Prospek Manis Kinerja Ekspor Kakao Indonesia

Kamis, 05 Februari 2026 | 04:10 WIB
Prospek Manis Kinerja Ekspor Kakao Indonesia
[]
Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Fahriyadi .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dewan Kakao Indonesia (Dekaindo) memproyeksikan ekspor kakao Indonesia tetap prospektif, dengan peningkatan yang bisa mencapai 5% hingga 10% pada tahun ini dibandingkan tahun lalu.

Berdasarkan data Dekaindo, sepanjang Januari–November tahun lalu, total nilai ekspor kakao sebesar US$ 3,36 miliar, meningkat 8,09% dari US$ 3,11 miliar pada Januari–Oktober 2025. Adapun nilai ekspor tersebut termasuk biji kakao, pasta, lemak, bubuk dan cokelat.

Ketua Umum Dekaindo, Soetanto Abdullah mengatakan, pada awal tahun ini ekspor kakao Indonesia juga menunjukkan tren positif, meskipun harga sempat terkoreksi di Januari 2026. Namun, pada Februari tahun ini, harga referensi (HR) dan harga patokan ekspor (HPE) biji kakao mulai merangkak naik.

Baca Juga: Harga Biji Kakao Mulai Kembali Normal

"Kenaikan harga referensi dan harga patokan ekspor biji kakao Februari tahun ini salah satunya didorong oleh peningkatan permintaan dan suplai," ucap dia kepada KONTAN, Rabu (4/2).

Sebagai informasi, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan menetapkan harga referensi biji kakao pada Februari 2026 sebesar US$ 5.717,45 per metrik ton (MT). Jumlah tersebut meningkat 0,97% dibandingkan Januari 2026. Hal ini berdampak pada peningkatan harga patokan ekspor biji kakao menjadi US$ 5.350 per MT, naik 1,03% dibandingkan Januari 2026.

Soetanto menjelaskan, penentuan harga ini dilakukan dengan mengacu pada rata-rata harga Cost, Insurance, dan Freight (CIF) di bursa internasional, terutama CIF NYMEX.

Sementara itu, menurut dia, peningkatan permintaan tanpa suplai yang cukup akan menaikkan harga. "Sedangkan peningkatan suplai dari produsen utama, Afrika Barat, akan menurunkan harga," kata dia.

Selain itu, rencana masuknya komoditas kakao ke perdagangan bursa berjangka Indeks Komoditas Bloomberg disebut turut memengaruhi harga.

Kenaikan harga referensi yang memengaruhi HPE akan berpengaruh terhadap besarnya bea keluar dan pungutan ekspor biji kakao yang saat ini masing-masing sebesar 7,5%. "Jadi eksportir biji kakao akan membayar total sebesar 15% dari HPE tersebut," kata dia.

Serapan industri

Sementara itu, Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) mengungkapkan bahwa sebagian besar biji kakao Indonesia terserap oleh industri pengolahan kakao dalam negeri.

"Maka, (industri pengolahan) sudah memberikan nilai tambah berupa produk setengah jadi untuk keperluan pasar domestik dan ekspor," kata Ketua Umum DPP Askindo, Jeffrey Haribowo.

Dengan begitu, Askindo berharap kinerja industri pengolahan kakao akan tetap berkembang, yang dapat dioptimalkan dengan peningkatan serapan bahan baku dalam negeri.

Dalam hal ini, untuk mengimplementasinya, Jeffrey mengatakan industri membutuhkan kerja sama, khususnya dengan petani, untuk meningkatkan produktivitas tanaman kakao. Pasalnya, mengoptimalkan produktivitas masih menjadi tantangan bagi para pelaku di komoditas kakao.

Jeffrey bilang, data International Cocoa Organization (ICCO) menunjukkan mulai adanya potensi peningkatan produksi biji kakao Indonesia, setelah kondisinya menurun dalam 10 tahun terakhir.

