Saat Devisa Ekspor Pulang Kampung

Jumat, 15 Februari 2019 | 18:00 WIB
Saat Devisa Ekspor Pulang Kampung
[]
Reporter: Havid Vebri, Nina Dwiantika | Editor: Havid Vebri

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harap-harap cemas. Begitulah yang kalangan pengusaha ekspor rasakan, menyusul penerbitan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 1 Tahun 2019 tentang devisa Hasil ekspor (DHE) dari Kegiatan Pengusahaan, Pengelolaan, dan/atau Pengolahan Sumber Daya Alam (SDA).

Maklum, lewat beleid yang berlaku mulai 10 Januari lalu itu, pemerintah mewajibkan eksportir komoditas SDA untuk membawa pulang DHE ke dalam negeri. Alhasil, sekarang tak ada lagi pilihan bagi para eksportir untuk berkilah.

Tak main-main, PP No. 1/2019 mengatur sanksi bagi eksportir yang tidak memindahkan escrow account di luar negeri ke bank devisa di tanah air. Hukumannya, mulai tidak bisa melakukan ekspor, denda, hingga pencabutan izin usaha.

Di satu sisi, eksportir bakal mendapatkan kemudahan dalam proses pengiriman barang ke luar negeri lewat simplifikasi prosedur ekspor dan efisiensi logistik. Tapi di sisi lain, mereka juga harus membawa pulang DHE ke dalam negeri.

Pemerintah pun langsung mengebut proses kelahiran sejumlah aturan turunan PP tersebut. Berupa peraturan Bank Indonesia (PBI) dan peraturan menteri keuangan (PMK) yang sekarang sedang kami siapkan semua, kata Yati Kurniati, Direktur EksekutifKepala Departemen Statistik BI.

Rekening khusus

Menurut Yati, PBI itu akan mengatur sejumlah hal. Salah satunya tentang rekening khusus untuk menampung DHE milik eksportir. Calon aturan ini juga akan memuat tata cara perbankan menata simpanan DHE khusus SDA. Misalnya, dengan account berkode khusus supaya bisa berlaku tarif khusus atas depositonya.

Selama ini, kata Yati, belum ada rekening khusus di perbankan terkait DHE. Sehingga, bank tidak bisa mengetahui, mana saja dana DHE.

Rencana keberadaan rekening khusus langsung jadi perhatian kalangan eksportir. Yang mereka khawatirkan, rekening khusus itu otomatis berbentuk deposito berjangka.

Banyak eksportir menghindari menyimpan DHE dalam bentuk deposito lantaran tidak bisa mereka cairkan sewaktu-waktu. Kami butuh buat modal kerja yang bisa diambil kapan pun, ujar Ido Hutabarat, Ketua Umum Indonesian Mining Association (IMA).

Menurut Ido, eksportir batubara skala kecil tak mungkin menyimpan DHE dalam tempo lama di Indonesia karena membutuhkan modal kerja. Nah, kalau wajib disimpan dalam deposito sampai berbulan-bulan jelas pengusaha akan kesulitan, karena modal kerja ditahan, apalagi royalti juga bayar di muka, jelas Ido yang juga Chief Executive Officer (CEO) PT Arutmin Indonesia.

Sampai saat ini, IMA masih menunggu aturan turunan PP No. 1/2019. Hanya, Ido berharap, bakal beleid itu tidak mewajibkan pengusaha menyimpan di deposito. Boleh disimpan di rekening bank khusus atau current account yang sewaktu-waktu bisa diambil bila diperlukan, imbuhnya.

Pengusaha akan langsung menyampaikan protes jika aturan turunan tersebut kelak mewajibkan DHE disimpan dalam deposito dengan jangka waktu tertentu. Ini, kan, belum jelas beberapa dana DHE yang ditahan di sini, lalu time deposit-nya berapa, ucap Ido.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia membenarkan, banyak eksportir batubara skala kecil cemas dengan PP No. 1/2019. Meski, aturan tersebut tidak masalah bagi eksportir kelas kakap yang memiliki modal kuat, bagi perusahaan skala kecil, kebijakan itu berpotensi menyulitkan. Makanya, mereka merasa khawatir, terlebih ada sanksi, ujar Hendra.

