Situasi Terbalik

Senin, 18 Juli 2022 | 08:00 WIB
Situasi Terbalik
[]
Reporter: Harian Kontan | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Untuk pertama kalinya selama 20 tahun terakhir, nilai tukar euro lebih rendah daripada dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis siang di Eropa.

Euro sempat dihargai US$ 0,998 sebelum kembali bangkit dan mengakhiri perdagangan pekan lalu di kisaran US$ 1,008. 

Pelemahan hard currencies terhadap dolar AS memang sudah terlihat sepanjang tahun ini. Tren yag kini populer disebut reverse currency war, bisa disebut sebagai efek dari sikap agresif Federal Reserve dalam melakukan pengetatan moneter di negaranya.

Istilah itu menekankan apa yang terjadi saat ini merupakan kebalikan dari kondisi paska krisis keuangan global tahun 2008. Negara-negara maju saat itu melakukan pelonggaran moneter yang mirip dengan apa yang dilakukan di masa pandemi.

Otoritas di AS menginjeksi dolar secara besar-besaran dengan membeli surat utang. Aksi itu membuat nilai tukar dolar pun meredup.

Dolar yang murah sejalan dengan ekonomi AS yang kala itu lesu akibat krisis subprime mortgage. Namun efeknya, tentu produk AS lebih bersaing di pasar global. 

Kurang lebih seperti itu yang dituduhkan menteri keuangan Brasil pada masa itu, Guido Mantega. Ia pun menyebut aksi pelemahan nilai tukar yang dilakukan AS dan berbagai negara maju lainnya dengan istilah currency war

Apa yang terjadi saat ini adalah kebalikannya. Tidak cuma ingin mengurangi nilai asetnya yang kini mencapai US$ 8 triliun, Fed bahkan bertekad menghadang laju inflasi di negaranya.

Angka awal inflasi AS per Juni sudah 9,1% year-on-year, jauh di atas target akhir tahun yang ditetapkan Fed, yaitu 2%.

Selama reverse currency war, dolar telah menguat terhadap berbagai valuta utama. Per semester kemarin, indeks dolar malah naik di kisaran 20%. Kendati per akhir pekan lalu, indeks dolar spot sudah menjinak ke rentang 10%.

Seperti valuta emerging market, rupiah memang tak terlalu terbanting seperti hard currency.

Jika menggunakan kurs acuan Bank Indonesia, dalam rentang setahun rupiah cuma terdepresiasi 3,41%. Dalam periode tahun kalender, rupiah tergerus lebih besar, yaitu 5,05%. 

Namun mengingat tidak ada yang bisa menebak hingga kapan Fed berniat menjegal inflasi, ada baiknya menjauh dari aset berisiko, semacam saham di saat ini.

Negara ataupun korporasi juga perlu hati-hati mengelola utangnya. Pertimbangkan untuk mencari opsi pendanaan selain dolar. 

Bagikan

Berita Terbaru

Fokus ke FWA, Saham WIFI Masih Menarik untuk Dikoleksi?
| Kamis, 05 Maret 2026 | 11:00 WIB

Fokus ke FWA, Saham WIFI Masih Menarik untuk Dikoleksi?

Analis merekomendasikan wait and see untuk saham WIFI karena dalam beberapa hari terakhir, pergerakan sahamnya juga terus mengalami koreksi.

Pengendali Baru Asri Karya Lestari (ASLI) Gelar Tender Wajib 2,33 Miliar Saham
| Kamis, 05 Maret 2026 | 10:04 WIB

Pengendali Baru Asri Karya Lestari (ASLI) Gelar Tender Wajib 2,33 Miliar Saham

PT Wahana Konstruksi Mandiri akan menggelar penawaran tender wajib saham PT Asri Karya Lestari Tbk (ASLI) pada harga Rp 204 per saham.

Pendapatan Batubara Jeblok, Laba BYAN Tahun 2025 Anjlok
| Kamis, 05 Maret 2026 | 09:54 WIB

Pendapatan Batubara Jeblok, Laba BYAN Tahun 2025 Anjlok

Pada 2025, laba bersih PT Bayan Resources Tbk (BYAN) hanya US$ 767,92 juta, anjlok 16,77% secara tahunan dibanding 2024 sebesar US$ 922,64 juta.

Pembangunan Jaya Ancol (PJAA) Incar Pertumbuhan Kunjungan di Libur Lebaran 2026
| Kamis, 05 Maret 2026 | 09:47 WIB

Pembangunan Jaya Ancol (PJAA) Incar Pertumbuhan Kunjungan di Libur Lebaran 2026

PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) menargetkan kunjungan sebanyak 600.000 orang selama libur Lebaran 2026.

Tren Kenaikan Harga Batubara Bisa Mendongkrak Laba Golden Energy (GEMS) Pada 2026
| Kamis, 05 Maret 2026 | 09:40 WIB

Tren Kenaikan Harga Batubara Bisa Mendongkrak Laba Golden Energy (GEMS) Pada 2026

Pemulihan harga batubara bakal mengerek harga jual rata-rata (ASP) PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) sekaligus meningkatkan margin laba.

Perang AS-Israel Vs Iran Bikin Harga Emas Terbang tapi Saham Tambang Malah Rontok
| Kamis, 05 Maret 2026 | 07:31 WIB

Perang AS-Israel Vs Iran Bikin Harga Emas Terbang tapi Saham Tambang Malah Rontok

Perang AS-Israel Vs Iran kerek harga emas global tembus US$ 5.000. Simak analisis dan rekomendasi saham emiten emas di tengah fluktuasi.

OJK Selidiki Mirae Asset Soal Dugaan Manipulasi Saham IPO BEBS
| Kamis, 05 Maret 2026 | 06:41 WIB

OJK Selidiki Mirae Asset Soal Dugaan Manipulasi Saham IPO BEBS

Penggeledahan kantor Mirae Asset Sekuritas oleh OJK-Bareskrim terkait dugaan manipulasi IPO BEBS. Ketahui detail kasusnya.

Gangguan Pasokan Minyak Ancam Margin Emiten Petrokimia
| Kamis, 05 Maret 2026 | 06:37 WIB

Gangguan Pasokan Minyak Ancam Margin Emiten Petrokimia

Konflik Timur Tengah membuat harga minyak dunia melonjak, menekan margin emiten petrokimia. TPIA sudah ambil langkah darurat. Simak dampaknya!

Tantangan Pasar Finansial Domestik Kian Berat
| Kamis, 05 Maret 2026 | 06:00 WIB

Tantangan Pasar Finansial Domestik Kian Berat

IHSG anjlok 4,6% dan rupiah melemah! Ketegangan Timur Tengah serta downgrade Fitch jadi pemicu utama. Simak proyeksi para ahli.

Manufaktur RI Meroket ke Level Tertinggi Dua Tahun, Waspadai Jebakan Konsumsi Semu!
| Kamis, 05 Maret 2026 | 05:51 WIB

Manufaktur RI Meroket ke Level Tertinggi Dua Tahun, Waspadai Jebakan Konsumsi Semu!

PMI Manufaktur Indonesia Februari 2026 melesat ke 53,8. Simak analisis komprehensif soal lonjakan pesanan ekspor hingga daya beli.

INDEKS BERITA

Terpopuler