"Saat ini kami sedang berkoordinasi secara insentif dengan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) untuk mendapatkan gambaran lebih akurat terkait pertumbuhan industri pengolahan kakao tahun 2025," jelas dia.         

Selanjutnya: Pertaruhan Kredibilitas Wasit Industri Keuangan

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Rupiah Loyo, Utang Valas Multifinance Masih Terjaga
| Kamis, 04 Juni 2026 | 04:35 WIB

Rupiah Loyo, Utang Valas Multifinance Masih Terjaga

Kurs rupiah yang terus memerah meningkatkan risiko atas pendanaan multifinance dengan menggunakan valuta asing 

Supra Boga Lestari (RANC) Bidik Pertumbuhan Dua Digit
| Kamis, 04 Juni 2026 | 04:35 WIB

Supra Boga Lestari (RANC) Bidik Pertumbuhan Dua Digit

Pencapaian pada kuartal pertama tahun ini turut ditopang oleh momentum musiman yang biasanya mendorong konsumsi masyarakat.

Laju Penjualan Mobil Bekas Mulai Tersendat
| Kamis, 04 Juni 2026 | 04:20 WIB

Laju Penjualan Mobil Bekas Mulai Tersendat

Meski jumlah unit yang terjual menurun dibandingkan periode yang sama tahun lalu, margin penjualan justru meningkat.

GOTO Dilanda Sentimen Negatif Usai Cetak Laba Pertama, Begini Saran Analis
| Rabu, 03 Juni 2026 | 14:15 WIB

GOTO Dilanda Sentimen Negatif Usai Cetak Laba Pertama, Begini Saran Analis

Selama ini GOTO menerapkan take rate 20% dari mitra pengemudi, lebih tinggi dari kompetitor yang 10%.

BUVA Menguat Jelang RUPS, Investor Berburu Cerita Rights Issue
| Rabu, 03 Juni 2026 | 11:02 WIB

BUVA Menguat Jelang RUPS, Investor Berburu Cerita Rights Issue

Analis menilai kenaikan saham BUVA saat ini lebih didominasi faktor teknikal dibandingkan perubahan fundamental yang signifikan.

El Nino Datang, Saham Emiten Perberasan Bakal Terkena Dampak Ikutan?
| Rabu, 03 Juni 2026 | 10:35 WIB

El Nino Datang, Saham Emiten Perberasan Bakal Terkena Dampak Ikutan?

NASI menyiapkan langkah untuk memperluas jaringan pemasok sekaligus mempererat hubungan kemitraan guna menjaga ketersediaan bahan baku.

Produksi Padi Diramal Menyusut Hingga Juli
| Rabu, 03 Juni 2026 | 08:48 WIB

Produksi Padi Diramal Menyusut Hingga Juli

BPS memperkirakan produksi padi nasional Januari hingga Juli 2026 mencapai 38,11 juta ton gabah kering giling (GKG)

Kunjungan Wisman Tertinggi Sejak Pandemi
| Rabu, 03 Juni 2026 | 08:44 WIB

Kunjungan Wisman Tertinggi Sejak Pandemi

Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia pada April 2026 mencapai 1,25 juta kunjungan  

Prospek Manufaktur Masih Belum Membaik
| Rabu, 03 Juni 2026 | 08:15 WIB

Prospek Manufaktur Masih Belum Membaik

Purchasing managers' index (PMI) manufaktur Indonesia pada bulan Mei 2026 di level 50               

PMI Manufaktur Indonesia Ekspansif, Tapi Masih Jauh dari Pemulihan
| Rabu, 03 Juni 2026 | 08:12 WIB

PMI Manufaktur Indonesia Ekspansif, Tapi Masih Jauh dari Pemulihan

Untuk menyatakan sektor manufaktur benar-benar pulih, diperlukan PMI yang mampu bertahan di atas 50,0 selama beberapa bulan berturut-turut.

INDEKS BERITA