Reksadana Indeks Berbasis ESG, Berinvestasi Sambil Menjaga Lingkungan

Selasa, 14 Mei 2024 | 16:08 WIB
Reksadana Indeks Berbasis ESG, Berinvestasi Sambil Menjaga Lingkungan
[ILUSTRASI. Kantor Insight Investments Management di Senayan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (23/1/2024). KONTAN/Cheppy A. Muchlis/23/01/2024]
Reporter: Sanny Cicilia | Editor: Sanny Cicilia

KONTAN.CO.ID - Melakukan aksi peduli terhadap lingkungan dan sosial bisa Anda lakukan sambil berinvestasi. Ada banyak instrumen investasi yang bisa Anda pilih, salah satunya lewat reksadana berbasis lingkungan (environment), sosial (social), dan tata kelola (governance) atau ESG. 

Berinvestasi di instrumen reksadana berbasis ESG bisa membawa manfaat lebih banyak bagi investor. Berinvestasi di reksadana sendiri banyak keunggulannya, seperti bisa dimulai dengan nilai investasi terjangkau, diversifikasi, dan alokasi investasi dikelola secara profesional oleh manajer investasi, imbal hasil terukur, serta keamanan dana.

Nah, berinvestasi di reksadana berbasis ESG akan memberi keuntungan dobel buat investor. Dengan investasi ini, investor bisa menempatkan dana di berbagai perusahaan yang memiliki tanggung jawab lingkungan dan sosial, mengedepankan transparansi, dan memprioritaskan keberlanjutan. 

Apalagi, berbagai perusahaan yang mempraktikkan ESG dianggap lebih mampu mengelola risiko, sehingga berpeluang memiliki daya tahan dan posisi yang kuat di masa mendatang. Bisa dibilang, memilih produk reksadana terkait dengan ESG juga menjadi jalan bagi investor mengelola risiko investasi.

Chief Investment Officer Insight Investments Management Camar Remoa mengatakan, reksadana berbasis ESG cocok untuk semua investor yang peduli terhadap dampak sosial dan lingkungan dari investasi mereka. Juga mereka yang ingin mengintegrasikan nilai-nilai dalam portofolio investasi. 

Terdapat juga penelitian dari McKinsey yang menemukan, perusahaan-perusahaan yang peduli terhadap nilai ESG, ke depan juga memberi nilai tambah lebih baik kepada investor. 

Menurut dia, ada tren minat dari investor bahwa investasi tidak hanya berfokus pada keuntungan, tetapi juga memperhatikan dampak sosial dan lingkungan. "Pertumbuhan produk reksadana berbasis ESG memberikan kesempatan kepada investor untuk berkontribusi pada aspek keberlanjutan yang lebih luas," kata Camar.

Umumnya, reksadana berbasis ESG hadir dalam tiga jenis, yaitu reksadana indeks, reksadana saham, dan produk reksadana endowment. Namun, mari mengintip lebih dalam terkait reksadana indeks.

Reksadana indeks bertujuan agar hasil investasinya mirip atau bahkan lebih baik dengan indeks yang dijadikan acuan. Ada beberapa acuan yang kerap dipakai, yakni Indeks Sri-Kehati, IDX ESG Leaders, dan Indeks MSCI Indonesia ESG Leaders Indonesia (USD). 

Indeks Sri-Kehati mengukur kinerja harga saham dari 25 perusahaan tercatat dengan kinerja yang baik dalam mendorong  usaha berkelanjutan, serta memiliki kesadaran lingkungan hidup, sosial, dan tata kelola perusahaan yang baik atau disebut Sustainable and Responsible Investment (SRI). Ini adalah indeks di Bursa Efek Indonesia (BEI) bekerjasama dengan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (Yayasan Kehati).

Indeks MSCI Indonesia ESG Leaders memiliki acuan Indeks MSCI Indonesia yang memperhatikan aspek ESG. Isinya adalah saham emiten berkapitalisasi besar dan menengah di Indonesia yang tidak terpapar kontroversi ESG dan bobotnya disesuaikan agar menyerupai gerak indeks acuannya.  

Beberapa reksadana indeks ESG: Reksadana Insight Sri-Kehati Likuid, Allianz Sri Kehati Index Fund, BNI AM ETF MSCI ESG Leaders Indonesia, serta Indeks Simas Sri-Kehati.

