Amblas! Harga Minyak Diperdagangkan di Teritori Negatif

Selasa, 21 April 2020 | 04:13 WIB
Amblas! Harga Minyak Diperdagangkan di Teritori Negatif
[ILUSTRASI. FILE PHOTO: A general view shows Mexican state oil firm Pemex's Cadereyta refinery, in Cadereyta, Mexico October 5, 2019. Picture taken October 5, 2019. REUTERS/Daniel Becerril/File Photo]
Reporter: Narita Indrastiti | Editor: Narita Indrastiti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak terus melorot tajam hingga berada di teritori negatif atau di bawah nol. Ini merupakan pertama kalinya dalam sejarah sejak minyak ditransaksikan di bursa berjangka. 

Harga minyak dunia jenis West Texas Intermediate (WTI) kontrak pengiriman Mei 2020 di Nymex berada di level -US$ 37,63 per barel pada Selasa (21/4) pukul 03:10 WIB atau turun 306%. Harga minyak sempat menyentuh titik terendah sepanjang masa -US$ 40,32 per barel. 

Penurunan harga minyak disebabkan kelebihan pasokan minyak AS ditambah dengan aktivitas ekonomi dan industri yang terhenti akibat pandemi virus corona. Kesepakatan untuk memangkas produksi oleh OPEC sepekan lalu ternyata sudah terlambat untuk menghadapi turunnya sepertiga permintaan global. 

 

Baca Juga: Pertama kali dalam sejarah, harga minyak ditutup di bawah nol

Sementara itu, harga minyak mentah Brent juga merosot, tetapi kontraksinya tak sekuat WTI. Harga minyak Brent turun 9% menjadi US$ 25,57 per barel. 

Kemarin, para trader keluar dari kontrak berjangka Mei yang bakal kedaluarsa atau berakhir hari ini, Selasa (21/4), dan terutama karena kurangnya permintaan untuk minyak aktual. Ketika kontrak berjangka berakhir, trader harus memutuskan apakah akan mengambil pengiriman minyak atau mengambil posisi ke dalam kontrak berjangka lain di bulan berikutnya.

Sehingga, harga minyak WTI kontrak pengiriman Juni terlihat lebih aktif dan diperdagangkan di level yang lebih tinggi dari US$ 21,6 per barel. Spread antara kontrak Mei dan Juni sempat melebar lebih dari US$ 60,76 per barel, menjadi yang terlebar sepanjang sejarah untuk kontrak bulanan terdekat. 

Baca Juga: Harga minyak anjlok, begini efeknya ke kinerja Energi Mega Persada (ENRG)

Dengan perdagangan harga minyak AS di wilayah negatif, berarti penjual harus membayar pembeli untuk pertama kalinya agar bisa mengambil minyak berjangka. Namun, tidak jelas apakah ini akan mengalir ke konsumen, yang biasanya melihat harga minyak yang lebih rendah akan tercermin ke dalam turunnya harga bahan bakar minyak. 

"Sehingga ini akan mempengaruhi ekonomi di seluruh dunia," ujar John Kildff, mitra di hedge fund Again Capital LLC di New York, seperti dilansir Reuters. 

Banyak Tekanan

Dari awal tahun, harga minyak telah anjlok cukup dalam, karena dampak dari pandemi virus corona (covid-19) dan gangguan dalam perjanjian OPEC+. 

Di Asia, perbankan sudah enggan memberikan kredit kepada pedagang komoditas karena adanya risiko default yang besar. 

Baca Juga: Harga minyak anjlok, saham-saham migas berguguran

Data ekonomi global yang lemah juga menekan harga minyak. Ekonomi Jerman berada dalam resesi parah. Pemulihan ini tidak mungkin cepat karena pembatasan yang harus dilakukan terkait virus corona. 

Ekspor Jepang di bulan Maret juga mengalami kontraksi terbesar dalam hampir empat tahun terakhir. Ini karena pengiriman yang berhubungan dengan AS, termasuk mobil, turun cukup cepat sejak 2011.

Turunnya harga minyak juga berdampak ke sejumlah perusahaan di sektor ini. Halliburton Co, yang memiliki sebagian besar bisnis minyak di Amerika Utara memiliki nasib tak jauh berbeda dengan saingannya Schlumberger yang telah mengalami penurunan nilai sepanjang kuartal pertama tahun ini.

