Setelah UU Infrastruktur Disepakati, Demokrat Perjuangkan Resolusi Anggaran

Rabu, 11 Agustus 2021 | 10:59 WIB
Setelah UU Infrastruktur Disepakati, Demokrat Perjuangkan Resolusi Anggaran
[ILUSTRASI. Wakil Presiden AS Kamala Harris dan Ketua DPR Nancy Pelosi mendengarkan pidato Presiden AS Joe Biden pada sesi gabungan Kongres di majelis DPR AS di Washington, AS, Rabu (28/4/2021). Jim Watson/Pool via REUTERS]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Senat Amerika Serikat (AS) yang dikendalikan Partai Demokrat, Selasa (10/8), mengesahkan undang-undang infrastruktur. Setelah pengesahan tersebut, senat segera memulai pembahasan tentang rancangan pengeluaran bernilai US$ 3,5 triliun, sesuai dengan agenda prioritas utama Presiden Joe Biden, yang mencakup perubahan iklim, pendidikan prasekolah universal, serta perumahan yang terjangkau.

UU infrastruktur senilai US$ 1 triliun yang didukung dua kubu, diloloskan oleh 100 anggota dewan dengan suara 69-30. Persetujuan ini memungkinkan AS melakukan investasi terbesarnya selama beberapa dekade terakhir dalam bentuk pembangunan jalan, jembatan, bandara dan saluran air.

Kabar tentang persetujuan itu disambut meriah di bursa, dengan indeks saham menuju ke rekor tertingginya yang baru.

Baca Juga: Wall Street ditopang paket infrastruktur, Dow Jones dan S&P 500 rekor

Dengan keunggulan suara yang tipis di Senat, Partai Demokrat dengan cepat bergerak ke pembahasan resolusi anggaran yang berisi instruksi pengeluaran untuk paket tindak lanjut bernilai multi-triliun dolar.

Mereka berencana untuk mendorong pengesahan rancangan tersebut dalam beberapa bulan ke depan, menggunakan proses yang disebut "rekonsiliasi anggaran." Proses ini memotong aturan pengesahan undang-undang yang biasa berlaku di senat, yaitu mendapatkan 60 suara setuju.

Ketua DPR Nancy Pelosi telah berulang kali mengatakan akan mengusahakan undang-undang infrastruktur dan paket pengeluarannya disepakati. Itu berarti, para pemimpin kongres dari kubu Demokrat harus mampu menyatukan suara di partainya agar Presiden Biden bisa menggulirkan program unggulannya.

Baca Juga: Bursa Asia bervariasi setelah penurunan Dow dan S&P semalam

“Hari ini kita mengarahkan negara ini ke jalur yang sangat berbeda. Rencana anggaran akan meminta orang-orang terkaya di negara kita untuk mulai membayar bagian pajak yang adil,” ujar Ketua Komite Anggaran Senat Bernie Sanders, salah satu anggota senat dari kubu Demokrat yang paling liberal, pada awal pembahasan, Selasa (10/8).

Senator Lindsey Graham, anggota komite anggaran dari Partai Republik, mencerca rencana pengeluaran, dengan mengatakan itu akan memicu inflasi, menaikkan tarif pajak dan biaya energi untuk pekerja Amerika dan membuka perbatasan bagi imigran gelap.

“Pada tahun 2022, ide ini akan ada dalam pemungutan suara, dan tujuan saya dan rekan-rekan Republik saya adalah bertarung habis-habisan,” kata Graham, merujuk pada pemilihan kongres yang berlangsung tahun depan.

Senat pada hari Selasa memulai "vote-a-rama," sebuah proses yang memberi para senator kesempatan untuk mengusulkan amandemen resolusi anggaran. Debat dapat berlangsung selama berhari-hari kecuali para pemimpin partai menyetujui periode yang lebih pendek.

Pemimpin Mayoritas DPR Steny Hoyer, seorang Demokrat, mengatakan DPR akan kembali dari liburan musim panas lebih awal pada 23 Agustus untuk mempertimbangkan resolusi anggaran, jika Senat meloloskannya.

Jajak pendapat menunjukkan dorongan untuk meningkatkan infrastruktur AS, yang dilakukan selama berbulan-bulan oleh para senator dari kedua partai, sangat populer di masyarakat. RUU tersebut mencakup pengeluaran baru senilai US$ 550 miliar, serta investasi infrastruktur yang disetujui sebelumnya sejumlah US$450 miliar.

Baca Juga: Selain Kebijakan The Fed, Pembahasan RUU Ini Akan Menentukan Arah Wall Street

Biden memuji persetujuan UU infrastruktur dalam sambutannya di Gedung Putih, dengan mengatakan investasi yang akan digulirkan memungkinkan AS untuk bersaing dengan seluruh dunia.

Presiden juga memuji keberanian 19 anggota senat dari Partai Republik yang menyetujui RUU tersebut. Ia mengatakan, persetujuan RUU itu menunjukkan bahwa bipartisan bukanlah “masa lalu.”

Namun lusinan senator dari kubu Republik berniat menjegal pembahasan anggaran pengeluaran yang diajukan Demokrat. Mereka meneken ikrar untuk tidak meningkatkan batas utang negara, yang akan kadaluwarsa di musim gugur.

“Mereka (Demokrat) seharusnya tidak mengharapkan Partai Republik menaikkan pagu utang untuk mengakomodasi pengeluaran defisit mereka,” ujar Ron Johnson, senator Republikan yang mempelopori gerakan penolakan, kepada Wall Street Journal.

Kegagalan untuk meningkatkan atau menangguhkan batas utang, yang menurut undang-undang sekarang sebesar US$ 28,5 triliun, dapat memicu penutupan pemerintah federal atau default utang.

