Sinis Membawa Bencana
Era demokrasi kontemporer telah melahirkan komunikasi yang penuh hiruk-pikuk. Semua orang berlomba menyatakan pendapat dan memberi komentar. Entah lewat jari-jemari yang memainkan papan alfabet di telepon pintar, ataupun lewat akrobat mulut yang aktif berceloteh sana sini.
Pada saat beradu ide dan pandangan, suasana tampak menggebu-gebu dan begitu seru. Adrenalin seakan terpacu pada tingkatan yang maksimal. Dalam situasi seperti itu, ujaran sinisme penuh sindiran, bahkan hinaan pun menjadi tak terhindarkan. Kalau sudah demikian, tak heran jika beberapa saat kemudian, para pengujar sinisme harus berhadapan dengan konsekwensi yang terkadang begitu fatal.
