Sentra Food Indonesia Geber Penjualan Saat Momen Libur

Sabtu, 06 April 2019 | 05:40 WIB
Sentra Food Indonesia Geber Penjualan Saat Momen Libur
[]
Reporter: Dimas Andi | Editor: Narita Indrastiti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Sentra Food Indonesia Tbk percaya diri menatap prospek bisnis tahun ini. Apalagi pada tahun lalu, emiten berkode FOOD ini meraih pencapaian kinerja yang gemilang.

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, pendapatan FOOD pada 2018 mencapai Rp 122,06 miliar. Angka ini naik 22% dibandingkan realisasi tahun sebelumnya.

Di saat yang sama, perusahaan yang bergerak di bidang makanan olahan ini juga berhasil mencetak pertumbuhan laba bersih hingga 234% menjadi Rp 1,49 miliar. Mengingat pada tahun sebelumnya, laba bersih perusahaan hanya Rp 335 juta.

Direktur Utama FOOD Agustus Sani Nugroho menjelaskan, strategi pemasaran produk yang efektif dan efisien berperan besar terhadap peningkatan kinerja perusahaan tahun lalu. Ditambah lagi, emiten ini juga kerap mengeluarkan varian produk yang tepat dan bisa memenuhi kebutuhan pelanggan.

Perusahaan ini juga kerap melakukan kerjasama dengan berbagai perusahaan ritel modern agar dapat menjangkau konsumen. Buktinya, produk-produk FOOD dapat ditemui di berbagai toko, baik hypermarket, supermarket hingga minimarket.

Tak hanya itu, FOOD juga melakukan distribusi melalui agen yang biasanya menjual produk ke pelanggan-pelanggan tetap. Strategi tersebut terbukti efektif mendatangkan keuntungan bagi perusahaan barang konsumer ini.

Berdasarkan catatan KONTAN, titik distribusi FOOD berada di 10 kota yang meliputi Medan, Pekanbaru, Palembang, Jakarta, Bandung, Solo, Semarang, Surabaya, Bali dan Makassar.

Agustus optimistis, FOOD bakal bisa mengulangi performa ciamik pada tahun ini. Perusahaan ini menargetkan pendapatan dapat mencapai kurang lebih Rp 150 miliar, atau tumbuh sekitar 23% dibanding tahun lalu. Guna mengerek kinerja agar lebih ciamik, FOOD pun sudah menyiapkan sejumlah agenda ekspansi.

Sayangnya, Agustus tidak bisa menyebutkan nilai belanja modal atau capital expenditure (capex) yang dikeluarkan perusahaan untuk kebutuhan ekspansi di tahun ini. Ia hanya bilang, pihaknya belum memiliki rencana melakukan penambahan capex.

Untuk tahun ini, FOOD juga bakal fokus pada pengembangan pasar. Saat ini peluang FOOD masih cukup terbuka di segmen bisnis ritel maupun segmen bisnis horeka (hotel, restoran, dan kafe), ungkap Agustus, Jumat (5/4).

FOOD juga akan bekerjasama dalam hal pemasaran dengan pihak institusi pemerintah dan korporasi. Tak hanya itu, perusahaan ini juga berupaya memperkuat kemitraan dengan peritel-peritel kecil, demi mengerek kinerja keuangan pada tahun ini.

FOOD juga berniat menambah varian produk baru yang akan mulai direalisasikan pada semester kedua tahun ini. Konsep produk baru kami pada intinya akan mendorong penjualan dan menjangkau konsumen yang selama ini belum tersentuh, terang Agustus.

Sektor daging

Menjelang Lebaran tahun ini, penjualan FOOD diprediksi bakal meningkat tinggi. Terutama untuk produk daging olahan. Agustus menuturkan, saat ini FOOD sudah memiliki beragam merek produk daging olahan yang dapat merepresentasikan segmen-segmen konsumennya.

Ambil contoh, produk daging sapi olahan dengan merek Chami ditujukan untuk konsumen ekonomi menengah ke bawah. Sementara untuk konsumen menengah ke atas, perusahaan ini memiliki produk bermerek Villadorp Premium. Ini merupakan produk daging sapi olahan yang terdiri dari empat varian.

Karena itu, FOOD berpotensi memperoleh keuntungan yang besar ketika momen Lebaran tiba. Di luar periode tersebut, pada umumnya permintaan terhadap produk perusahaan di sektor ini juga meningkat jelang Natal dan tahun baru.

Jelang hari raya dan musim liburan, FOOD akan menyiapkan stok produk lebih banyak. "Ini guna mengantisipasi peningkatan permintaan dari konsumen di periode tersebut, tutur Agustus.

