Berita Profile

Yusuf Mansur: Kami Tak Terlalu Suka Dibeli, Maunya Membeli

Jumat, 01 Maret 2019 | 17:00 WIB
Yusuf Mansur: Kami Tak Terlalu Suka Dibeli, Maunya Membeli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ustaz Jam'an Nurkhatib Mansur atau akrab disapa Yusuf Mansur belum lama ini kembali mengundang sorotan. Pangkalnya kali ini bukanlah PayTren, melainkan pandangan pribadinya terhadap sosok calon presiden nomor urut 01, Joko Widodo (Jokowi).

Pendakwah yang pada 19 Desember 2018 lalu genap berusia 42 tahun itu, mengundang perhatian publik begitu menyatakan Presiden Jokowi sangat islami. Maklum, isu-isu tentang calon presiden, sudah pasti menjadi bahan perdebatan sengit di publik pada masa kampanye pemilihan presiden (pilpres) ini.

Apalagi, pendiri PT Verita Sentosa Internasional yang mengoperasionalkan PayTren tersebut memiliki jumlah pengikut yang banyak. Kepada KONTAN, suami dari Siti Maemunah ini bicara blak-blakan dibalik sikapnya mengungkap pribadi Presiden Jokowi.

Kepada KONTAN pula, Yusuf Mansur menceritakan kehidupan pribadinya. Dan tidak lupa, sepak terjang PayTren serta rencana-rencana besar bisnisnya ke depan diungkap secara gamblang oleh bapak lima orang anak ini.


Ini bukan soal pilpres

Cerita soal kesaksian keislaman Presiden Jokowi oleh ustaz Yusuf Mansur, terjadi pada pertemuan kedua antara KONTAN dan sang ustaz. Bertempat di Kompleks Masjid Baitul Ihsan Bank Indonesia, 14 Februari 2019, Yusuf Mansur menyatakan apa yang diungkapkannya sama sekali tidak terkait pilpres.

Anak sulung dari pasangan Abdurrahman Mimbar dan Humrifiah ini menegaskan, dirinya ingin agar masyarakat tergerak bicara soal kebaikan. Tidak hanya atas Jokowi, Yusuf Mansur juga mengaku membeberkan kebaikan sosok calon wakil presiden nomor urut 02, Sandiaga Salahuddin Uno (Sandiaga Uno).

Bila toh akhirnya ada yang mencibir dan menyalah artikan sikapnya itu, Yusuf Mansur menyatakan tidak menjadi masalah. Karena yang terpenting, lanjut alumnus IAIN ini adalah apa yang diungkapkan dirinya bukan suatu kebohongan.

KONTAN: Sempat beredar foto chatting (percakapan) ustaz di media sosial dengan Tuan Guru Bajang Zainul Majdi (TGB) yang bercerita tentang kesaksian YUsuf Mansur soal keislaman Presiden Joko Widodo. Bagaimana kronologi ceritanya?

YUSUF: Saya ingin belajar jadi orang yang positif. Salah satu cara belajar positif adalah belajar memuji dan mengapresiasi. Saat ini, belajar memuji dan mengapresiasi tidak gampang, karena kebanyakan orang justru senang menghina dan merendahkan.

Saya memandang perlu untuk mengambil peran bertutur tentang kebaikan demi kebaikan. Tidak hanya kepada paslon (pasangan calon) 01, tetapi saya juga bertutur tentang kebaikan paslon 02, khususnya pak Sandiaga Uno.

Saya bertutur tentang pak Sandiaga Uno yang sholawatnya sungguh luar biasa. Mulutnya bersholawat terus. Subhanallah. Saya juga mengapresiasi dan memuji keluarga, ibu, dan istri pak Sandiaga Uno yang menjadi contoh tauladan bagi keluarga-keluarga saat ini.

KONTAN: Apakah ustaz cukup dekat dengan pak Sandiaga Uno?

YUSUF: Sangat dekat. Saya juga menceritakan kepada publik, bahwa Sandiaga Uno yang pertama kali menjadi pembina upacara di Pesantren Daarul Qur'an tahun 2008. Bahkan setiap tahun, dia selalu membantu jalannya wisuda akbar, wisuda tahfizh.

Gaya bertutur inilah yang ingin saya wariskan dan menjadi pelajaran, bagi saya dan banyak orang. Ini bukan soal pilpres, ini soal keseharian. Tentang apa saja, kepada siapa saja, dan pada urusan apa saja. Ini harus dipahami sebagai salah satu usaha seorang Yusuf Mansur yang daif.

Saya ingin sebagai ayah dan banyak orang sebagai ayah; saya sebagai kakak dan banyak orang sebagai kakak; saya sebagai guru dan banyak orang sebagai guru; saya sebagai ustaz dan banyak orang sebagai ustaz, mendidik anak-anaknya, adik-adiknya, santri-santrinya, murid-muridnya dengan sesuatu yang sangat baik dan positif. Mendidik dengan sesuatu yang kemudian bisa menjadi warisan yang baik.

Kalau para ayah, ibu, kakak, guru, ustaz, dan tokoh tidak hati-hati, maka yang terjadi adalah anak-anak, adik-adik, murid-murid, santri-santri dan generasi penerus kita akan mencontoh dan melakukan hal yang jelek dan negatif.

