Siapkan Capex Rp 300 miliar, SMIL Incar Pertumbuhan Pendapatan 50% Tahun Depan

Rabu, 03 Desember 2025 | 05:59 WIB
Siapkan Capex Rp 300 miliar, SMIL Incar Pertumbuhan Pendapatan 50% Tahun Depan
[ILUSTRASI. PT Sarana Mitra Luas Tbk (SMIL) merupakan Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) dari Anhul Forklift Group (HELI) sebuah produsen forklift asal China. (KONTAN/Yuliana Hema)]
Reporter: Andy Dwijayanto | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Sarana Mitra Luas Tbk (SMIL) menatap tahun depan dengan lebih optimis, strategi pertumbuhan agresif yang didukung ekspansi bisnis dan diversifikasi pasar pun disiapkan perusahaan ini. Selain memperkuat armada handling equipment, perusahaan juga menjajal prospek segmentasi pasar baru pada tahun depan.

Hadi Suhermin, Direktur Utama SMIL mengungkapkan bahwa perusahaan telah menyiapkan alokasi capital expenditure (capex) atau belanja modal sekitar Rp 300 miliar pada 2026. Dana tersebut akan dialokasikan terutama untuk penambahan excavator dan armada pendukung lain untuk mendukung rencana ekspansi perusahaan tahun depan. “Penambahan excavator dan lainnya itu sesuai dengan kontrak yang saat ini kami dapatkan,” ujarnya dalam paparan publik, Selasa (2/12/2025).

Dengan alokasi belanja modal sebanyak Rp 300 miliar tersebut, rencananya perusahaan akan menambah 2 unit crawler dozer, 6 unit excavator, 32 unit dump truk, 1 unit compactor dan 1 unit motor grader pada tahun depan. Apalagi seluruh unit yang didatangkan itu akan langsung terutilisasi karena sudah mendapatkan kontrak penyewaan.

Baca Juga: Sarana Mitra Luas Tbk (SMIL) Ekspansi ke Sektor Pertambangan

Hadi menegaskan bahwa SMIL tidak hanya fokus pada sektor pertambangan, tetapi juga tengah memperluas segmentasi pasar dengan masuk ke industri rokok. Langkah ini menjadi bagian dari strategi diversifikasi yang diharapkan membuka peluang baru bagi pertumbuhan bisnis perusahaan dalam jangka panjang.

Dari sisi target kinerja, SMIL memasang ambisi pertumbuhan yang cukup tinggi. Tahun depan, perusahaan membidik kenaikan pendapatan hingga 50%, sementara pertumbuhan laba bersih ditargetkan mencapai 15%. Target tersebut dinilai realistis seiring semakin kuatnya permintaan dan kontrak jangka panjang yang telah diamankan SMIL.

Untuk mendukung pertumbuhan tersebut, SMIL menyiapkan beberapa strategi bisnis utama yang akan dieksekusi mulai tahun depan. Salah satu fokus utama adalah peningkatan kapasitas usaha melalui upgrade dan ekspansi bisnis rental forklift, yang menjadi tulang punggung pendapatan perusahaan.

Dalam bisnis rental forklift, SMIL kini menargetkan peningkatan pangsa pasar dari 35% menjadi 50%. Langkah ini ditempuh melalui penambahan armada forklift EV, peningkatan utilisasi, serta peningkatan layanan penyewaan kepada pelanggan di berbagai sektor industri.

Diversifikasi juga menjadi strategi besar perusahaan. Hadi menyebutkan bahwa SMIL telah mulai melakukan langkah diversifikasi sejak September-Oktober tahun ini, dan pada tahun depan perusahaan akan lebih agresif masuk ke sektor pertambangan. Hal ini sejalan dengan potensi kontrak dan pasar yang semakin terbuka.

Baca Juga: Setelah Izinnya Dicabut, Kini P2P Lending Crowde Digugat Bank Mandiri Rp 730 Miliar

SMIL menargetkan menjadi penyedia rental forklift listrik terbesar di Indonesia, sekaligus memperkuat bisnis peralatan kendaraan untuk sektor pertambangan. Perusahaan meyakini bahwa sinergi dari kedua lini ini akan mempercepat akselerasi kinerja operasional.

Winston Suhermin, Direktur Keuangan SMIL menambahkan bahwa diversifikasi ke sektor tambang diproyeksikan memberikan kontribusi sekitar 20% pendapatan di tahun depan. Selain itu, aset perusahaan juga akan tumbuh signifikan seiring pembelian berbagai peralatan penunjang aktivitas pertambangan baru.

Winston menjelaskan bahwa SMIL juga tengah berupaya meningkatkan penggunaan forklift listrik dari saat ini 45%, diproyeksikan akan menjadi 75% dalam lima tahun ke depan. Peningkatan ini sangat strategis karena forklift listrik mampu menaikkan margin kotor dan margin bersih, sekaligus memberikan efisiensi biaya hingga 15% dibandingkan forklift konvensional.

Diversifikasi perusahaan ke sektor pertambangan juga akan memberikan kepastian pendapatan melalui kontrak jangka panjang atau recurring income. Winston memperkirakan bahwa bisnis batubara, bisa memberikan kontribusi yang baik bagi perusahaan dalam jangka panjang.

