Reksadana Insight Retail Cash Fund Mengandalkan Aset Obligasi Tenor Pendek

Kamis, 18 Juli 2019 | 07:09 WIB
Reksadana Insight Retail Cash Fund Mengandalkan Aset Obligasi Tenor Pendek
[]
Reporter: Dimas Andi | Editor: Narita Indrastiti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Secara umum, kinerja rata-rata reksadana pasar uang tergolong stabil sepanjang tahun 2019 berjalan. Reksadana Insight Retail Cash Fund pun mengalami hal yang serupa.

Berdasarkan data Infovesta Utama, kinerja reksadana yang juga disebut I-Retail Cash ini tumbuh 3,56% (ytd) hingga akhir Juni lalu. Hasil ini menempatkannya sebagai produk reksadana pasar uang berkinerja terbaik kelima sepanjang tahun ini.

Fund Manager Insight Investment Management Nesya Fitriani Agustini mengatakan, pihaknya menerapkan strategi menjadikan obligasi dengan tenor di bawah 1 tahun sebagai aset dasar utama reksadana ini. Obligasi memberikan tingkat imbal hasil yang lebih baik serta pajak yang lebih kecil dibandingkan deposito, jelas dia.

Merujuk pada fund fact sheet Mei lalu, portofolio reksadana I-Retail Cash didominasi oleh obligasi tenor di bawah 1 tahun, yakni 98,5%. Sisanya diisi oleh aset setara kas sebesar 1,5%.

Lima aset dasar paling besar di portofolio reksadana yang meluncur sejak April 2018 ini adalah obligasi.Di antaranya ada Obligasi Berkelanjutan II Adira Finance Tahap IV Tahun 2014 Seri C, Obligasi Berkelanjutan II Waskita Karya Tahap I Tahun 2016 dan Obligasi Berkelanjutan Indonesia Eximbank IV Tahap II Tahun 2018 Seri A. Selain itu ada Obligasi I AKR Corporindo Tahun 2012 Seri B dan Obligasi Subordinasi Berkelanjutan I Bank Panin Tahap I Tahun 2012.

Nesya menyebut, MI ini mengandalkan obligasi korporasi tenor di bawah 1 tahun sebagai aset dasar karena pergerakan harganya lebih stabil dibandingkan obligasi negara. Selain itu, tingkat imbal hasil yang diberikan obligasi korporasi juga tergolong atraktif.

Lebih lanjut, Insight Investment Management tak hanya mempertimbangkan perolehan imbal hasil dalam memilih obligasi sebagai aset dasar reksadana ini. Peringkat surat utang juga penting.

Dalam hal ini, manajer investasi akan memilih obligasi dengan peringkat minimum yaitu investment grade. Sedangkan untuk penempatan deposito, mayoritas dari bank BUKU III dan BUKU II dengan tenor rata-rata 1-3 bulan, ujar Nesya.

Nah, dengan adanya ekspektasi penurunan suku bunga acuan, besar kemungkinan akan terjadi penurunan juga pada suku bunga deposito. Alhasil, strategi overweight pada obligasi akan tetap digunakan perusahaan dalam mengelola portofolio reksadana I-Retail Cash.

Hingga akhir tahun, reksadana ini ditargetkan mampu meraih imbal hasil 6%–7% seiring adanya potensi penurunan suku bunga acuan.

Sementara itu, Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana menyebut, potensi kenaikan imbal hasil reksadana I-Retail Cash sangat terbuka. Mengingat, obligasi tenor di bawah satu tahun tetap terpengaruh oleh ekspektasi penurunan suku bunga acuan, sehingga harga instrumen ini berpeluang naik.

Karena porsi obligasi dalam reksadana ini mencapai 98,5%, I-Retail Cash masuk kategori reksadana pasar uang yang agresif. Walau menjanjikan potensi return yang mumpuni, risiko likuiditas produk ini juga tergolong besar.