Contoh, seorang ibu yang senang menjelekkan orang lain di media sosial facebook, padahal facebooknya di baca juga oleh anaknya. Maka sang anak akan mencontoh dan menyerang orang lain, karena melihat kelakuan sang ibu.

KONTAN: Ustaz melakukan aksi ini disaat masa pilpres. Bagaimana sikap ustaz, jika aksi ini dinilai merupakan kepentingan kampanye pasangan calon tertentu?

YUSUF: Saya tetap positif, tidak peduli pandangan orang terhadap saya. Buktinya saya tetap mengapresiasi semua. Nanti ada narasi saya mengapresiasi pak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono). Banyak kebaikan-kebaikan pak SBY kepada saya.

Nanti ada narasi kebaikan seorang Soeharto. Ada narasi seorang Megawati. Asyikkan.

Bahkan nanti ada narasi kebaikan seorang pelacur. Di posisi orang paling jahat pun, ada saja kebaikan-kebaikannya. Kecuali kalau memang kezalimannya nyata betul, kelalimannya nyata betul. Kalau seperti itu, posisi saya tidak mengerti dan tidak tahu.

Terhadap pak Jokowi, saya tidak sepakat kalau dia disebut zalim, lalim. Saya tidak sepakat. Jangan paksakan juga saya harus sepakat dengan mereka yang mengatakan pak Jokowi itu zalim. Sorry, saya tidak sepakat.

Mereka juga boleh tidak sepakat dengan saya. Saya tidak meledek mereka dan saya juga tidak menghina mereka. Kalau mereka kemudian ada yang meledek saya dengan menyebut sebagai ustaz begini begitu, ya tidak apa-apa. Saya berfikir positif saya, tidak apa-apa, saya akan terima. Keren kan.

KONTAN: Sebagian masyarakat, bahkan mungkin juga rekan ulama ada yang mencibir sikap ustaz yang menyatakan secara lugas kesaksian tentang keislaman Presiden Joko Widodo. Bagaimana ustaz menanggapinya?

YUSUF: Banyak yang seperti itu. Namun saya menanggapinya dengan positif. Sindiran dan hinaan orang itu merdu saja di telinga saya. Saya mengungkapkan kebaikan seseorang tidak atas dasar kebohongan. Yang saya kemukakan itu apa adanya dan bagus kok yang saya ceritakan. Misalnya tentang ibunya pak Jokowi.

Jujur, kita-kita ini sulit untuk mengatakan iya, ketika ditanya apakah selalu mendoakan anak-anak kita. Cerita ibu Jokowi (Sudjiatmi) ini menjadi inspirasi yang luar biasa. Setiap malam, dia membacakan 100 kali surat Qulhu (Al-Ikhlas), 100 kali surat Al-fatihah untuk kesuksesan anaknya. Melakukan itu berat loh mas, coba saja Anda laksanakan.

KONTAN: Cerita tersebut ustaz dapatkan dari siapa?

YUSUF: Dari beliau (Sudjiatmi) langsung, jauh sebelum pemilihan presiden.

KONTAN: Kapan mulai berkenalan dengan keluarga besar Presiden Jokowi?

YUSUF: Sudah lama. Saya berkenalan, bersinggungan, beririsan dengan keluarga beliau sudah dari tahun 2007. Kami ada cabang pengajian di Solo. Tahun 2009-2010, pak Jokowi yang meresmikan cabang pengajian kami.

KONTAN: Salah satu cerita ustaz ke Tuan Guru Bajang adalah tentang bapak Jokowi yang gemar berpuasa sunah Senin Kamis. Bagaimana ustaz mendapatkan informasi itu?

YUSUF: Ini pengakuan teman saya tahun 1992 yang pernah bareng dengan Pak Jokowi. Pak Jokowi sudah berpuasa sunah sejak tahun 1992. Itu hal luar biasa. Sejak mengenal beliau dan keluarga pada tahun 2007 hingga tahun 2010, saya memang tidak terlalu memperhatikan, tapi sudah dengar kalau Walikota Solo ini rajin berpuasa. Bahkan tidak hanya beliau, tetapi juga keluarganya.

Tapi yang saya highligh adalah saat awal-awal pak Jokowi menjadi Presiden. Ceritanya berawal saat saya mampir ke rumah makan Mak Syukur di Bukit Tinggi, Sumatra Barat. Saat di sana, saya melihat ada foto Presiden Jokowi sudah terpampang di rumah makan itu, padahal belum lama dilantik.

Pelayan di rumah makan itu kemudian bercerita, kalau beberapa waktu lalu Pak Jokowi mampir ke rumah makannya, bersama gubernur, menteri-menteri, kapolda. Sambil menghidangkan makanan saya, si pelayan mengatakan saat itu Pak Jokowi tidak turut makan bersama rombongan karena sedang berpuasa. Subhanallah.

Hari itu juga saya posting. Jadi itu bukan hal baru yang saya umumkan lewat media sosial pribadi saya. Bahasa saya saat itu berbunyi, "alhamdulillah presiden kita berpuasa, insyaallah Indonesia adem," Jadi, saya sudah lama posting di akun instagram saya. Bukan hal yang baru.