“Sudah dapat kontrak jangka panjang itu yang membuat kami proyeksikan bisnis batubara bisa menyumbang omzet Rp 5 triliun per tahunnya mengingat coal yang diproduksi itu tinggi kalori dengan 7.000 GAR,” ujarnya.

SMIL juga memiliki jaringan pelanggan yang sangat luas, mencakup berbagai kota dan sektor industri. Saat ini perusahaan memiliki lebih dari 15 workshop atau cabang, termasuk di Medan, Surabaya, Semarang, Palembang, Pekanbaru, Pontianak, dan kota besar lainnya di Indonesia. Jaringan ini menjadi salah satu kekuatan utama SMIL dalam menjaga kualitas layanan.

Dari sisi keuangan, aset SMIL terus tumbuh signifikan sejak IPO pada Mei 2023. Aset yang semula Rp 847,65 miliar kini meningkat menjadi Rp 1,15 triliun per September 2025. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan capex, terutama pembelian forklift dan baterai lithium untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.

Liabilitas perusahaan juga meningkat seiring penerbitan obligasi sebesar Rp 300 miliar pada akhir tahun lalu serta kenaikan utang dagang terkait peran SMIL sebagai Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) untuk forklift merek Heli. Meski begitu, ekuitas perusahaan tetap tumbuh dari Rp 657,61 miliar pada 2023 menjadi Rp 748,44 miliar pada September 2025.

 

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Siap-Siap, CMRY Akan Membagikan Dividen Tunai Rp 793 Miliar
| Sabtu, 11 April 2026 | 08:46 WIB

Siap-Siap, CMRY Akan Membagikan Dividen Tunai Rp 793 Miliar

Nantinya, setiap pemegang saham emiten produsen susu olahan akan memperoleh dividen final tunai sebesar Rp 100 per saham.

Masyarakat Mulai Berhitung Cermat
| Sabtu, 11 April 2026 | 08:01 WIB

Masyarakat Mulai Berhitung Cermat

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Maret 2026 tercatat sebesar 122,9, turun 2,3 poin                    

Rupiah Anjlok dan Harga Energi Naik, INTP Ambil Langkah Naikkan Harga Semen
| Sabtu, 11 April 2026 | 08:00 WIB

Rupiah Anjlok dan Harga Energi Naik, INTP Ambil Langkah Naikkan Harga Semen

Kinerja Indocement 2026 diproyeksi tertekan oleh biaya energi dan rupiah yang melemah drastis. Akankah INTP mampu bertahan dari badai ekonomi?

Tokocrypto Gandeng BRI & Mandiri: Akses Kripto Kini Makin Mudah
| Sabtu, 11 April 2026 | 08:00 WIB

Tokocrypto Gandeng BRI & Mandiri: Akses Kripto Kini Makin Mudah

Tokocrypto kini tawarkan deposit via BRI & Mandiri. Ini langkah menarik investor di tengah pasar kripto yang les

Restitusi Disikat, Pebisnis Tercekat
| Sabtu, 11 April 2026 | 07:52 WIB

Restitusi Disikat, Pebisnis Tercekat

Kementerian Keuangan menggandeng BPKP dalam melakukan audit menyeluruh terhadap restitusi pajak     

Emas Bangkit Lagi! Analis Ungkap Alasan di Balik Kenaikan Harga
| Sabtu, 11 April 2026 | 07:15 WIB

Emas Bangkit Lagi! Analis Ungkap Alasan di Balik Kenaikan Harga

Harga emas spot menguat 2,25% dalam sepekan. Koreksi harga justru jadi peluang investor. Ketahui pemicu kenaikannya sekarang

Gejala Resentralisasi dalam Senyap
| Sabtu, 11 April 2026 | 07:05 WIB

Gejala Resentralisasi dalam Senyap

Atas nama otonomi, ada gejala resentralisasi yang bekerja secara perlahan yang dilakukan pemerintah pusat terhadap pemerintah daerah.​

Nasib Rupiah Sepekan ke Depan: Inflasi AS dan Harga BBM Jadi Kunci
| Sabtu, 11 April 2026 | 07:00 WIB

Nasib Rupiah Sepekan ke Depan: Inflasi AS dan Harga BBM Jadi Kunci

Rupiah terancam melemah lebih dalam. Konflik Timur Tengah dan data inflasi AS jadi penentu nasib mata uang Garuda.

Bibit Ancaman Sosial dan Ekonomi
| Sabtu, 11 April 2026 | 07:00 WIB

Bibit Ancaman Sosial dan Ekonomi

Lonjakan harga energi, pelemahan rupiah dan ancaman kemarau ekstrem patut diantisipasi lantaran rawan secara sosial maupun ekonomi.​

Kredit Infrastruktur Perbankan Masih Mengucur Deras
| Sabtu, 11 April 2026 | 05:30 WIB

Kredit Infrastruktur Perbankan Masih Mengucur Deras

Penyaluran kredit infrastruktur Bank Mandiri selama dua bulan pertama 2026 mencetak kenaikan 30,8% secara tahunan menjadi Rp 491,63 triliun.

INDEKS BERITA