Strategi BTN Genjot KPR di Tengah Pandemi

Kamis, 30 April 2020 | 20:48 WIB
Strategi BTN Genjot KPR di Tengah Pandemi
[ILUSTRASI. Pengunjung generasi milenial menggunakan aplikasi BTN Properti Mobile untuk memperoleh informasi perumahan saat mengunjungi pameran Indonesia Property Expo 2020 di Jakarta, Minggu (23/2/2020). BTN berinovasi dengan menyajikan aplikasi BTN Properti Mobile ]
Reporter: RR Putri Werdiningsih | Editor: Havid Vebri

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pandemi korona yang melanda Indonesia sejak Maret lalu memberi tekanan bagi banyak  bisnis, salah satunya properti. Baik penjual maupun pembeli properti telah mulai merasakan imbasnya.

Sejumlah pengembang, misalnya, mengeluhkan terjadinya penurunan penjualan. Padahal tren dalam tiga tahun terakhir, memasuki kuartal II properti mengalami kenaikan penjualan.

Rumah.com Indonesia Property Market Index mencatat pada kuartal II 2017 terjadi kenaikan sebesar 1,07%, kuartal II 2018 tumbuh 1,14% dan kuartal II naik  2,17%.

Di lain pihak, bank yang punya kepentingan menyalurkan Kredit Kepemilikan Rumah pun bisa terganggu bisnisnya. Maka, berbagai cara dilakukan, termasuk oleh Bank Tabungan Negara (BTN).

Maklum saja, bank plat merah ini menyandarkan bisnisnya pada penyaluran KPR. Secara nasional, Bank BTN menguasai 40% pasar KPR di negara ini. Untuk KPR bersubsidi, mereka bahkan menyalurkan 91,5% kredit pada nasabah.

Maka, mau tak mau, di tengah pandemi, penyaluran KPR harus jalan terus. Pertengahan April 2020 lalu, mereka  KPR From Home yakni sistem pengajuan berkas kredit pemilikan rumah (KPR) yang semuanya bisa dilakukan secara online.

Pada jalur konvensional, calon nasabah harus bolak-balik ke bank dan lokasi proyek. Nah, mulai 1 April semua prosedur bisa dilakukan melalui aplikasi.

Di tengah penerapan physical distancing dan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), konsumen hanya perlu mengakses portal BTN Properti saja.

BTN menyediakan fitur 4D Tour Service untuk membantu memilih produk properti yang diinginkan. Konsumen bisa melihat detail unit hingga ke seluruh sudut ruangan, seolah-olah masuk ke dalam  rumah atau apartemen yang ingin dilihatnya.

Jika sudah memilih, konsumen bisa dilakukan pembayaran booking fee sebagai tanda jadi. Kemudian dilanjutkan pembayaran uang muka kepada  pengembang.

Setelah uang muka lunas  maka proses pengajuan KPR bisa dilakukan.

Sebagian besar proses pengajuan KPR ini dilakukan secara online, mulai dari pengumpulan berkas, verifikasi, proses taksasi atau apraisal hingga persetujuan. 

Executive Vice President Nonsubsidized Mortgage & Personal Lending Division (NSLD) BTN Suryanti Agustinar mengatakan, khusus untuk apraisal pihaknya mengandalkan kerjasama dengan pihak  pengembang.

Rata-rata pengembang yang tergabung dalam program ini, merupakan mitra BTN sehingga sudah ada nilai taksasi dari prroyek yang ditawarkan.

Sementara untuk akad KPR masih harus tetap dilakukan secara langsung. Soalnya, transaksi jual beli properti masih belum boleh menggunakan video call. Meskipun,

"Akadnya bisa dilakukan di mana saja selama protokol Covid-19 tetap dilakukan,” ujar Suryanti. 

 Prioritas konsumen

Menurut Suryanti, KPR From Home ini dipersiapkan dalam waktu kurang lebih dua pekan saja. Idenya muncul saat melakukan video call dengan pihak pengembang sekitar akhir Maret lalu. 

