Seperti Ini Sosok dan Mekanisme Tarif Pajak Minimum Global

Kamis, 08 April 2021 | 23:06 WIB
Seperti Ini Sosok dan Mekanisme Tarif Pajak Minimum Global
[ILUSTRASI. Menteri Keuangan AS Janet Yellen saat menghadiri acara di Washington, AS. 13 Desember 2017. REUTERS/Jonathan Ernst TPX IMAGES OF THE DAY]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - PARIS/WASHINGTON.  Gagasan pemberlakuan kisaran minimal untuk tarif pajak penghasilan badan yang berlaku global kembali bergabung. Adalah Pemerintah Amerika Serikat (AS) yang kembali menghidupkan wancana yang dipercaya bisa menghentikan kecenderungan di banyak negara untuk berlomba memangkas tarif pajak penghasilan

Menteri Keuangan AS Janet Yellen, awal pekan ini, menyatakan Negeri Paman Sam akan bekerjasama dengan negara-negara anggota G20 untuk merumuskan tarif pajak penghasilan minimum bagi perusahaan berskala global. Rencana ini bisa membuka jalan bagi kesepakatan yang telah lama dinanti-nanti, yaitu pembaruan aturan pajak internasional.

Baca Juga: Kadin optimistis ekonomi Indonesia tumbuh positif tahun ini, apa alasannya?

Mengapa tarif minimum diperlukan?

Negara-negara ekonomi besar ingin mencegah perusahaan multinasional mengalihkan laba, dan tentu, pendapatan kena pajaknya, ke negara-negara yang memberlakukan tarif pajak lebih rendah. Pengalihan itu dilakukan tanpa melihat tempat di mana penghasilan tersebut dicetak.

Semakin banyak pendapatan korporasi global, yang berasal dari aset tidak berwujud, seperti paten obat, perangkat lunak, dan royalti atas kekayaan intelektual, yang bermigrasi ke yurisdiksi dengan tarif pajak rendah. Langkah ini dilakukan korporasi global untuk menghindari kewajiban pembayaran pajak yang lebih tinggi di negeri asal mereka.

Pemerintahan AS di bawah Presiden Joe Biden berharap tarif pajak minimum yang disepakati banyak negara akan menghentikan kecenderungan erosi basis pajak. Dan di saat bersamaan, perusahaan global asal AS tidak mengalami kerugian finansial, sehingga tetap dapat bersaing dalam inovasi, infrastruktur dan atribut lainnya.

Upaya AS untuk menangkap pendapatan yang hilang ke surga pajak sudah dimulai sejak era Donald Trump, yang memberlakukan tarif pajak yang lebih rendah bagi perusahaan AS yang beroperasi secara global pada tahun 2017. Tarif pajak Global Intangible Low Taxed Income (GILTI) hanya 10,5%, setengah dari tarif pajak untuk perusahaan domestik .

Baca Juga: Pandemi dan stimulus ekonomi tentukan besaran defisit anggaran pada 2023

Apa saja cakupan pajak global?

Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) yang berbasis di Paris telah mengupayakan negosiasi pajak di antara 140 negara selama bertahun-tahun. Proses yang dimotori OECD itu berupaya untuk menetapkan aturan pajak bagi layanan digital lintas batas berikut upaya mengekang erosi basis pajak, dan menetapkan kisaran tarif pajak penghasilan minimum bagi perusahaan global.

Negara-negara OECD dan G20 menargetkan kedua tujuan tersebut bisa tercapai di pertengahan tahun. Pembahasan tentang tarif minimum untuk perusahaan global secara teknis lebih sederhana dan tidak menimbulkan perdebatan politik.

OECD memperkirakan tambahan pajak penghasilan yang harus dibayar perusahaan-perusahaan global berada di kisaran US$ 50 miliar – US$ 80 miliar, apabila kedua tujuan tersebut tercapai. Dan, pajak minimum akan menyumbang bagian terbesar dari tambahan pajak tersebut.

Seperti apa  mekanisme pajak minimum?

Negara yang menyetujui tarif minimum global, tetap memiliki kewenangan untuk menetapkan tarif pajak bagi perusahaan di skala lokal. Namun pemerintah di sebuah negara berhak mengenakan pajak tambahan, sesuai tarif minimum yang disepakati, terhadap perusahaan global yang membayar tarif lebih rendah di yurisdiksi tertentu. Pengenaan pajak tambahan ini akan menghilankan keuntungan yang bisa dikantongi perusahaan global dengan mengalihkan labanya ke tax haven.

Pemerintahan Biden mengatakan akan menolak pengecualian pajak yang dibayarkan ke negara-negara yang tidak menyetujui tarif minimum.

OECD bulan lalu mengatakan bahwa banyak negara telah menyetujui desain dasar pajak minimum. Namun kesepakatan tarif pajak, pembahasan yang menurut pakar pajak paling pelik, belum tercapai.

Hal lain yang masih harus dinegosiasi, misalnya apakah industri seperti dana investasi dan perwalian investasi real estat harus dicakup. Atau, kapan harus menerapkan tarif baru dan memastikannya sesuai dengan reformasi pajak di AS yang bertujuan untuk mencegah erosi basis pajak.