KONTAN: Ketika ustaz mengungkapkan pandangan ustaz tentang Jokowi, sedangkan tidak sedikit juga ulama lain bersebrangan pandangan dengan ustaz, apakah kemudian ada gesekan antara ustaz dan rekan ulama lain?

YUSUF: Ya tidak apa-apa, tidak ada masalah. Orang mau berpendapat apa tentang saya, tidak masalah buat saya. Saya menyampaikan hal yang benar. Dan jangan lupa, saya tidak hanya menyampaikan kebaikan tentang Pak Jokowi saja. Berulang-ulang sudah saya katakan, saya menyampaikan kebaikan tidak hanya atas pribadi pak Jokowi.

Masyarakat Indonesia ini harus banyak menceritakan tentang kebaikan negerinya, keluarga, kerabat, teman-teman, dan kolega-koleganya. Pokoknya orang Indonesia harus bertutur tentang kebaikan. Kalau tidak, isinya Indonesia ini hanya keburukan saja.

KONTAN: Kalau ada pandangan bahwa pujian ustaz kepada Pak Jokowi demi untuk kepentingan bisnis Paytren?

YUSUF: Saya profesional, tidak ada urusan dengan hal begitu. Kejauhan jika ada pikiran seperti itu. Kami profesional, complied dengan segala aturan yang ada di negeri ini. Tidak hanya aturan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dan BI (Bank Indonesia), tetapi semua regulasi. Ada dari Kementerian Perdagangan, penanaman modal dan investasi, kepolisian, kejaksaan dan pengadilan. Tidak ada katebelece, tidak ada kami minta perlindungan. Perlindungan yang terbaik itu adalah jika kita benar. Kalau kita tidak benar, mau dibelain seperti apa juga tidak bisa.

Jadi tidak ada urusan. Salah besar kalau ada yang mengatakan Yusuf Mansur bicara kebaikan-kebaikan pak Jokowi karena takut Paytren hancur. Tidak ada itu, tidak ada urusan.

KONTAN: Apakah ada ekses negatif dari pernyataan ustaz tentang pribadi capres Jokowi terhadap perkembangan Paytren, disaat ada anggota Paytren lainnya yang berseberangan pandangan dengan ustaz?

YUSUF: Kalau pun ada juga tidak apa-apa. Tapi saat ini tidak ada. Saya lihat di bawah adem-adem saja. Kalau ada yang gaduh, paling di sosial media saja. Dan yang gaduh malah rata-rata akun-akun bodong.

KONTAN: Bagaimana pandangan ustaz jika masih ada dakwah ulama-ulama yang bernada miring terhadap calon presiden tertentu?

YUSUF: Tetap kita harus positif terhadap beliau-beliau (para ulama) tersebut. Jangan ingat hal yang negatif, pokoknya sekali positif ya harus berfikir positif.

Saya ini muridnya pak Tino Sidin (pelukis) zaman dulu. Apa yang sering diucapkan pak Tino Sidin saat menilai karya gambar anak-anak di program TVRI? 'ya bagus'. Beliau selalu bilang 'bagus', meski kadang kala menambahkan saran gambar si anak harus ditambahkan ini dan itu. Intinya beliau selalu positif. Titik tolaknya memakai kata

'bagus'. Anak-anak Indonesia begitu gambarnya ditayangkan di TVRI dan dinilai bagus oleh pak Tino Sidin, bukan main senangnya. Coba

kalau pak Tino sidin bilang, ini gambar siapa kok jelek banget? sudah pasti nangis anak yang menggambarnya.

Jadi jangan juga narasinya bicara bahwa ada ulama bicara jelek terkait seseorang. Jangan begitu, kita harus positif kepada mereka. Sudahlah, mereka juga sedang berjuang untuk negerinya, dengan cara mereka.

Mendorong anak-anak berwirausaha

Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. Demikian pula anak sulung Yusuf Mansur, Wirda Salamah Ulya (Wirda), yang mewarisi darah pebisnis sang ayah. Dara cantik kelahiran 29 November 2001 itu menjadi seorang pebisnis dan entertainer yang sukses. Siapa sangka, Yusuf Mansur juga sempat meminjam uang senilai Rp 200 juta kepada salah pemeran film layar lebar "Cahaya Cinta Pesantren" ini.

Yusuf Mansur mengatakan, kalau dia membebaskan anak tumbuh sesuai zamannya. Tugasnya sebagai ayah adalah memberikan pendidikan dan nasehat serta arahan. Hal itu yang ditekankan Yusuf Mansur kepada kelima anaknya, yakni Wirda, Muhammad Kun Syafii, Qumii Rahmatul Qulub, Muhammad Yusuf Al Haafidz, dan Aisyah Humairoh Hafidzoh.

KONTAN: Bicara soal keluarga, bagaimana cara ustaz mendidik anak-anak ustaz?