Suryanti mengajak mitra  pengembang untuk memberikan harga spesial dan subsidi bunga kepada konsumen. Kompensasinya produk milik pengembang akan bisa ditampilkan secara 4D di portal BTN Properti dan beberapa komponen biaya akan dipangkas. 

Akhirnya disepakati nasabah yang mengikuti program KPR From Home bisa mendapatkan bunga flat 6% selama setahun pertama dan dibebaskan dari beban biaya provisi,  administrasi, dan  apraisal. Kemudian  di tahun berikutnya bunganya akan kembali pada level 6,9%.

Dalam menentukan pengembang yang terlibat, manajemen memiliki pertimbangan tersendiri. Pertama diprioritaskan pada pengembang yang memiliki kredit konstruksi atau Kredit Yasa Griya (KYG).

Tujuannya jangan sampai pengembang yang punya kredit di BTN mengalami kesulitan dalam membayar cicilan pinjaman modal kerja mereka. 

"Kepentingan kami tidak sebatas KPR tetapi juga KYG ini bagaimana nasib kredit mereka," urainya.    

Kemudian prioritas kedua adalah pengembang yang memiliki rekam jejak bagus, baik kinerja ataupun legalitas.

Karena keterbatasan waktu persiapan, untuk tahap awal ada 42 pengembang yang bergabung, antara lain PP Properti, WIKA Realty,  Adhi Comuter Properti, Duta Putra Group, Gapura Prima Group, Emerald Land Group, Waskita Realty, dan Pikko Group.

Dalam pelaksanaannya belum tentu semua proyek milik 42 pengembang tersebut ditawarkan. Dari masing-masing pengembang hanya beberapa proyek saja yang diprioritaskan.

“Kami tidak punya cukup banyak waktu untuk membuat foto 4 dimensi dari semua proyek yang mereka miliki,” imbuh Suryanti.

Sementara ini produk rumah dan apartemen yang ditawarkan kebanyakan berlokasi di Jabodetabek dan Bandung. Hanya PT PP Properti dan Perumnas saja yang memiliki proyek di luar wilayah tadi.

Walaupun prosesnya  mudah, tetapi BTN cukup berhati-hati merealisasikan program KPR From Home. Ini terlihat dari target pasar yang dibidik. 

Meski terbuka pada konsumen baru, tetapi prioritasnya ternyata lebih pada konsumen yang sudah mengantongi Surat Penegasan Persetujuan Penyediaan Kredit (SP3K) dan konsumen yang hampir memasuki jatuh tempo masa mencicil uang muka.

“Kalau konsumen yang benar-benar baru, kami tidak terlalu optimistis, karena dalam kondisi sekarang orang mikirnya kesehatan dulu,” terangnya.

Selain itu, prinsip kehati-hatian juga terlihat ketika mempertimbangkan jenis pekerjaan konsumen. Untuk saat ini, BTN lebih memberi prioritas pada konsumen yang memiliki pendapatan tetap. Misalnya PNS, pegawai BUMN, pegawai BUMD, TNI, Polri dan pegawai perusahaan swasta besar.

Harapannya dengan memiliki pendapatan tetap, maka kondisi yang terjadi sekarang,  tidak akan mempengaruhi pada pembayaran cicilan di kemudian hari.  

Ditambah lagi dengan pendapatan tetap calon nasabah, juga akan memudahkan proses verifikasi. Manajemen hanya perlu memastikan keanggotaan di program Badan Jaminan Penyelenggaran Sosial (BPJS) dan mencocokkan antara slip gaji dan buku tabungan saja. 

“Kami terkendala untuk nasabah yang wiraswasta, karena survei OTS (on the spot) sekarang sulit dilakukan,” ungkap Suryanti.

Pada akhirnya jika prosesnya bisa menjadi lebih mudah, maka waktu proses permohonan KPR juga bisa terpangkas lebih cepat. Kalau biasanya pengajuan KPR hingga keluar persetujuan akan memakan waktu 5-7 hari kerja, maka dengan sistem online bisa rampung dalam 3-5 hari kerja.

