Sektor-Sektor Usaha Ini yang Menyebabkan Pertumbuhan di Kuartal I Terkontraksi

Selasa, 11 Mei 2021 | 06:00 WIB
 Sektor-Sektor Usaha Ini yang Menyebabkan Pertumbuhan di Kuartal I Terkontraksi
[]
Reporter: Thomas Hadiwinata | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sektor usaha di Indonesia mengalami nasib yang berbeda selama tiga bulan pertama tahun ini. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, sebanyak enam sektor usaha mengalami pertumbuhan dalam basis tahunan atau year-on-year. Sedangkan 11 sektor lainnya mengalami penurunan jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya. 

Di kelompok usaha yang mengalami pertumbuhan, sektor informasi dan komputer dalam catatan BPS mengalami pertumbuhan tahunan paling tinggi, mencapai 8,72%. Sedangkan transportasi dan pergudangan menjadi sektor usaha dengan penurunan alias kontraksi terdalam di periode kuartal pertama, sebesar 13,12%.

Baca Juga: Konsumsi mulai naik, PLN bidik pertumbuhan penjualan listrik 4,7% di tahun ini

Dalam Berita Resmi Statistik yang dipublikasikan pada 5 Mei lalu, BPS menyebut lebih dari separuh, tepatnya 64,56%, produk domestik bruto di kuartal pertama berasal dari lima sektor. Masing-masing adalah industri, pertanian, perdagangan, konstruksi dan pertambangan.

Dari kelima sektor tersebut, hanya pertanian yang mampu mencatatkan pertumbuhan untuk kuartal pertama tahun ini. Sedangkan empat sektor lainnya, yaitu industri, pertambangan, konstruksi dan pertambangan mengalami penurunan alias kontraksi. (Lihat infografik)

Pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama 2021  yang sebesar -0,74% year-on-year juga dirinci BPS berdasarkan kontribusi per lapangan usaha. Ada lima lapangan usaha yang diidentifikasi BPS sebagai penyumbang pertumbuhan. Masing-masing adalah transportasi dan pergudangan, akomodasi dan makan minum, industri pengolahan, perdagangan dan lain-lain.

Baca Juga: Realisasi insentif pajak program PEN mencapai Rp 26,19 triliun hingga 20 April 2021

Dari kelima lapangan usaha yang disebut BPS, hanya sektor lain-lain yang memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama, yaitu 0,47%.

Perdagangan serta akomodasi dan makan minum memberi kontribusi minus terhadap pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama, masing-masing -0,16 dan -0,22. Sedang industri pengolahan memberikan kontribusi sebesar minus 29%.

Kontraksi terdalam terhadap pertumbuhan ekonomi di tiga bulan pertama tahun ini datang dari sektor transportasi dan pergudangan. Dalam hitungan BPS, nilainya mencapai -0,54%. 

Situasi pandemi yang masih berlangsung di awal tahun ini menyebabkan transportasi dan pergudangan menjadi sektor penyumbang kontraksi terbesar. Kebijakan pembatasan mobilitas yang diberlakukan untuk mencegah peredaran virus corona, berdampak terhadap penurunan trafik penumpang berbagai moda transportasi dan jumlah perjalanan moda transportasi.

Selanjutnya: Komponen Penyumbang Mayoritas PDB di Kuartal I-2021 Ini Masih Mengalami Kontraksi

 

Bagikan

Berita Terbaru

Jangan Serakah Serok Beli Saham dan Panic Sell Berlebihan
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 12:53 WIB

Jangan Serakah Serok Beli Saham dan Panic Sell Berlebihan

Dengan kondisi pasar saham yang memerah, bagaimana saran keputusan investasi saat ini?              

Bencana dan Relevansi Instrumen Pembayaran
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 10:54 WIB

Bencana dan Relevansi Instrumen Pembayaran

Preferensi masyarakat terhadap pembayaran tunai banyak dipengaruhi oleh kenyamanan dan kemudahan yang dirasakan.

Meredam Inflasi
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 10:34 WIB

Meredam Inflasi

Masalahnya, lonjakan harga pangan semakin menjadi persoalan, karena terjadi saat daya beli masyarakat masih melemah.

BPJS Disuntik Dana Rp 20 Triliun: Efek ke Kinerja MIKA, SILO, dan HEAL Tak Serupa
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 09:57 WIB

BPJS Disuntik Dana Rp 20 Triliun: Efek ke Kinerja MIKA, SILO, dan HEAL Tak Serupa

Perbedaan porsi pasien jadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan investor dalam menilai potensi dampak tambahan dana BPJS Kesehatan.

Analisis Kinerja & Saham PWON: Marketing Sales Turun namun Tertolong Recurring Income
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 09:21 WIB

Analisis Kinerja & Saham PWON: Marketing Sales Turun namun Tertolong Recurring Income

Keberlanjutan insentif PPN DTP dan stabilitas suku bunga sebagai faktor yang dapat mendorong pemulihan permintaan properti.

Mengukur Efek Volatilitas Harga Minyak Dunia ke Saham MEDC, ENRG, dan RATU
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:58 WIB

Mengukur Efek Volatilitas Harga Minyak Dunia ke Saham MEDC, ENRG, dan RATU

PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) menjadi emiten yang paling langsung terpapar pergerakan harga minyak.

Peluang dan Risiko Saham Valuasi Rendah
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:20 WIB

Peluang dan Risiko Saham Valuasi Rendah

Tekanan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuat sejumlah saham kini diperdagangkan dengan price to earnings ratio (PER) di bawah rata-rata. 

Paradoks Saham DSSA: Saat Minat Asing Bertabrakan dengan Tipisnya Order Book di Pasar
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:14 WIB

Paradoks Saham DSSA: Saat Minat Asing Bertabrakan dengan Tipisnya Order Book di Pasar

Volatilitas DSSA cenderung lebih tinggi dibandingkan saham berkapitalisasi besar lain yang punya basis pemegang saham lebih luas.

Efek Kredit Rakyat Rp 400 Triliun Diramal Terbatas
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:03 WIB

Efek Kredit Rakyat Rp 400 Triliun Diramal Terbatas

Secara nominal, kredit Rp 400 triliun setara sekitar 1,5% dari produk domestik bruto (PDB)          

Kinerja Bukalapak Kembali Keok, Penurunan Investasi Menjadi Biang Kerok
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:02 WIB

Kinerja Bukalapak Kembali Keok, Penurunan Investasi Menjadi Biang Kerok

Kerugian investasi menekan kinerja PT Bukalapak.com (BUKA), hingga berbalik mencatatkan rugi bersih.

INDEKS BERITA

Terpopuler