S&P DJI Ikut Sorot Pasar Saham Indonesia, Ancaman Turun Kelas Terbuka Lagi?

Rabu, 08 Juli 2026 | 20:54 WIB
S&P DJI Ikut Sorot Pasar Saham Indonesia, Ancaman Turun Kelas Terbuka Lagi?
[ILUSTRASI. Pembukaan Perdagangan di Bursa Saham Indonesia (BEI) 2 Januari 2026 (KONTAN/Rashif Usman)]
Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kekhawatiran terhadap status pasar modal Indonesia kembali mendera, setelah sebelumnya MSCI menyorot kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Kini, giliran S&P Dow Jones Indices (S&P DJI) yang turut memberikan perhatian dan bahkan memberikan sinyal bahwa Indonesia berpotensi kehilangan status pasar berkembangnya alias emerging market.

Peringatan yang dikeluarkan sebagai dorongan pula agar Indonesia menyelesaikan persoalan struktural di pasar saham. Tak hanya itu saja, hal ini mau tak mau menambah perhatian investor global terhadap IHSG yang memang dalam beberapa bulan terakhir berhadapan dengan isu likuiditas, rendahnya porsi saham beredar di publik (free float), hingga transparansi emiten.

Asal tahu saja, dalam laporan tahunan pasar yang dirilis Rabu (9/7), S&P DJI memasukkan Indonesia ke dalam daftar pasar yang berpotensi direklasifikasi. Penyedia indeks global tersebut menyampaikan, jika kondisi pasar semakin memburuk, mereka terlebih dahulu dapat menerapkan perlakuan khusus (special treatment) terhadap saham-saham Indonesia.

Bloomberg dalam laporannya yang turun hari ini Rabu (8/7), juga menyampaikan bahwa potensi penurunan status tersebut tidak akan terjadi dalam waktu dekat. S&P DJI menyebut evaluasi perubahan status baru akan dilakukan apabila permasalahan tersebut tetap belum terselesaikan selama satu tahun penuh sejak kebijakan perlakuan khusus diterapkan.

Baca Juga: Waspada! Return Obligasi Rawan Terjegal Evaluasi Rating S&P dan Perang

Sebagai pengingat saja, di awal tahun ini MSCI sudah lebih dulu mempertanyakan kelayakan investasi di pasar saham Indonesia, terutama terkait rendahnya likuiditas sejumlah saham berkapitalisasi besar akibat tingginya konsentrasi kepemilikan oleh segelintir pemegang saham.

"Atas kondisi itulah, MSCI memutuskan mengeluarkan beberapa saham Indonesia dari indeksnya pada peninjauan Mei lalu. Kondisi ini juga sempat membuat IHSG melemah hingga 0,9% pada perdagangan Rabu dan sepanjang tahun berjalan 2026, telah terkoreksi sekitar 31%. Capaian ini otomatis menempatkan IHSG menjadikannya salah satu indeks saham utama dengan kinerja terburuk di dunia," papar Bloomberg sebagaimana dikutip KONTAN, Rabu (8/7).

Founder Alpha Binwani Capital Ashwin Binwani juga menyampaikan, jika Indonesia benar-benar mengalami penurunan status indeks dan tidak segera menindaklanjuti rekomendasi penyedia indeks global, potensi arus keluar dana asing dapat mencapai miliaran dolar AS.

Bloomberg MLIV Strategist Andre de Silva juga ikut menilai bergabungnya S&P DJI dalam mengevaluasi kerangka pasar Indonesia meningkatkan risiko keluarnya dana asing dari pasar saham, meski dampaknya terhadap rupiah relatif lebih terbatas karena masih ditopang aliran dana ke pasar obligasi.

Asal tahu saja, dalam beberapa bulan terakhir regulator telah mengeluarkan sejumlah reformasi pasar modal. Bursa Efek Indonesia (BEI) misalnya, telah meningkatkan ketentuan minimum saham beredar di publik, membuka informasi mengenai emiten dengan konsentrasi kepemilikan tinggi, serta menunjuk Jeffrey Hendrik sebagai Direktur Utama BEI yang baru. Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan transparansi dan kualitas pasar.

Tetapi sayangnya ketidakpastian menjelang keputusan para penyedia indeks global masih membuat sebagian investor memilih bersikap menunggu. Rupiah juga sempat menjadi salah satu mata uang emerging market dengan pelemahan terdalam terhadap dolar AS.

Di sisi lain, Pengamat Pasar Modal sekaligus Direktur PT Anugerah Mega Investama Dr. Hans Kwee, menilai anggapan Indonesia akan segera turun menjadi frontier market masih belum memiliki dasar yang kuat.

