Tambahan Anggaran PU Rp 36,91 Triliun, Harapan Baru atau Sekadar Penyangga bagi BUMN?

Senin, 09 Februari 2026 | 13:00 WIB
Tambahan Anggaran PU Rp 36,91 Triliun, Harapan Baru atau Sekadar Penyangga bagi BUMN?
[ILUSTRASI. Renovasi Pesantren-Kementerian PU Siapkan Program Renovasi Gedung Tua (DOK/Kementerian PU)]
Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Upaya Pemerintah yang akan menambah anggaran sebesar Rp 36,91 triliun guna mempercepat pembangunan infrastruktur di berbagai daerah, dianggap bisa menjadi suplemen bagi BUMN Karya. Sebagaimana diketahui, kinerja BUMN Karya seperti PT PP (Persero) Tbk (PTPP), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI), dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) masih tertekan hingga semester I-2025 baik akibat utang hingga dampak merger dan restrukturisasi.

Pemerintah sendiri melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengusulkan tambahan anggaran sebesar Rp 36,91 triliun dalam pelaksanaan Instruksi Presiden (Inpres) Tahun 2026. Tambahan anggaran ini diarahkan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur dasar di berbagai daerah, mulai dari penanganan irigasi dan jalan daerah, pembangunan Sekolah Rakyat, hingga rehabilitasi sekolah keagamaan.

Baca Juga: Mengukur Prospek Saham Sektor Infrastruktur

Secara rinci, alokasi anggaran tersebut mencakup penanganan irigasi daerah sebesar Rp 15 triliun, pembangunan jalan daerah Rp 15 triliun, pembangunan Sekolah Rakyat Rp 5,16 triliun, rehabilitasi sekolah keagamaan Rp 22 miliar, serta program KSPEAN Wanam sebesar Rp 1,53 triliun. Pemerintah menilai tambahan anggaran ini dibutuhkan seiring meningkatnya kebutuhan infrastruktur daerah serta penguatan layanan publik, khususnya di sektor pendidikan, konektivitas, dan ketahanan pangan.

Dari sisi sektoral, tambahan anggaran ini datang di tengah kondisi sektor konstruksi yang relatif tertekan sepanjang 2025. Minimnya proyek baru dan terbatasnya realisasi belanja infrastruktur menyebabkan perolehan kontrak baru menyusut, sementara visibilitas pendapatan emiten konstruksi ikut melemah.

Phintraco Sekuritas dalam catatan terbaru yang tayang Kamis (5/2) menilai tambahan anggaran Inpres 2026 berpotensi menjadi katalis positif jangka menengah bagi sektor konstruksi dan semen. Dengan adanya proyek-proyek baru berbasis APBN, peluang pemulihan order book dan utilisasi kapasitas terbuka kembali, khususnya bagi BUMN Karya.

Namun, sejumlah analis mengingatkan bahwa besaran anggaran ini perlu dilihat secara proporsional. Senior Investment Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta, menilai angka Rp 36,91 triliun relatif tidak besar jika dibandingkan dengan periode pertama pemerintahan Presiden Joko Widodo, apalagi saat belanja infrastruktur bersifat sangat ekspansif dan menjadi motor utama pertumbuhan sektor konstruksi.

“Anggaran kali ini lebih bersifat defensif. Fokusnya pada proyek-proyek kecil hingga menengah dengan durasi pendek, bukan pembangunan infrastruktur strategis berskala besar,” ujar Nafan kepada Kontan, Jumat (6/2).

Sebagai informasi, berdasarkan data Kementerian Keuangan Sumber Pembiayaan Infrastruktur, Pada awal pemerintahan Jokowi - JK tahun 2014, anggaran infrastruktur tercatat senilai Rp 269,1 triliun. Lalu empat tahun kemudian, yakni tahun 2018, anggaran infrastruktur membesar mencapai Rp 410 triliun. Pada APBN 2019, anggaran infrastruktur masih naik 2,4% menjadi Rp 415 triliun. Kementerian PU juga juga menyampaikan selama periode 2014 - 2024 kepemimpinan Presiden Joko Widodo telah merogoh total anggaran sebesar Rp 1.315 triliun.

Dengan perbedaan yang cukup bersebarangan itu, Nafan melihat bahwa proyek-proyek seperti irigasi daerah, jalan non-tol, sekolah rakyat, dan gedung publik memang relatif cepat dieksekusi, memiliki risiko pembebasan lahan yang minim, serta lebih mudah diserap oleh APBN dan APBD. Namun, karakter tersebut juga membatasi potensi lonjakan nilai kontrak dan margin bagi kontraktor besar.

Meski tidak ekspansif, sebagian analis melihat tambahan anggaran ini memiliki kualitas yang relatif baik bagi BUMN Karya.

Head of Research Korea Investment Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi menilai tambahan anggaran ini bukan sekadar penyesuaian fiskal, melainkan dapat berfungsi sebagai “fiscal booster” dan sinyal awal kebangkitan sektor.

