Aksi Herding Investor Ritel di Bursa Saham

Senin, 21 Juni 2021 | 07:35 WIB
Aksi Herding Investor Ritel di Bursa Saham
[]
Reporter: Harian Kontan | Editor: Harris Hadinata

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Jumlah investor pasar modal hingga Mei 2021 mencapai 5,37 juta. Jumlah tersebut meningkat 38,4% dari 3,88 juta di akhir tahun 2020. Kenaikannya lebih dari 100% jika dilihat dari akhir tahun 2019. Saat itu, total single investor identification (SID) masih di bawah 2,5 juta.

Jumlah investor saham juga mengalami peningkatan sekitar 41,8% dari akhir tahun atau meningkat sekitar dua kali lipat dari jumlah setahun silam, menjadi 2,4 juta.

Dilihat dari usia, investor berusia 30 tahun ke bawah mendominasi jumlah investor pasar modal, yaitu sekitar 58,1%. Selanjutnya diikuti investor berusia 31-40 tahun yang mencapai 21,6%. Namun, dari sisi aset, investor berusia 60 tahun ke atas yang menguasai aset pasar modal, dengan kepemilikan sebesar Rp 429 triliun. Total dana investor institusi tentunya beberapa kali lebih besar dari dana investor ritel.

Ada banyak perbedaan antara investor ritel dan investor institusi. Jika investor institusi tidak terkena bias behavioral karena terikat pada aturan yang cukup ketat, investor ritel mengalaminya. Di antara bias behavioral tersebut adalah herding, yaitu aksi ikut-ikutan membeli saham alias buy on rumors.

Behavioral finance mencatat investor ritel umumnya percaya pada momentum atau underreaction, bahwa saham yang harganya naik cenderung terus naik dan yang sedang turun akan melanjutkan penurunannya. Ini persis yang diajarkan analisis teknikal.

Sementara itu, investor institusi berpandangan sebaliknya atau mengalami gamblers’ fallacy, bahwa saham yang sudah naik tinggi akan turun dan saham yang sangat tertekan akan berbalik arah (reversal). Ini seperti pandangan seorang penjudi yang bermain dadu atau rolet di kasino. Jika dadu atau angka rolet yang keluar berturut-turut kecil, maka sangat mungkin yang berikutnya adalah angka besar, dan sebaliknya.

Mana yang lebih dominan di bursa saham kita? Sejak dulu pasar saham kita didominasi investor berbekal analisis teknikal. Ini artinya lebih banyak trader daripada investor jangka panjang. Tidak ada yang salah dengan ini, karena para trader aktiflah yang meramaikan bisnis brokerage dan menciptakan banyak pekerjaan di pasar modal.

Kondisi ini semakin diperkuat banyaknya investor ritel anak muda dan ibu-ibu yang biasanya shopping dan traveling, tapi tidak bisa melakukannya lagi karena pandemi. Buat investor milenial dan emak-emak ini, yang penting cuan, atau biasa disingkat YPC. Banyak yang tidak pernah mau melihat laporan keuangan emiten sebelum membeli sahamnya. Mereka tidak peduli apakah perusahaannya masih rugi, PER sudah seratus kali, atau PBV belasan kali.

Kelompok YPC ini hampir dapat dipastikan tidak memandang penting analisis fundamental yang diajarkan buku teks, meskipun rekomendasinya masuk akal dan bersifat universal. Analisis fundamental dengan asumsi pasar efisien mengajarkan investor untuk mencari aset apa pun dan kapan pun, yang nilainya di atas harganya dan menjual atau menghindari aset yang nilainya di bawah harganya karena dalam jangka panjang harga akan konvergen menuju nilainya.

Saham-saham yang kemahalan akan mengalami koreksi karena akan ada investor yang melakukan aksi short. Sementara saham-saham yang kemurahan akan diburu investor karena menjanjikan potensi return yang besar di masa depan.

Jadi, prinsip dasar investasi sejatinya hanya membandingkan nilai dengan harga. Yang kita perlu lakukan adalah estimasi nilai itu dengan menggunakan berbagai metode valuasi, karena harga ada di depan kita.

Di mata trader, buku teks yang bagus tidak berlaku. Alasan mereka adalah karena pasar bukan hanya tidak efisien, tetapi banyak yang direkayasa alias created. Implikasi dari semakin maraknya trader dengan budaya instan dan aksi herding-nya, ditambah provokasi para pom-pom adalah harga saham yang mahal terus naik dan saham yang kemurahan tetap tidak diburu dan harga makin turun.

Dalam artikel di kolom ini April lalu saya menuliskan bahwa harga saham-saham AGRO, BRIS, ARTO, BBHI dan BANK sungguh kemahalan secara fundamental, karena mempunyai PBV dari 4,18 hingga 79,15 kali. Sementara PBV bank buku 4 seperti BNGA, BDMN dan PNBN rata-rata hanya 0,56 kali. Saya pun memprediksi PBV saham-saham itu akan konvergen ke kisaran wajar industri perbankan.

Kenyataannya, delapan minggu kemudian yang terjadi bukan konvergensi, tetapi divergensi. Harga tiga dari lima saham kemahalan masih naik dan semua saham yang kemurahan justru makin turun, di saat IHSG relatif stabil dari 6.016,9 jadi 6.007,1.

