Rial Terpuruk

Kamis, 15 Januari 2026 | 06:10 WIB
Rial Terpuruk
[ILUSTRASI. TAJUK - Barratut Taqiyyah (KONTAN/Praksa Partajaya)]
Barratut Taqiyyah Rafie | Redaktur Pelaksana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Krisis ekonomi yang membelit Iran kian dalam seiring melemahnya nilai tukar mata uang nasionalnya, rial, di pasar internasional. Sejumlah laporan menyebutkan nilai tukar rial dilaporkan jatuh hingga nol terhadap euro, sehingga mata uang ini tak lagi bisa ditukarkan di negara-negara Eropa. Hal ini mencerminkan tekanan berat yang dihadapi Iran akibat kombinasi sanksi internasional, inflasi tinggi, dan ketidakstabilan politik. 

Di dalam negeri, pelemahan rial berefek langsung pada kehidupan masyarakat. Lonjakan harga kebutuhan pokok dan merosotnya daya beli memicu keresahan sosial yang meluas. Sejak akhir Desember, gelombang protes terjadi di berbagai wilayah, dipelopori pelaku usaha dan pedagang yang terpukul oleh inflasi serta biaya impor yang kian mahal. Tekanan ekonomi ini kemudian bercampur dengan tuntutan perubahan tata kelola pemerintahan.

Meski rial kerap disebut telah "kolaps", para analis menilai mata uang suatu negara pada praktiknya jarang benar-benar bernilai nol selama negara tersebut masih berfungsi. Yang terjadi di Iran lebih mencerminkan depresiasi ekstrem dan runtuhnya kepercayaan terhadap rial, baik sebagai alat simpan nilai maupun alat tukar internasional. Dalam konteks ini, ketiadaan minat pasar dan penolakan lembaga keuangan luar negeri menjadi indikator utama rapuhnya mata uang tersebut. 

Pemerintah Iran berupaya merespons tekanan ini melalui rencana redenominasi dengan menghapus empat nol dari rial, yang disetujui parlemen pada Oktober 2025. Namun, langkah tersebut dipandang lebih bersifat administratif untuk memudahkan transaksi, bukan solusi atas persoalan mendasar. Tanpa perbaikan struktural pada inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan akses terhadap valuta asing, redenominasi berisiko hanya memberi efek sementara di tengah tekanan ekonomi yang masih berlanjut.

Bagi negara berkembang lain, termasuk Indonesia, krisis Iran menjadi pengingat penting akan rapuhnya stabilitas mata uang ketika kepercayaan publik dan pelaku pasar tergerus. Meski fundamental ekonomi Indonesia berbeda dan relatif lebih kuat, pengalaman Iran menunjukkan bahwa kombinasi inflasi tinggi, tekanan eksternal, dan ketidakpastian kebijakan dapat dengan cepat berdampak pada nilai tukar.

Ke depan, menjaga stabilitas rupiah tidak cukup hanya mengandalkan intervensi jangka pendek atau kebijakan simbolik. Kredibilitas kebijakan moneter dan fiskal, pengendalian inflasi yang konsisten, serta stabilitas politik menjadi fondasi utama agar kepercayaan terhadap rupiah tetap terjaga. Dengan demikian, Indonesia bisa terhindar dari risiko pelemahan ekstrem seperti yang kini dialami Iran.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Pekan Depan 4 Emiten Masuk Masa Cum Dividen, Yield Emiten Haji Isam di Atas 10 Persen
| Jumat, 03 April 2026 | 10:00 WIB

Pekan Depan 4 Emiten Masuk Masa Cum Dividen, Yield Emiten Haji Isam di Atas 10 Persen

Dari empat emiten yang masuk masa cum dividen, satu di antaranya emiten batubara milik Haji Isam dan tiga lagi emiten di sektor keuangan.

Tentakel Sinarmas Terbitkan Sukuk Rp 3 Triliun, Indikasi Bagi Hasil 8,75% per Tahun
| Jumat, 03 April 2026 | 09:00 WIB

Tentakel Sinarmas Terbitkan Sukuk Rp 3 Triliun, Indikasi Bagi Hasil 8,75% per Tahun

Bagi investor yang berminat, pemesanan pembelian sukuk dipatok di angka Rp 5 juta dan/atau kelipatannya.

Laba BBYB Meroket Tajam, tapi Risiko Kredit Mengintai! Cek Target Harga Sahamnya
| Jumat, 03 April 2026 | 08:00 WIB

Laba BBYB Meroket Tajam, tapi Risiko Kredit Mengintai! Cek Target Harga Sahamnya

Laba bersih PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) pada kuartal IV-2025 hanya Rp 102 miliar, tergelincir -46% secara kuartalan.

Melihat Ancaman Ekonomi di Balik Angka Inflasi yang Terkendali
| Jumat, 03 April 2026 | 07:00 WIB

Melihat Ancaman Ekonomi di Balik Angka Inflasi yang Terkendali

Josua pardede melihat bahwa ke depannya, risiko inflasi dinilai masih cenderung meningkat terutama dari sektor pangan dan energi.

Kebijakan WFH bagi ASN, Belum Menjadi Game Changer Bagi Emiten Telko dan GOTO
| Jumat, 03 April 2026 | 06:16 WIB

Kebijakan WFH bagi ASN, Belum Menjadi Game Changer Bagi Emiten Telko dan GOTO

WFH secara alami akan menekan mobilitas masyarakat sehingga akan membuat mobilitas tertekan dan melambatkan segmen ride-hailing.

Saham Perkapalan Kompak Terkoreksi Usai Naik Signifikan, Cek Analisis Teknikalnya
| Jumat, 03 April 2026 | 06:00 WIB

Saham Perkapalan Kompak Terkoreksi Usai Naik Signifikan, Cek Analisis Teknikalnya

Dari segi kinerja keuangan, emiten yang mempunyai pendapatan dan laba bersih cukup besar ialah BULL dan SOCI.

Harga Minyak Dunia Melonjak 60%, Ancaman Resesi Global Mengintai
| Jumat, 03 April 2026 | 01:30 WIB

Harga Minyak Dunia Melonjak 60%, Ancaman Resesi Global Mengintai

PM Singapura Lawrence Wong peringatkan dunia hadapi krisis energi dan risiko stagflasi. Dampak konflik Timur Tengah bisa berlangsung lama.

Harga Penawaran IPO WBSA Rp 168 Per Saham, Duitnya Buat Akuisisi Perusahaan Afiliasi
| Kamis, 02 April 2026 | 13:33 WIB

Harga Penawaran IPO WBSA Rp 168 Per Saham, Duitnya Buat Akuisisi Perusahaan Afiliasi

PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) merupakan perusahaan logistik terintegrasi yang baru didirikan pada 2021.

Konflik Timur Tengah bisa Menahan Penerbitan Obligasi Baru, Begini Kata TBIG dan ENRG
| Kamis, 02 April 2026 | 09:30 WIB

Konflik Timur Tengah bisa Menahan Penerbitan Obligasi Baru, Begini Kata TBIG dan ENRG

Di tengah himpitan pasar surat utang, opsi pendanaan dari kredit perbankan menjadi sekoci penyelamat.

Ketidakpastian RKAB, Bukan Halangan Bagi Prospek ITMG ke Depan
| Kamis, 02 April 2026 | 09:00 WIB

Ketidakpastian RKAB, Bukan Halangan Bagi Prospek ITMG ke Depan

Para analis juga memperkirakan bahwa harga jual average selling product (ASP) akan mampu menutupi kenaikan biaya produksi ITMG secara sempurna.

INDEKS BERITA

Terpopuler