Peningkatan penjualan produk pada periode-periode tersebut nantinya akan mengkompensasi penurunan penjualan yang terjadi di periode ketika permintaan pasar cenderung lesu.

FOOD juga tidak terlalu mengkhawatirkan risiko volatilitas kurs rupiah, kendati emiten ini kerap melakukan impor daging sapi, seiring pasokan daging sapi lokal berkualitas yang belum mencukupi. Pasalnya, pembelian daging sapi impor dilakukan melalui distributor lokal.

Dengan demikian, FOOD melakukan pembayaran transaksi tersebut dengan mata uang rupiah. Karena itu, dampak pelemahan atau penguatan rupiah tidak signifikan terhadap bisnis FOOD, tutur Agustus.

Bagikan

Berita Terkait

Berita Terbaru

Berharap Bulan Ramadan Memacu Saham Kesehatan Jadi Bugar
| Rabu, 11 Februari 2026 | 08:00 WIB

Berharap Bulan Ramadan Memacu Saham Kesehatan Jadi Bugar

Dalam kondisi volatil, saham-saham emiten di sektor kesehatan sering jadi pilihan defensif para investor.

Jurus Mengalap Cuan di Bulan Ramadan
| Rabu, 11 Februari 2026 | 07:49 WIB

Jurus Mengalap Cuan di Bulan Ramadan

Secara historis, sejumlah saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) kerap melonjak selama bulan suci ini. 

Emiten Prajogo Pangestu Buyback Rp 6,75 Triliun, Analis: Hanya Menahan Koreksi Harga
| Rabu, 11 Februari 2026 | 07:16 WIB

Emiten Prajogo Pangestu Buyback Rp 6,75 Triliun, Analis: Hanya Menahan Koreksi Harga

Lima dari enam emiten Grup Barito milik konglomerat Prajogo Pangestu kompak melaksanakan buyback sejak awal Februari 2026.

Rentetan Peringatan Lembaga Asing Tambah Panjang, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Rabu, 11 Februari 2026 | 06:46 WIB

Rentetan Peringatan Lembaga Asing Tambah Panjang, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

FTSE Russel ini menunda peninjauan (review) saham Indonesia periode Maret 2026. Tinjauan ini diprediksi mempengaruhi pergerakan indeks hari ini.​

Margin Bunga Perbankan Bakal Tertekan
| Rabu, 11 Februari 2026 | 06:40 WIB

Margin Bunga Perbankan Bakal Tertekan

​Tren penurunan suku bunga dan ekspansi kredit berimbal hasil rendah membuat margin bunga perbankan diproyeksi tertekan tahun ini.

FTSE Soroti Pasar Indonesia, Dana Asing Berpeluang Keluar Lagi
| Rabu, 11 Februari 2026 | 06:38 WIB

FTSE Soroti Pasar Indonesia, Dana Asing Berpeluang Keluar Lagi

FTSE Russell menghentikan sementara implementasi penambahan dan penghapusan saham Indonesia dalam indeks

Ekspansi Mall dan Residensial Menopang Kinerja SMRA
| Rabu, 11 Februari 2026 | 06:35 WIB

Ekspansi Mall dan Residensial Menopang Kinerja SMRA

Kinerja PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) didorong potensi penurunan suku bunga dan pemulihan kontribusi recurring income dari pusat perbelanjaan.​

Bank Siapkan Capex TI Jumbo Tahun Ini
| Rabu, 11 Februari 2026 | 06:30 WIB

Bank Siapkan Capex TI Jumbo Tahun Ini

Perbankan secara konsisten memperkuat kapabilitas teknologi informasi (TI) sebagai strategi jangka panjangnya untuk menghadapi tantangan digital

Diversifikasi Bisnis Bakal Dorong Margin Petrosea Tbk (PTRO)
| Rabu, 11 Februari 2026 | 06:30 WIB

Diversifikasi Bisnis Bakal Dorong Margin Petrosea Tbk (PTRO)

Akuisisi PT Singaraja Putra Tbk (SINI) diperkirakan melipatgandakan laba bersih PTRO pada 2026. Simak rincian potensi keuntungan investor!

Reformasi Pasar Modal Bisa Menekan Bisnis Sekuritas
| Rabu, 11 Februari 2026 | 06:27 WIB

Reformasi Pasar Modal Bisa Menekan Bisnis Sekuritas

OJK menarik rem pertumbuhan bisnis sekuritas, mendorong pasar integritas. Kebijakan ini berpotensi picu konsolidasi dan kenaikan biaya kepatuhan.

INDEKS BERITA

Terpopuler