Tiga Risiko Masih Membayangi Stabilitas Sistem Keuangan

Sabtu, 04 Mei 2019 | 09:04 WIB
Tiga Risiko Masih Membayangi Stabilitas Sistem Keuangan
[]
Reporter: Adinda Ade Mustami | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Stabilitas sistem keuangan domestik masih terjaga di tengah ketidakpastian global sepanjang 2018. Tahun ini, Bank Indonesia (BI) menilai masih ada sejumlah risiko atas stabilitas sistem keuangan yang perlu dicermati. Terutama, terkait perkembangan ekonomi Amerika Serikat (AS) terbaru.

Secara mengejutkan, pertumbuhan ekonomi AS selama kuartal I-2019 mencapai 3,2%, lebih tinggi dari perkiraan Federal Reserve (The Fed) yang hanya 2,4%. Angka itu juga melebihi ekspektasi ekonom di kisaran 2,2%.

Pertumbuhan ekonomi AS yang pesat menimbulkan sentimen baru. Suku bunga The Fed bisa saja naik jika ekonomi negeri uak Sam terus tumbuh positif. Walhasil, dana asing yang selama ini masuk ke pasar Indonesia akan kembali ke negara maju.

Pada perdagangan Jumat (3/5), investor asing mencatatkan penjualan bersih (net sell) di pasar saham sebesar Rp 967,33 miliar. Dalam sepekan, total net sell asing mencapai Rp 1,6 triliun.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyebutkan, risiko pertama yang harus diwaspadai adalah cross section risk. "Kita perlu memperhatikan, bagaimana pembalikan modal asing tidak menimbulkan risiko likuiditas di sektor keuangan," ujarnya saat peluncuran buku Kajian Stabilitas Keuangan Semester II-2018 kemarin.

Risiko yang kedua adalah market risk. Risiko ini terkait kebijakan kenaikan suku bunga acuan BI yang tidak berdampak pada kenaikan suku bunga kredit bank.

Ketiga, credit risk. Ini mengenai pengelolaan berbagai aspek yang meliputi perlambatan ekonomi dunia, serta upaya mendorong ekspor dan permintaan domestik.

Untuk memitigasi ketiga risiko tersebut, bank sentral perlu memastikan kebijakannya masih sejalan dengan stabilitas sistem keuangan. "Bagaimana kebijakan moneter masih in line dengan stabilitas sistem keuangan, baik mikro maupun makro. Nah, ini tantangan yang harus dicermati," jelas Perry.

Meski demikian, Perry belum membeberkan rencana kebijakan moneter ke depan. Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pekan lalu memutuskan, masih menjaga suku bunga acuan di level 6%.

Deputi Gubernur BI Erwin Rijanto menambahkan, ada risiko stabilitas sistem keuangan lainnya pasca data ekonomi AS. "Risiko ketergantungan bank pada retail funding," ujar Rijanto.

Di tengah ekspansi kredit, retail fiunding menimbulkan risiko likuiditas. Dalam tren jangka panjang, alat likuid perbankan makin menipis karena peningkatan funding gap. Ini menaikkan harga dana pihak ketiga, khususnya pada bank yang punya akses ke wholesale funding.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani menilai, perekonomian domestik saat ini dalam kondisi yang kondusif. "BI seharusnya inisiatif menurunkan bunga acuan, misalnya, 0,25%0,5% untuk meningkatkan optimisme pengusaha," imbuhnya.

Bagikan

Berita Terbaru

Kepercayaan Pasar Belum Pulih, IPO di BEI Masih Sepi
| Selasa, 13 Oktober 2026 | 09:33 WIB

Kepercayaan Pasar Belum Pulih, IPO di BEI Masih Sepi

Sejak awal tahun hingga 12 Oktober 2026, baru ada tujuh emiten melantai di BEI, dengan total dana yang dihimpun Rp 2,16 triliun. 

Saham Big Caps Anjlok, Kinerja IHSG Semakin Jeblok
| Selasa, 13 Oktober 2026 | 09:28 WIB

Saham Big Caps Anjlok, Kinerja IHSG Semakin Jeblok

Saham-saham big caps rontok pada perdagangan Senin (12/10) akibat rumor sanksi OJK terhadap sejumlah emiten.

 

ASII Tender Sukarela Saham AUTO Pada Harga Rp 3.600
| Selasa, 13 Oktober 2026 | 09:12 WIB

ASII Tender Sukarela Saham AUTO Pada Harga Rp 3.600

Dalam penawaran ini, PT Astra International Tbk (ASII) berencana membeli saham PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) paling banyak 238.442.293 lembar.

CSRA Tebar Dividen Interim Hingga Rp 30,75 Miliar
| Selasa, 13 Oktober 2026 | 09:04 WIB

CSRA Tebar Dividen Interim Hingga Rp 30,75 Miliar

 PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) membagikan dividen interim sebesar Rp 30,75 miliar dari buku tahun 2026.

Prospek Saham MTEL: Peluang dari 5G, FWA, Fiber Optik, dan Konsolidasi Menara
| Selasa, 13 Oktober 2026 | 08:19 WIB

Prospek Saham MTEL: Peluang dari 5G, FWA, Fiber Optik, dan Konsolidasi Menara

Sekitar separuh menara PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) telah terhubung dengan jaringan serat optik. 

Martina Berto (MBTO) Bidik Pertumbuhan Penjualan 24%
| Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:53 WIB

Martina Berto (MBTO) Bidik Pertumbuhan Penjualan 24%

Bisnis jasa manufaktur atau maklon untuk industri kosmetik turut menambah pundi-pundi PT Martina Berto Tbk (MBTO). 

Rumor Temuan Manipulasi Harga Pengaruhi MSCI & FTSE, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:51 WIB

Rumor Temuan Manipulasi Harga Pengaruhi MSCI & FTSE, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Yang ditakutkan pasar, temuan manipulasi bisa memengaruhi perlakuan MSCI dan FTSE tepat menjelang keputusan November mendatang.

Produksi CPO Cisadane Sawit Raya (CSRA) Ditopang Tiga Pabrik
| Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:45 WIB

Produksi CPO Cisadane Sawit Raya (CSRA) Ditopang Tiga Pabrik

PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) membidik volume produksi minyak sawit mentah tumbuh 31% di sepanjang tahun ini

Dihadang Bea Keluar, Ekspor Emas Indonesia Anjlok
| Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:38 WIB

Dihadang Bea Keluar, Ekspor Emas Indonesia Anjlok

Prospek kinerja emiten sektor emas tetap solid karena harga emas masih bertahan di atas US$ 4.000 per ons troi.

Menakar Prospek GJTL di Tengah Rencana Bangun Pabrik Ban EV Senilai Rp 10 Triliun
| Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:23 WIB

Menakar Prospek GJTL di Tengah Rencana Bangun Pabrik Ban EV Senilai Rp 10 Triliun

GJTL masih harus menghadapi persaingan dengan produsen ban asal China yang menawarkan harga lebih murah.​

INDEKS BERITA

Terpopuler