AFPI: Ada 14 fintech peer to peer lending baru mendapatkan tanda daftar dari OJK

Senin, 12 Agustus 2019 | 20:14 WIB
AFPI: Ada 14 fintech peer to peer lending baru mendapatkan tanda daftar dari OJK
[ILUSTRASI. AFPI menyebut ada 14 fintech peer to peer lending yang baru mendapatkan tanda daftar dari OJK.]
Reporter: Maizal Walfajri | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri fintech peer to peer lending bakal kedatangan pemain baru. Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menyebut sudah ada belasan entitas fintech peer to peer lending baru yang sudah mendapatkan tanda daftar atau berstatus legal dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Sudah ada tambahan 14 fintech peer to peer lending yang mendapatan izin dari OJK. Jadi total yang sudah mendapatkan daftar ada 127 fintech per Kamis lalu. Mungkin OJK belum umumkan, tapi coba konfirmasi lagi ke OJK,” ujar Kepala Bidang Kelembagaan dan Humas AFPI Tumbur Pardede kepada Kontan.co.id akhir pekan lalu.

Namun, Tumbur tidak memegang daftar nama keempat belas fintech yang baru saja mendapatkan tanda daftar ini dari regulator. Namun yang pasti, keempat belas fintech ini juga harus terdaftar sebagai anggota AFPI.

Direktur Pengaturan Perizinan dan Pengawasan Fintech OJK Hendrikus Passagi belum menjawab pesan yang Kontan.co.id lakukan untuk konfirmasi terkait 14 fintech yang baru terdaftar ini.

Hingga saat 31 Mei 2019 lalu, sudah ada 113 entitas fintech P2P lending yang terdaftar dan diawasi oleh OJK. Bila benar ada 14 fintech P2P lending yang baru terdaftar, berarti sudah ada 127 fintech P2P lending berstatus legal.

Namun baru terdapat tujuh entitas yang mendapatkan izin dari regulator. Ketujuh fintech P2P lending berizin itu adalah Danamas, Investree, Amartha, Dompet Kita, KIMO, Tokomodal, dan UangTeman.

Memang bisnis perusahaan fintech peer to peer lending semakin menanjak. Merujuk data OJK per Juni 2019, akumulasi reasiliasi pinjaman yang telah disalurkan oleh fintech lending sebesar Rp 44,8 triliun hingga paruh pertama 2019. Nilai ini tumbuh 97,68% year to date (ytd) dari posisi akhir Desember 2018 sebesar Rp 22,66 triliun.

AFPI melihat pesatnya pertumbuhan pembiayaan lantaran semakin bertambahnya pemain fintech P2P lending beserta semakin bertambahnya literasi masyarakat.

“Dari awal industri ini berdiri, kami memiliki inovasi dan strategi yang berbeda dari institusi keuangan konvensional. Kami menyasar ke market unbanked dan underserved yang tingkat inklusi keuangannya masih cukup rendah. Kini masyarakat mulai mendapat kemudahan akses permodalan yang selama ini sulit karena persyaratan jaminan atau kolateral,” jelas Tumbur.

Padahal Tumbur menyebut, sejak diperkenalkan secara legal pada 2016, fintech P2P lending mendapat sambutan positif di kota-kota pulau jawa. Kini di luar pulau jawa pun mulai menunjukkan permintaan pinjaman. Ia menyebut kedepannya, para penyelenggara akan terus ekspansi ke daerah-daerah di luar pulau Jawa.

“Ke depannya, para penyelenggara akan berinovasi untuk ekspansi ke daerah-daerah di luar pulau Jawa seiring dengan pemerataan infrastruktur telekomunikasi di daerah terpencil. Pasar di luar pulau Jawa akan didominasi oleh sektor peoduktif UMKM,” tutur Tumbur.

Bila dirinci lebih jauh, pinjaman yang disalurkan kepada peminjam yang berasal dari pulau jawa tumbuh 66,2% ytd menjadi Rp 38,48 triliun pada paruh pertama 2019. Sedangkan pembiayaan yang diterima oleh peminjam dari luar pulau jawa tumbuh 107,19% ytd menjadi Ep 6,31 triliun.

“Dengan kolaborasi dengan pihak ketiga di daerah tersebut, kami optimis dengan menggunakan teknologi terkini mampu berekspansi di luar pulau Jawa dengan cepat. Secara keseluruhan, target kami di akhir tahun ini secara optimis akan terlewati dari angka target sekitar Rp 50 triliun dan per Juni 2019, telah melewati angka Rp 40 triliun lebih,” kata Tumbur.

Sedangkan outstanding pinjaman fintech lending hingga semester 1-2019 sebesar Rp 8,5 triliun. Nilai ini tumbuh 68,53% ytd dari posisi akhir 2018 senilai Rp 5,04 triliun.

