Cerminkan Dampak Lockdown, Indeks Aktivitas Pabrik di China per April Terbenam

Sabtu, 30 April 2022 | 14:34 WIB
Cerminkan Dampak Lockdown, Indeks Aktivitas Pabrik di China per April Terbenam
[ILUSTRASI. Warga berbaris untuk tes asam nukleat di sebuah area pemukiman, saat tahap kedua penguncian dua tahap untuk membatasi penyebaran penyakit virus corona (COVID-19) di Shanghai, China, Senin (4/4/2022). REUTERS/Aly Song]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - BEIJING. Lockdown Covid-19 yang meluas di Tiongkok menghentikan kegiatan produksi dan mengganggu rantai pasokan. Prospek suram itu tercermin dari indeks aktivitas pabrik di China yang mengalami kontraksi pada kecepatan tinggi selama bulan April. Kecemasan terhadap perlambatan ekonomi yang tajam selama kuartal kedua, semakin meningkat.

Indeks Manajer Pembelian (PMI) sektor manufaktur turun menjadi 47,4 pada April dari 49,5 pada Maret. Ini merupakan kontraksi bulan kedua berturut-turut yang dicatat Biro Statistik Nasional. Angka yang diumumkan pada Sabtu ini merupakan yang terendah sejak Februari 2020.

Jajak pendapat versi Reuters memperkirakan PMI China turun ke 48, jauh di bawah tanda 50 poin yang memisahkan antara area kontraksi dengan zona pertumbuhan bulanan.

Sinyal PMI yang dikombinasikan dengan penurunan yang lebih tajam di sektor jasa memberi gambaran dashyatnya dampak pembatasan Covid terhadap sektor ekonomi China. Shanghai yang merupakan pusat finansial dan komersial China telah memberlakukan lockdown tiga pekan lebih.

Baca Juga: Bayar Obligasinya dalam Dolar, Rusia Terhindar Lagi dari Jerat Default

Aktivitas pabrik menyusut pada laju paling curam dalam 26 bulan, demikian survei Caixin terhadap bisnis swasta. Indeks pesanan ekspor baru turun ke level terendah sejak Juni 2020, menunjukkan pelemahan di salah satu dari beberapa titik terang dalam perekonomian.

Dalam sebuah pernyataan, biro statistik mengaitkan gangguan Covid sebagai penurunan signifikan dalam permintaan dan pasokan di sektor manufaktur. "Beberapa perusahaan mengalami kesulitan pasokan bahan baku dan komponen utama, penjualan produk jadi dan persediaan yang meningkat," kata NBS.

Kelesuan bisa berkurang dalam waktu dekat, sejalan dengan membaiknya situasi pandemi di berbagai tempat. Puluhan kota besar di China diyakini mengalami lockdown, baik secara penuh maupun sebagian.

Dengan ratusan juta orang terjebak di rumah, konsumsi mendapat pukulan berat, mendorong lebih banyak analis untuk memangkas perkiraan pertumbuhan untuk ekonomi terbesar kedua di dunia itu. Sub-indeks produksi turun menjadi 44,4 pada April dari 49,5 pada bulan sebelumnya, sementara pesanan baru turun menjadi 42,6 dari 48,8 pada Maret, menurut NBS.

Baca Juga: Tips Investasi Defensif Saat Pasar Global dalam Ketidakpastian

Pembuat mobil listrik Tesla telah menandai penurunan sementara dalam produksi karena pembatasan China setelah mengatakan penutupan pekan lalu telah menelan biaya sekitar satu bulan volume pembangunan di pabriknya di Shanghai.

Beberapa analis bahkan memperingatkan meningkatnya risiko resesi, dengan mengatakan pembuat kebijakan harus memberikan lebih banyak stimulus untuk mencapai target pertumbuhan resmi 2022 sekitar 5,5%.

Terlepas dari pembatasan COVID dan peningkatan risiko dari Perang Ukraina, konsumsi yang terus melemah dan penurunan berkepanjangan di pasar properti juga membebani pertumbuhan, kata para analis.