Apalagi, mayoritas obligasi yang menjadi aset dasarnya merupakan obligasi korporasi. Kalau ada pencairan, manajer investasi harus cepat-cepat bisa menjual obligasinya. "Padahal, reksadana pasar uang menetapkan kebijakan transaksi T+1," ungkap Wawan.

Berkaca dari potensi risiko yang ada, Wawan melihat ada kemungkinan pihak manajer investasi merasa yakin bahwa investor-investornya akan jarang melakukan pencairan dana dalam jumlah besar dan berdekatan.

Bagikan

Berita Terkait

Berita Terbaru

Asing Masih Lepas ASII, Pemulihan Otomotif Belum Cukup
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 12:00 WIB

Asing Masih Lepas ASII, Pemulihan Otomotif Belum Cukup

Ketidakpastian hasil review MSCI serta transparansi tata kelola pasar modal menjadi faktor yang ikut mendorong arus net sell asingdari big caps.

Profitabilitas Emiten Cenderung Melandai dalam Dua Tahun Pemerintahan Prabowo
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 09:30 WIB

Profitabilitas Emiten Cenderung Melandai dalam Dua Tahun Pemerintahan Prabowo

Investor tampaknya lebih banyak mem-pricing risiko persepsi, ketidakpastian kebijakan pemerintah, dan persoalan kelembagaan.

Negara Kaji Pengecualian Pajak Bagi EGR
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:37 WIB

Negara Kaji Pengecualian Pajak Bagi EGR

Pembahasan mengenai perlakuan PPN dan PPh atas transaksi EGR telah dilakukan bersama Kementerian Keuangan

Mazda Hingga CoreWeave Disebut Antre Masuk Indonesia, Cermati BEST, DMAS, atau KIJA?
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:34 WIB

Mazda Hingga CoreWeave Disebut Antre Masuk Indonesia, Cermati BEST, DMAS, atau KIJA?

Peningkatan investasi asing tidak serta-merta bertranslasi ke kenaikan harga saham emiten kawasan industri.

Optimisme Terkikis, Konsumsi Makin Tipis
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:28 WIB

Optimisme Terkikis, Konsumsi Makin Tipis

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menurun selama tiga bulan berturut-turut                            

Ujian Independensi BI di Bawah Nahkoda Baru
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:11 WIB

Ujian Independensi BI di Bawah Nahkoda Baru

Destru Damayanti menjadi calon tunggal Gubernur Bank Indonesia menggantikan Perry Warjiyo           

 Digencet Depresiasi Rupiah Prospek Emiten Farmasi Masih bisa Cerah, KLBF atau SIDO?
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:03 WIB

Digencet Depresiasi Rupiah Prospek Emiten Farmasi Masih bisa Cerah, KLBF atau SIDO?

Sektor farmasi memiliki karakter defensif karena kebutuhan terhadap obat dan produk kesehatan bertahan di berbagai kondisi ekonomi.

Bursa Efek Indonesia Mengejar Pendalaman Pasar
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 07:42 WIB

Bursa Efek Indonesia Mengejar Pendalaman Pasar

Ekspansi pengembangan produk yang dilakukan Bursa Efek Indonesia (BEI) tetap harus mampu menjawab kebutuhan investor

Penjualan Masih Kuat, Laba Bersih ULTJ Semester Pertama Melonjak 73,7%
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 07:38 WIB

Penjualan Masih Kuat, Laba Bersih ULTJ Semester Pertama Melonjak 73,7%

Penjualan  PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) mencapai Rp 5,49 triliun, naik 34,6% year-on-year (yoy)

Babak Baru Demutualisasi Bursa Efek Indonesia
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 07:35 WIB

Babak Baru Demutualisasi Bursa Efek Indonesia

OJK tengah melakukan finalisasi aturan demutualisasi, Danantara siap masuk menjadi pemegang saham BEI

INDEKS BERITA

Terpopuler