YUSUF: Saya hanya memberikan pandangan saja dan modal dasar pendidikan. Setelah itu, biarkan anak tumbuh sesuai zamannya, karena itu bukan kita. Yang penting kita sudah berikan pendidikan, pandangan yang berupa arahan, selebihnya doa. Jadi kita sudah memberikan bekal.

KONTAN: Putri ustaz, Wirda Salamah Ulya, kabarnya berhasil diterima kuliah di Oxford University. Di saat yang sama, Wirda juga sukses membangun kariernya sebagai entertainer. Bagaimana ustaz mengarahkannya?

YUSUF: Kemarin dia sudah di Oxford, Inggris, kuliah di sana lewat jalur pathways. Tetapi kelihatannya dia kena penyakit anak-anak seperti zaman saya dulu. Masih ingat kata orang tua dahulu, bahwa kita diingatkan jangan kerja dulu, jangan usaha dulu, jangan cari duit dulu, nanti kuliah berantakan.

Si Wirda ini ternyata sudah kenal usaha dan sekarang ingin usaha dulu. Padahal dia selain di Oxford, juga diterima di Central European University di Hongaria. Lalu diterima juga di beberapa kampus di Malaysia. Tapi anaknya memang ingin dagang. Wong bapak saja ini masuk IAIN (Institut Agama Islam Negeri) tahun 1992, lulusnya tahun 2010.

Selama itu baik, saya tidak melarang. Tetapi saya juga ingatkan dia bahwa kuliah itu tetap penting. Tetap saja yang tidak bisa didapat di luar kampus.

KONTAN: Setelah Wirda bisa mencari uang, adakah kejutan yang pernah diberikan Wirda dari hasil usahanya kepada ustaz dan keluarga?

YUSUF: Dua tahun yang lalu, saya pernah pinjam duit Rp 200 juta sama Wirda. Namanya usaha, kadang saya nggak punya duit sama sekali. Saya tahu dia punya uang, karena Wirda juga sering cerita ke ibunya.

Lalu saya bilang ke Wirda, kalau papah mau pinjam Rp 200 juta. Wirda bilang, uangnya buat papah saja, tidak usah pinjam. Masyaallah, Rp 200 juta. Dan kemarin dia baru sedekah ke pesantren sebesar Rp 250 juta. Banyak duitnya itu anak, usaha online, jual kerudung, jual jilbab. Dan penghasilan youtube-nya lumayan. Dia berusaha seperti itu sudah mulai dari kelas 1 SMA.

KONTAN: Kalau adik-adiknya Wirda, ada juga yang terjun berbisnis?

YUSUF: Si Qumi (Qumii Rahmatul Qulub) sudah mulai-mulai. Memang anak-anak saya, saya dorong keberaniannya, berani berdagang, berani berusaha, berani berbisnis. Mentalnya biar ditempa. Si Wilda masih proses belajar.

KONTAN: Bagaimana cara orang tua ustaz dahulu mendidik ustaz?

YUSUF: Keren, mereka mendidik saya dengan sangat keren. Lebih dari saya mendidik anak saya. Orang tua saya mendidik saya, full. Kalau saya kan tidak, saya sering pergi kemana-mana. Mereka selalu ada untuk saya.

KONTAN: Apa usaha orang tua ustaz dahulu?

YUSUF: Orang tua saya guru ngaji dan pedagang. Guru ngaji Betawi zaman dulu rata-rata berdagang. Mana ada guru mengaji yang pegawai negeri, pegawai swasta. Guru guru Madrasah rata-rata buka warung, bikin kontrakan.

KONTAN: Ustaz pernah tersandung masalah dimasa lalu dan sempat mendekam di penjara. Apa hikmah yang bisa dipetik dari pengalaman tersebut? (Yusuf Mansur sempat dilaporkan ke pihak berwajib terkait sengketa bisnis pada tahun 1996 dan 1998)

YUSUF: Saya tersandung hal tersebut karena saya mencoba berusaha, saya menjalankan usaha. Kalau saya tidak mencoba, mungkin saya tidak pernah merasakan bagaimana rasanya tersandung. Tapi ini menurut saya keren.

Justru pelajaran yang bisa saya petik saat itu adalah membuat saya menjadi lebih kuat, make me stronger. Percayalah, bahwa masalah itu anugerah dan bukan kutukan. Dengan kita punya masalah, kita menjadi lebih kuat.

Ketika saya tertimpa masalah, saya sempat dipenjara sekitar tahun 1998-1999. Hikmahnya, saya kemudian menjadi penulis. Di penjara, saya menjadi penghafal Al-Quran. Itu positif. Saya sudah menulis 230 buku. Sebanyak 80 buku, sudah di Gramedia dan karya saya masih akan bertambah terus.

KONTAN: Bagaimana proses titik balik Anda hingga kemudian menjadi Yusuf yang seperti sekarang ini?

YUSUF: Saya melihat Allah itu sangat penyayang. Ketika manusia meninggalkan perintahNYA, Allah tidak meninggalkan kita. Manusia itu kadang sering melaknat, menghujat, Allah justru memeluk saya dan mendekap dan ingin dekat dengan saya. Itu yang saya rasakan, perjalanan spiritualisme saya.

