Waskita Karya (WSKT) Berharap Proyek IKN Topang Kinerja

Selasa, 09 Agustus 2022 | 05:45 WIB
Waskita Karya (WSKT) Berharap Proyek IKN Topang Kinerja
[]
Reporter: Hikma Dirgantara | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Waskita Karya Tbk (WSKT) memang masih membukukan rugi bersih selama semester satu tahun ini. Namun, Waskita bisa membukukan laba bersih Rp 594 miliar di periode April-Juni tahun 2022, naik 196,7% secara year on year (yoy). 

Sepanjang enam bulan pertama tahun ini, WSKT merugi Rp 236,5 miliar. Padahal, di periode sama tahun lalu, emiten konstruksi ini masih membukukan laba Rp 154,1 miliar. 
Rugi bersih ini memang mengecewakan. Pasalnya pendapatan Waskita di semester I-2022 naik 29,1% secara tahunan menjadi Rp 6,1 triliun. 

Analis Investindo Nusantara Sekuritas Pandhu Dewanto menilai, beban utang WSKT menjadi penyebab utama bottom line WSKT menjadi negatif. Beban keuangan WSKT di semester I-2022 mencapai Rp 1,9 triliun, jauh lebih besar daripada laba kotor sebesar Rp 657 miliar. 

Baca Juga: Simak Rekomendasi Saham WSKT, di Tengah Kinerja yang Dinilai Belum Optimal

Bahkan pelepasan beberapa ruas tol tahun ini belum cukup untuk menutup beban operasional. "Ini menunjukkan secara operasional kinerja WSKT masih jauh dari yang diharapkan investor," kata Pandhu, Senin (8/8).

Analis Kanaka Hita Solvera Andika Cipta Labora menilai, secara kuartalan, bottom line WSKT jauh lebih baik. Sementara, pendapatan WSKT ditopang segmen jasa konstruksi yang naik 88,34% menjadi tanda positif dan memperlihatkan kenaikan kontrak baru. 

Analis Mandiri Sekuritas Farah Rahmi Oktaviani dalam risetnya menulis, pendapatan WSKT juga masih di bawah ekspektasi, yakni memenuhi 30% dari proyeksi Mandiri Sekuritas dan mencakup 31% dari proyeksi konsensus. 

"Walau di bawah ekspektasi, kami melihat burn rate (biaya yang dikeluarkan sebelum mendapat keuntungan) WSKT mengalami perbaikan di semester I-2022 menjadi 26,7%, dari 15,5% pada semester I-2021. Ini menandakan aktivitas konstruksi mulai tumbuh," ujar Farah. 

Memasuki paruh kedua tahun ini, dia memperkirakan, WSKT bisa mencetak pendapatan lebih tinggi. Sebab, WSKT tak lagi memiliki permasalahan balance sheet karena kas tunai mencapai Rp 11,1 triliun di semester I-2022. WSKT juga memiliki order book melimpah per semester satu, yakni Rp 45,5 triliun.

Rasio utang 

Sayangnya, biaya operasi alias operational expenditure (opex) WSKT di semester I-2022 masih tinggi, Rp 1,3 triliun. Menurut Farah, tingginya opex tersebut didorong pembayaran pesangon dan pengeluaran non-tunai yang lebih tinggi karena rugi penurunan nilai (impairment loss) sebesar Rp 347,5 miliar, lebih besar dari semester I-2021 yang cuma Rp 233,8 miliar. 

Baca Juga: Outlook Berpotensi Membaik, Intip Rekomendasi Saham WSKT Berikut

Untungnya, Farah menyebut total utang WSKT menyusut, kini menjadi Rp 62,8 triliun, dari posisi akhir kuartal I-2022 mencapai Rp 66,3 triliun. Kkas tunai WSKT yang mencapai Rp 11,1 triliun juga membuat net gearing emiten konstruksi ini menjadi lebih baik, yakni 259% dari kuartal I-2022 sebesar 349%.

Menurut Pandhu, tingkat utang WSKT masih harus diperbaiki, karena sudah berada di level yang cukup mengkhawatirkan. Rasio debt to equity  (DER) WSKT, menurut Pandhu, saat ini mencapai 3,9 kali. Meski level tersebut lebih baik dibanding tahun lalu, tapi terbilang belum sehat. 

WSKT akan rights issue kembali tahun ini. Menurut Pandhu, ini bisa menjadi solusi, setelah tahun lalu gagal mencapai target perolehan dana. "Rights issue perlu segera dilakukan karena semakin ditunda maka semakin banyak aset terpaksa dilepas untuk menutup utang jatuh tempo," kata Pandhu. 

Jika sampai hal tersebut terjadi, maka WSKT terancam kehilangan aset produktif, yang lantas bisa menimbulkan masalah baru, karena pendapatan ikut menyusut. "Karena itu, dari sisi kinerja WSKT belum menarik dilirik, karena masih perlu banyak perbaikan," pendapat Pandhu. 

