Cemas Hubungan Dagang AS-China, Kurs Rupiah Hari Ini Melemah Ke Rp 14.173

Rabu, 09 Oktober 2019 | 22:54 WIB
Cemas Hubungan Dagang AS-China, Kurs Rupiah Hari Ini Melemah Ke  Rp 14.173
[ILUSTRASI. Karyawan penukaran mata uang asing menunjukan dollar Amerika Serikat di Masayu Agung, Jakarta, Rabu (5/9).]
Reporter: Danielisa Putriadita, Yasmine Maghfira | Editor: S.S. Kurniawan

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kurs rupiah hari ini (8/10) belum bisa lepas dari bayang-bayang pelemahan. Hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan China yang kembali memanas membuat rupiah melemah tipis.

Mengutip Bloomberg, kurs spot rupiah terkoreksi tipis 0,08% ke level Rp 14.173 per dolar AS. Sedang di kurs tengah Bank Indonesia (BI), rupiah melemah 0,08% menjadi Rp 14.182 per dolar AS.

Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengatakan, pelemahan rupiah hari ini terjadi akibat sentimen negatif dari global. Khususnya, perang dagang AS-China yang memanas lagi.

Baca Juga: Hubungan China-AS Memburuk, Kurs Rupiah Hari Ini Melemah Tipis

Hubungan keduanya memburuk setelah AS memasukkan 28 perusahaan komponen teknologi China dalam daftar hitam perdagangan. Negeri uak Sam menuduh perusahaan itu terlibat pelanggaran HAM di Xinjiang, China.

Terlebih, menjelang perundingan kedua negara pada Kamis (11/10), AS juga memberlakukan pembatasan visa kepada pejabat China. "Keputusan AS tersebut menjadi negatif di global. Sehingga, Dow Jones melemah lebih dari 1% dan berdampak terhadap rupiah," ujar David kepada Kontan.co.id, Rabu (9/10).

Senada, Analis Monex Investindo Futures Ahmad Yudiawan bilang, rupiah melemah karena pelaku pasar cenderung khawatir pada perkembangan hubungan dagang AS-China. Sebab, menjelang perundingan, kedua negara saling balas membatasi visa kunjungan.

Baca Juga: Rupiah tertekan kenaikan tensi perang dagang jelang negosiasi

"Jadi, aset berisiko seperti rupiah sedang dihindari dulu," kata Yudi kepada Kontan.co.id. Selain itu, rupiah tidak memiliki tenaga untuk menguat karena masih terbebani cadangan devisa September yang anjlok US$ 2,1 miliar.

Proyeksi rupiah

Pelaku pasar juga cenderung wait and see menanti hasil kinerja Presiden Joko Widodo di periode pertama pemerintahannya dan rencana di periode kedua.

Kemudian, pelaku pasar juga menanti hasil notula rapat bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Jika The Fed cenderung dovish, maka rupiah bisa menguat. Kalau hawkish, rupiah masih bisa tertekan.

Namun, selama hasil perundingan dagang AS-China belum keluar, Yudi memproyeksikan, rupiah akan cenderung bergerak melemah. Untuk Kamis (10/10), ia memperkirakan, rupiah di Rp 14.110-Rp 14.240 per dolar AS.

Baca Juga: Hubungan AS-China memanas jelang perundingan, rupiah melemah

Sedang David memproyeksikan, rupiah berpeluang bergerak tipis cenderung sideways. Kamis (10/10), sentimen akan minim dan hanya ada data China terkait kebijakan moneter.

Oleh karena itu, proyeksi David, rupiah masih melanjutkan pelemahan pada perdagangan besok, terutama jika bursa AS masih melemah juga. Rupiah melemah di rentang Rp 14.150-Rp 14.200 per dolar AS.