Saat orang-orang tidak mau dekat dengan saya karena saya bermasalah, Allah justru mendekap saya. Saya nyaman sekali melaksanakan salat, membaca Al-Quran. Nah itu yang membuat saya jatuh cinta kepada Allah.

Bayangkan, dahulu saya selalu menyakiti DIA setelah DIA memberikan banyak kepada saya. Namun DIA tidak meninggalkan saya, dan tetap menyayangi dan mengasihi saya.

Saya benar-benar mulai dari nol lagi. Saya jualan es di Terminal Kali Deres. Saya jual es kacang ijo. Saya pinjam blender, beli kacang ijo, beli susu, lalu bikin es kacang ijo. Pertama kali berjualan, saya bikin 70 bungkus. Ternyata yang laku hanya lima bungkus. Saat itu saya jualan tanpa sedekah, tanpa doa, dan tanpa ngaji.

Lalu di hari kedua, saya instropeksi diri. Dari modal 65 bungkus es kacang ijo sisa kemarin, saya sedekahkan lima bungkus. Setelah sedekah, tidak sampai setengah hari, sisa 60 kantong es kacang ijo saya laris. Padahal hari sebelumnya, saya dagang seharian, hanya laku lima kantong.

Di hari kedua itu saya berdagang dengan bersedekah, mengaji, salat dhuha. Hasilnya, setengah hari saja es saya sudah laku. Duit yang saya dapat bahkan sampai Rp 55.000. Padahal seharusnya saya dapat Rp 30.000, dari jualan 60 bungkus es seharga Rp 500 per bungkus. Alhamdulillah, Allah melebihkan rezeki saya.

Jadi ceritanya itu terjadi saat saya salat dhuha dan mengaji di musala. Esnya saya taruh di depan Musala, saya salat dhuha dan ngaji. Orang yang mampir ke Musala ambil es yang saya taruh di depan.

PayTren siap IPO

Tidak lagi hanya dikenal sebagai dai kondang, Yusuf Mansur juga lekat dengan atribut pengusaha lewat ketenaran Paytren. PayTren merupakan aplikasi yang diluncurkan oleh perusahaan teknologi keuangan atau financial technology (fintech) PT Verita Sentosa Internasional, yang didirikan oleh Yusuf Mansur tahun 2013 silam.

Seiring berjalannya waktu, fitur layanan yang disediakan PayTren kian berkembang. Bila diawal kemunculannya PayTren hanya menwarkan jasa pembayaran rekening listrik, air, cicilan rumah, kini PayTren punya layanan yang komplet. Sebut saja fitur teknologi pembayaran berbasis quick response code (QR code) yang telah PayTren jalankan. Adapun yang terbaru, PayTren sudah mendapatkan restu Bank Indonesia (BI) melayani transaksi remitansi, yang dalam waktu dekat akan diluncurkan ke publik.

Saat pertemuan pertama dengan KONTAN di kediamannya di kawasan Cipondoh, Tangerang, Rabu (23/1), sang ustaz panjang lebar membeberkan rencana bisnis PayTren ke depan.

KONTAN: Nama Paytren kian berkibar sebagai aplikasi fintech. Apa rencana ustaz untuk PayTren ke depan?

YUSUF: Target kami tahun ini adalah meng-cashless-kan transaksi di seluruh kota di seluruh Tanah Air. Baik itu transaksi pemerintah kota, kabupaten, propinsi, berikut transaksi masyarakatnya. Caranya ada dua. Pertama lewat top down, yakni kami bekerjasama dengan pemerintah daerah (pemda) dan propinsi. Lalu yang kedua, kami langsung kemasyarakat, baik lewat simpul-simpul kemasyarakatan atau direct langsung ke individu-individu.

Masyarakat sendiri masih dibagi-bagi lagi, seperti rumah ibadah namun tidak terbatas hanya masjid. Termasuk gereja, wihara dan lainnya. QR code bisa digunakan sebagai alat umat menyumbang bagi tempat ibadah.

Banyak transaksi lain di rumah ibadah yang bisa digarap dengan cashless. Misalnya bayar honor muazin, imam. Kalau masjid mau mengadakan acara, Isra Mi’raj, Maulid Nabi, santunan anak yatim, maka donator bisa cashless pakai QR code Paytren. Lalu pengurus masjid kalau bayar sound system atau tenda, bisa cashless.

Jangan lupa, ekosistem masjid itu ka ada juga kantin dan lainnya. Tidak salah jika masjid punya usaha. Masjid bisa menjadi hub, dimana ada jual beli kebutuhan pokok, tiket pesawat, pulsa. Kalau ada warung pintar, kenapa tidak kemudian ada masjid pintar. Kalau ada BukaLapak, harusnya ada MasjidLapak.

Selain rumah ibadah, ada juga pasar, baik tradisional dan modern. Pakai QR code semua, cashless. Lalu sekolah, mulai dari taman kanak-kanak hingga universitas. Kami juga mengincar perkantoran, swasta, warung-warung kecil, UMKM, pedagang kaki lima. Semua ekosistem kami bantu, karena kami sudah full power menyediakan jasa teknologi finansial.