Baca Juga: Aktivitas pengawasan lewat SP2DK dan LHP2DK hasilkan Rp 66,8 triliun penerimaan pajak

Serendah apa tingkat minimum yang diinginkan?

Pemerintahan Biden ingin menaikkan tarif pajak perusahaan di AS menjadi 28%, karena itu ia mengusulkan tarif minimum global 21% atau dua kali lipat dari tarif pajak GILTI yang berlaku saat ini. Ia juga menginginkan nilai minimum diterapkan ke perusahaan AS, di mana pun pendapatan kena pajak diperoleh.

Proposal tersebut jauh di atas tarif pajak minimum 12,5% yang dibahas OECD sebelumnya. Angka itu, secara kebetulan, setara dengan tarif pajak perusahaan di Irlandia.

Ekonomi Irlandia telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir berkat mengalirnya investasi dari perusahaan multinasional bernilai miliaran dollar AS. Bisa ditebak, Dublin, yang telah menolak upaya Uni Eropa untuk menyelaraskan tarif pajak di antara negara anggotanya selama lebih dari satu dekade, tidak mungkin menerima tarif minimum yang lebih tinggi tanpa perlawanan.

Selanjutnya: Program infrastruktur Biden kemungkinan hadapi tantangan

 

Bagikan

Berita Terbaru

Bertabur Sentimen Negatif, Berikut Proyeksi IHSG Hari Ini, Kamis (9/7)
| Kamis, 09 Juli 2026 | 07:02 WIB

Bertabur Sentimen Negatif, Berikut Proyeksi IHSG Hari Ini, Kamis (9/7)

Pelemahan IHSG berlanjut Kamis ini. Ancaman penurunan status pasar dan kenaikan harga minyak jadi biang kerok. 

Bank Syariah Masih Cetak Kinerja Positif
| Kamis, 09 Juli 2026 | 07:00 WIB

Bank Syariah Masih Cetak Kinerja Positif

Bank syariah masih mencetak pertumbuhan positif, ditopang kenaikan laba, pembiayaan, dan dana pihak ketiga.

Yield Obligasi Korporasi Naik, Investor Justru Cari Peluang di Tengah Tekanan?
| Kamis, 09 Juli 2026 | 06:45 WIB

Yield Obligasi Korporasi Naik, Investor Justru Cari Peluang di Tengah Tekanan?

Penerbitan obligasi korporasi menurun 3,91% di semester I 2026. Namun, investor kini melirik instrumen ini sebagai alternatif imbal hasil

Menilik Sektor Penopang Kredit Perbankan
| Kamis, 09 Juli 2026 | 06:45 WIB

Menilik Sektor Penopang Kredit Perbankan

Kredit perbankan tumbuh dua digit, sektor konstruksi, manufaktur, dan energi jadi motor utama penyaluran.

Bank Menengah Percepat Serapan Investasi TI dan Digital
| Kamis, 09 Juli 2026 | 06:35 WIB

Bank Menengah Percepat Serapan Investasi TI dan Digital

Bank-bank menengah mempercepat belanja TI untuk memperkuat layanan digital dan menghadapi ancaman siber.

Saham Bank Tersengat Efek Pemantauan Indeks S&P
| Kamis, 09 Juli 2026 | 06:30 WIB

Saham Bank Tersengat Efek Pemantauan Indeks S&P

Saham BBCA, BBRI, BMRI, hingga BBNI kompak melemah pada Rabu (8/7) usai Indonesia masuk watchlist S&P Dow Jones.

Kenaikan Bunga Acuan Jadi Tantangan Jasa Marga Tbk (JSMR)
| Kamis, 09 Juli 2026 | 06:30 WIB

Kenaikan Bunga Acuan Jadi Tantangan Jasa Marga Tbk (JSMR)

Kinerja Jasa Marga diprediksi tumbuh solid hingga 2026 ditopang proyek strategis dan kenaikan tarif. 

Kesepakatan Damai AS-Iran Menjauh, Harga Emas Malah Semakin Jatuh
| Kamis, 09 Juli 2026 | 06:15 WIB

Kesepakatan Damai AS-Iran Menjauh, Harga Emas Malah Semakin Jatuh

Harga emas spot tertekan hingga US$4.083 akibat sentimen AS-Iran dan The Fed. Begini proyeksi terbaru harga emas 

Batas Waktu
| Kamis, 09 Juli 2026 | 06:10 WIB

Batas Waktu

Pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan sekadar status emerging market, melainkan kepercayaan investor global terhadap pasar modal Indonesia.

Anjlok ke Rp 18.014 per Dolar AS, Rupiah Terancam Lebih Jauh? Ini Pemicunya
| Kamis, 09 Juli 2026 | 06:00 WIB

Anjlok ke Rp 18.014 per Dolar AS, Rupiah Terancam Lebih Jauh? Ini Pemicunya

Rupiah anjlok ke Rp 18.014 per dolar AS pada Rabu (8/7). Tiga sentimen ini disebut membebani, simak proyeksi kurs pada Kamis (9/7).

INDEKS BERITA

Terpopuler