Sayang, Yati belum mau menjelaskan lebih jauh, apakah rekening dana khusus DHE tersebut otomatis menjadi deposito atau current account biasa yang sewaktu-waktu bisa diambil oleh eksportir. Yang jelas, para eksportir wajib menempatkan DHE SDA dalam rekening khusus itu paling lambat di akhir bulan ketiga setelah melakukan pendaftaran pemberitahuan pabean ekspor.

Selain rekening khusus, PBI tersebut juga akan mengatur mekanisme pengawasan bank sentral terhadap DHE yang masuk ke rekening khusus dan penggunaannya. Sementara untuk monitoring arus dokumen hingga barang, jadi tugas Kementerian Keuangan.

PBI pun bakal memuat soal mekanisme pemberian insentif perpajakan buat eksportir yang membawa pulang DHE ke dalam negeri dan mengonversikan ke rupiah. Insentif pajak deposito akan lebih mudah, lebih cepat, lebih jelas, kata Gubernur BI Perry Warjiyo.

Tarif pajak tetap

Soal besaran insentif pajaknya, aturan mainnya tertuang dalam PMK. Kementerian Keuangan (Kemkeu) juga tengah merevisi peraturan mengenai insentif pajak penghasilan (PPh) atas bunga deposito yang jadi tempat penyimpanan DHE. Tapi, perubahan peraturan itu tidak menurunkan tarif.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemkeu Suahasil Nazara mengungkapkan, perubahan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 26/PMK.010/2016 hanya berupa pelonggaran kebijakan insentif bagi eksportir yang memperpanjang jangka waktu penempatan DHE di perbankan dalam negeri. Dan, yang memindahkannya ke deposito bank lain di Indonesia.

Kalau depositonya diperpanjang atau pindah dari satu bank ke bank lain yang ada di dalam negeri, maka boleh mendapatkan fasilitas (perpajakan) yang sama, ungkap Suahasil.

Informasi saja, ayat (2) Pasal 3 PMK No. 26/2106 menyatakan, potongan atau diskon tarif PPh final atas deposito DHE tidak berlaku jika telah melalui mekanisme perpanjangan atau dipindahkan ke bank lain.

Alhasil, Suahasil memastikan, tidak ada perubahan tarif pajak PPh final bagi deposito DHE. Nanti, ada perbaikan di PMK yang baru, tapi untuk rate akan tetap sama, tegasnya.

Pemerintah sebetulnya tidak mewajibkan DHE dikonversi ke rupiah. Artinya, eksportir tetap bisa menyimpan DHE dalam dollar Amerika Serikat (AS) melalui deposito. Toh, eksportir yang menyimpan DHE dalam mata uang negeri Uwak Sam tak akan mendapatkan diskon PPh seperti ekportir yang menyimpan DHE dalam rupiah.

Sebagai catatan, untuk DHE yang disimpan di deposito dalam dollar AS, tarif PPh final atas bunga sebesar 10% dari jumlah bruto untuk jangka waktu satu bulan. Sementara, deposito dalam rupiah, bunga hanya kena tarif PPh 7,5% untuk jangka sebulan (lihat tabel).

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani berpendapat, perbedaan insentif yang ditawarkan bagi eksportir yang menyimpan DHE dalam mata uang rupiah dan dollar AS memang kecil, hanya 2,5%. Namun demikian, insentif tersebut sudah cukup menarik.

Tak hanya insentif, Haryadi juga menilai, sanksi dari pemerintah bagi eksportir yang tidak membawa pulang DHE ke kampung halaman sudah tepat. devisa ekspor seharusnya dibawa pulang demi memperkuat cadangan devisa, ujarnya.

Cadangan devisa jelas sangat penting sebagai salah satu instrumen stabilisasi moneter. Sepanjang tahun lalu, cadangan devisa Indonesia terus tergerus di tengah upaya stabilisasi nilai tukar rupiah. Hingga akhir November 2018 cadangan devisa tercatat sebesar US$ 117,2 miliar. Angka ini merosot jauh dibandingkan Januari 2018 mencapai US$ 131,98 miliar.

Nah, untuk memperkuat cadangan devisa tahun ini, memang semua pihak harus bahu membahu. Tak terkecuali, dukungan dari para eksportir untuk membawa pulang DHE.