Dengan turunnya izin transfer dana pada 3 Desember 2018 yang efektif per 8 Desember, membuat PayTren bisa bertindak layaknya "retail banking". Kami kini bisa mengurus payroll. Secara sistem, PayTren bisa mengikuti kemana arus uang dan membangun ekosistem yang sempurna di dunia teknologi finansial.

Remitansi segera akan kami luncurkan, insya Allah bulan Maret besok. Tadinya Saya ingin kickoff, launching, di Hong Kong kemarin, saat Saya ada di sana. Tetapi ternyata ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan lagi dari pihak Hong Kong sebagai negara pengirim. Dan tidak hanya Hong Kong, bisnis remitansi PayTren juga akan melayani Taiwan, Korea Selatan, Singapura, Malaysia, Arab Saudi, dan Timur Tengah secara keseluruhan. Bahkan insya Allah akan ada di Eropa, Amerika Serikat, Australia, Inggris, Kanada dan yang lainnya.

Setelah itu, tinggal kami injek gas lagi, untuk menambah perizinan bisnis peer to peer landing (P2P), multifinance, insurance, dan menaikkan skala bisnis PayTren. Ibarat bank, kami naik dari BUKU I ke BUKU II dan seterusnya. Termasuk menjadikan bisnis ini menjadi bisnis syariah murni.

KONTAN: Tadi ustaz bilang mau selenggarakan layanan P2P lending, bisa dijelaskan lebih detail?

YUSUF: Kami berencana mau akuisisi satu perusahaan P2P. Saat ini masih dalam pembicaraan. Mengenai siapa targetnya dan nilai transaksinya, nondisclosed. Namun Saya juga tetap ingin mendirikan sendiri P2P. Mungkin kami akan segera datang ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mengurus P2P sendiri, bersamaan dengan rencana akuisisi.

KONTAN: Jangan-jangan PayTren sudah merencanakan listing di bursa efek, melaksanakan IPO (initial public offering) ya?

YUSUF: Sudah. Kami akan kickoff insya Allah Maret 2019. IPO rencananya Maret 2020. Saat kickoff, kami ingin memberitahu kepada masyarakat agar mereka bersiap-siap menjadi investor kami. Yang ingin Saya tekankan, PayTren berbeda dengan fintech lain. Bedanya, PayTren tidak mencari investor raksasa, investor kakap. PayTren ingin, setiap pemakai jasa Paytren itulah yang nanti menjadi pemegang saham PayTren.

Jamaah bisa ikut Koperasi Indonesia Berjamaah. Koperasi yang kami dirikan ini, bisa menginvestasikan dananya untuk beli saham apa saja, termasuk nanti saham PayTren. Kami nanti akan pakai Manajer Investasi (MI) lain untuk mengurusnya, meski kami sudah sudah punya sendiri.

Kalau punya dana Rp 5 miliar saja, Koperasi boleh menempatkan dana dalam bentuk kontrak pengelolaan dana (KPD) di MI. Nanti MI yang kami undang untuk masuk membeli saham PayTren atau dengan cara yang nanti akan kami diskusikan dengan para pakar dan regulator. Tapi kami tidak ingin, yang masuk lagi-lagi investor kakap, yang itu-itu saja.

KONTAN: Jadi nggak butuh investor kakap?

YUSUF: Begini. Saya semalam makan malam dengan pengusaha startup, sebut saja si X. Dia bercerita sudah dapat fundraising seri B. Tapi lagi-lagi, investornya ya itu-itu saja. Menurut saya nggak lucu. Kapan pengguna, konsumen menjadi investor, kalau yang masuk selalu investor kakap. Lagian kami juga tidak cari dana yang besar kok.

KONTAN: Memang target dana IPO dan jumlah saham yang dilepas berapa?

YUSUF: Masih wait and see. Kan aslinya kami tidak butuh modal juga. IPO ini kami lakukan karena di Indonesia ini lucu. Untuk bisa diakui, maka perusahaan harus mencatatkan dirinya di bursa efek. Saya heran, pengakuan kok datang saat kita dibeli orang. Kalau tidak dibeli, maka tidak diakui.

Menurut Saya, pengakuan itu harusnya datang saat kita membeli, bukan dibeli. Kalau terus-terusan kita dibeli, lalu kapan kita akan punya perusahaan Indonesia. Saya akan sangat bahagia, karena IPO Paytren nanti yang membeli adalah pengguna PayTren.

Sekarang banyak orang-orang pengguna fintech, harus menaruh deposit. Tetapi, pengguna tidak pernah menjadi pemilik dari fintech itu. Itu namanya bodoh lagi saja, nggak pinter saja. Dimana-mana, yang namanya manaruh uang itu harusnya menjadi owner. Nah itu yang akan saya perjuangkan di IPO PayTren.

Ini seumpama, misalkan ditetapkan valuasi IPO 100% PayTren Rp 10 triliun. Kami akan lepas 10%, artinya target IPO kami Rp 1 triliun.

Dari kebutuhan itu, nanti Saya tawarkan misalkan kepada 1 juta pengguna PayTren. Artinya hanya Rp 1 juta per orang. Mereka nanti akan memiliki perusahaan yang tak kalah besar dengan perusahaan besar lainnya.

