Wake Up Call: Fakta di Balik Saham Berkinerja Minus

Senin, 20 Juni 2022 | 07:25 WIB
Wake Up Call: Fakta di Balik Saham Berkinerja Minus
[]
Reporter: Harian Kontan | Editor: Harris Hadinata

KONTAN.CO.ID - Kita sering mendengar atau membaca nasihat tentang investasi saham yang sebaiknya dilakukan untuk periode jangka panjang. Memang tidak ada batasan baku berapa lama jangka panjang yang dimaksud.

Beberapa buku mengatakan periode lebih dari 10 tahun sebagai jangka panjang. Namun ada juga yang menulis lima tahun sebagai jangka panjang.

Tapi untuk Indonesia, bolehlah kita anggap lebih dari tiga tahun sudah bisa disebut jangka panjang. Ini mengingat karakteristik investor Indonesia yang mayoritas berorientasi jangka pendek-menengah.

Lantas, apakah adagium investasi saham akan lebih baik dalam jangka panjang itu benar adanya? Kenyataannya ternyata bisa berbeda dengan teori. Banyak pelaku pasar yang sebenarnya menjadi investor karena terpaksa, akibat harga sahamnya anjlok.

Penulis tergerak untuk menyelidiki saham-saham apa yang dipegang jangka panjang, namun masih membukukan rugi. Dan apakah ada sedikit alasan mengapa hal tersebut bisa terjadi, terutama terkait valuasi sahamnya? Kongkretnya apakah saham yang masih rugi tersebut valuasinya memang mahal atau sudah murah, ditinjau dengan metode price earning ratio (PER) dan price book value (PBV)?

Untuk membatasi pengamatan, maka penulis memilih indeks KOMPAS100 sebagai investment universe. Data yang digunakan adalah data per tanggal 14 Juni 2022 saat artikel ini dibuat. Pengamatan dilakukan berdasarkan harga saham per 14 Juni 2022, dibandingkan dengan harga 5 tahun ke belakang, 3 tahun ke belakang dan 1 tahun yang lalu.

Baca Juga: Saham-Saham High Dividend 20 Berpotensi Bagikan Dividen Lebih Besar Tahun Depan

Kongkretnya penulis ingin mengetahui saham-saham di indeks KOMPAS100 yang konsisten kinerjanya minus selama 5 tahun dan 3 tahun serta 1 tahun terakhir? Dengan demikian, investor yang memegang saham paling lama lima tahun pun masih belum balik modal, demikian juga bila investor beli tiga tahun lalu atau satu tahun lalu, tetap belum balik modal.

Ingat, penulis hanya menyajikan data yang konsisten rugi, jadi apabila ada return dari lima, tiga dan satu tahun terakhir, yang salah satu saja positif maka tidak dimasukkan ke tabel. Sedangkan dividen tidak dihitung, mengingat yield dividen biasanya relatif kecil, maksimal sekitar 3%. Itupun biasanya berlaku untuk saham-saham yang berkinerja baik. Selain itu biaya transaksi pembelian saham juga diabaikan.

Lalu bagaimana bila ada saham yang menjadi penghuni indeks KOMPAS100 saat ini tapi lima, tiga dan satu tahun lalu belum masuk indeks tersebut? Terpaksa penulis mencari data beberapa saham tersebut secara manual. Data yang terkumpul disajikan pada tabel di bawah, disertai PER dan PBV yang diambil dari sumber www.infovesta.com. Data disajikan berdasar urutan return terkecil untuk kategori investasi lima tahun terakhir.