Hans mengacu pada hasil MSCI Market Classification Review Juni 2026 yang tetap mempertahankan Indonesia sebagai bagian dari kelompok emerging markets.

Ia menjelaskan, agar suatu negara tetap berstatus emerging market, MSCI mensyaratkan sedikitnya terdapat tiga saham yang memenuhi tiga kriteria utama, yakni ukuran perusahaan (company size), ukuran saham setelah disesuaikan free float (security size), dan likuiditas perdagangan (security liquidity).

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan

Berita Terbaru

Garudafood (GOOD) Menahan Kenaikan Harga Produk
| Senin, 13 Juli 2026 | 22:25 WIB

Garudafood (GOOD) Menahan Kenaikan Harga Produk

Pihaknya mengakui tekanan inflasi masih berpotensi memengaruhi struktur biaya, terutama pada komponen bahan baku dan biaya operasional.

Rumor Dual Listing AMMN di Hong Kong Mencuat, Agoes Projosasmito: Belum Ada Rencana
| Senin, 13 Juli 2026 | 11:30 WIB

Rumor Dual Listing AMMN di Hong Kong Mencuat, Agoes Projosasmito: Belum Ada Rencana

PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) lebih dulu menggelar dual listing di Papan Utama HKEX dan melantai pada 26 Juni 2026.

Menakar Efek Mandatori Bioetanol E20 Terhadap Emiten Produsen Etanol
| Senin, 13 Juli 2026 | 10:30 WIB

Menakar Efek Mandatori Bioetanol E20 Terhadap Emiten Produsen Etanol

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan bahwa pada tahun depan program mandatori bioetanol E20 akan berlaku. 

Smelter HPAL SLNC Bakal Beroperasi, Prospek MDKA Makin Berseri
| Senin, 13 Juli 2026 | 09:30 WIB

Smelter HPAL SLNC Bakal Beroperasi, Prospek MDKA Makin Berseri

Salah satu katalis positif bagi MDKA berasal dari akan beroperasinya smelter HPAL milik PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC).

Biaya Energi Menyusut, Margin Emiten Tambang Mineral Bisa Pulih
| Senin, 13 Juli 2026 | 09:18 WIB

Biaya Energi Menyusut, Margin Emiten Tambang Mineral Bisa Pulih

Biaya energi turun, profitabilitas emiten tambang diprediksi membaik di paruh kedua 2026. AMMN dan INCO paling sensitif terhadap perubahan ini.

Penguatan Dolar Amerika Masih Menekan Mata Uang Asia
| Senin, 13 Juli 2026 | 08:45 WIB

Penguatan Dolar Amerika Masih Menekan Mata Uang Asia

Rupiah melemah 0,58% pekan lalu, mencapai Rp 18.065 per dolar AS. Ketegangan geopolitik dan suku bunga AS jadi pemicu. Simak proyeksi selengkapnya

Sudah Saatnya KPI Direksi BEI Diperluas
| Senin, 13 Juli 2026 | 08:24 WIB

Sudah Saatnya KPI Direksi BEI Diperluas

Target ambisius BEI Rp 30.000 triliun terancam. Peningkatan kualitas IPO dan daya tarik emiten asing jadi kunci agar dana global masuk.

Produksi dan Penjualan Emas BRMS Mengalami Kenaikan di Kuartal II-2026
| Senin, 13 Juli 2026 | 08:14 WIB

Produksi dan Penjualan Emas BRMS Mengalami Kenaikan di Kuartal II-2026

Kenaikan volume penjualan emas sekitar 50% dibandingkan kuartal sebelumnya akan mampu mengimbangi pelemahan harga jual rata-rata.

Keyakinan Investor Anjlok, Net Sell Deras, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Senin, 13 Juli 2026 | 08:08 WIB

Keyakinan Investor Anjlok, Net Sell Deras, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Investor belum memiliki keyakinan kuat untuk meningkatkan eksposur risiko. Di sisi lain, investor asing terus mencetak net sell. 

Prospek Harga Emas Pekan Ini: Geopolitik, Inflasi, hingga Bank Sentral Jadi Penentu
| Senin, 13 Juli 2026 | 07:47 WIB

Prospek Harga Emas Pekan Ini: Geopolitik, Inflasi, hingga Bank Sentral Jadi Penentu

Arah pergerakan emas tetap sangat bergantung pada hasil berbagai data ekonomi Amerika Serikat yang akan dirilis pekan ini.

INDEKS BERITA

Terpopuler