Tambal Sulam Si Koboi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Langkah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menarik kembali dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) senilai Rp 75 triliun dari perbankan membuka mata kita terkait persoalan mendasar tata kelola fiskal pemerintah. Kebijakan ini bukan sekadar koreksi, melainkan pendekatan tidak konsisten, reaktif dan kurang perencanaan.
Awalnya, penempatan dana SAL di bank-bank BUMN dengan dalih memperkuat likuiditas dan mendorong penyaluran kredit ke sektor riil. Sejak awal publik dan pelaku pasar telah mengingatkan likuiditas perbankan bukan masalah utama.
Pada tahap pertama kucuran SAL ke bank BUMN sebesar Rp 200 triliun, data menunjukkan, kredit yang sudah disetujui tapi belum tersalur alias undisbursed loan di bank BUMN sekitar Rp 400 triliun.
Tak lama menyusul kucuran SAL Rp 75 triliun. Hanya seumur jagung.Dana yang sama ditarik kembali dengan alasan “kurang optimal” dan dialihkan ke belanja rutin kementerian/lembaga. Penempatan SAL ke bank tidak otomatis berubah menjadi kredit produktif. Masalahnya, permintaan kredit, insentif bank dan risiko ekonomi, bukan kekurangan likuiditas, apalagi di bank-bank besar.
Kebijakan koboi tersebut memantik perhatian pihak asing, Sumber saya seorang treasuri bank Eropa di Singapura pada September 2025 lalu bilang, "pemerintah elu engga prudent. Ini banyak yang jual rupiah, beli dolar," ujarnya, saat Purbaya pertama kali mengumumkan akan mengalirkan SAL ke bank BUMN.
Rupiah saat itu melemah ke Rp 16.775 per dolar Amerika Serikat (AS). Lalu sempat menguat tipis. Tapi. sejak 18 Desember sampai Selasa (6/1), rupiah konsisten tutup di atas Rp 16.700. Kemarin tutup di Rp 16.762 per dolar AS.
Pengakuan Purbaya dana SAL kurang optimal menegaskan bahwa kebijakan itu sejak awal salah sasaran. Ketika terjadi penarikan kembali menunjukkan pendekatan fiskal yang tambal sulam.
Purbaya juga menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan No.115 tahun 2025, yang meminta Bank Indonesia (BI) menyetorkan surplus sebelum tutup buku. Kebijakan ini mengkhawatirkan. Pemerintah mulai menggali kas otoritas moneter untuk menutup tekanan penerimaan negara.
Saya teringat seorang teman yang hobi trading saham. Suatu hari dia bercerita mendapat informasi, saham A akan naik, tapi dia telat. Saya bertanya, kenapa? "Ya, duit saya pas-pasan. Saya harus jual dulu portofolio di saham lain," ujarnya.
