Ridwan Goh: Investor Moderat yang Gemar Saham

Sabtu, 16 Maret 2019 | 08:34 WIB
Ridwan Goh: Investor Moderat yang Gemar Saham
[]
Reporter: Krisantus de Rosari Binsasi | Editor: Narita Indrastiti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bagi Ridwan Goh, investasi merupakan salah satu cara untuk meningkatkan penghasilan sekaligus menambah kekayaan. Karena itu, Direktur Utama PT Mark Dynamics Indonesia Tbk (MARK) ini mengaku cukup getol berinvestasi.

Ridwan sejatinya sudah mengenal dunia investasi sejak muda. Namun, ia baru benar-benar berinvestasi sekitar enam tahun silam.

 

Instrumen investasi yang pertama kali dijajalnya adalah saham. Dia mengaku tertarik pada saham setelah diperkenalkan mekanismenya oleh sebuah sekuritas di Indonesia. Sebenarnya saya terdorong masuk berinvestasi di saham karena saya melihat saham merupakan instrumen investasi yang memberikan return dan prospek yang cukup bagus," tutur dia.

 

Tentu saja, Ridwan memahami instrumen ini memiliki sejumlah risiko. Meski begitu, ia tidak lantas merasa takut menanamkan duitnya di pasar saham. Ia beralasan, saat ini hak pemegang saham sudah dilindungi oleh peraturan pasar modal dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). "Jadi, risiko lebih bisa dikelola dan diantisipasi, tambah dia.

 

Saat berinvestasi di saham, Ridwan mengaku tertarik pada saham sektor properti dan semen. Selain itu, ia juga mengoleksi sejumlah saham yang berada di sektor perbankan dan sektor telekomunikasi. Dalam melakukan investasi pada instrumen saham, Ridwan selalu menggunakan uang pribadinya.

 

Setelah merasakan sukses berinvestasi di pasar saham, Ridwan pun tertarik untuk menjajal investasi di reksadana. Adapun jenis reksadana yang dia pilih adalah reksadana campuran yang memiliki aset di saham dan obligasi.

 

Ridwan mulai masuk ke reksadana sekitar tahun 2014. "Saya pilih Reksadana campuran karena merupakan jenis reksadana yang cukup rendah risikonya, walaupun return-nya juga tidak sebesar reksadana saham, lanjut dia.

 

Selain risikonya yang lebih mini, investasi pada reksadana campuran cenderung untuk jangka panjang. Sementara untuk investasi saham lebih untuk investasi jangka pendek dan sekali-sekali untuk trading, papar pria yang sudah 11 tahun bergabung di MARK ini.

 

Investor moderat

 

Dari dua instrumen investasi yang dimilikinya, Ridwan mengaku lebih tertarik pada saham. Alasannya, berinvestasi langsung di saham memungkinkan dia lebih bebas memilih saham yang diinginkan. Sementara kalau di reksadana harus melalui manajer investasi.

 

Soal risiko rugi, menurut dia itu sudah menjadi hal yang lumrah dalam berinvestasi. Tapi tak perlu panik, soalnya bisa lakukan averaging saat harga saham turun, jelas dia.

 

Tip dari Ridwan, saat berinvestasi di saham, harus rajin mencari informasi keuangan dan prospek perkembangan saham. Selain itu, kesabaran juga penting.

 

Ridwan mengkategorikan dirinya sebagai tipe investor yang moderat. Ia beralasan tak terburu-buru dalam berinvestasi dan selalu membuat pertimbangan matang. Selain itu, ia juga tidak suka tipe yang agresif karena cenderung spekulatif. Tetapi baginya, tipe konservatif pun kurang baik karena cenderung monoton.

 

Saya termasuk tipe moderat artinya kalau ada rumor ataupun ada info saham baru naik, saya tidak terburu buru atau terpengaruh untuk cepat-cepat membeli. Selain itu, jangan hanya berinvestasi di satu saham saja dan jangan greedy, terang Ridwan

 

Ia juga mengisahkan, selama berinvestasi ia pernah mengalami untung maupun rugi. Pengalaman untung yang berkesan bagi Ridwan ketika investasi di saham properti milik BUMN pada 2016 lalu. Waktu itu saya baru simpan dalam waktu sembilan bulan tapi sudah memberi hasil sekitar 40%, kenang dia.

