S&P DJI Ikut Sorot Pasar Saham Indonesia, Ancaman Turun Kelas Terbuka Lagi?
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kekhawatiran terhadap status pasar modal Indonesia kembali mendera, setelah sebelumnya MSCI menyorot kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Kini, giliran S&P Dow Jones Indices (S&P DJI) yang turut memberikan perhatian dan bahkan memberikan sinyal bahwa Indonesia berpotensi kehilangan status pasar berkembangnya alias emerging market.
Peringatan yang dikeluarkan sebagai dorongan pula agar Indonesia menyelesaikan persoalan struktural di pasar saham. Tak hanya itu saja, hal ini mau tak mau menambah perhatian investor global terhadap IHSG yang memang dalam beberapa bulan terakhir berhadapan dengan isu likuiditas, rendahnya porsi saham beredar di publik (free float), hingga transparansi emiten.
Asal tahu saja, dalam laporan tahunan pasar yang dirilis Rabu (9/7), S&P DJI memasukkan Indonesia ke dalam daftar pasar yang berpotensi direklasifikasi. Penyedia indeks global tersebut menyampaikan, jika kondisi pasar semakin memburuk, mereka terlebih dahulu dapat menerapkan perlakuan khusus (special treatment) terhadap saham-saham Indonesia.
Bloomberg dalam laporannya yang turun hari ini Rabu (8/7), juga menyampaikan bahwa potensi penurunan status tersebut tidak akan terjadi dalam waktu dekat. S&P DJI menyebut evaluasi perubahan status baru akan dilakukan apabila permasalahan tersebut tetap belum terselesaikan selama satu tahun penuh sejak kebijakan perlakuan khusus diterapkan.
Baca Juga: Waspada! Return Obligasi Rawan Terjegal Evaluasi Rating S&P dan Perang
Sebagai pengingat saja, di awal tahun ini MSCI sudah lebih dulu mempertanyakan kelayakan investasi di pasar saham Indonesia, terutama terkait rendahnya likuiditas sejumlah saham berkapitalisasi besar akibat tingginya konsentrasi kepemilikan oleh segelintir pemegang saham.
"Atas kondisi itulah, MSCI memutuskan mengeluarkan beberapa saham Indonesia dari indeksnya pada peninjauan Mei lalu. Kondisi ini juga sempat membuat IHSG melemah hingga 0,9% pada perdagangan Rabu dan sepanjang tahun berjalan 2026, telah terkoreksi sekitar 31%. Capaian ini otomatis menempatkan IHSG menjadikannya salah satu indeks saham utama dengan kinerja terburuk di dunia," papar Bloomberg sebagaimana dikutip KONTAN, Rabu (8/7).
Founder Alpha Binwani Capital Ashwin Binwani juga menyampaikan, jika Indonesia benar-benar mengalami penurunan status indeks dan tidak segera menindaklanjuti rekomendasi penyedia indeks global, potensi arus keluar dana asing dapat mencapai miliaran dolar AS.
Bloomberg MLIV Strategist Andre de Silva juga ikut menilai bergabungnya S&P DJI dalam mengevaluasi kerangka pasar Indonesia meningkatkan risiko keluarnya dana asing dari pasar saham, meski dampaknya terhadap rupiah relatif lebih terbatas karena masih ditopang aliran dana ke pasar obligasi.
Asal tahu saja, dalam beberapa bulan terakhir regulator telah mengeluarkan sejumlah reformasi pasar modal. Bursa Efek Indonesia (BEI) misalnya, telah meningkatkan ketentuan minimum saham beredar di publik, membuka informasi mengenai emiten dengan konsentrasi kepemilikan tinggi, serta menunjuk Jeffrey Hendrik sebagai Direktur Utama BEI yang baru. Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan transparansi dan kualitas pasar.
Tetapi sayangnya ketidakpastian menjelang keputusan para penyedia indeks global masih membuat sebagian investor memilih bersikap menunggu. Rupiah juga sempat menjadi salah satu mata uang emerging market dengan pelemahan terdalam terhadap dolar AS.
Di sisi lain, Pengamat Pasar Modal sekaligus Direktur PT Anugerah Mega Investama Dr. Hans Kwee, menilai anggapan Indonesia akan segera turun menjadi frontier market masih belum memiliki dasar yang kuat.
Hans mengacu pada hasil MSCI Market Classification Review Juni 2026 yang tetap mempertahankan Indonesia sebagai bagian dari kelompok emerging markets.
Ia menjelaskan, agar suatu negara tetap berstatus emerging market, MSCI mensyaratkan sedikitnya terdapat tiga saham yang memenuhi tiga kriteria utama, yakni ukuran perusahaan (company size), ukuran saham setelah disesuaikan free float (security size), dan likuiditas perdagangan (security liquidity).