 

Bagikan

Berita Terbaru

Surplus Neraca Dagang Meningkat, AS Masih Jadi Penyumbang Terbesar
| Senin, 05 Januari 2026 | 13:56 WIB

Surplus Neraca Dagang Meningkat, AS Masih Jadi Penyumbang Terbesar

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus neraca perdagangan Indonesia sebesar US$ 2,66 miliar pada November 2025. ​

Inflasi per Desember 2025 Mencapai 2,92%, Naik dari 1,57% Tahun Lalu
| Senin, 05 Januari 2026 | 13:22 WIB

Inflasi per Desember 2025 Mencapai 2,92%, Naik dari 1,57% Tahun Lalu

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan atau year on year (YoY) pada Desember 2025 sebesar 2,92%.

ESG Mandiri Investasi (MMI): Menimbang Reksadana ESG yang Tak Melulu Soal Cuan
| Senin, 05 Januari 2026 | 09:22 WIB

ESG Mandiri Investasi (MMI): Menimbang Reksadana ESG yang Tak Melulu Soal Cuan

Mandiri Manajemen Investasi (Mandiri Investasi) menyodorkan produk reksadana ESG. Bagaimana return, risiko, dan prospeknya?

Restrukturisasi Sebatas Demi Bertahan Hidup, Ini Tantangan Danantara di WSKT & KAEF
| Senin, 05 Januari 2026 | 08:52 WIB

Restrukturisasi Sebatas Demi Bertahan Hidup, Ini Tantangan Danantara di WSKT & KAEF

Kasus yang menimpa WSKT dan KAEF menunjukkan garansi nama pemerintah terbukti tidak selalu mampu melindungi kepentingan pemegang saham ritel.

Saham Big Caps Jadi Buruan dan Buangan Investor Asing
| Senin, 05 Januari 2026 | 08:43 WIB

Saham Big Caps Jadi Buruan dan Buangan Investor Asing

Pada 2026, asing diproyeksi akan kembali berburu saham bank big caps​.  Di sepanjang 2025, investor asing mencatatkan net sell Rp 17,34 triliun.​

Dana Asing Dukung Stabilitas Rupiah 2026
| Senin, 05 Januari 2026 | 08:40 WIB

Dana Asing Dukung Stabilitas Rupiah 2026

Arus modal asing pada 2026 diperkirakan akan lebih banyak mengalir ke pasar saham Indonesia         

Data Transaksi Kripto Masuk Radar Ditjen Pajak
| Senin, 05 Januari 2026 | 08:23 WIB

Data Transaksi Kripto Masuk Radar Ditjen Pajak

Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 108 Tahun 2025 mengatur pelaporan transaksi kripto di atas US$ 50.000

Kontradiksi Grup Salim: Saat BUMI Melesat 210%, Raksasa Konsumer Justru Terjerembap
| Senin, 05 Januari 2026 | 08:18 WIB

Kontradiksi Grup Salim: Saat BUMI Melesat 210%, Raksasa Konsumer Justru Terjerembap

Prospek saham Grup Salim 2026 memasuki fase matang. Intip analisis performa BUMI yang melesat 210% hingga rekomendasi trading buy ICBP..

Saham TLKM Jadi Unggulan Sektor Telko di 2026, Diborong JP Morgan, FMR dan Invesco
| Senin, 05 Januari 2026 | 07:59 WIB

Saham TLKM Jadi Unggulan Sektor Telko di 2026, Diborong JP Morgan, FMR dan Invesco

Fundamental dinilai kuat, simak peluang saham TLKM mencapai target harga Rp 4.000 per saham di tahun 2026.​

Direktur Utama KB Bank: Corporate Banking Jadi Mesin Pertumbuhan Utama
| Senin, 05 Januari 2026 | 07:33 WIB

Direktur Utama KB Bank: Corporate Banking Jadi Mesin Pertumbuhan Utama

Kunardy Darma Lie, Direktur Utama KB Bank, mengandalkan disiplin risiko dan kecepatan eksekusi sebagai kunci transformasi. 

INDEKS BERITA

Terpopuler