Bagikan

Berita Terbaru

Jumlah Nasabah Bertambah, Dana Kelolaan Bisnis Wealth Bank Meningkat
| Jumat, 02 Oktober 2026 | 05:00 WIB

Jumlah Nasabah Bertambah, Dana Kelolaan Bisnis Wealth Bank Meningkat

Bisnis wealth management perbankan terus bertumbuh, ditopang kenaikan nasabah tajir dan meningkatnya minat terhadap produk investasi.

Industri Baja dan Petrokimia Masih Terus Tertekan
| Jumat, 02 Oktober 2026 | 05:00 WIB

Industri Baja dan Petrokimia Masih Terus Tertekan

Kenaikan harga energi global berpotensi meningkatkan biaya logistik dan produksi secara tidak langsung.

Harga Pangan Mengerek Inflasi September
| Jumat, 02 Oktober 2026 | 05:00 WIB

Harga Pangan Mengerek Inflasi September

Harga-harga kembali bergerak naik pada September 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulanan mencapai 0,30% per September.

IHSG Menguji Level 6.000 Jelang Akhir Pekan, Intip Prediksi Untuk Hari Ini (2/10)
| Jumat, 02 Oktober 2026 | 04:50 WIB

IHSG Menguji Level 6.000 Jelang Akhir Pekan, Intip Prediksi Untuk Hari Ini (2/10)

IHSG melemah total 4,59% dalam sepekan terakhir. Sedangkan sejak awal tahun, IHSG melemah 30,50%.   

Perlu Mewaspadai Risiko Penerbitan SBN
| Jumat, 02 Oktober 2026 | 04:30 WIB

Perlu Mewaspadai Risiko Penerbitan SBN

Kenaikan kebutuhan pembiayaan ini perlu diimbangi upaya menjaga biaya utang dan mencegah pembiayaan pemerintah menekan sektor swasta. 

Mutu Tempat Barang Jaminan Gadai Masih Timpang
| Jumat, 02 Oktober 2026 | 04:25 WIB

Mutu Tempat Barang Jaminan Gadai Masih Timpang

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan, infrastruktur fisik penyimpanan barang jaminan di sejumlah perusahaan gadai swasta belum memadai.

Pemulihan Industri Manufaktur Masih Perlu Pembuktian
| Jumat, 02 Oktober 2026 | 04:00 WIB

Pemulihan Industri Manufaktur Masih Perlu Pembuktian

Pemulihan PMI belum dirasakan secara merata oleh seluruh subsektor industri karena Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Kemperin justru menurun.

Bantuan Subsidi Upah Diproyeksi Menjadi Katalis Pendorong Kinerja Sektor Consumer
| Kamis, 01 Oktober 2026 | 17:47 WIB

Bantuan Subsidi Upah Diproyeksi Menjadi Katalis Pendorong Kinerja Sektor Consumer

Dampak bantuan subsidi upah diperkirakan moderat dan tidak berlangsung merata di seluruh subsektor konsumer.

Rights Issue GIAA 124,35 Miliar Saham, Ini Prospek dan Risiko Saham Garuda Indonesia
| Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:51 WIB

Rights Issue GIAA 124,35 Miliar Saham, Ini Prospek dan Risiko Saham Garuda Indonesia

Dari sekitar 550 pesawat yang masih terdaftar untuk beroperasi di Indonesia, hanya 375 pesawat yang benar-benar diterbangkan.

Inflasi September 2026 Naik Jadi 3,28%, Harga Pangan dan Emas Jadi Pendorong
| Kamis, 01 Oktober 2026 | 14:49 WIB

Inflasi September 2026 Naik Jadi 3,28%, Harga Pangan dan Emas Jadi Pendorong

BPS mencatat inflasi berdasarkan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 3,28% secara tahunan atau year on year (yoy) pada September 2026.

INDEKS BERITA

Terpopuler