Wakil Dirut OBM Drilchem, Ivan Alamsyah : Belajar Investasi Properti dari Ibu

Sabtu, 01 Oktober 2022 | 04:25 WIB
Wakil Dirut OBM Drilchem, Ivan Alamsyah : Belajar Investasi Properti dari Ibu
[]
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Memilih instrumen investasi bagi Ivan Alamsyah Siregar tak bisa asal-asalan. Pria yang kini menjadi Wakil Direktur Utama PT OBM Drilchem Tbk (OBMD) berkisah, dalam memilih investasi, ia wajib mengecek dulu kinerja saat ini dan prospek ke depan. Instrumen investasi yang dipilih juga harus cocok dengan karakter risiko.

Ivan percaya, pilihan instrumen dan porsi dalam berinvestasi selalu terhubung dengan karakter individu dalam menerima risiko. Dia mengaku bukan tipe investor yang bisa menerima risiko terlalu besar. "Jadi investasi saya didasarkan terhadap analisa risiko kecil sampai menengah. Kenal karakter diri sangat penting, selain pendalaman terhadap instrumen yang mau dijadikan tempat investasi," tutur dia.

Baca Juga: Co Founder McEasy, Hendrik Ekowaluyo: Mengoleksi Saham Berfundamental Solid

Prinsip Ivan, investasi tidak boleh sekadar ikut-ikutan. Ia tidak akan memaksa masuk jika ada produk investasi yang high risk, high return. Menurut dia, bila mental tidak siap, hanya akan menjadi siksaan.
Oleh sebab itu, Ivan sangat selektif dalam memilih investasi. Misalnya di saham, ia akan meneliti kinerja keuangan, fundamental perusahaan dan prospek bisnis emiten. 

Ada empat kriteria yang dia buat sebelum memilih saham.Pertama, reputasi perusahaan. Kedua, keberlanjutan dan pertumbuhan pendapatan. Ketiga, konsistensi dalam mencetak laba. "Selanjutnya saya lihat juga akan melihat bagaimana perusahaan itu tahan terhadap krisis," terang Ivan.

Meski begitu, saham bukan menjadi instrumen yang paling dominan dalam portofolio investasi pria kelahiran Jakarta ini. Hitungan dia, saham hanya memegang porsi 20%.

Sedangkan instrumen paling besar dalam kue portofolio investasi adalah properti dengan porsi 50%. Lalu, 20% diisi oleh obligasi dan tabungan. Sisanya, 10% untuk investasi bidang usaha lainnya, seperti bisnis makanan dan minuman.

Pria yang kini berusia 51 tahun ini mengenang, porsi investasi itu akan berbeda sesuai rentang usia. Saat di awal masa kerja pada usia 25 tahun, kesadaran berinvestasi belum tumbuh.

Kala itu, hanya 10%-20% dana yang ia sisihkan untuk tabungan. Hampir seluruh penghasilan dihabiskan untuk memenuhi kebutuhan primer dan sekunder selayaknya gaya hidup di usia muda. Saat menginjak usia 30 tahun, alokasi pengeluaran sudah berubah. Keinginan untuk hal-hal yang bersifat sekunder mulai berkurang.

Baca Juga: COO Aplikasi Emiten, Vania Valencia: Investasi Karena Ingin Uang yang Kerja

Disesuaikan umur

Pria yang berzodiak Aquarius ini mencari alternatif investasi, sesuai dengan jenjang karier dan pendapatan yang lebih baik. Pada usia 30-an tahun, Ivan mengalokasikan pendapatan untuk investasi properti.

Kebetulan, saat itu dalam momentum tepat, yakni setelah lepas dari krisis moneter, pada tahun 2000-an awal terjadi booming properti. Sejalan dengan pesatnya laju bisnis dan maraknya perusahaan internasional, gaya hidup urban pun berkembang. Apartemen menjadi tren seiring tingginya permintaan dari kelas menengah dan ekspatriat.

Ivan pun mencoba peruntungan berinvestasi apartemen. Hasilnya memuaskan. Ivan menggambarkan, dalam dua tahun saja, keuntungan dari penjualan apartemen saat itu bisa mencapai 20%-50%. "Beli saat groundbreaking, jadi masih murah. Setelah apartemen jadi, surat-surat lengkap, kemudian saya jual. Keuntungannya besar saat itu," kenang pria kelahiran tahun Februari 1971 ini. Dia juga punya apartemen untuk disewakan. 

Kala itu, permintaan apartemen memang masih tinggi, baik dari pekerja di luar Jakarta maupun ekspatriat. Bahkan ada loyal tenant yang menyewa untuk lima tahun. "Pilihan lokasi apartemen sangat menentukan. Saya pilih di lokasi strategis, kawasan perkantoran Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan. Jadi permintaan tinggi, bahkan waiting list," ujar Ivan.

Baca Juga: Dirut Red Planet, Suwito: Sisihkan Gaji dan Rutin Berinvestasi

Ivan berkenalan di investasi properti dari sang ibu. Ia ingat betul, bagaimana sang ibu mengajarkan untuk mencari properti yang strategis. "Cari di dekat jalan besar, tempatnya bisa jadi area komersial, sehingga kalau dijual lebih mahal. Cara berpikir itu sudah terbentuk karena sering diskusi dengan ibu," tutur Ivan. Tapi menurut dia investasi properti perlu menganalisa tren industri.      