KONTAN: Valuasi PayTren saat ini berapa?

YUSUF: Dua tahun yang lalu, tetapi tentu suasananya kini  berubah ya, kami sempat ada yang menawar seharga US$ 300 juta atau sekitar Rp 4,2 triliun untuk 100% saham PayTren. Dia mau beli 75% saham PayTren dan menjadi ultimate share holder.

Sekarang nilai PayTren bisa saja turun atau bahkan naik. Kalau turun, itu disebabkan karena dahulu pihak yang menawar PayTren itu sedang butuh. Sekarang dia tidak butuh lagi. Namun, nilai PayTren bisa juga meningkat, karena kami sudah semakin kuat.

Dua tahun lalu, PayTren tidak punya e-money; tidak ada QR code; tidak ada izin transfer dana; tidak ada remitansi. Kami sekarang punya izin yang mahal juga, seperti izin lembaga keuangan digital (LKD) dari Bank Indonesia.

Dengan izin LKD, memungkinkan anggota PayTren seperti cabang bank. Bisa menjadi tempat cashout-nya remitansi, bantuan bagi warung- warung pra sejahtera, keluarga harapan. Kalau pemerintah ada program bantuan, pakai PayTren saja, tidak usah repot pakai kartu. Nanti masyarakat cashout-nya disetiap orang yang pakai PayTren. Layaknya ATM berjalan.

KONTAN: Dulu calon pembeli PayTren siapa?

YUSUF: Perusahaan luar negeri di bidang transportasi.

KONTAN: Grab ya?

YUSUF: Jangan disebut lagi.

KONTAN: Jumlah pengguna PayTren saat ini dan target ke depan berapa?

YUSUF: Pengguna aktif PayTren sampai saat ini sebanyak 1,8 juta orang. Kalau pen-download-nya ada 5,2 juta orang. Kalau dengan program cashless kami menggaet 10 kota, umpamanya, maka kami perkirakan pengguna aktif tahun ini bisa mencapai 20 juta orang. Terutama kota-kota di luar Jawa, dimana akses perbankan belum merata. Mereka yang akan sangat merasakan manfaatnya cashless.

Bayangkan kalau sudah ada 20 juta pengguna PayTren, mau dihargai berapa PayTren saat IPO nanti. Harapan Saya, kelak kami akan lebih besar dari Go-Jek, Traveloka, BukaLapak, dan yang lainnya.

Paytren fenomenal. Namun banyak yang belum punya sense dan feelingnya. Berpuluh puluh tahun, kita dinina bobokkan menjadi pengguna. Menurut saya, yang paling penting nanti dari perjuangan Paytren adalah menjadikan setiap orang di Indonesia menjadi investor. Itu yang paling fenomenal dari perjuangan Yusuf Mansur dan kawan-kawan.

KONTAN: Kalau nilai transaksi PayTren tahun 2018 dan target ke depan berapa?

YUSUF: Perlu diketahui, bahwa tahun 2018 adalah tahun yang tidak mudah buat kami. Berat, karena ada suspense dari otoritas, kendala regulasi, sistem teknologi kami yang masih dalam persiapan. Sehingga, transaksi kami tahun lalu baru sekirar Rp 3,7 triliun per tahun.

Kalau tahun ini, kami targetkan bisa mencapai Rp 20 triliun per bulan. Kok besar sekali? Ya iya, karena asumsi kami bisa meningkatkan pengguna PayTren menjadi 10 juta orang tahun ini. Jika diasumsikan setiap orang bertransaksi Rp 2 juta per bulan, maka ketemulah angka Rp 20 triliun per bulan itu tadi.

KONTAN: Dengan target transaksi Rp 20 triliun per bulan, asumsi pendapatan fee based PayTren berapa?

YUSUF: PPOB (payment point online bank) kan sekitar 1% sampai 3%. Di luar itu angkanya variatif. Tapi ingat, Saya ini alirannya sedekah. Saya sudah mulai campaign (kampanye)  bahwa dari 100% fee based yang kami terima, sebanyak 90%-nya akan kami sedekahkan kembali. Itu barlaku baik dari pendapatan apapun. Makanya menurut Saya, Muhamadiyah tidak usah bikin baru, pakai saja PayTren. Nahdlatul Ulama (NU) tidak usah bikin baru, pakai saja PayTren. Kota-kota, kabupaten dan propinsi tidak usah bikin baru, pakai saja PayTren. Ente akan adapat 90% dari pendapatan feebased kami, masa masih tidak mau.

KONTAN: Bentuk sedekahnya seperti apa?

YUSUF: Kami bisa me-report ke kota-kota yang bersangkutan, transaksi kami sekian, kami punya untung sekian, kami akan kembalikan kepada kalian. Lalu tinggal dihitung, berapa jumlah transaksi di kota itu, nanti akan kami berikan. Nanti anak yatim, janda-janda tua yang akan menikmati, orang-orang yang butuh pengobatan, prasarana jembatan, penerangan, pembangunan madrasah, masjid, dan sekolah dari dana itu.