Pihak berwenang telah menjanjikan lebih banyak bantuan untuk menopang kepercayaan diri dan mencegah kehilangan pekerjaan lebih lanjut di tahun yang sensitif secara politik.

China akan meningkatkan dukungan kebijakan, Politbiro, sebuah badan pembuat keputusan utama dari Partai Komunis yang berkuasa mengatakan, memberikan sedikit keceriaan kepada pasar saham yang babak belur.

Namun, para analis mengatakan tugas mereka akan menjadi lebih sulit kecuali China melonggarkan kebijakan nol-COVID-nya, yang telah menunjukkan beberapa tanda untuk dilakukan.

"Meskipun pesan (resmi) ini positif, kuncinya adalah tentang kebijakan spesifik dan implementasinya," Zhiwei Zhang, presiden dan kepala ekonom Pinpoint Asset Management mengatakan dalam catatan klien pada hari Jumat.

Selain itu, analis mengatakan alat kebijakan tradisional, seperti penurunan suku bunga dan suntikan likuiditas yang lebih besar, mungkin memiliki dampak terbatas jika penguncian melumpuhkan aktivitas.

Baca Juga: Laba Naik Hampir Empat Kali Lipat, Chevron Akan Meningkatkan Investasi di Gas Alam

Presiden Xi Jinping memimpin pertemuan para pemimpin puncak minggu ini yang mengumumkan dorongan infrastruktur besar untuk meningkatkan permintaan, memperkuat preferensi Beijing untuk proyek-proyek besar untuk memacu pertumbuhan.

Tetapi proyek semacam itu membutuhkan waktu, dan Beijing terlihat waspada terhadap program stimulus besar lainnya seperti pengeluarannya sebesar 4 triliun yuan ($605,82 miliar) selama krisis keuangan global pada 2008 dan 2009 yang menciptakan tumpukan utang.

Perubahan mendadak ke pelonggaran yang lebih agresif juga dapat memacu lebih banyak arus keluar modal, menambah sakit kepala bagi pembuat kebijakan.

Mata uang yuan China turun lebih dari 4% pada April, penurunan bulanan terbesar dalam 28 tahun. Sementara bursa saham di China merupakan bursa dengan kinerja terburuk kedua, setelah Rusia yang terkepung sanksi dari Barat. 

Baca Juga: Sinyal Waspada, Ekonomi AS Terkontraksi 1,4% di Kuartal I 2022

Produk domestik bruto (PDB) China tumbuh 4,8% pada kuartal pertama dari tahun sebelumnya, mengalahkan ekspektasi analis untuk kenaikan 4,4%. Tetapi data Maret melemah tajam, dengan kontraksi dalam penjualan ritel dan angka pengangguran naik ke tingkat tertinggi sejak Mei 2020.

Sub-indeks aktivitas konstruksi, pendorong ekonomi utama yang diharapkan Beijing akan menopang pertumbuhan tahun ini, berada di 52,7 pada April, turun dari 58,1 pada Maret.

Pembuat peralatan konstruksi Caterpillar Inc memperingatkan pada hari Kamis bahwa permintaan ekskavator di China, salah satu pasar terbesarnya, dapat turun di bawah tingkat pra-pandemi pada tahun 2022. Penguncian juga telah merugikan penjualan perusahaan seperti General Electric Co dan 3M Co.

Seorang bankir di bank yang masuk dalam kelompok 10 besar di China, menyatakan dampak paling besar terlihat di sektor kecil hingga menengah. "Debitur berskala kecil, terutama di bidang manufaktur, benar-benar menderita kali ini. Karena mereka lagi tidak memiliki cadangan uang tunai," ujar dia.

Bagikan

Berita Terbaru

Melihat Arah Akuisisi dan Ekspansi Perusahaan Sawit Pasca Bencana Sumatra
| Rabu, 21 Januari 2026 | 18:07 WIB

Melihat Arah Akuisisi dan Ekspansi Perusahaan Sawit Pasca Bencana Sumatra

Lanskap industri sawit Indonesia mengalami perubahan struktural yang signifikan, terutama pasca rangkaian bencana banjir di Sumatra.