Pinjaman ini dihimpun dari dana pemberi pinjaman atau lender yang terus bertumbuh. Hingga Juni 2019, jumlah rekening lender sebanyak 498.824 rekening. Jumlah ini naik 140,39% ytd dari posisi akhir tahun lalu sebanyak 207.507 rekening.

Begitupun dengan penerima pinjaman (borrower) semakin meluas dan tersebar. Bila pada penghujung 2018 pinjaman disalurkan kepada 4,35 juta rekening borrower, tumbuh 123,51% ytd menjadi 9,74 juta rekening pada paruh pertama 2019.

Bagikan

Berita Terbaru

Pertumbuhan Bank Digital Bisa Terganjal Wacana Pemberlakuan Pajak Transaksi Digital
| Senin, 02 November 2026 | 19:44 WIB

Pertumbuhan Bank Digital Bisa Terganjal Wacana Pemberlakuan Pajak Transaksi Digital

Pungutan pajak digital yang akan mulai dijalankan 9 November dengan melibatkan bank pemerintah, hingga platform digital, bakal memberatkan.

Surplus Neraca Dagang Indonesia Anjlok 68,4% hingga September 2026, Ini Penyebabnya
| Senin, 02 November 2026 | 18:18 WIB

Surplus Neraca Dagang Indonesia Anjlok 68,4% hingga September 2026, Ini Penyebabnya

BPS mencatat surplus perdagangan hanya US$ 10,61 miliar pada Januari-September 2026, jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama 2025.

Bukan Asal Terdesak, Timbang Sebelum Kuras Dana Darurat
| Senin, 02 November 2026 | 17:35 WIB

Bukan Asal Terdesak, Timbang Sebelum Kuras Dana Darurat

Simak apa saja kondisi yang membuat dana darurat layak terpakai, menurut pandangan perencana keuangan.

Inflasi Oktober 2026 Tembus 3,23%, Harga Pangan & Transportasi Jadi Penyumbang Utama
| Senin, 02 November 2026 | 16:56 WIB

Inflasi Oktober 2026 Tembus 3,23%, Harga Pangan & Transportasi Jadi Penyumbang Utama

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia sebesar 3,23% secara tahunan atau year-on-year (yoy) pada Oktober 2026.

Utang SBN Bertambah Rp 575 Triliun, Yield Tembus 7,7%, Beban Bunga APBN Membayangi
| Senin, 02 November 2026 | 16:37 WIB

Utang SBN Bertambah Rp 575 Triliun, Yield Tembus 7,7%, Beban Bunga APBN Membayangi

Posisi surat utang pemerintah meningkat Rp 575,16 triliun dalam periode Desember 2025 hingga September 2026.

Klaim Investasi di Indonesia Masih Tumbuh, Tapi Kepercayaan Investor Kian Luruh
| Senin, 02 November 2026 | 11:00 WIB

Klaim Investasi di Indonesia Masih Tumbuh, Tapi Kepercayaan Investor Kian Luruh

Realisasi investasi pada periode Oktober 2024–September 2026 dominan ditopang oleh eksekusi proyek-proyek warisan periode lalu.

Harga Emas dan Perak Kompak Anjlok, Prospek hingga Akhir 2026 Masih Diwarnai Tekanan
| Senin, 02 November 2026 | 08:19 WIB

Harga Emas dan Perak Kompak Anjlok, Prospek hingga Akhir 2026 Masih Diwarnai Tekanan

Peluang penguatan harga perak tetap terbuka apabila kebijakan moneter AS menjadi lebih akomodatif dan permintaan industri kembali meningkat.

Kinerja Fundamental Ultrajaya Solid, Prospek Jangka Menengah ULTJ Kian Menarik
| Senin, 02 November 2026 | 07:51 WIB

Kinerja Fundamental Ultrajaya Solid, Prospek Jangka Menengah ULTJ Kian Menarik

Rencana akuisisi Frisian Flag Indonesia juga berpotensi memperkuat posisi bisnis PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ).

Antara Ancaman MSCI dan Koreksi di IHSG
| Senin, 02 November 2026 | 07:09 WIB

Antara Ancaman MSCI dan Koreksi di IHSG

Peristiwa ini membuktikan OJK independen dan menjatuhkan sanksi tanpa pandang bulu, sekalipun sekuritas tersebut dimiliki  tokoh penting,

Kendali Produksi Nikel dan Batubara Masih Ketat dalam RKAB 2027
| Senin, 02 November 2026 | 07:06 WIB

Kendali Produksi Nikel dan Batubara Masih Ketat dalam RKAB 2027

Pemerintah memberikan sinyal akan melanjutkan pengetatan kontrol kuota produksi di RKAB 2027, khususnya untuk komoditas bijih nikel dan batubara

INDEKS BERITA

Terpopuler