Itu sebabnya, Saya tidak terlalu suka PayTren dibeli pemodal kakap. Kami maunya membeli aset. Saya tidak mau kami dibilang hebat, saat kami didatangi investor asal China, Amerika Serikat, Singapura. Padahal nyatanya, kami sendiri sudah ekspansi ke Eropa. Kami beli klub sepakbola asal Polandia, Lechia Gdansk. Mungkin nanti kami insya Allah beli AC Milan, Chelsea, Aston Fila, Real Madrid, Barcelona, Benfica. Buat apa? Iseng-iseng saja hahaha.

Makanya, ayo dong, pengakuan harusnya dating bukan karena kami dibeli, tetapi karena kami membeli.

KONTAN: Beberapa waktu lalu ustaz membeli klub Lechia Gdansk dari Polandia. Apakah bisa diceritakan prosesnya?

YUSUF: Itu Saja beli 10% saham, nilai 2,5 juta euro atau sekitar Rp 47 miliar. Nah untuk 2,5 juta euro itu, Saya baru akan bayar Juni 2019, sampai 7 bulan berikutnya. Dari Rp 42 miliar, kalau dibagi 7 bulan, kewajiban Saya jatuhnya sebesar Rp 6 miliar sebulan.

Lalu dari Rp 6 miliar itu, Saya mau bagi-bagi kepada 1 juta pengguna PayTren. Jadi per orang, hanya ikut patungan hanya Rp 6.000 sebulan per orang. Dari Rp 6.000 per orang itu, ente tidak usah bayar. Cukup dua kali saja bertransaksi pakai PayTren, untuk transaksi-transaksi tertentu, ente cashback-nya adalah saham Lechia Gdansk.

KONTAN: Kalau investasi di bidang olahraga itu di bawah ISYM (Indra Sjafri Yusuf Mansur Management)?

YUSUF: Iya.

KONTAN: Siapa yang mengenalkan ustad dengan pemilik klub Lechia Gdansk sehingga akhirnya membeli saham klub tersebut?

YUSUF: Waktu itu karena kami bawa Eggy Maulana Vikri ke sana. Sudah ada hubungan sebelum berangkat. Saya sama coach Indra kan bikin agensi pemain sepak bola. Nah dari sanalah kontak-kontakan dengan pihak Lechia Gdansk.

KONTAN: Bagaimana mengintegrasikan PayTren dengan investasi di bidang olahraga?

YUSUF: Dunia olahraga itu sebenarnya kalau dikelola dengan sangat baik merupakan bisnis menjanjikan. Misalkan di sepakbola, ada urusan tiket, stadion, makanan pemain sepanjang berlangsungnya kompetisi liga, ada uruasan asrama, tiket transportasi dan hotel. Pertadingan away, butuh tiket pesawat, kereta, hotel dan hotel untuk menginap bagi pemain dan official. Itu semua kami bikin cashless lewat PayTren.

Di Indonesia, cashless liga sepakbolanya nilainya bisa bertrilun-triliun. Sepakbola itu urusannya luar biasa. Kalau sudah punya nama seperti Persebaya, Persija, stadion pasti penuh terus. Mendatangkan 30.000 penonton juga, rasanya tidak sulit.

Saya saat ini memiliki sejumlah klub sepakbola nasional seperti Persika Karawang, Persikota Tangerang, Persela Lamongan, Semen Padang, Persikabo. Mereka memang tidak sekelas Persebaya atau Persija, karena sampai saat ini baru mereka yang mau kami ajak bicara. Kalau yang besar-besar belum mau, perkaranya sederhana saja, yaitu karena masih mau melihat Saya ini siapa.

Untuk kepemilikan saham mayoritas, Saya ada di Persika Karawang dan Persikota Tangerang. Yang lain Saya bantu-bantu saja.

KONTAN: Mengenai bisnis properti milik PayTren bagaimana perkembangannya?

YUSUF: Kebetulan Maret nanti kami akan groundbreaking proyek apartemen mengusung konsep urban muslim. Loakasinya sangat dekat dengan light rail transit (LRT) Sentul Sentul City. Agak keluar sedikit dari Sentul City, namun kami posisinya di pinggir tol. Kami bangun sekitar 4-5 apartemen di area seluas 4,5 hektare, dimana satu apartemen terdiri dari 32 lantai.

KONTAN: Nilai proyeknya berapa dan siapa pengembangnya?

YUSUF: Nilainya Rp 3,7 triliun. Kami kerjasama dengan PT Adhi Karya. Nanti kami pasarkan, harga per unitnya berkisar Rp 600 juta hingga Rp 1,5 miliar. Kalau sudah dipegang Adhi Karya cepat pengerjaannya. Mungkin sekitar 1-2 tahun akan selesai.

KONTAN: Kapan mulai punya lahan di Sentul?

YUSUF: Saya belinya sudah lama, patungan sama teman. Mengenai proyek properti lainnya, saya sedang incar lahan 5 hektare di belakang Bandara Soekarno Hatta. Lalu ada juga yang kami incar bidik seluas 200 hektare di Tangerang, dan 100 hektare di Karawang. Insya Allah, besok bisa jadi Agung Podomansur atau Yusuf Land.

Reporter: Yuwono Triatmodjo
Editor: Yuwono triatmojo


Baca juga