Andika juga melihat jika terjadi kenaikan suku bunga Bank Indonesia, ini bisa menjadi katalis negatif untuk WSKT. Pasalnya, beban bunga emiten BUMN ini bisa naik dan menekan kinerja. 

Baca Juga: Meski Pendapatan Membaik, Laba WSKT Diprediksi Lemah

Kalau menurut Pandhu, harapan positif WSKT berasal dari proyek ibukota negara baru. Dia memperkirakan, di semester II tahun ini, proyek akan infrastruktur mulai ramai, didukung dengan pemulihan ekonomi. 

Andika juga sepakat menyebut outlook WSKT bisa jauh lebih baik karena perbaikan ekonomi, sehingga bisa meningkatkan perolehan kontrak. Selain itu, berbagai proyek yang sempat tertunda akan mulai kembali berlanjut dan mendongkrak kinerja WSKT ke depan. 

Pada tahun ini, Farah memprediksi WSKT akan mendapatkan pendapatan Rp 20,03 triliun. Namun, WSKT masih akan membukukan rugi bersih Rp 1,91 triliun. 

Farah pun merekomendasikan netral saham WSKT dengan target harga di Rp 1.030 per saham. Sementara Andika menyarankan beli dengan target Rp 670 per saham. 
Kalau Pandhu memilih hold saham WSKT. Menurut dia, kinerja semester dua belum cukup meyakinkan, meski secara valuasi, saham WSKT sebenarnya cukup murah. 

"WSKT lebih menarik untuk trading jangka pendek. Saat ini, support WSKT ada di level Rp 500 dengan resistance di Rp 600," saran Pandhu. Senin (8/8), harga saham WSKT ditutup menguat 0,93% ke level Rp 545 per saham.   

Baca Juga: Ini Penyebab Waskita Karya (WSKT) Cetak Rugi Bersih di Semester I-2022

Bagikan

Berita Terbaru

Efek Musiman Mendongkrak Likuiditas dan Kredit
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 11:11 WIB

Efek Musiman Mendongkrak Likuiditas dan Kredit

Penguatan dinilai lebih banyak dipengaruhi faktor musiman.                                                 

Cashback Bikin Kaget, Coretax Ubah Peta Pajak
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 11:09 WIB

Cashback Bikin Kaget, Coretax Ubah Peta Pajak

Coretax berlaku, warganet gelisah masih kurang bayar pajak gara-gara menerima cashback.                    

Bangkitnya Investasi Reksadana Syariah di Indonesia
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 09:33 WIB

Bangkitnya Investasi Reksadana Syariah di Indonesia

Reksadana syariah mengikuti prinsip Islam, yaitu menghindari riba gharar dan maysir dengan fokus pada aset halal seperti sukuk dan saham syariah. 

Rama Indonesia Ingin Akuisisi 59,24% Saham Dua Putra Utama Makmur (DPUM)
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 08:17 WIB

Rama Indonesia Ingin Akuisisi 59,24% Saham Dua Putra Utama Makmur (DPUM)

Pada 22 Januari 2026, Rama Indonesia berencana mengakuisisi 59,24% saham PT Dua Putra Utama Makmur Tbk (DPUM) dari modal disetor dan ditempatkan.

Erajaya Swasembada (ERAA) Siapkan Dana Rp 150 Miliar untuk Buyback Saham
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 08:09 WIB

Erajaya Swasembada (ERAA) Siapkan Dana Rp 150 Miliar untuk Buyback Saham

Jumlah saham yang akan dibeli kembali tidak akan melebihi 20% dari modal disetor dan paling sedikit saham yang beredar 7,5% dari modal disetor. ​

Pelemahan Rupiah Ikut Memicu IHSG Terkoreksi 1,37% Dalam Sepekan
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 08:02 WIB

Pelemahan Rupiah Ikut Memicu IHSG Terkoreksi 1,37% Dalam Sepekan

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), jadi salah satu penahan kinerja IHSG di sepanjang pekan ini. ​

Bayang-Bayang Bubble di Saham Teknologi
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 07:53 WIB

Bayang-Bayang Bubble di Saham Teknologi

Kinerja saham masih loyo di awal tahun 2026, emiten teknologi dibayangi bubble kecerdasan buatan (AI)

Harga Emas Terus Mencetak Rekor Tertinggi, Peluang Investasi Emas Masih Terbuka
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 07:30 WIB

Harga Emas Terus Mencetak Rekor Tertinggi, Peluang Investasi Emas Masih Terbuka

Kondisi geopolitik yang panas dingin membuat harga emas diprediksi bakal terus menanjak di tahun 2026.

Menghadirkan Politik Ekonomi Resilensi
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 07:00 WIB

Menghadirkan Politik Ekonomi Resilensi

Ekonomi resiliensi diperlukan saat ini untuk bisa melindungi rakyat kebanyakan dari tekanan ekonomi.​

Menunggu Bunga Layu
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 07:00 WIB

Menunggu Bunga Layu

Otoritas perlu lebih galak memastikan efisiensi perbankan diteruskan kepada konsumen dalam bentuk bunga kredit yang rendah.

INDEKS BERITA

Terpopuler