Tambal Sulam Si Koboi

Rabu, 07 Januari 2026 | 06:10 WIB
Tambal Sulam Si Koboi
[ILUSTRASI. TAJUK - Ahmad Febrian (KONTAN/Indra Surya)]
Ahmad Febrian | Redaktur Pelaksana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Langkah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menarik kembali dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) senilai Rp 75 triliun dari perbankan membuka mata kita terkait persoalan mendasar tata kelola fiskal pemerintah. Kebijakan ini bukan sekadar koreksi, melainkan pendekatan tidak konsisten, reaktif dan kurang perencanaan. 

Awalnya, penempatan dana SAL di bank-bank BUMN dengan dalih memperkuat likuiditas dan mendorong penyaluran kredit ke sektor riil. Sejak awal publik dan pelaku pasar telah mengingatkan likuiditas perbankan bukan masalah utama. 

Pada tahap pertama kucuran SAL ke bank BUMN sebesar Rp 200 triliun, data menunjukkan, kredit yang sudah disetujui tapi belum tersalur alias undisbursed loan di bank BUMN sekitar Rp 400 triliun. 

Tak lama menyusul kucuran SAL Rp 75 triliun. Hanya seumur jagung.Dana yang sama ditarik kembali dengan alasan “kurang optimal” dan dialihkan ke belanja rutin kementerian/lembaga. Penempatan SAL ke bank tidak otomatis berubah menjadi kredit produktif. Masalahnya, permintaan kredit, insentif bank dan risiko ekonomi, bukan kekurangan likuiditas, apalagi di bank-bank besar.

Kebijakan koboi tersebut memantik perhatian pihak asing, Sumber saya seorang treasuri bank Eropa di Singapura pada September 2025 lalu bilang, "pemerintah elu engga prudent. Ini banyak yang jual rupiah, beli dolar," ujarnya, saat Purbaya pertama kali mengumumkan akan mengalirkan SAL ke bank BUMN.

Rupiah saat itu melemah ke Rp 16.775 per dolar Amerika Serikat (AS). Lalu sempat menguat tipis. Tapi. sejak 18 Desember sampai Selasa (6/1), rupiah konsisten tutup di atas Rp 16.700. Kemarin tutup di Rp 16.762 per dolar AS.

Pengakuan Purbaya dana SAL kurang optimal menegaskan bahwa kebijakan itu sejak awal salah sasaran. Ketika terjadi penarikan kembali menunjukkan pendekatan fiskal yang tambal sulam. 

Purbaya juga menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan  No.115 tahun 2025, yang meminta Bank Indonesia (BI) menyetorkan surplus sebelum tutup buku. Kebijakan ini mengkhawatirkan. Pemerintah  mulai menggali kas otoritas moneter untuk menutup tekanan penerimaan negara. 

Saya teringat seorang teman yang hobi trading saham. Suatu hari dia  bercerita mendapat informasi, saham A akan naik, tapi dia telat. Saya bertanya, kenapa? "Ya, duit saya pas-pasan. Saya harus jual dulu portofolio di saham lain," ujarnya.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

Harga Tembaga Koreksi, Ini Dampaknya ke MDKA, ANTM dan BRMS
| Rabu, 16 September 2026 | 15:00 WIB

Harga Tembaga Koreksi, Ini Dampaknya ke MDKA, ANTM dan BRMS

Katalis yang perlu diperhatikan ke depan mencakup kebijakan tarif AS, perkembangan persediaan LME dan COMEX, kebijakan The Fed dan arah dolar AS.​

Gejolak Harga Minyak Mengerek Biaya Angkut
| Rabu, 16 September 2026 | 14:19 WIB

Gejolak Harga Minyak Mengerek Biaya Angkut

Konflik geopolitik turut memicu lonjakan tarif angkut dan mengancam margin perusahaan. Tapi, tekanan bukan hanya dari harga energi.

Meski Sentimen Akuisisi Saham DSSA Masih Volatile, Ini Sebabnya
| Rabu, 16 September 2026 | 14:15 WIB

Meski Sentimen Akuisisi Saham DSSA Masih Volatile, Ini Sebabnya

Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) bergerak volatile setelah melonjak signifikan menyusul narasi akuisisi PT Bali Media Telekomunikasi.

Saham BYAN Anjlok 41% Sebulan, Dihantam Isu Akuisisi hingga Force Majeure
| Rabu, 16 September 2026 | 12:50 WIB

Saham BYAN Anjlok 41% Sebulan, Dihantam Isu Akuisisi hingga Force Majeure

BYAN tidak mengetahui adanya rencana akuisisi sekitar 62,2% saham BYAN oleh Haji Isam, atau pihak yang terafiliasi dengan Haji Isam

Jadi Top Foreign Buy, Saham AMMN dan BRMS Masih Layak Dilirik?
| Rabu, 16 September 2026 | 12:45 WIB

Jadi Top Foreign Buy, Saham AMMN dan BRMS Masih Layak Dilirik?

Analis menyebut secara keseluruhan, AMMN dan BRMS masih berpeluang menguat dalam jangka pendek, terutama didorong oleh kenaikan bobot dalam indeks

Emiten Konstruksi Bidik Proyek Data Center, Bagaimana Kesiapan TOTL?
| Rabu, 16 September 2026 | 12:30 WIB

Emiten Konstruksi Bidik Proyek Data Center, Bagaimana Kesiapan TOTL?

Emiten konstruksi terpantau mulai membidik bisnis pembangunan data center di tengah terbatasnya anggaran konstruksi pemerintah.

Rencana Danantara Pegang 40% Saham BEI Picu Kekhawatiran Konflik Kepentingan
| Rabu, 16 September 2026 | 11:59 WIB

Rencana Danantara Pegang 40% Saham BEI Picu Kekhawatiran Konflik Kepentingan

Tujuan demutualisasi BEI seharusnya mengurangi konsentrasi dan konflik kepentingan, bukan sekadar memindahkan konsentrasi kepemilikan.

Ganti Pengendali, Prospek Saham DPUM Terkerek Rencana Transformasi dan Ekspansi
| Rabu, 16 September 2026 | 11:47 WIB

Ganti Pengendali, Prospek Saham DPUM Terkerek Rencana Transformasi dan Ekspansi

Sentimen masuknya pengendali baru DPUM cukup positif karena latar belakang PT Rama Indonesia yang mempunyai jaringan distribusi yang luas

Suntik Rp 325 Miliar ke Anak usaha untuk Ekspansi, Simak Rekomendasi Saham CMRY
| Rabu, 16 September 2026 | 11:11 WIB

Suntik Rp 325 Miliar ke Anak usaha untuk Ekspansi, Simak Rekomendasi Saham CMRY

Ekspansi distribusi cukup penting bagi CMRY karena pertumbuhan penjualan tidak hanya bergantung pada kapasitas produksi.

Porsi Danantara di BEI Menjadi Sorotan
| Rabu, 16 September 2026 | 09:10 WIB

Porsi Danantara di BEI Menjadi Sorotan

Danantara masih menunggu regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menjadi landasan hukum demutualisasi

INDEKS BERITA

Terpopuler