Menurut Wafi, proyek berbasis Inpres dan APBN merupakan jenis proyek yang paling sehat bagi BUMN Karya. Risiko pembayarannya relatif rendah, tidak menuntut skema turnkey yang menyedot modal kerja besar, serta efektif membantu perputaran arus kas di tengah proses restrukturisasi utang yang masih berlangsung di sebagian besar BUMN konstruksi.

“Di kondisi saat ini, yang paling dibutuhkan BUMN Karya bukan proyek besar, tapi proyek yang bisa memperbaiki cash flow,” ujar Wafi kepada KONTAN.

Dalam konteks ini, PTPP dan ADHI dinilai memiliki peluang paling besar untuk memperoleh manfaat. Keduanya memiliki profil neraca yang relatif lebih sehat dan kapasitas pengerjaan yang lebih longgar dibandingkan WIKA dan WSKT.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Melihat Resiliensi Aset Keuangan Digital di Tengah Ketegangan Geopolitik
| Kamis, 05 Maret 2026 | 13:00 WIB

Melihat Resiliensi Aset Keuangan Digital di Tengah Ketegangan Geopolitik

Memang ada skenario di mana eskalasi geopolitik justru menjadi katalis positif bagi kripto, tetapi biasanya bukan pada fase awal konflik.

Intip Portofolio Lo Kheng Kong Hingga Djoni, Cuan Ribuan Persen dalam Setahun
| Kamis, 05 Maret 2026 | 12:22 WIB

Intip Portofolio Lo Kheng Kong Hingga Djoni, Cuan Ribuan Persen dalam Setahun

Portofolio Djoni terbilang moncer mencetak gain. Sebut saja saham TRIN yang sepajang satu tahun terakhir mencetak gain hingga 1.076%.

Fokus ke FWA, Saham WIFI Masih Menarik untuk Dikoleksi?
| Kamis, 05 Maret 2026 | 11:00 WIB

Fokus ke FWA, Saham WIFI Masih Menarik untuk Dikoleksi?

Analis merekomendasikan wait and see untuk saham WIFI karena dalam beberapa hari terakhir, pergerakan sahamnya juga terus mengalami koreksi.

Pengendali Baru Asri Karya Lestari (ASLI) Gelar Tender Wajib 2,33 Miliar Saham
| Kamis, 05 Maret 2026 | 10:04 WIB

Pengendali Baru Asri Karya Lestari (ASLI) Gelar Tender Wajib 2,33 Miliar Saham

PT Wahana Konstruksi Mandiri akan menggelar penawaran tender wajib saham PT Asri Karya Lestari Tbk (ASLI) pada harga Rp 204 per saham.

Pendapatan Batubara Jeblok, Laba BYAN Tahun 2025 Anjlok
| Kamis, 05 Maret 2026 | 09:54 WIB

Pendapatan Batubara Jeblok, Laba BYAN Tahun 2025 Anjlok

Pada 2025, laba bersih PT Bayan Resources Tbk (BYAN) hanya US$ 767,92 juta, anjlok 16,77% secara tahunan dibanding 2024 sebesar US$ 922,64 juta.

Pembangunan Jaya Ancol (PJAA) Incar Pertumbuhan Kunjungan di Libur Lebaran 2026
| Kamis, 05 Maret 2026 | 09:47 WIB

Pembangunan Jaya Ancol (PJAA) Incar Pertumbuhan Kunjungan di Libur Lebaran 2026

PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) menargetkan kunjungan sebanyak 600.000 orang selama libur Lebaran 2026.

Tren Kenaikan Harga Batubara Bisa Mendongkrak Laba Golden Energy (GEMS) Pada 2026
| Kamis, 05 Maret 2026 | 09:40 WIB

Tren Kenaikan Harga Batubara Bisa Mendongkrak Laba Golden Energy (GEMS) Pada 2026

Pemulihan harga batubara bakal mengerek harga jual rata-rata (ASP) PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) sekaligus meningkatkan margin laba.

Perang AS-Israel Vs Iran Bikin Harga Emas Terbang tapi Saham Tambang Malah Rontok
| Kamis, 05 Maret 2026 | 07:31 WIB

Perang AS-Israel Vs Iran Bikin Harga Emas Terbang tapi Saham Tambang Malah Rontok

Perang AS-Israel Vs Iran kerek harga emas global tembus US$ 5.000. Simak analisis dan rekomendasi saham emiten emas di tengah fluktuasi.

OJK Selidiki Mirae Asset Soal Dugaan Manipulasi Saham IPO BEBS
| Kamis, 05 Maret 2026 | 06:41 WIB

OJK Selidiki Mirae Asset Soal Dugaan Manipulasi Saham IPO BEBS

Penggeledahan kantor Mirae Asset Sekuritas oleh OJK-Bareskrim terkait dugaan manipulasi IPO BEBS. Ketahui detail kasusnya.

Gangguan Pasokan Minyak Ancam Margin Emiten Petrokimia
| Kamis, 05 Maret 2026 | 06:37 WIB

Gangguan Pasokan Minyak Ancam Margin Emiten Petrokimia

Konflik Timur Tengah membuat harga minyak dunia melonjak, menekan margin emiten petrokimia. TPIA sudah ambil langkah darurat. Simak dampaknya!

INDEKS BERITA

Terpopuler