Menteri Keuangan Janet Yellen, minggu ini, mendesak Kongres untuk menaikkan batas utang dalam pemungutan suara bipartisan. Pada hari Selasa, Yellen juga mendukung gagasan paket pengeluaran lanjutan, dengan mengatakan rencana infrastruktur senilai US$ 1 triliun harus memiliki tahap lanjutan.

"Karena jika kita benar-benar ingin membangun ekonomi yang lebih kuat, kita harus berinvestasi tidak hanya di infrastruktur, tetapi juga di barang publik lainnya seperti pengasuhan anak, pendidikan, dan perumahan yang terjangkau," katanya dalam sebuah pernyataan.

Baca Juga: AS Stop Investasi ke 59 Entitas China, Berkah Bagi Bukalapak (BUKA) & Wacana IPO GoTo

Kantor Anggaran Kongres (CBO), yang tidak terafiliasi dengan partai, pekan lalu, mengatakan RUU infrastruktur senilai US$ 1,2 triliun akan meningkatkan defisit anggaran federal sebesar US$ 256 miliar selama 10 tahun. Penilaian itu ditolak oleh negosiator yang mengatakan CBO meremehkan berapa banyak pendapatan yang akan dihasilkannya.

Pemimpin Minoritas Senat Mitch McConnell, yang memberikan suara untuk RUU infrastruktur, menyebut paket bernilai US$ 3,5 triliun yang diinginkan Demokrat sebagai sesuatu yang radikal. Dia mengatakan, itu akan mengubah AS menjadi sosialis untuk selamanya, sekaligus mengantar kenaikan tarif pajak tertinggi dalam masa damai, sepanjang sejarah AS.

Setelah resolusi anggaran diadopsi, Demokrat akan mulai menyusun paket rekonsiliasi.

Rencana anggaran akan menyediakan berbagai komite Senat dengan tingkat pengeluaran tertinggi untuk berbagai inisiatif federal, termasuk pendidikan anak usia dini dan investasi untuk mengurangi emisi karbon yang dipersalahkan sebagai penyebab perubahan iklim.

Selanjutnya: Volume Perdagangan Tumbuh Tinggi, Coinbase Cetak Laba di Atas Proyeksi

 

Bagikan

Berita Terbaru

Harga Energi Berfluktuasi, RAJA Tetap Mengantongi Laba Tinggi
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:57 WIB

Harga Energi Berfluktuasi, RAJA Tetap Mengantongi Laba Tinggi

Laba bersih PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) tumbuh 100,44% yoy menjadi US$ 22,75 juta pada akhir semester pertama lalu.

Gubernur BI di Zaman yang Tak Pasti
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:13 WIB

Gubernur BI di Zaman yang Tak Pasti

Ukuran keberhasilan gubernur BI bukan popularitas atau ketenangan pasar selama satu-dua hari, melainkan kepercayaan.

Transparansi ETF Emas
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 10:55 WIB

Transparansi ETF Emas

Ingat, tanpa transparansi emas fisik dan jaminan likuiditas, maka ETF emas berisiko merugikan investor. 

Rapor Merah IPO BUMN Membayangi Rencana Danantara Boyong Pelat Merah ke Lantai Bursa
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 10:01 WIB

Rapor Merah IPO BUMN Membayangi Rencana Danantara Boyong Pelat Merah ke Lantai Bursa

Dari 13 BUMN dan anak usaha BUMN non-bank yang IPO sejak 2010, hanya PGEO yang sahamnya mampu bertahan di atas harga perdana.

Penjualan Ritel Juga Diperkirakan Menurun
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 09:16 WIB

Penjualan Ritel Juga Diperkirakan Menurun

Indeks Penjualan Riil (IPR) Juli 2026 diperkirakan berada di level 224,4, turun 0,7% per bulan      

Penerimaan Pajak Baru Setengah Target
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 09:11 WIB

Penerimaan Pajak Baru Setengah Target

Realisasi penerimaan pajak hingga akhir Juli 2026 baru mencapai 51% dari target                     

Kasus Korupsi Ekspor CPO 15 Perusahaan Sawit Masuk Pengadilan, Kerugian Rp 7,3 T
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 09:07 WIB

Kasus Korupsi Ekspor CPO 15 Perusahaan Sawit Masuk Pengadilan, Kerugian Rp 7,3 T

Skandal ini menjadi sorotan tajam setelah hasil audit BPKP mengungkap angka fantastis kerugian negara yang mencapai Rp 7,3 triliun.​

Usai Dapat Kontrak Rp 22 Triliun Saham DEWA Melandai, Investor Tunggu Pembuktian
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 08:38 WIB

Usai Dapat Kontrak Rp 22 Triliun Saham DEWA Melandai, Investor Tunggu Pembuktian

Efek kontrak Sebuku Sejaka Coal (SSC) ke EBITDA PT Darma Henwa Tbk (DEWA) diproyeksikan sekitar 4% pada 2026.

Saham Duo Garuda GIAA dan GMFI Kompak Terbang, Masih Aman Buat Dikejar?
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 08:10 WIB

Saham Duo Garuda GIAA dan GMFI Kompak Terbang, Masih Aman Buat Dikejar?

Kenaikan harga saham Grup Garuda, yakni GIAA dan GMFI dibumbui cerita soal aksi korporasi dan dukungan pemerintah.

Antara MSCI dan Indeks Kepercayaan Konsumen, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 07:44 WIB

Antara MSCI dan Indeks Kepercayaan Konsumen, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Investor juga cenderung wait and see menjelang review MSCI pada 12 Agustus. Ini katalis penting bagi arah IHSG dan aliran dana asing.

INDEKS BERITA

Terpopuler