalpot saja. European Environment Agency (EEA, 2022) melaporkan, emisi kendaraan juga berasal dari abrasi ban, kampas rem, yang menghasilkan partikulat halus (PM2.5 dan PM10). 

Dalam kajian EEA, saat emisi knalpot turun, kontribusi emisi non-knalpot justru naik. Salah satunya tentu dari kendaraan listrik yang memiliki bobot lebih berat akibat baterai, mengingat bobot kendaraan listrik bisa 20%–30% lebih berat dibanding kendaraan konvensional sehingga daya gesek bannya memperbesar pelepasan partikel. 

Kajian OECD (2020) menyebut, keausan ban merupakan salah satu sumber utama mikroplastik di lingkungan. Kajian ini dibuktikan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Oktober 2025 lalu, mereka menemukan adanya mikroplastik dari air hujan yang turun di Jakarta.

Begitu juga dengan limbah baterai, yang mengandung nikel, kobalt, dan mangan. Jika tidak dikelola, limbah berpotensi menimbulkan risiko lingkungan dan kesehatan, termasuk pencemaran tanah dan air akibat logam berat. Dengan fakta ini, pembayar pajak tentu berhak menanyakan, sejauh mana industri kendaraan listrik menyelesaikan masalah lingkungan ini? 

Untuk itu, sudah saatnya pembayar pajak menagih akuntabilitas industri yang selama ini menikmati insentif fiskal. Ekonomi hijau bukan sekadar soal ganti mesin, melainkan memastikan siklus produk dari tambang hingga daur ulang berjalan dalam prinsip keberlanjutan.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Pemerintah Mengejar Pajak Digital Namun Pajak Orang Kaya Belum Optimal
| Jumat, 06 November 2026 | 14:29 WIB

Pemerintah Mengejar Pajak Digital Namun Pajak Orang Kaya Belum Optimal

Pajak dengan tarif 1% hingga 2% untuk kekayaan di atas Rp 84 miliar bisa meraup tambahan penerimaan hingga Rp 142,2 triliun setiap tahun.

Kekalahan Republik di Pemilu Sela AS Mendorong Ekspektasi Harga Minyak Akan Mendingin
| Jumat, 06 November 2026 | 12:45 WIB

Kekalahan Republik di Pemilu Sela AS Mendorong Ekspektasi Harga Minyak Akan Mendingin

Ketidakpastian konflik Timur Tengah masih menjadi faktor dominan yang menentukan arah harga minyak dalam jangka pendek.

Risiko Premium Melonjak, Waspada Gelombang Tekanan Pendanaan Korporasi Jelang 2027
| Jumat, 06 November 2026 | 10:55 WIB

Risiko Premium Melonjak, Waspada Gelombang Tekanan Pendanaan Korporasi Jelang 2027

Alternatif pembiayaan bagi korporasi selain obligasi juga tidak mudah didapat dan biayanya belum tentu lebih murah.

Bedah IPO ANDA: dari Profil Bisnis, Kinerja Keuangan, Hingga Perhitungan Valuasi
| Jumat, 06 November 2026 | 09:38 WIB

Bedah IPO ANDA: dari Profil Bisnis, Kinerja Keuangan, Hingga Perhitungan Valuasi

Selain batubara, mulai tahun ini PT Andalan Artha Primanusa Tbk (ANDA) mulai merambah bisnis jasa pertambangan nikel.

IMC Pelita Logistik (PSSI) Bagikan Saham Bonus
| Jumat, 06 November 2026 | 09:27 WIB

IMC Pelita Logistik (PSSI) Bagikan Saham Bonus

Aksi korporasi ini telah memperoleh persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 28 Oktober 2026.​

Penjualan Tumbuh, Kepulan Laba Emiten Rokok Masih Tebal
| Jumat, 06 November 2026 | 09:17 WIB

Penjualan Tumbuh, Kepulan Laba Emiten Rokok Masih Tebal

Mayoritas emiten rokok berhasil mencatatkan pertumbuhan laba bersih di sepanjang sembilan bulan tahun 2026.

Bedah Prospek HRUM: Lonjakan Laba, Beban Sulfur, Tekanan MHP, dan Rekomendasi Saham
| Jumat, 06 November 2026 | 09:11 WIB

Bedah Prospek HRUM: Lonjakan Laba, Beban Sulfur, Tekanan MHP, dan Rekomendasi Saham

Pada kuartal IV-2026, PT Harum Energy Tbk (HRUM) diproyeksikan mulai menanggung beban harga pasar sulfur secara penuh.

Rogoh Kocek Rp 150 Miliar, ISSP Rancang Aksi Buyback
| Jumat, 06 November 2026 | 09:10 WIB

Rogoh Kocek Rp 150 Miliar, ISSP Rancang Aksi Buyback

Lewat buyback, emiten produsen pipa baja memperkirakan dapat membeli 250 juta saham atau setara 3,48% dari total saham yang telah diterbitkan.​

PANI Meraih Marketing Sales Rp 3 Triliun Per September 2026
| Jumat, 06 November 2026 | 09:05 WIB

PANI Meraih Marketing Sales Rp 3 Triliun Per September 2026

Penjualan ditopang segmen residensial yang menyumbang lebih dari separuh total prapenjualan perusahaan.​

Saham Perbankan Menyetir Arah IHSG
| Jumat, 06 November 2026 | 09:00 WIB

Saham Perbankan Menyetir Arah IHSG

Sejak saham terkonsentrasi dikecualikan, trio saham bank besar menguasai bobot Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

INDEKS BERITA

Terpopuler