Gemar Traveling dan Fotografi Landscape

Meski sibuk, Ivan Alamsyah Siregar yang kini memiliki jabatan sebagai Wakil Direktur Utama PT OBM Drilchem Tbk (OBMD) selalu berusaha menyisihkan waktu untuk menggeluti kegemarannya. Sejak remaja, Ivan memiliki hobi jalan-jalan. Setidaknya, tiga kali dalam setahun Ivan melancong ke luar negeri. 

Ivan pun telah menjamah banyak negara. Jepang, menjadi destinasi favoritnya. "Sejak umur 18 tahun, saya punya paspor, sudah solo traveling. Jepang menjadi tempat yang membuat saya ingin datang lagi," tutur dia. Dalam delapan tahun terakhir, Ivan juga kembali menggeluti hobinya saat remaja, yakni fotografi. 

Ia kerap berwisata sembari memotret alam maupun aktivitas masyarakat di tempat yang dikunjungi. Landscape dan human interest menjadi angle yang dibidik Ivan. "Selain alamnya, saya juga mengeksplorasi keseharian dan aktivitas lokal masyarakatnya. Saya juga suka pergi ke museum," imbuh Ivan.

Satu tempat yang ingin dikunjungi oleh Ivan adalah Patagonia. Kawasan di ujung benua Amerika Selatan antara perbatasan Argentina dan Cile ini dinilai menarik baginya. Patagonia menyuguhkan pemandangan alam yang indah seperti gunung, hutan, danau dan glaster. 

Asal tahu saja, Ivan sudah merencanakan pergi ke Patagonia tahun depan, lo. "Saya rasa semua fotografer landscape ingin ke Patagonia. Seharusnya saya ke sana dua tahun lalu, tapi tertunda karena pandemi Covid-19. Semoga bisa direalisasikan tahun depan," cerita Ivan. 

Baca Juga: CIO TRIN, Riska Afriani: Belajar Tak Konsumtif dengan Investasi

Bagikan

Berita Terbaru

 Opsi Kaji Ulang Aturan Pekerja Alih Daya
| Kamis, 21 Mei 2026 | 06:04 WIB

Opsi Kaji Ulang Aturan Pekerja Alih Daya

Kalangan buruh meminta ketentuan outsourcing dikembalikan ke UU Ketenagakerjaan untuk memberika kepastian dan tidak multitafsir

Subang Smartpolitan Jadi Magnet Investor, SSIA Siap Panen Penjualan Lahan?
| Kamis, 21 Mei 2026 | 06:00 WIB

Subang Smartpolitan Jadi Magnet Investor, SSIA Siap Panen Penjualan Lahan?

Pendapatan SSIA melonjak 35% jadi Rp 1,44 triliun di Q1 2026. Bisnis konstruksi dan kawasan industri jadi pendorong utama

PLN Meraih Laba Bersih Rp 7,26 Triliun pada 2025
| Kamis, 21 Mei 2026 | 05:58 WIB

PLN Meraih Laba Bersih Rp 7,26 Triliun pada 2025

Daya tersambung pelanggan tercatat mencapai 192.621 megavolt ampere (MVA), tumbuh 5,82% dibandingkan tahun 2024 sebesar 182.026 MVA.

Mubadala Siap Bantu RI Kejar Target 1 Juta Barel
| Kamis, 21 Mei 2026 | 05:54 WIB

Mubadala Siap Bantu RI Kejar Target 1 Juta Barel

Mubadala membidik posisi sebagai salah satu produsen kakap di Tanah Air seiring dengan temuan cadangan gas baru di Blok Andaman.

Cadangan Jumbo Minyak Nonkonvensional
| Kamis, 21 Mei 2026 | 05:49 WIB

Cadangan Jumbo Minyak Nonkonvensional

Cadangan minyak dan gas jumbo tersebut dinilai menjadi peluang bisnis besar di tengah era transisi energi.

Risiko Investasi di Indonesia Makin Bengkak, Investor Asing Bisa Makin Rem Investasi
| Kamis, 21 Mei 2026 | 05:48 WIB

Risiko Investasi di Indonesia Makin Bengkak, Investor Asing Bisa Makin Rem Investasi

Ketika investor melihat rupiah lemah, harga minyak tinggi, defisit fiskal melebar, dan permintaan SBN melemah, maka CDS secara alamiah naik.

 Proyek PLTS 100 Gigawatt Butuh Rp 1.140 Triliun
| Kamis, 21 Mei 2026 | 05:45 WIB

Proyek PLTS 100 Gigawatt Butuh Rp 1.140 Triliun

Presiden Prabowo menargetkan proyek PLTS 100 GW tuntas dalam tiga tahun mengingat potensinya yang sangat besar

Mitrabara Adiperdana (MBAP) Siap Mengakuisisi Tambang Baru
| Kamis, 21 Mei 2026 | 05:20 WIB

Mitrabara Adiperdana (MBAP) Siap Mengakuisisi Tambang Baru

Langkah ini disiapkan untuk menjaga keberlanjutan produksi setelah tambang existing diperkirakan beroperasi hingga 2028.

Membedah Praktik Windfall Tax Minerba di Berbagai Negara, Tidak Semua Sukses
| Kamis, 21 Mei 2026 | 05:06 WIB

Membedah Praktik Windfall Tax Minerba di Berbagai Negara, Tidak Semua Sukses

Ketika harga mineral naik, penerimaan negara memang bisa naik, tetapi volume, biaya produksi, dan daya tahan industri tetap harus diperhitungkan.

Fintech Keteteran Jaga Profitabilitas
| Kamis, 21 Mei 2026 | 05:00 WIB

Fintech Keteteran Jaga Profitabilitas

Terjadi tekanan biaya operasional dan pembiayaan macet.                                                  

INDEKS BERITA

Terpopuler