Tahun 2021: Masa Titik Balik

Minggu, 03 Januari 2021 | 14:30 WIB
Tahun 2021: Masa Titik Balik
[]
Reporter: Sumber: Tabloid Kontan | Editor: Hendrika

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menutup tahun 2020, banyak di antara kita yang membawa perasaan was-was, gelisah dan bingung. Akibatnya, tak banyak yang berani meramalkan apa yang akan terjadi tahun 2021.

Bagaimana tidak? Sejak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tanggal 11 Maret 2020 mengumumkan Covid-19 sebagai pandemi global, belum ada tanda-tanda bahwa wabah ini akan segera berlalu, termasuk juga di Indonesia.

Vaksin penangkal Covid-19 memang sudah di depan mata, bahkan sudah mulai disuntikkan kepada masyarakat luas di beberapa negara. Namun, itu belum menjadi jaminan bahwa pandemi ini akan berlalu dari seluruh muka bumi.

Tak semua negara beruntung bisa mengupayakan vaksin yang manjur kepada warganya sendiri. Perkara pengadaan atawa produksi, penetapan harga, penyimpanan dan distribusi vaksin juga ternyata tak semudah yang dibayangkan banyak orang. Sebagai contoh, ada vaksin pabrikan tertentu yang harus disimpan pada suhu minus 70 derajat celcius!

Dan, sambil menanti ketersediaan pasokan vaksin dari produsen, beberapa negara bahkan kembali memberlakukan pembatasan sosial secara ketat alias lockdown, sebagai antisipasi terhadap peningkatan arus pergerakan manusia di akhir dan awal tahun.

Pada bulan Oktober 2020, pembawa acara di televisi CNN dan kolumnis di Washington Post, Fareed Zakaria menulis buku bertajuk Ten Lessons for a Post Pandemic World. Buku ini mengulas cara berbagai negara menghadapi pandemi Covid-19, yang mendatangkan hasil yang berbeda pula.

Beberapa negara, seperti Selandia Baru, Singapura, Taiwan dan Finlandia, merespons dengan sangat serius sejak pandemi ini muncul. Mereka segera melakukan pembatasan mobilitas warga, melakukan pengetesan dan melacak riwayat kontak.

Sementara beberapa negara lainnya cenderung menganggap remeh deklarasi pandemi yang diwartakan oleh WHO. Amerika Serikat, Inggris, Brazil dan Meksiko adalah contoh negara yang bisa dibilang terlambat dalam penanganan dan penangkalan pandemi.

Hasilnya? Negara-negara yang sedari awal begitu responsif, saat ini berhasil mengendalikan angka jumlah penderita Covid-19 tak lebih dari tiga digit. Sementara, negara-negara yang abai di waktu awal, saat ini masih bergelut dengan penambahan kasus yang masif. Hingga tulisan ini dibuat, Amerika Serikat sendiri mencatat jumlah penderita mendekati 20 juta, dengan angka kematian yang sudah menembus 300 ribu.

Dari pengalaman dan pendekatan berbagai negara dalam menanggulangi pandemi Covid-19, Zakaria menarik sepuluh pembelajaran yang bisa kita manfaatkan untuk menyongsong tatanan kehidupan dunia pasca pandemi. Zakaria membantu kita memahami esensi dari dunia pasca pandemi dengan konsekuensinya di berbagai ranah (politik, sosial, teknologi dan ekonomi), yang bisa jadi akan berlangsung lama. Mengutip ucapan Lenin, "There are decades when nothing happens and weeks when decades happen", Zakaria menegaskan betapa pandemi ini memutar roda peradaban manusia begitu cepat. Akibatnya, perubahan yang terjadi pun terasa mendadak dan dramatis.

Tragedi atau peluang

Pandemi ini menciptakan begitu banyak tragedi; mulai dari kerabat yang menderita sakit, saudara yang meninggal dunia, pekerjaan yang hilang, penghasilan yang menurun, hingga perusahaan yang bangkrut dan sengketa pandangan politik. Tak mungkin kita tak meneteskan air mata saat menyaksikan, bahkan mengalami, peristiwa-peristiwa pilu seperti itu. Oleh karenanya, wajar pula jika banyak yang tak sanggup menatap tahun 2021 dengan kegembiraan dan optimisme, seperti yang lazim dirasakan setiap memasuki tahun baru.

Namun, bagi Zakaria, pandemi ini juga merupakan sebuah peluang, jika kita memanfaatkannya untuk beranjak maju dan melakukan beberapa perubahan besar yang memang kita perlukan.

Zakaria adalah pribadi yang optimistis dan menaruh harapan kepada masa depan. Baginya, sebagai manusia kita mempunyai pilihan. Apakah kita akan membenamkan diri dalam perjalanan di lembah yang suram, atau mendaki ke puncak gunung yang terbuka, dengan segala ketidakpastiannya? Apakah kita akan berkubang terus dalam lorong kegelapan, atau justru menjadikan momen ini sebagai titik balik (turning point) untuk melakukan perubahan besar ke arah kehidupan dan peradaban yang lebih baik. Pilihannya ada di tangan kita masing-masing.