Perusahaan Nikel Dengan Skor ESG Tinggi Jajaki Pendanaan Bunga Rendah Lewat SLL
| Rabu, 21 Januari 2026 | 17:46 WIB

Perusahaan Nikel Dengan Skor ESG Tinggi Jajaki Pendanaan Bunga Rendah Lewat SLL

Pendanaan industri nikel melalui pinjaman bank konvensional semakin sulit karena adanya berbagai sentimen yang mendera industri ini.

BI Tahan Suku Bunga BI Rate 4,75%, Fokus Jaga Rupiah di Tengah Ketidakpastian Global
| Rabu, 21 Januari 2026 | 15:48 WIB

BI Tahan Suku Bunga BI Rate 4,75%, Fokus Jaga Rupiah di Tengah Ketidakpastian Global

BI Rate tetap 4,75% pada hari ini (21/1) di saat nilai tukar rupiah mencapai level paling lemah sepanjang sejarah.

Rebound PANI & CBDK Pasca Rights Issue, Prospek 2026 Cukup Menjanjikan
| Rabu, 21 Januari 2026 | 11:00 WIB

Rebound PANI & CBDK Pasca Rights Issue, Prospek 2026 Cukup Menjanjikan

Kembalinya minat investor terhadap saham PANI dan CBDK mencerminkan optimisme pasar terhadap prospek jangka menengah.

Prospek Emas Dongkrak Laba & Saham ANTM 2026
| Rabu, 21 Januari 2026 | 10:00 WIB

Prospek Emas Dongkrak Laba & Saham ANTM 2026

Kenaikan harga emas berpotensi langsung mengerek pendapatan dan margin segmen emas yang menjadi salah satu kontributor utama laba ANTM.

Mengawasi Manipulasi Bukan Menghukum Kenaikan
| Rabu, 21 Januari 2026 | 09:14 WIB

Mengawasi Manipulasi Bukan Menghukum Kenaikan

Istilah saham gorengan bermasalah karena bukan terminologi baku di pasar modal. Istilah lebih tepat dan dikenal luas adalah manipulasi pasar. 

Rupiah Dekati Rp 17.000, Potensi Rugi Hantui Pasar Saham, Cek Proyeksi IHSG Hari Ini
| Rabu, 21 Januari 2026 | 08:41 WIB

Rupiah Dekati Rp 17.000, Potensi Rugi Hantui Pasar Saham, Cek Proyeksi IHSG Hari Ini

Nilai tukar rupiah semakin mendekati Rp 17.000. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap stabilitas makro dan potensi aliran keluar dana asing.

Via Dana Rights Issue IRSX Masuk Bisnis Hiburan, Peluang Besar dengan Risiko Eksekusi
| Rabu, 21 Januari 2026 | 08:35 WIB

Via Dana Rights Issue IRSX Masuk Bisnis Hiburan, Peluang Besar dengan Risiko Eksekusi

Kinerja emiten lain yang lebih dulu bermain di bisnis hiburan pada tahun 2025 tidak selalu konsisten naik.

Fundamental Sektor Tambang Mineral Diklaim Oke, Saham MDKA bisa Terbang ke 3.800?
| Rabu, 21 Januari 2026 | 08:23 WIB

Fundamental Sektor Tambang Mineral Diklaim Oke, Saham MDKA bisa Terbang ke 3.800?

Reli harga saham nikel belakangan ini lebih didorong oleh ekspektasi pasar dan posisi spekulatif ketimbang penguatan fundamental murni.

Euforia Meikarta Jadi Rusun Subsidi Meredup, Saham LPCK Longsor Usai Sempat Melejit
| Rabu, 21 Januari 2026 | 08:06 WIB

Euforia Meikarta Jadi Rusun Subsidi Meredup, Saham LPCK Longsor Usai Sempat Melejit

Fundamental PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK) mulai membaik, terlepas dari isu Meikarta yang bakal diubah jadi rusun bersubsidi.

INDEKS BERITA

Terpopuler