Produk reksadana indeks dari Insight, Insight SRI-Kehati Likuid (ISL), sekaligus flagship dari perusahaan. Camar bilang, produk ini bertujuan memberikan hasil investasi yang optimal dengan menggabungkan keuntungan finansial dan dampak positif bagi lingkungan, serta berpartisipasi aktif terhadap sosial kemanusiaan.

Per 28 Maret 2024, portofolio ISL menitikberatkan pilihan pada saham sektor keuangan sebesar 60%. Lalu, sektor terbesar kedua infrastruktur sekitar 14% dan barang konsumen primer 11%. Beberapa saham dengan porsi terbesar antara lain PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI).

Allianz Global Investor juga memilih Indeks Sri-Kehati sebagai acuan produk Allianz Sri Kehati Index Fund. Eriko Se, Head of Retail Allianz GI, bilang, produk ini meniru Indeks Sri-Kehati dengan mengutamakan perusahaan yang sesuai dengan faktor ESG. Kata dia, indeks Sri-Kehati punya eksposur lebih besar ke sektor keuangan dibanding indeks  lain. 

"Reksadana Allianz Sri Kehati Index Fund cocok untuk investor yang mencari eksposur pada perusahaan yang mengutamakan ESG. Dalam arti, investor yang ingin berinvestasi dan tetap berkontribusi pada sosial dan lingkungan," kata Eriko.

Total dana kelolaan Reksa Dana Allianz Sri Kehati Index Fund adalah Rp 115,75 miliar per 28 Maret 2024. Sejak meluncur pada November 2017, reksadana ini menunjukkan pertumbuhan  signifikan, seiring pergerakan minat investor terhadap reksadana indeks.

Dari ringkasan informasi saham, alokasi aset Allianz Sri Kehati Index Fund ditempatkan sebanyak 93,84% di saham-saham Indeks Sri Kehati, sedangkan sisanya yang 6,16% di deposito atau pasar uang. 

Dari alokasi sektor, sebanyak 61% di sektor keuangan, diikuti infrastruktur 13,94%, dan barang konsumer primer 11,01%. Penempatan saham teratas antara lain BBCA, BMRI, BBRI, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), dan BBNI. Sedang deposito di HSBC dengan komposisi sampai 5,79% portofolio. 

Menahan penurunan

Sayangnya, return reksadana indeks ini sedang terimbas oleh penurunan indeks di bursa. Sebagai gambaran, Indeks Sri Kehati merosot 10,02% sepanjang tahun ini hingga Rabu (8/5). Racikan MI kemudian yang menentukan kinerja reksadana indeks lebih baik atau lebih buruk dibanding indeks acuan. 

"Sebagai reksadana indeks, Allianz Sri Kehati Index Fund akan bergerak searah dengan indeks underlying-nya (Indeks Sri-Kehati), sehingga dapat dipastikan reksadana Allianz Sri Kehati Index Fund terdampak koreksi yang dialami Indeks Sri Kehati," ungkap Eriko.

Mengutip Bloomberg, Allianz Sri-Kehati tercatat turun 8,69% year to date, sehingga return reksadana ini tergerus 7,24% dalam satu tahun terakhir hingga 8 Mei 2024 lalu.

Tapi, Eriko percaya dengan tesis bahwa berinvestasi di Indeks Sri Kehati masih tetap kuat didukung kondisi fundamental sektor perbankan Indonesia. "Sehingga, kami menilai prospek investasi di Allianz Sri Kehati Index Fund masih tetap baik ke depan," ujar dia.

Camar juga mengakui return reksadana Insight Sri-Kehati Likuid terimbas penurunan indeks acuannya, meski tak lebih dalam. Return ISL merosot 8,73% year to date hingga 8 Mei 2024, sementara dalam satu tahun turun 6,78%, berdasarkan catatan Bloomberg.

Dengan screening tambahan dari sisi likuiditas pada pemilihan konstituen, reksadana ISL berkinerja lebih baik dibanding benchmark. Sejak peluncuran di tahun 2018, kinerja historis ISL sebesar 24,81% sementara Indeks Sri-Kehati 20,67%.

Camar menilai, terlalu pendek jika investor hanya melihat kinerja sepanjang tahun ini. Volatilitas dalam kinerja investasi, terutama saham adalah hal  lumrah. Dia percaya, kondisi saat ini tidak selalu mencerminkan kinerja jangka panjang. "Bila menggunakan time horizon jangka panjang, kinerjanya cenderung lebih unggul daripada jangka pendek," kata dia. 