Bagikan

Berita Terbaru

Surplus Neraca Dagang Indonesia Anjlok 68,4% hingga September 2026, Ini Penyebabnya
| Senin, 02 November 2026 | 18:18 WIB

Surplus Neraca Dagang Indonesia Anjlok 68,4% hingga September 2026, Ini Penyebabnya

BPS mencatat surplus perdagangan hanya US$ 10,61 miliar pada Januari-September 2026, jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama 2025.

Bukan Asal Terdesak, Timbang Sebelum Kuras Dana Darurat
| Senin, 02 November 2026 | 17:35 WIB

Bukan Asal Terdesak, Timbang Sebelum Kuras Dana Darurat

Simak apa saja kondisi yang membuat dana darurat layak terpakai, menurut pandangan perencana keuangan.

Inflasi Oktober 2026 Tembus 3,23%, Harga Pangan & Transportasi Jadi Penyumbang Utama
| Senin, 02 November 2026 | 16:56 WIB

Inflasi Oktober 2026 Tembus 3,23%, Harga Pangan & Transportasi Jadi Penyumbang Utama

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia sebesar 3,23% secara tahunan atau year-on-year (yoy) pada Oktober 2026.

Utang SBN Bertambah Rp 575 Triliun, Yield Tembus 7,7%, Beban Bunga APBN Membayangi
| Senin, 02 November 2026 | 16:37 WIB

Utang SBN Bertambah Rp 575 Triliun, Yield Tembus 7,7%, Beban Bunga APBN Membayangi

Posisi surat utang pemerintah meningkat Rp 575,16 triliun dalam periode Desember 2025 hingga September 2026.

Klaim Investasi di Indonesia Masih Tumbuh, Tapi Kepercayaan Investor Kian Luruh
| Senin, 02 November 2026 | 11:00 WIB

Klaim Investasi di Indonesia Masih Tumbuh, Tapi Kepercayaan Investor Kian Luruh

Realisasi investasi pada periode Oktober 2024–September 2026 dominan ditopang oleh eksekusi proyek-proyek warisan periode lalu.

Harga Emas dan Perak Kompak Anjlok, Prospek hingga Akhir 2026 Masih Diwarnai Tekanan
| Senin, 02 November 2026 | 08:19 WIB

Harga Emas dan Perak Kompak Anjlok, Prospek hingga Akhir 2026 Masih Diwarnai Tekanan

Peluang penguatan harga perak tetap terbuka apabila kebijakan moneter AS menjadi lebih akomodatif dan permintaan industri kembali meningkat.

Kinerja Fundamental Ultrajaya Solid, Prospek Jangka Menengah ULTJ Kian Menarik
| Senin, 02 November 2026 | 07:51 WIB

Kinerja Fundamental Ultrajaya Solid, Prospek Jangka Menengah ULTJ Kian Menarik

Rencana akuisisi Frisian Flag Indonesia juga berpotensi memperkuat posisi bisnis PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ).

Antara Ancaman MSCI dan Koreksi di IHSG
| Senin, 02 November 2026 | 07:09 WIB

Antara Ancaman MSCI dan Koreksi di IHSG

Peristiwa ini membuktikan OJK independen dan menjatuhkan sanksi tanpa pandang bulu, sekalipun sekuritas tersebut dimiliki  tokoh penting,

Kendali Produksi Nikel dan Batubara Masih Ketat dalam RKAB 2027
| Senin, 02 November 2026 | 07:06 WIB

Kendali Produksi Nikel dan Batubara Masih Ketat dalam RKAB 2027

Pemerintah memberikan sinyal akan melanjutkan pengetatan kontrol kuota produksi di RKAB 2027, khususnya untuk komoditas bijih nikel dan batubara

Tak Sekedar Memantau Kendaraan
| Senin, 02 November 2026 | 07:06 WIB

Tak Sekedar Memantau Kendaraan

Fleet management system (FMS) membantu berbagai industri mendongkrak efisiensi, menekan biaya, meningkatkan keselamatan.

INDEKS BERITA

Terpopuler