Saham

5 Tahun

3 Tahun

1 Tahun

PER

PBV

SMBR

-82,55%

-52,23%

-27,65%

112,63

1,41

LPKR

-82,29%

-62,34%

-41,12%

-3,39

0,37

WSKT

-78,09%

-73,18%

-51,42%

-7,89

0,93

HMSP

-72,54%

-68,26%

-10,17%

19,07

3,96

PTPP

-71,54%

-56,70%

-16,97%

21,93

0,39

ADHI

-68,44%

-55,63%

-27,92%

44,26

0,42

SCMA

-65,23%

-44,25%

-39,38%

11,03

1,85

GGRM

-60,89%

-60,13%

-8,85%

12,05

0,98

WIKA

-59,51%

-61,23%

-29,07%

69,75

0,47

BMTR

-55,20%

-41,67%

-5,41%

3,02

0,19

SMRA

-53,85%

-50,00%

-28,99%

21,47

0,87

RALS

-51,76%

-58,59%

-8,89%

15,25

1,21

KAEF

-51,55%

-58,68%

-45,33%

26,84

1,08

UNVR

-51,13%

-47,10%

-9,71%

29,74

28,33

BSDE

-50,82%

-34,89%

-12,98%

17,29

0,53

MNCN

-50,26%

-26,92%

-5,94%

5,50

0,79

INTP

-49,17%

-55,00%

-18,90%

20,97

1,65

ASRI

-47,84%

-48,79%

-14,65%

5,59

0,34

BBTN

-44,81%

-43,77%

-5,10%

6,19

0,73

SSIA

-42,19%

-50,00%

-19,57%

-8,79

0,44

SMGR

-30,71%

-40,39%

-32,92%

19,56

1,03

EXCL

-28,45%

-14,69%

-1,61%

23,65

1,29

DMAS

-22,94%

-37,78%

-22,94%

9,72

1,41

MYOR

-21,40%

-32,40%

-33,46%

56,42

3,24

CTRA

-19,40%

-10,95%

-5,56%

9,07

0,87

ACES

-15,71%

-50,83%

-36,56%

21,80

2,68

MEDC

-5,97%

-17,65%

-16,00%

71,23

0,90

JPFA

-0,36%

-9,39%

-32,37%

9,29

1,20

Baca Juga: Menimbang Bobot Emiten Big Caps

Ada 28 saham dari 100 saham yang konsisten rugi selama periode pengamatan, dengan 16 saham merugi lebih dari 50% selama lima tahun dipegang. Kerugian terbesar berturut-turut dialami Semen Baturaja, Lippo Karawaci dan Waskita Karya, yang ketiganya terkait sektor infrastruktur atau penunjangnya.

Bila dikaitkan dengan valuasi secara PER dan PBV, tampak bahwa mayoritas emiten memang memiliki PER dan PBV relatif tinggi atau negatif. SMBR memiliki PER 112,63 kali akibat anjloknya laba per saham lebih dari 50% secara kuartalan. Adapun LPKR dan WSKT malah memiliki PER negatif, walaupun secara PBV tampak murah. Emiten lainnya silakan amati sendiri.

Dengan penurunan harga saham yang tajam untuk periode pengamatan tersebut, bukankah mengindikasikan bahwa harga sudah murah? Memang asumsi tersebut betul. Namun bila fundamental emiten kurang bagus, dikhawatirkan penurunan masih berlanjut atau harga stagnan untuk jangka waktu panjang.

Pertanyaan selanjutnya, apakah ada saham berfundamental bagus yang murah di tabel tersebut dan bisa dijadikan rekomendasi? Setidaknya ada empat saham yang relatif sangat murah dari sisi PER dan PBV, yaitu BMTR dengan PER 3,02 kali dan PBV 0,19 kali, MNCN dengan PER 5,50 kali dan PBV 0,79 kali, ASRI dengan PER 5,59 kali dan PBV 0,34 kali, serta BBTN dengan PER 6,19 kali dan PBV 0,73 kali. Di lapisan berikutnya ada saham yang sedikit lebih “mahal”, yaitu DMAS dengan PER 9,72 kali dan PBV 1,41 kali, disusul CTRA dengan PER 9,07 kali dan PBV 0,87 kali, plus JPFA dengan PER 9,29 kali dan PBV 1,20 kali.