Saran Camar, untuk investor ketika melihat return portofolio sedang turun adalah, tetap tenang dan mengingat fluktuasi pasar bagian alami dari proses investasi. Penting untuk tidak membuat keputusan investasi berdasarkan emosi atau panik, tetapi evaluasi ulang portofolio dengan tujuan investasi dan toleransi risiko masing-masing.

Para MI ini juga tak menutup punya produk baru terkait ESG ke depan. Prospek reksadana berbasis ESG dinilai masih sangat baik. Eriko bilang, global ESG asset mencapai US$ 30 triliun di tahun 2022 dan diperkirakan akan mencapai US$ 40 triliun di 2030. Karena itu, Allianz ingin  jadi bagian dari pertumbuhan ini dengan terus berinovasi mencari produk yang  jadi tren pasar global dan punya dampak terhadap lingkungan dan masyarakat.

Insight IM juga akan memperluas jajaran produk reksadana dengan pendekatan ESG. Dana kelolaan Insight Investments Management per Maret 2024  sekitar Rp 11,4 triliun.

Menunggu sentimen

Indeks Sri-Kehati bukan hanya turun cukup dalam di tahun ini. Tetapi, kinerjanya juga lebih buruk dibandingkan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Dalam periode year to date, IHSG hanya turun  2,53%, per Rabu (8/5) lalu. 

Sebagai informasi, per Senin (13/5), IHSG tercatat turun 2,39% year to date. Sedangkan Indeks Sri Kehati merosot sampai 9,88%.

Direktur Pilarmas Investindo Maximilianus Nico Demus menyatakan, jika berbicara indeks, maka penggeraknya berasal dari saham-saham konstituen di dalamnya. Seperti Indeks Sri-Kehati, di dalamnya terdapat saham-saham perbankan buku IV, infrastruktur, pertambangan, konsumer, bahan baku dasar, dan konstruksi. 

Meskipun di dalam Indeks Sri-Kehati adalah saham-saham yang mengedepankan prinsip sosial dan tanggung jawab, di dalamnya banyak saham dari sektor yang sedang terkoreksi.

Sentimen yang menekan indeks ESG sejatinya tak berbeda dengan yang menerpa indeks lain. Antara lain, tensi geopolitik Israel dan Palestina, inflasi yang tinggi, ambyarnya harapan pemangkasan suku bunga Amerika Serikat (AS). "Padahal, kenaikan bunga akan berimbas pada penurunan daya beli, pelambatan kredit," kata Nico. 

Tren bunga tinggi ini terutama menekan saham perbankan dan sektor lain yang sensitif dengan bunga. Padahal, saham perbankan buku IV dan barang konsumer punya bobot besar di dalam indeks Sri-Kehati. Saham perbankan juga tertekan setelah relaksasi restrukturisasi  OJK berakhir 31 Maret 2024. 

Alhasil, saham bank terus turun dalam sebulan terakhir. Dalam sepekan terakhir saja,  hingga Rabu (8/5) lalu, saham BBRI turun 5,3% dengan nilai turnover saham Rp 9,9 triliun. Saham BMRI mengekor dengan penurunan 9% dengan turnover saham Rp 7,6 triliun, lalu BBCA dengan penurunan 4,3% dengan turnover saham Rp 4 triliun. 

Saham-saham di indeks Sri-Kehati ini, Nico perkirakan, masih tetap mendung dalam   waktu dekat ditekan fluktuasi harga komoditas dan pelemahan rupiah. Meski sempat ada   sentimen positif yang menaikkan bursa AS atau bursa Indonesia, sifatnya hanya sementara. "Pasar modal kita terlihat masih menunggu sentimen yang konsisten, seperti tensi geopolitik mereda," ujarnya.

Bukan berarti saham-saham dan indeks Sri-Kehati tak menarik. Menurut Nico, saham berfundamental baik dan mengejar keberlanjutan usaha tetap menarik dalam jangka menengah dan panjang.  "Ketika investasi secara teknikal ternyata tidak sesuai, masih ada harapan, saham dari emiten dengan fundamental akan menguat nantinya," kata Nico.  

Saham perbankan besar juga tetap menarik lantaran memiliki daya tahan lebih kuat ketika bunga acuan harus naik. Itu karena nasabah mereka tersegmentasi dengan jelas dan transmisi kreditnya kuat. 

Tapi yang pasti, Nico mengingatkan, selain memperhatikan fundamental saham, investor tetaplah harus memiliki tujuan investasi, jangka waktu investasi, dan menilai toleransi risiko. Selain itu, investor juga harus disiplin cutloss. 