Sebenarnya konsep penyaluran properti dengan cara online ini bukan hal yang baru bagi BTN. Bank pelat merah ini sudah memiliki aplikasi BTN Properti sejak tahun 2016.

Hanya saja baru sekitar 10% dari nasabah mereka yang memilih mengajukan kredit properti secara online. Sisanya lebih didominasi transaksi langsung.

Targetnya hingga akhir Juni 2020 nanti, program KPR From Home ini bisa mencatatkan perolehan kredit properti sekitar Rp 2 triliun.

Bagikan

Berita Terbaru

Indikator RSI dan MACD Melemah, Tren Bullish CITA Masih Terjaga?
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 11:00 WIB

Indikator RSI dan MACD Melemah, Tren Bullish CITA Masih Terjaga?

Pergerakan saham PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) pada perdagangan hari ini menunjukkan tekanan jangka pendek di tengah dinamika pasar.

Dian Swastatika Sentosa (DSSA) Akan Stock Split Saham di Rasio 1:25
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 08:33 WIB

Dian Swastatika Sentosa (DSSA) Akan Stock Split Saham di Rasio 1:25

Untuk stock split, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)  akan meminta persetujuan dari para pemegang saham melalui RUPSLB pada 11 Maret 2026.​

Rogoh Kocek Rp 200 Miliar, RMK Energy (RMKE) Siap Buyback Saham
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 08:28 WIB

Rogoh Kocek Rp 200 Miliar, RMK Energy (RMKE) Siap Buyback Saham

PT RMK Energy Tbk (RMKE) mengumumkan rencana untuk pembelian kembali (buyback) saham sebesar Rp 200 miliar. 

Menutup Celah yang Sering Dianggap Sepele dengan Asuransi Perjalanan
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 08:00 WIB

Menutup Celah yang Sering Dianggap Sepele dengan Asuransi Perjalanan

Membeli asuransi perjalanan saat ke luar negeri jadi hal biasa. Tapi, apakah tetap butuh asuransi buat perjalanan di dalam negeri?

Pasar Saham Semakin Suram
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:51 WIB

Pasar Saham Semakin Suram

Tekanan yang dialami pasar saham Indonesia semakin besar setelah para petinggi OJK dan bos bursa mengundurkan diri.

Diversifikasi IFSH: Ini Rencana Bisnis Baru Saat Nikel Global Tertekan
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:30 WIB

Diversifikasi IFSH: Ini Rencana Bisnis Baru Saat Nikel Global Tertekan

Harga nikel global terus anjlok, manajemen IFSH beberkan cara jaga profit. Temukan langkah konkret IFSH untuk amankan laba di 2026

Harga Bitcoin Anjlok: Strategi DCA Bisa Selamatkan Investor Kripto?
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:30 WIB

Harga Bitcoin Anjlok: Strategi DCA Bisa Selamatkan Investor Kripto?

Bitcoin anjlok 7% dalam sepekan, memicu likuidasi besar-besaran. Investor wajib tahu penyebabnya dan langkah mitigasi. 

Masih Rapuh
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:10 WIB

Masih Rapuh

Pengaturan ulang kembali bursa dengan standar dan tata kelola yang lebih jelas menjadi kunci penting.

Pembekuan MSCI, Ujian Transparansi Bursa
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:05 WIB

Pembekuan MSCI, Ujian Transparansi Bursa

Dalam indeks global, free float adalah inti dari konsep bisa dibeli yang menjadi pakem para investor kebanyakan.​

Strategi Investasi Aman Ala Direktur Sucorinvest, Jauh dari Volatilitas.
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 06:15 WIB

Strategi Investasi Aman Ala Direktur Sucorinvest, Jauh dari Volatilitas.

Membeli saham big caps ternyata belum tentu untung. Direktur Sucorinvest Hermansyah bagikan strategi yang buat hidupnya tenang

INDEKS BERITA

Terpopuler