Rial Terpuruk
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Krisis ekonomi yang membelit Iran kian dalam seiring melemahnya nilai tukar mata uang nasionalnya, rial, di pasar internasional. Sejumlah laporan menyebutkan nilai tukar rial dilaporkan jatuh hingga nol terhadap euro, sehingga mata uang ini tak lagi bisa ditukarkan di negara-negara Eropa. Hal ini mencerminkan tekanan berat yang dihadapi Iran akibat kombinasi sanksi internasional, inflasi tinggi, dan ketidakstabilan politik.
Di dalam negeri, pelemahan rial berefek langsung pada kehidupan masyarakat. Lonjakan harga kebutuhan pokok dan merosotnya daya beli memicu keresahan sosial yang meluas. Sejak akhir Desember, gelombang protes terjadi di berbagai wilayah, dipelopori pelaku usaha dan pedagang yang terpukul oleh inflasi serta biaya impor yang kian mahal. Tekanan ekonomi ini kemudian bercampur dengan tuntutan perubahan tata kelola pemerintahan.
Meski rial kerap disebut telah "kolaps", para analis menilai mata uang suatu negara pada praktiknya jarang benar-benar bernilai nol selama negara tersebut masih berfungsi. Yang terjadi di Iran lebih mencerminkan depresiasi ekstrem dan runtuhnya kepercayaan terhadap rial, baik sebagai alat simpan nilai maupun alat tukar internasional. Dalam konteks ini, ketiadaan minat pasar dan penolakan lembaga keuangan luar negeri menjadi indikator utama rapuhnya mata uang tersebut.
Pemerintah Iran berupaya merespons tekanan ini melalui rencana redenominasi dengan menghapus empat nol dari rial, yang disetujui parlemen pada Oktober 2025. Namun, langkah tersebut dipandang lebih bersifat administratif untuk memudahkan transaksi, bukan solusi atas persoalan mendasar. Tanpa perbaikan struktural pada inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan akses terhadap valuta asing, redenominasi berisiko hanya memberi efek sementara di tengah tekanan ekonomi yang masih berlanjut.
Bagi negara berkembang lain, termasuk Indonesia, krisis Iran menjadi pengingat penting akan rapuhnya stabilitas mata uang ketika kepercayaan publik dan pelaku pasar tergerus. Meski fundamental ekonomi Indonesia berbeda dan relatif lebih kuat, pengalaman Iran menunjukkan bahwa kombinasi inflasi tinggi, tekanan eksternal, dan ketidakpastian kebijakan dapat dengan cepat berdampak pada nilai tukar.
Ke depan, menjaga stabilitas rupiah tidak cukup hanya mengandalkan intervensi jangka pendek atau kebijakan simbolik. Kredibilitas kebijakan moneter dan fiskal, pengendalian inflasi yang konsisten, serta stabilitas politik menjadi fondasi utama agar kepercayaan terhadap rupiah tetap terjaga. Dengan demikian, Indonesia bisa terhindar dari risiko pelemahan ekstrem seperti yang kini dialami Iran.