"Saham-saham dengan fundamental baik di Indeks ESG masih sangat layak dipertimbangkan untuk investasi," kata Nico. Bagaimana, tertarik? 

Bagikan

Berita Terkait

Berita Terbaru

Membandingkan Kinerja dan Aset Bank Syariah, Mana yang Lebih Kuat?
| Selasa, 24 Maret 2026 | 16:00 WIB

Membandingkan Kinerja dan Aset Bank Syariah, Mana yang Lebih Kuat?

Sebagai negara dengan populasi muslim terbanyak di dunia, Indonesia diproyeksikan memiliki industri perbankan syariah yang bertumbuh.

DBS Rekomendasikan Diversifikasi Portofolio, Tambah Saham EM dan Emas
| Selasa, 24 Maret 2026 | 13:00 WIB

DBS Rekomendasikan Diversifikasi Portofolio, Tambah Saham EM dan Emas

DBS melihat adanya pergeseran preferensi investor dari aset berbasis AS yang dinilai sudah terlalu padat menuju kawasan lain, terutama Asia.

Dividen PGAS Dipertanyakan, Manajemen Tetap Percaya Diri
| Selasa, 24 Maret 2026 | 13:00 WIB

Dividen PGAS Dipertanyakan, Manajemen Tetap Percaya Diri

J.P. Morgan dan UBS sama-sama melihat adanya tekanan terhadap kinerja keuangan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) ke depan.

Emiten Rokok 2026 di Persimpangan: Margin Membaik, Risiko Regulasi Mengintai
| Selasa, 24 Maret 2026 | 09:00 WIB

Emiten Rokok 2026 di Persimpangan: Margin Membaik, Risiko Regulasi Mengintai

Emiten rokok di satu sisi mendapat angin segar dari tak adanya kenaikan cukai, namun di sisi lain dibayangi risiko regulasi kadar tar dan nikotin.

Di Tengah Tekanan Minyak, Prospek Discretionary 2026 Masih Tarik Ulur
| Selasa, 24 Maret 2026 | 08:00 WIB

Di Tengah Tekanan Minyak, Prospek Discretionary 2026 Masih Tarik Ulur

Analis menilai kenaikan harga minyak berisiko menekan konsumsi, termasuk kalangan di segmen menengah-atas.

Lonjakan Laba BUKA Sarat Faktor Non Operasional
| Selasa, 24 Maret 2026 | 07:00 WIB

Lonjakan Laba BUKA Sarat Faktor Non Operasional

Analis memperkirakan BUKA akan mulai mencatatkan adjusted EBITDA positif Rp 124 miliar di 2026 dan terus meningkat hingga Rp 230 miliar di 2027.

CORE Indonesia: Perang Iran VS Israel-AS Berpotensi Gerus Ekspor Indonesia
| Selasa, 24 Maret 2026 | 04:00 WIB

CORE Indonesia: Perang Iran VS Israel-AS Berpotensi Gerus Ekspor Indonesia

Indonesia mengekspor produk-produknya ke Uni Arab Emirat (UAE), Arab Saudi, Qatar, Oman, Irak, Iran, Kuwait, dan Bahrain.

Daya Tarik Emas Memudar? Terjun 8% dalam Sehari, Terburuk 43 Tahun
| Senin, 23 Maret 2026 | 17:27 WIB

Daya Tarik Emas Memudar? Terjun 8% dalam Sehari, Terburuk 43 Tahun

Harga emas turun lebih dari 10% minggu lalu. Ini adalah penurunan mingguan tercuram sejak Februari 1983.

Peluang Saham ICBP di Tengah Isu Daya Beli dan Kenaikan Harga Bahan Baku
| Senin, 23 Maret 2026 | 15:00 WIB

Peluang Saham ICBP di Tengah Isu Daya Beli dan Kenaikan Harga Bahan Baku

PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) diproyeksikan masih akan melanjutkan tren kinerja keuangan yang solid di tahun ini.

Kenaikan Harga Ayam Broiler dan Impor Bahan Baku Jadi Penentu Kinerja CPIN
| Senin, 23 Maret 2026 | 14:50 WIB

Kenaikan Harga Ayam Broiler dan Impor Bahan Baku Jadi Penentu Kinerja CPIN

Pemerintah berencana memperluas cakupan MBG hingga 83 juta penerima pada Mei 2026, naik signifikan dibandingkan 55 juta penerima di Januari 2026.

INDEKS BERITA

Terpopuler