TJN Menuding BAT Rancang Skema untuk Penghindaran Pajak di Indonesia

Kamis, 09 Mei 2019 | 06:30 WIB
TJN Menuding BAT Rancang Skema untuk Penghindaran Pajak di Indonesia
[]
Reporter: Asnil Bambani Amri, Benedicta Prima, Nur Qolbi | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Raksasa rokok dunia, British American Tobacco (BAT), diduga melakukan penghindaran pajak di Indonesia melalui PT Bentoel Internasional Investama Tbk (RMBA). Praktik penghindaran pajak yang dilakukan BAT ditenggarai mengakibatkan Indonesia menanggung rugi hingga US$ 13,7 juta per tahun.
Dugaan itu merupakan hasil penelusuran Tax Justice Network (TJN). TJN adalah lembaga independen berjaringan internasional berkantor pusat di London, Inggris, yang fokus melakukan penelitian dan kajian terkait kebijakan serta pelaksanaan perpajakan.

Menurut TJN, BAT telah mengalihkan sebagian pendapatannya keluar dari Indonesia melalui dua cara agar terhindar dari kewajiban perpajakan. Pertama melalui pinjaman intra-perusahaan tahun 2013-2015. Pada tahun itu, Bentoel banyak mengambil pinjaman dari perusahaan terafiliasi di Belanda yaitu Rothmans Far East BV. Pembayaran bunga atas pinjaman dapat dikurangkan dari penghasilan kena pajak.

Fasilitas pinjaman yang diberikan adalah sebesar Rp 5,3 triliun setara US$ 434 juta pada Agustus 2013 dan Rp 6,7 triliun setara US$ 549 juta pada 2015. Rekening perusahaan Belanda ini menunjukkan bahwa dana yang dipinjamkan kepada Bentoel berasal dari perusahaan grup BAT lainnya yaitu Pathway 4 (Jersey) Limited yang berpusat di Inggris.

Bentoel harus membayar bunga pinjaman Rp 2,25 triliun setara US$ 164 juta. Bunga ini akan dikurangkan dari penghasilan kena pajak di Indonesia.
Bentoel sengaja memilih pinjaman melalui perusahaan  di Belanda. Pasalnya, Indonesia dan Belanda memiliki perjanjian pajak yang membebaskan pajak terkait pembayaran bunga utang. Dari strategi ini maka Indonesia kehilangan pendapatan bagi negara sebesar US$ 11 juta per tahun.

Kedua melalui pembayaran kembali ke Inggris untuk royalti, ongkos dan layanan. Bentoel melakukan pembayaran untuk royalti, ongkos dan biaya IT dengan total US$ 19,7 juta per tahun. Biaya itu untuk membayar royalti ke BAT Holdings Ltd untuk penggunaan merek Dunhill dan Lucky Strike sebesar US$ 10,1 juta, membayar ongkos teknis dan konsultasi kepada BAT Investment Ltd sebesar US$ 5,3 juta, dan membayar biaya IT British American Shared Services (GSD) limited sebesar US$ 4,3 juta.

Laporan itu menyebut, dalam beberapa tahun terakhir, aktivitas ini secara signifikan memperburuk kerugian Bentoel di Indonesia. Biaya gabungan dari pembayaran ini setara dengan 80% dari kerugian perusahaan sebelum pajak pada tahun 2016.

Hitung punya hitung, pendapatan yang hilang dari Indonesia mencapai US$ 2,7 juta per tahun karena pembayaran royalti, ongkos dan biaya IT BAT kepada perusahaan-perusahaannya di Inggris. Adapun dengan perincian pajak royalti sebesar US$ 1 juta per tahun, pajak perusahaan US$ 1,3 juta per tahun dan pajak biaya IT sebesar US$ 0,4 juta per tahun.

Hendro Martowardojo, Presiden Komisaris Independen RMBA membantah isi laporan tersebut. "Itu tidak benar. Selanjutnya silakan konfirmasi ke direksi kami," ujar Hendro kepada KONTAN, Rabu kemarin.

Mercy Francisca Hutahaean, Direktur Legal dan Eksternal Affairs RMBA juga membantah laporan TJN. "Sebagai perusahaan terbuka, transaksi yang disebutkan dalam berita tersebut telah dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Indonesia," imbuh Mercy.

Menanggapi laporan tersebut Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Humas Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak Kementerian Keuangan (Kemkeu) Yoga Hestu Saksama mengatakan pihaknya masih akan mempelajari laporan TJN tersebut. Namun, ia masih enggan memberi penjelasan mengenai langkah apa yang akan dilakukan kantor pajak. "Kami pelajari dulu laporan tersebut ya," jelas Hestu.

Otoritas bursa sudah menaruh curiga atas kinerja perusahaan rokok ini. Setelah mendapat laporan keuangan atas kinerja RMBA tahun 2018, Bursa Efek Indonesia (BEI) meminta penjelasan atas buruknya kinerja perusahaan rokok tersebut.

