Sekadar Stempel

Sabtu, 18 Juli 2026 | 06:10 WIB
Sekadar Stempel
[ILUSTRASI. Yuwono Triatmodjo (KONTAN/Steve GA)]
Yuwono Triatmodjo | Redaktur Pelaksana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tepat 2 April 2026, Bursa Efek Indonesia (BEI) merilis daftar high shareholding concentration (HSC) alias saham-saham yang kepemilikannya terkonsentrasi tinggi hanya pada satu pihak atau kelompok pengendali saja. Kala itu BEI merilis sembilan nama emiten, tak terkecuali milik taipan, seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA).

Namun siapa sangka, terselip nama PT Panca Anugrah Wisesa Tbk dengan kode saham MGLV. "Saham Perseroan dimiliki oleh sejumlah tertentu pemegang saham yang secara agregat menguasai 95,94% dari total Saham dalam bentuk warkat dan tanpa warkat MGLV," tulis manajemen BEI, 2 April silam.

Sampai di sini, kita memiliki bekal informasi penguasaan 95,94% saham MGLV oleh pemegang saham dan masuk daftar HSC. Jika informasi ini disandingkan dengan pergerakan harga saham MGLV beberapa waktu sebelumnya, hasil makin menarik.

Bayangkan saja, harga saham MGLV naik 497,20% sepanjang periode 17 Juli 2025 saat masih di harga Rp 787, jadi Rp 4.700 per 17 Maret 2026. Lonjakan harga ini terjadi hanya dalam tempo 7 bulan saja.

Belakangan diketahui bahwa MGLV memiliki pengendali baru yang namanya sudah melegenda di kancah industri keuangan Tanah Air. Dari tiga nama pemilik manfaat akhir atau beneficial owner MGLV, dua diantaranya adalah pendiri Northstar Group, yakni Patrick Walujo dan Glenn T. Sugita.

Yang perlu mendapat catatan, per 31 Maret 2026, MGLV melaporkan ke otoritas bahwa saham free float emiten ini ada di angka 21,26%. Sementara BEI menempatkan MGLV dalam daftar saham-saham HSC dengan konsentrasi pengendalian hingga 95,94%. Mana yang tepat?

Penetapan MGLV dalam daftar HSC ternyata tak membuat investor publik gentar. Single investor Identification (SID) atau nomor identitas tunggal investor MGLV sempat turun dari 721 SID (31 Maret) menjadi 666 (30 April). Namun angkanya kembali naik menjadi 692 (31 Mei) dan bahkan tembus 743 hingga akhir Juni, lebih banyak dibandingkan saat MGLV masuk katagori HSC.

Demikian juga harga saham MGLV kini sudah nangkring di harga Rp 8.100 per 17 Juli 2026, alias melonjak 72,34% sejak MGLV masuk daftar HSC. HSC hanya bagaikan stempel.

Tergambar, HSC tak seperti yang diharapkan: berfungsi sebagai early warning system. Malah sebaliknya, kondisi ini menjadi langkah spekulasi investor, yang menggantungkan harapan pada sosok pengendali.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

MEDC Memacu Energi Terbarukan
| Kamis, 10 September 2026 | 07:43 WIB

MEDC Memacu Energi Terbarukan

PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) akan menambah berbagai portofolio sumber energi baru terbarukan di lini kelistrikan

Tren Penjualan Mobil Terus Melaju
| Kamis, 10 September 2026 | 07:40 WIB

Tren Penjualan Mobil Terus Melaju

Peningkatan penjualan ditopang oleh kelancaran produksi dan penyerahan kendaraan listrik berbasis baterai dengan harga yang lebih terjangkau.​

Tren Penjualan Mobil Terus Melaju
| Kamis, 10 September 2026 | 07:40 WIB

Tren Penjualan Mobil Terus Melaju

Peningkatan penjualan ditopang oleh kelancaran produksi dan penyerahan kendaraan listrik berbasis baterai dengan harga yang lebih terjangkau.​

BlackRock Lepas, Morgan Stanley Pilih Borong, Saham GOTO Jadi Incaran di Harga Rp 25
| Kamis, 10 September 2026 | 07:24 WIB

BlackRock Lepas, Morgan Stanley Pilih Borong, Saham GOTO Jadi Incaran di Harga Rp 25

Investor tidak perlu buru-buru menyimpulkan Rp 25 per saham sebagai harga terendah atau bottom GOTO. 

Penguatan Belum Mencerminkan Fase Bullish Struktural, Tantangan Rupiah Masih Besar
| Kamis, 10 September 2026 | 07:00 WIB

Penguatan Belum Mencerminkan Fase Bullish Struktural, Tantangan Rupiah Masih Besar

Rupiah mampu menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam lima hari berturut-turut hingga kembali ke Rp 17.500 per dolar AS

Bank Digital Jaga Kualitas Kredit Tetap Terjaga
| Kamis, 10 September 2026 | 06:53 WIB

Bank Digital Jaga Kualitas Kredit Tetap Terjaga

Bank digital memperkuat mitigasi risiko untuk menjaga kualitas kredit dan menekan NPL.                   

Daya Beli Menahan Laju KPR
| Kamis, 10 September 2026 | 06:52 WIB

Daya Beli Menahan Laju KPR

Data Bank Indonesia (BI) mencatat, outstanding KPR perbankan per Juli 2026 mencapai Rp 855,9 triliun, tumbuh 4,3% secara tahunan (yoy)

Rupiah pada Kamis (10/9) Menanti Data Ekonomi AS
| Kamis, 10 September 2026 | 06:45 WIB

Rupiah pada Kamis (10/9) Menanti Data Ekonomi AS

Berdasarkan data Bloomberg pada Rabu (9/9), rupiah  naik 0,69% secara harian ke level Rp 17.511 per dolar AS

Pemda Minta Bunga Kredit SMI Rendah
| Kamis, 10 September 2026 | 06:44 WIB

Pemda Minta Bunga Kredit SMI Rendah

Apkasi menyambut rencana tersebut sebagai alternatif pembiayaan infrastruktur, tetapi meminta bunga pinjaman ditekan serendah mungkin.

Awas Konflik Kepentingan di Pengelolaan Aset Sitaan
| Kamis, 10 September 2026 | 06:40 WIB

Awas Konflik Kepentingan di Pengelolaan Aset Sitaan

RUU Perampasan Aset harus mengatur pemisahan fungsi pengelola aset dan pengawasan berlapis agar tidak ada konflik kepentingan

INDEKS BERITA

Terpopuler