Bagikan

Berita Terbaru

Pertumbuhan Indeks Keyakinan Konsumen Belum Mendongkrak Prospek Emiten
| Rabu, 13 Mei 2026 | 10:19 WIB

Pertumbuhan Indeks Keyakinan Konsumen Belum Mendongkrak Prospek Emiten

Kenaikan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) per April 2026 belum menjadi katalis positif emiten konsumer.

Rama Indonesia Resmi Jadi Pengendali Saham Dua Putra Utama Makmur (DPUM)
| Rabu, 13 Mei 2026 | 10:11 WIB

Rama Indonesia Resmi Jadi Pengendali Saham Dua Putra Utama Makmur (DPUM)

PT Rama Indonesia telah menyelesaikan transaksi pengambilalihan saham mayoritas PT Dua Putra Utama Makmur Tbk (DPUM). 

Medela Potentia (MDLA) Sebar Dividen Rp 176,56 Miliar
| Rabu, 13 Mei 2026 | 10:07 WIB

Medela Potentia (MDLA) Sebar Dividen Rp 176,56 Miliar

Besaran nilai dividen tersebut mencerminkan peningkatan rasio pembayaran dividen menjadi 45% dari laba bersih emiten farmasi itu di tahun 2025.

Agar Kinerja Bisa Lebih Seksi, Telkom (TLKM) Menggenjot Efisiensi
| Rabu, 13 Mei 2026 | 10:01 WIB

Agar Kinerja Bisa Lebih Seksi, Telkom (TLKM) Menggenjot Efisiensi

Saat ini, TLKM sedang melakukan streamlining alias perampingan sebagai strategi penataan portofolio non-core. ​

MIKA Masih Tangguh di Tengah Pelemahan Rupiah, Ini Penopangnya
| Rabu, 13 Mei 2026 | 09:00 WIB

MIKA Masih Tangguh di Tengah Pelemahan Rupiah, Ini Penopangnya

MIKA dinilai memiliki kemampuan cost pass-through yang cukup baik, khususnya pada segmen non-BPJS dan layanan premium.

Ruang BI Rate untuk Naik, Kian Terbuka
| Rabu, 13 Mei 2026 | 08:31 WIB

Ruang BI Rate untuk Naik, Kian Terbuka

Bank Indonesia diuji berat! Pelemahan rupiah 4,5% dan minyak US$100+ picu spekulasi kenaikan suku bunga hingga 50 bps.

RATU Perluas Portofolio Gas, Intip Potensi dan Risikonya
| Rabu, 13 Mei 2026 | 08:30 WIB

RATU Perluas Portofolio Gas, Intip Potensi dan Risikonya

Akuisisi tersebut berpotensi mendorong pertumbuhan pendapatan dan EBITDA RATU secara bertahap mulai tahun ini.

Emiten Kawasan Industri Mulai Bangkit, Cek Rekomendasi Saham Analis
| Rabu, 13 Mei 2026 | 08:01 WIB

Emiten Kawasan Industri Mulai Bangkit, Cek Rekomendasi Saham Analis

Sektor properti industri mulai pulih, didorong data center. Namun, ada emiten yang kinerjanya justru turun. Cek detailnya!

Melihat Rebound Saham-Saham Komoditas Energi Pekan Ini
| Rabu, 13 Mei 2026 | 08:00 WIB

Melihat Rebound Saham-Saham Komoditas Energi Pekan Ini

Strategi terbaik dan aman yang bisa dilakoni pekan ini adalah melakukan akumulasi secara bertahap dibandingkan averaging down secara agresif.

Pengumuman MSCI, IHSG Ambruk, Rupiah Terburuk Lagi, Cek Rekomendasi Saham Hari Ini
| Rabu, 13 Mei 2026 | 07:54 WIB

Pengumuman MSCI, IHSG Ambruk, Rupiah Terburuk Lagi, Cek Rekomendasi Saham Hari Ini

Rupiah kembali mencetak rekor terburuk sepanjang sejarah. Rupiah tutup di Rp 17.514 per dolar Amerika Serikat (AS).

INDEKS BERITA

Terpopuler