Dalam bahasa Cina, krisis disebut wei jie. Wei mengandung arti bahaya, dan jie berarti peluang. Dengan demikian, kita bisa melihatnya sebagai bahaya yang mengancam dan menakutkan, atau sebaliknya menjadikannya sebagai peluang yang menantang dan menggairahkan.

Lagi-lagi, semuanya terpulang kembali kepada cara pandang masing-masing manusia. Yang jelas, filsuf Friedrich Nietzsche pernah berkata, "That which does not kill us, makes us stronger."

So, bagaimana mustinya kita memprediksi keadaan tahun 2021? Kata Bapak Manajemen Modern, Peter Drucker, "We can not predict the future, but we can create it."

Selamat Tahun Baru 2021.

Bagikan

Berita Terbaru

Daftar Emiten Buyback Saham Usai Efek MSCI, Sekadar Obat Kuat Hadapi Tekanan Asing
| Minggu, 01 Februari 2026 | 10:35 WIB

Daftar Emiten Buyback Saham Usai Efek MSCI, Sekadar Obat Kuat Hadapi Tekanan Asing

Dalam banyak kasus, amunisi buyback emiten sering kali tak cukup besar untuk menyerap tekanan jual saat volume transaksi sedang tinggi-tingginya.

Pola di Saham NCKL Mirip Saham BUMI, Perlukah Investor Ritel Merasa Khawatir?
| Minggu, 01 Februari 2026 | 08:35 WIB

Pola di Saham NCKL Mirip Saham BUMI, Perlukah Investor Ritel Merasa Khawatir?

Periode distribusi yang dilakoni Glencore berlangsung bersamaan dengan rebound harga saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL).

Transparansi Pemilik di Bawah 5%, Kunci Kotak Pandora Dugaan Manipulasi Harga Saham
| Minggu, 01 Februari 2026 | 08:26 WIB

Transparansi Pemilik di Bawah 5%, Kunci Kotak Pandora Dugaan Manipulasi Harga Saham

Transparansi pemegang saham di bawah 5%, titik krusial permasalahan di pasar modal. Kunci kotak pandora yang menjadi perhatian MSCI. 

Strategi Investasi Fajrin Hermansyah, Direktur Sucorinvest Asset Management
| Minggu, 01 Februari 2026 | 07:13 WIB

Strategi Investasi Fajrin Hermansyah, Direktur Sucorinvest Asset Management

Investasi bukan soal siapa tercepat, karena harus ada momentumnya. Jika waktunya dirasa kurang tepat, investor harusnya tak masuk di instrumen itu

Spin-off Unit Syariah Bukan Sekadar Kepatuhan, Struktur Modal BNGA Bakal Lebih Solid
| Minggu, 01 Februari 2026 | 06:58 WIB

Spin-off Unit Syariah Bukan Sekadar Kepatuhan, Struktur Modal BNGA Bakal Lebih Solid

Pemulihan ROE BNGA ke kisaran 12,8% - 13,4% pada 2026–2027 bersifat struktural, bukan semata siklikal.

Diskon Transportasi Belum Cukup Buat Sokong Ekonomi
| Minggu, 01 Februari 2026 | 06:49 WIB

Diskon Transportasi Belum Cukup Buat Sokong Ekonomi

Pemerintah mengusulkan diskon tiket pesawat lebih tinggi dari periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) tahun lalu yang berada di kisaran 13%-16%.

Incar Pertumbuhan, Medco Energi (MEDC) Genjot Produksi Migas dan Listrik
| Minggu, 01 Februari 2026 | 06:39 WIB

Incar Pertumbuhan, Medco Energi (MEDC) Genjot Produksi Migas dan Listrik

PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) memasang target kinerja operasional ambisius pada 2026, baik di segmen migas maupun listrik.​

Surplus Neraca Dagang Bakal Menyusut
| Minggu, 01 Februari 2026 | 06:36 WIB

Surplus Neraca Dagang Bakal Menyusut

Kinerja impor bakal tumbuh lebih cepat seiring kebijakan pemerintah yang pro-pertumbuhan dan meningkatkan kebutuhan barang modal serta bahan baku.

Masih Ada Peluang Cuan di Saham Lapis Kedua
| Minggu, 01 Februari 2026 | 06:32 WIB

Masih Ada Peluang Cuan di Saham Lapis Kedua

Menakar prospek saham-saham lapis kedua penghuni indeks SMC Composite di tengah gonjang-ganjing di pasar saham Indonesia.​

BPJS Ketenagakerjaan berencana kerek investasi saham
| Minggu, 01 Februari 2026 | 06:20 WIB

BPJS Ketenagakerjaan berencana kerek investasi saham

Menurut Direktur BPJS Ketenagakerjaan Edwin Ridwan, pihaknya memang sudah punya rencana untuk meningkatkan alokasi investasi di instrumen saham.

INDEKS BERITA

Terpopuler