Berita Bisnis

Aliran Kredit Sindikasi Masih Melorot 23%

Rabu, 20 Oktober 2021 | 07:20 WIB
Aliran Kredit Sindikasi Masih Melorot 23%

Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Rizki Caturini

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pembiayaan sindikasi masih belum terangkat hingga pertengahan Oktober 2021. Berdasarkan Bloomberg League Table Reports Global Syndicated Loan, total kesepakatan kredit sindikasi hingga 18 Oktober 2021 baru mencapai US$ 14,83 miliar atau sekitar Rp 208,93 triliun (kurs Rp 14.082 per dollar AS). Itu masih turun 23% year on year (yoy) dari US$ 19,27 miliar atau Rp 271,36 triliun.

PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) tercatat sebagai bank yang paling banyak berpartisipasi dalam pembiyaan sindikasi sejak awal tahun hingga Oktober ini. Dari mandated lead arranger, partispasi bank pelat merah ini mencapai US$ 2,72 miliar atau Rp 38,30 triliun. Ini masih naik 2,2% yoy. 
Lalu disusul PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dengan capaian US$ 1,9 miliar atau Rp 26,75 triliun. Tapi nilai kredit sindikasi BNI ini menurun 44% yoy. 
 
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencatat kredit sindikasi sebesar US$ 878,24 juta atau Rp 12,36 triliun, turun 33,6% yoy . Kredit sindikasi PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga turun 5,1% yoy menjadi US$ 492,3 juta atau Rp 6,93 triliun.
 
Adapun proyek sindikasi yang dibiayai Bank Mandiri di antaranya Pertamina Internasional Shipping, PT Pelita Agung Agriindustri,  Greenfield,  Freeport, Centratama, Inalum, PLN, Pertamina Geothermal Energy, Telkom, Agro Multi Persada, Celebes Railway Indonesia, Adaro, Pelindo I, Halmahera Persada  Lygend,  Indomobil Finance dan Seino Indomobil Logistics. 
 
Selain itu, Bank Mandiri juga berpartisipasi dalam sindikasi di sejumlah proyek tol seperti Wika Serang Panimbang, Marga Mandala Sakti, Antam, Lintas Marga Sedaya, Trans Bumi Serbaraja, PP Semarang Demak, Jasamarga Kunciran Cengkareng, dan Cinere Serpong Jaya.
 
Adapun proyek jalan tol yang Bank BNI biayai seperti Pejagan- Pemalang, LSM, Semarang-Demak, Kunciran-Cengkareng, dan Cinere-Serpong.  
 
Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan mengatakan, penurunan pembiayaan sindikasi ini masih terkait dengan dampak pandemi Covid-19. Sebagian besar proyek-proyek yang membutuhkan kredit sindikasi memang terkait dengan proyek-proyek infrastruktur pemerintah.  "Sementara tahun ini anggaran banyak terserap untuk penanganan Covid-19," kata Trioksa kepada, Selasa (19/10).
 
Namun, dia memperkirakan pembiayaan sindikasi berpotensi naik kembali tahun depan seiring dengan melandainya kasus Covid-19 dan pelonggaran mobilitas.
 
Aestika Oryza Gunarto mencatat sampai dengan akhir tahun ini, ada empat  pipeline yang saat ini menjadi prioritas BRI untuk diselesaikan. "Itu berasal dari sektor pertambangan, agribisnis, dan infrastruktur," kata Aestika, kemarin (19/10).
 
BRI masih mengupayakan untuk menyelesaikan seluruh proyek atas pembiayaan sindikasi baru sampai akhir tahun 2021 untuk mencapai target kredit sindikasi tumbuh positif.
 
Kualitas kredit sindikasi BRI sejauh ini masih cukup terjaga. Upaya preventif dijalankan salah satunya dengan restrukturisasi kredit kepada beberapa proyek sindikasi yang arus kasnya terdampak signifikan antara lain proyek infrastruktur, konstruksi dan perkebunan. 
 
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) juga ikut pembiayaan sindikasi. Hery Gunardi Direktur Utama BSI mengatakan, hingga akhir tahun ini BSI berencana masih menyalurkan sindikasi terutama pada Proyek Strategis Nasional (PSN). "Pembiayaan sindikasi diproyeksikan tumbuh satu digit sesuai dengan target tahun 2021, yakni untuk proyek infrastruktur, agribisnis, dan energi," ujar Herry.
 
Sebelumnya, BSI telah mengumumkan ikut dalam tiga pembiayaan sindikasi tahun ini yakni pada proyek Tol Serang-Panimbang, Kereta Api Makassar-Pare-pare Rp 218,3 miliar, dan Jalintim Sumatera Selatan senilai Rp 248 miliar.   


Baca juga