Adakah analis fundamental yang mampu menjelaskan fenomena ini? Saya sendiri tidak mampu. Karena itu, saya sering menolak permintaan sharing tentang valuasi saham dan analisis fundamental.

Mau contoh lain? Untuk saham yang overvalued, saya akan menulis di kesempatan lain. Untuk yang undervalued, lihat saham PNLF dan PNIN yang sudah bertahun-tahun sangat murah dan tidak dilirik investor jangka panjang, apalagi trader.

Per Jumat lalu, PNLF hanya dihargai dengan PER 3,5 kali dan PBV 0,24 kali. Sementara PNIN lebih murah lagi dan tidak masuk akal, dengan PER 2,96 kali, PBV 0,1 kali dan saldo kas Rp 6,5 triliun, lebih dari dua kali kapitalisasi pasarnya yang Rp 3,1 triliun.

PBV 0,1 itu berarti kita akan dapat 10 kali harga yang kita bayarkan, yaitu 1/PBV, jika perusahaan dilikuidasi dan aset yang ada bisa direalisasikan sesuai nilai bukunya. Saya pun teringat ucapan Adam Smith dalam the Money Game. "If you don’t know who you are, the stock market is an expensive place to find out," kata dia.

Bagikan

Berita Terbaru

Ada Euforia di Saham Energi, Awas Harga Masih Rentan
| Selasa, 03 Maret 2026 | 22:25 WIB

Ada Euforia di Saham Energi, Awas Harga Masih Rentan

Perhatikan juga volume transaksi dan akumulasi-distribusi asing. Hindari masuk ketika harga sudah melonjak tinggi tanpa dukungan volume yang kuat.

Danantara dan INA Masuk ke Proyek TPIA, Bagaimana Imbas ke Sahamnya?
| Selasa, 03 Maret 2026 | 21:55 WIB

Danantara dan INA Masuk ke Proyek TPIA, Bagaimana Imbas ke Sahamnya?

Volatilitas harga energi saat ini masih tinggi dan dapat mempengaruhi kinerja saham TPIA dalam jangka pendek.

Gerakan Reformasi Pasar Modal dan Kondisi Geopolitik Menyurutkan Aksi IPO Tahun ini
| Selasa, 03 Maret 2026 | 19:59 WIB

Gerakan Reformasi Pasar Modal dan Kondisi Geopolitik Menyurutkan Aksi IPO Tahun ini

Kondisi pasar modal Indonesia di kuartal pertama tahun ini tidak menunjukkan semarak layaknya tahun lalu yang ramai hajatan IPO.

Perang Iran Vs AS-Israel Memanas! Saatnya Serok Saham SOCI, BULL, GTSI dan HUMI?
| Selasa, 03 Maret 2026 | 09:25 WIB

Perang Iran Vs AS-Israel Memanas! Saatnya Serok Saham SOCI, BULL, GTSI dan HUMI?

Premi risiko perang (war risk premium) untuk armada kapal yang nekat melintasi Teluk Persia dan Selat Hormuz terkerek naik hingga 50%.

Ada Lebaran dan Perang, Waspada Inflasi Tinggi
| Selasa, 03 Maret 2026 | 08:00 WIB

Ada Lebaran dan Perang, Waspada Inflasi Tinggi

Inflasi Februari 2026 melonjak 4,76%, tertinggi 3 tahun terakhir. Tarif listrik dan pangan jadi pemicu utama yang menguras dompet Anda. 

Proyek Gas Mako Resmi Masuk Tahap Investasi
| Selasa, 03 Maret 2026 | 06:30 WIB

Proyek Gas Mako Resmi Masuk Tahap Investasi

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengungkapkan, Proyek Lapangan Gas Mako memasuki fase utama pasca-FID

Tak Ada Rencana Pembatasan Ritel Modern
| Selasa, 03 Maret 2026 | 06:27 WIB

Tak Ada Rencana Pembatasan Ritel Modern

Kemendag memastikan tidak ada rencana pembatasan lanjutan untuk ritel modern setelah peluncuran Kopdes Merah Putih.

Pasokan Impor Bijih Nikel Bisa Tersendat
| Selasa, 03 Maret 2026 | 06:26 WIB

Pasokan Impor Bijih Nikel Bisa Tersendat

Kekurangan pasokan dipenuhi dari impor seperti dari Filipina. "Impor tahun lalu 15 juta ton, mungkin tahun ini bisa lebih dari itu," sebut Arif.

Potensi Tekanan Ganda dari Beban Energi
| Selasa, 03 Maret 2026 | 06:22 WIB

Potensi Tekanan Ganda dari Beban Energi

Penutupan Selat Hormuz bisa memanaskan harga minyak mentah di pasar global dan berdampak pada beban energi

Risiko Bisnis Pelayaran Meningkat
| Selasa, 03 Maret 2026 | 06:13 WIB

Risiko Bisnis Pelayaran Meningkat

Sejumlah perusahaan asuransi telah menarik perlindungan risiko perang (war risk insurance) untuk kapal yang melintas di kawasan tersebut.

INDEKS BERITA

Terpopuler