PT Timah (TINS) Berharap Laba Bersih Naik Dua Kali Lipat

Sabtu, 09 Maret 2019 | 08:19 WIB
PT Timah (TINS) Berharap Laba Bersih Naik Dua Kali Lipat
[]
Reporter: Ika Puspitasari | Editor: A.Herry Prasetyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sepanjang tahun lalu, PT Timah Tbk (TINS) membukukan pertumbuhan pendapatan sebesar 19,85% menjadi Rp 11,05 triliun. Bisnis timah masih menjadi tulang punggung pendapatan mereka.

Penjualan logam timah dan tin solder senilai Rp 10,15 triliun menjadi kontributor pendapatan terbesar hingga 91,86% terhadap total pendapatan tahun lalu. Sisanya adalah kontribusi pendapatan dari lima segmen usaha lain.

Kalau dibandingkan dengan kinerjanya pada periode 2017, hanya segmen tin chemical yang mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 0,10% menjadi Rp 428,05 miliar. Sementara segmen-segmen usaha lain kompak mendaki.

Catatan lain, baru pada tahun lalu PT Timah menikmati penjualan nikel senilai Rp 79,60 miliar. Pada tahun 2017 dan sebelumnya 2016, perusahaan berkode saham TINS di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini tidak membukukan penjualan nikel.

Hanya saja, kinerja top line yang naik dobel pada tahun 2018 tidak merembet pada bottom line. PT Timah harus puas dengan catatan pertumbuhan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk alias laba bersih sebesar 5,76% jadi Rp 531,36 miliar pada 2018.

Menelisik lebih jauh kinerja 2018, beban pokok pendapatan memang membengkak cukup besar, yaitu 21,85% menjadi Rp 9,37 triliun. Seluruh pos dalam beban pokok pendapatan naik. Pos tertinggi adalah bahan baku bijih timah yang naik 29,92% menjadi Rp 5,82 triliun.

Beruntung, menjelang akhir tahun lalu, harga bahan bakar turun. Tak ayal, kondisi tersebut menjadi angin segar bagi profitabilitas PT Timah, perusahaan yang kini bernaung di bawah Holding BUMN Pertambangan.

Untuk tahun ini, PT Timah menargetkan perolehan laba bersih sebesar Rp 1,2 triliun. "Atau mungkin lebih dari itu, tergantung kualitas produksi tambang rakyat dan biaya produksi serta perkembangan harga logam dan kurs dollar AS," ujar Emil Ermindra, Direktur Keuangan PT Timah Tbk, saat dihubungi KONTAN, Jumat (8/3).

Sejalan dengan pertumbuhan kinerja keuangan tahun lalu, kinerja produksi PT Timah pun terungkit. Sepanjang 2018, mereka memproduksi 44.514 ton bijih timah, naik 42,77%. Sebanyak 50,10% merupakan penambangan di darat dan 49,90% hasil penambangan di laut alias offshore.

Sementara volume produksi logam timah tahun lalu mencapai 33.444 metrik ton (mt) atau naik 10,56%. Tahun 2017, PT Timah memproduksi 30.249 mt logam timah.

Catatan pertumbuhan juga tampak pada volume penjualan. Penjualan logam timah sebanyak 29.914 mt pada 2017, naik menjadi 33.818 mt pada tahun lalu. Penjualan ke pasar mancanegara mengambil bagian hingga 30.200 mt. Manajemen PT Timah mengaku, target awal volume ekspor tahun lalu sebanyak 27.789 mt. Tujuan ekspornya ke kawasan Eropa, Asia, Amerika dan China.

Sebagai salah satu pemilik lahan konsesi tambang terbesar di Bangka Belitung, PT Timah menyatakan, mestinya mereka mendekap porsi ekspor timah terbesar di Indonesia. Namun, kinerja ekspor PT Timah di bawah perusahaan tambang lain yang mencapai 46.245 mt.

PT Timah menduga, kegiatan ekspor timah yang selama ini dilakukan beberapa perusahaan tambang lain hanya mengacu pada verifikasi asal-usul barang berdasarkan kepemilikan izin usaha penambangan (IUP) saja. Padahal jika mengacu pada Rencana Kerja Anggaran Belanja (RKAB) dalam Peraturan Menteri ESDM 11/2018, perlu ada verifikasi terkait laporan cadangan tambang.

Adapun cadangan tambang tersebut mesti dibuat oleh pihak yang bertanggung jawab secara hukum. "Laporan cadangan inilah yang sebetulnya membuktikan asal usul barang," kata Amin, dalam keterangan tertulis kepada media, Jumat (8/3).