Pada 2018, RMBA merugi sebesar Rp 608,46 miliar. Kerugian ini membesar 26,74% dibanding 2017 yang mencapai Rp 480,06 miliar. Padahal, pendapatan atas penjualan terus meningkat dari tahun ke tahun.

Direktur BEI I Gede Nyoman Yetna menyatakan permintaan penjelasan tersebut juga mencakup cara perusahaan mengatribusikan pendapatan dan laba untuk dividen, serta rencana bisnis ke depan.

Selanjutnya, apabila tanggapan dari pemintaan penjelasan tersebut masih membutuhkan pendalaman, BEI akan memanggil direksi perusahaan tersebut untuk hearing. Namun belum jelas, jadwal kegiatan tersebut.  

Bagikan

Berita Terbaru

Emiten Ritel Cetak Kinerja Positif, Ini Prospek Saham AMRT, MIDI, HERO, dan RANC
| Kamis, 05 November 2026 | 08:57 WIB

Emiten Ritel Cetak Kinerja Positif, Ini Prospek Saham AMRT, MIDI, HERO, dan RANC

Emiten yang mampu beradaptasi dengan perubahan pola konsumsi masyarakat berpeluang memperoleh kinerja yang lebih baik.

Ketidakpastian Masih Tinggi, Premi Risiko Investasi Mendaki
| Kamis, 05 November 2026 | 08:37 WIB

Ketidakpastian Masih Tinggi, Premi Risiko Investasi Mendaki

 Kenaikan credit default wwap (CDS) mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap tekanan global dan domestik. 

Kinerja ANTM Masih Solid, Tapi Tantangan Ini Menghantui Margin Jangka Menengah
| Kamis, 05 November 2026 | 08:32 WIB

Kinerja ANTM Masih Solid, Tapi Tantangan Ini Menghantui Margin Jangka Menengah

Prospek ANTM ke depan juga dibayangi tantangan, seperti pelemahan penjualan emas dan harga bijih nikel yang dapat menekan profitabilitas.

Penyadap Pengusaha
| Kamis, 05 November 2026 | 08:31 WIB

Penyadap Pengusaha

Penyadapan bisa menciptakan efek gentar (chilling effect) di pengusaha. Mereka menjadi berhati-hati berkomunikasi dan membicarakan strategi.

Prospek Saham Poultry Kuartal IV-2026, JPFA dan CPIN Masih Punya Peluang Tumbuh
| Kamis, 05 November 2026 | 08:21 WIB

Prospek Saham Poultry Kuartal IV-2026, JPFA dan CPIN Masih Punya Peluang Tumbuh

Kenaikan biaya bahan baku pakan serta pelemahan nilai tukar rupiah dapat menekan margin segmen pakan ternak.

Menanti Sentimen Positif Lokal,  Simak Rekomendasi Saham Hari Ini, Kamis (5/11)
| Kamis, 05 November 2026 | 08:04 WIB

Menanti Sentimen Positif Lokal, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini, Kamis (5/11)

Harapan ada perubahan terhadap ekonomi global. Terutama kebijakan fiskal, perdagangan internasional, suku bunga,dolar AS dan hubungan geopolitik. 

Membedah Prospek Saham ESSA: Ditopang Kontrak Gas 20 Tahun dan Tantangan Harga Amonia
| Kamis, 05 November 2026 | 08:04 WIB

Membedah Prospek Saham ESSA: Ditopang Kontrak Gas 20 Tahun dan Tantangan Harga Amonia

Penurunan harga amonia menjadi salah satu risiko utama bagi kinerja PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) pada kuartal IV-2026. 

Ketergantungan Terhadap Raffi Ahmad & Nagita Bikin Efek Cancel Culture Buruk ke RANS
| Kamis, 05 November 2026 | 07:31 WIB

Ketergantungan Terhadap Raffi Ahmad & Nagita Bikin Efek Cancel Culture Buruk ke RANS

Hanya dalam hitungan bulan, RANS kehilangan kepercayaan di pasar modal dan ditinggalkan oleh 628.438 investor.

Pendapatan dan Laba Tumbuh, Prospek CMRY Masih Gurih
| Kamis, 05 November 2026 | 07:16 WIB

Pendapatan dan Laba Tumbuh, Prospek CMRY Masih Gurih

Momentum di akhir tahun bakal jadi katalis pendorong kinerja emiten produsen susu ini. Salah satunya, periode musiman Natal dan Tahun Baru 2027.​

Permintaan Domestik Membaik, Kinerja Emiten Semen Mendaki
| Kamis, 05 November 2026 | 07:13 WIB

Permintaan Domestik Membaik, Kinerja Emiten Semen Mendaki

Mayoritas emiten semen berhasil mengemas pertumbuhan pendapatan dan laba bersih di sepanjang Sembilan 2026.

INDEKS BERITA

Terpopuler