Bagi investor yang bertipe kontrarian namun tetap melihat valuasi murah, bisa melirik saham-saham tersebut. Namun tetap perlu menyelidiki prospek ke depan beserta risiko yang mungkin timbul, dengan mempertimbangkan keadaan makro serta mikro perusahaan.

Namun bukan berarti tidak ada harapan bagi saham-saham lain di tabel. Apabila sektor infrastruktur bergeliat lagi, fundamental emiten akan membaik dan tercermin pula di kinerja sahamnya yang membaik.

Bagikan

Berita Terbaru

Indikator RSI dan MACD Melemah, Tren Bullish CITA Masih Terjaga?
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 11:00 WIB

Indikator RSI dan MACD Melemah, Tren Bullish CITA Masih Terjaga?

Pergerakan saham PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) pada perdagangan hari ini menunjukkan tekanan jangka pendek di tengah dinamika pasar.

Dian Swastatika Sentosa (DSSA) Akan Stock Split Saham di Rasio 1:25
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 08:33 WIB

Dian Swastatika Sentosa (DSSA) Akan Stock Split Saham di Rasio 1:25

Untuk stock split, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)  akan meminta persetujuan dari para pemegang saham melalui RUPSLB pada 11 Maret 2026.​

Rogoh Kocek Rp 200 Miliar, RMK Energy (RMKE) Siap Buyback Saham
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 08:28 WIB

Rogoh Kocek Rp 200 Miliar, RMK Energy (RMKE) Siap Buyback Saham

PT RMK Energy Tbk (RMKE) mengumumkan rencana untuk pembelian kembali (buyback) saham sebesar Rp 200 miliar. 

Menutup Celah yang Sering Dianggap Sepele dengan Asuransi Perjalanan
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 08:00 WIB

Menutup Celah yang Sering Dianggap Sepele dengan Asuransi Perjalanan

Membeli asuransi perjalanan saat ke luar negeri jadi hal biasa. Tapi, apakah tetap butuh asuransi buat perjalanan di dalam negeri?

Pasar Saham Semakin Suram
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:51 WIB

Pasar Saham Semakin Suram

Tekanan yang dialami pasar saham Indonesia semakin besar setelah para petinggi OJK dan bos bursa mengundurkan diri.

Diversifikasi IFSH: Ini Rencana Bisnis Baru Saat Nikel Global Tertekan
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:30 WIB

Diversifikasi IFSH: Ini Rencana Bisnis Baru Saat Nikel Global Tertekan

Harga nikel global terus anjlok, manajemen IFSH beberkan cara jaga profit. Temukan langkah konkret IFSH untuk amankan laba di 2026

Harga Bitcoin Anjlok: Strategi DCA Bisa Selamatkan Investor Kripto?
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:30 WIB

Harga Bitcoin Anjlok: Strategi DCA Bisa Selamatkan Investor Kripto?

Bitcoin anjlok 7% dalam sepekan, memicu likuidasi besar-besaran. Investor wajib tahu penyebabnya dan langkah mitigasi. 

Masih Rapuh
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:10 WIB

Masih Rapuh

Pengaturan ulang kembali bursa dengan standar dan tata kelola yang lebih jelas menjadi kunci penting.

Pembekuan MSCI, Ujian Transparansi Bursa
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:05 WIB

Pembekuan MSCI, Ujian Transparansi Bursa

Dalam indeks global, free float adalah inti dari konsep bisa dibeli yang menjadi pakem para investor kebanyakan.​

Strategi Investasi Aman Ala Direktur Sucorinvest, Jauh dari Volatilitas.
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 06:15 WIB

Strategi Investasi Aman Ala Direktur Sucorinvest, Jauh dari Volatilitas.

Membeli saham big caps ternyata belum tentu untung. Direktur Sucorinvest Hermansyah bagikan strategi yang buat hidupnya tenang

INDEKS BERITA

Terpopuler