Bagikan

Berita Terbaru

Kemiskinan Indonesia Turun ke 8,25% pada 2025, Tapi Tekanan Biaya Hidup Masih Tinggi
| Senin, 09 Februari 2026 | 17:33 WIB

Kemiskinan Indonesia Turun ke 8,25% pada 2025, Tapi Tekanan Biaya Hidup Masih Tinggi

Secara jumlah, penduduk miskin Indonesia tercatat 23,36 juta orang, menyusut 490 ribu orang dibandingkan Maret 2025.

Tambahan Anggaran PU Rp 36,91 Triliun, Harapan Baru atau Sekadar Penyangga bagi BUMN?
| Senin, 09 Februari 2026 | 13:00 WIB

Tambahan Anggaran PU Rp 36,91 Triliun, Harapan Baru atau Sekadar Penyangga bagi BUMN?

Upaya Pemerintah menambah anggaran Rp 36,91 triliun guna mempercepat pembangunan infrastruktur, dianggap bisa menjadi suplemen bagi BUMN Karya.

Ramadan Dongkrak Trafik Data, Saham ISAT Masih Layak Dicermati?
| Senin, 09 Februari 2026 | 11:00 WIB

Ramadan Dongkrak Trafik Data, Saham ISAT Masih Layak Dicermati?

Kinerja PT Indosat Tbk (ISAT) ada di jalur pemulihan yang semakin berkelanjutan. Sejak akhir 2025, ISAT mencatat lonjakan signifikan trafik data.

Ditopang Normalisasi AMMN & Tambahan PI Corridor, Kinerja MEDC Diproyeksikan Melesat
| Senin, 09 Februari 2026 | 08:37 WIB

Ditopang Normalisasi AMMN & Tambahan PI Corridor, Kinerja MEDC Diproyeksikan Melesat

Dalam jangka pendek, saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dipandang masih dalam fase downtrend.

Prospek ERAL Masih Menarik, Meski Tengah Menanti Kepastian Insentif Mobil Listrik
| Senin, 09 Februari 2026 | 08:25 WIB

Prospek ERAL Masih Menarik, Meski Tengah Menanti Kepastian Insentif Mobil Listrik

PT Sinar Eka Selaras Tbk (ERAL) berencana menambah gerai baru sekaligus menghadirkan produk dan merek baru di berbagai segmen usaha.

Free Float Naik ke 15%, Emiten yang Tak Butuh Pendanaan Pasar Modal bisa Go Private?
| Senin, 09 Februari 2026 | 08:00 WIB

Free Float Naik ke 15%, Emiten yang Tak Butuh Pendanaan Pasar Modal bisa Go Private?

Di rancangan peraturan terbaru, besaran free float dibedakan berdasarkan nilai kapitalisasi saham calon emiten sebelum tanggal pencatatan.

Menakar Daya Tarik Obligasi ESG: Menimbang Return dan Feel Good
| Senin, 09 Februari 2026 | 07:31 WIB

Menakar Daya Tarik Obligasi ESG: Menimbang Return dan Feel Good

Obligasi bertema ESG dan keberlanjutan akan meramaikan penerbitan surat utang di 2026. Bagaimana menakar daya tariknya?

Dharma Polimetal (DRMA) Produksi Baterai Motor Listrik
| Senin, 09 Februari 2026 | 07:29 WIB

Dharma Polimetal (DRMA) Produksi Baterai Motor Listrik

Strategi tersebut ditempuh melalui penguatan kapabilitas manufaktur, diversifikasi produk bernilai tambah, serta integrasi ekosistem bisnis.

Pebisnis Minta Kepastian Izin Impor Daging Sapi
| Senin, 09 Februari 2026 | 07:23 WIB

Pebisnis Minta Kepastian Izin Impor Daging Sapi

Para pelaku usaha tengah menantikan kepastian izin impor yang belum terbit. Padahal, saat ini sudah melewati waktu proses.

Kebijakan Pemerintah Jadi Sorotan, Dampak Buruknya ke Pasar SBN
| Senin, 09 Februari 2026 | 06:50 WIB

Kebijakan Pemerintah Jadi Sorotan, Dampak Buruknya ke Pasar SBN

Investor asing mencatat jual neto Rp 2,77 triliun di SBN. Tekanan jual ini diprediksi berlanjut hingga Kuartal I 2026. Pahami risikonya.

INDEKS BERITA

Terpopuler