Champion Pacific (IGAR) Intip Peluang di Industri Makanan

Sabtu, 02 Maret 2019 | 08:45 WIB
Champion Pacific (IGAR) Intip Peluang di Industri Makanan
[]
Reporter: Eldo Christoffel Rafael | Editor: Tedy Gumilar

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Produsen kemasan PT Champion Pacific Indonesia Tbk (IGAR) menargetkan pertumbuhan penjualan yang lebih besar di tahun ini ketimbang capaian tahun lalu yang hanya 2%. Emiten tersebut membidik pertumbuhan sampai 9%.

Manajemen IGAR optimistis, permintaan bisnis kemasan tahun ini masih moncer apalagi mendekati lebaran. Makanya, di tahun ini, perusahaan akan mendiversifikasikan produknya ke kemasan makanan.

Direktur Utama IGAR, Antonius Muhartoyo mengatakan, pertumbuhan kinerja penjualan yang tumbuh tipis mencapai 2% pada tahun lalu itu karena perusahaan hanya fokus pada kemasan farmasi.

Seperti diketahui, tahun lalu kinerja perusahaan farmasi tidak begitu baik lantaran terimbas merosotnya nilai tukar rupiah atas dollar Amerika Serikat (AS). Bahkan, perusahaan farmasi juga tak menaikkan harga jual produk. Alhasil industri kemasan farmasi tak bisa serta merta menaikkan harga jualnya.

Antonius bilang, perusahaan akan mencoba masuk ke kemasan makanan. "Secara margin keuntungan memang kecil, tapi volume permintaan lebih besar apalagi saat dekat lebaran. Kami optimistis bisa menaikkan penjualan sampai 9%," kata Antonius kepada KONTAN, Jumat (1/3).

Meski membuat strategi diversifikasi bisnis, namun perusahaan ini tidak akan menambah mesin produksi. Soalnya, IGAR sudah mempunyai mesin pengolahan kemasan makanan yang masih belum difungsikan.

Yang terbaru, IGAR membeli mesin produksi dengan kemampuan pencetakan 10 varian warna. Nilai pembelian mesin saja sekitar Rp 34 miliar, dan telah dilakukan tahap percobaan produksi.

Dengan mesin baru ini, perseroan berharap dapat menjajal pasar ekspor. "Kami akan coba ekspor ke negara-negara ASEAN. Jenis packaging-nya tetap di segmen obat," terangnya. Namun sayang ia enggan membeberkan berapa besaran porsi ekspor tersebut.

Sementara untuk belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini, Antonius bilang, perusahaannya tidak menyiapkan dikarenakan belum ada rencana ekspansi apapun. Adapun tahun lalu capex sebesar Rp 60 miliar sudah dikeluarkan untuk pembelian mesin-mesin baru. "Tahun ini hanya operational expenditure saja untuk peremajaan mesin tapi jumlah tak besar," tambahnya.

Sampai kuartal tiga tahun 2018, segmen farmasi masih menjadi tulang punggung pendapatan IGAR dengan porsi mencapai 87% atau senilai Rp 519 miliar dari total revenue IGAR yang mencapai Rp 594 miliar. Sedangkan sisanya, berasal dari bisnis atau segmen non-farmasi sebesar Rp 75 miliar.

Bagikan

Berita Terbaru

Ada Euforia di Saham Energi, Awas Harga Masih Rentan
| Selasa, 03 Maret 2026 | 22:25 WIB

Ada Euforia di Saham Energi, Awas Harga Masih Rentan

Perhatikan juga volume transaksi dan akumulasi-distribusi asing. Hindari masuk ketika harga sudah melonjak tinggi tanpa dukungan volume yang kuat.

Danantara dan INA Masuk ke Proyek TPIA, Bagaimana Imbas ke Sahamnya?
| Selasa, 03 Maret 2026 | 21:55 WIB

Danantara dan INA Masuk ke Proyek TPIA, Bagaimana Imbas ke Sahamnya?

Volatilitas harga energi saat ini masih tinggi dan dapat mempengaruhi kinerja saham TPIA dalam jangka pendek.

Gerakan Reformasi Pasar Modal dan Kondisi Geopolitik Menyurutkan Aksi IPO Tahun ini
| Selasa, 03 Maret 2026 | 19:59 WIB

Gerakan Reformasi Pasar Modal dan Kondisi Geopolitik Menyurutkan Aksi IPO Tahun ini

Kondisi pasar modal Indonesia di kuartal pertama tahun ini tidak menunjukkan semarak layaknya tahun lalu yang ramai hajatan IPO.

Perang Iran Vs AS-Israel Memanas! Saatnya Serok Saham SOCI, BULL, GTSI dan HUMI?
| Selasa, 03 Maret 2026 | 09:25 WIB

Perang Iran Vs AS-Israel Memanas! Saatnya Serok Saham SOCI, BULL, GTSI dan HUMI?

Premi risiko perang (war risk premium) untuk armada kapal yang nekat melintasi Teluk Persia dan Selat Hormuz terkerek naik hingga 50%.

Ada Lebaran dan Perang, Waspada Inflasi Tinggi
| Selasa, 03 Maret 2026 | 08:00 WIB

Ada Lebaran dan Perang, Waspada Inflasi Tinggi

Inflasi Februari 2026 melonjak 4,76%, tertinggi 3 tahun terakhir. Tarif listrik dan pangan jadi pemicu utama yang menguras dompet Anda. 

Proyek Gas Mako Resmi Masuk Tahap Investasi
| Selasa, 03 Maret 2026 | 06:30 WIB

Proyek Gas Mako Resmi Masuk Tahap Investasi

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengungkapkan, Proyek Lapangan Gas Mako memasuki fase utama pasca-FID

Tak Ada Rencana Pembatasan Ritel Modern
| Selasa, 03 Maret 2026 | 06:27 WIB

Tak Ada Rencana Pembatasan Ritel Modern

Kemendag memastikan tidak ada rencana pembatasan lanjutan untuk ritel modern setelah peluncuran Kopdes Merah Putih.

Pasokan Impor Bijih Nikel Bisa Tersendat
| Selasa, 03 Maret 2026 | 06:26 WIB

Pasokan Impor Bijih Nikel Bisa Tersendat

Kekurangan pasokan dipenuhi dari impor seperti dari Filipina. "Impor tahun lalu 15 juta ton, mungkin tahun ini bisa lebih dari itu," sebut Arif.

Potensi Tekanan Ganda dari Beban Energi
| Selasa, 03 Maret 2026 | 06:22 WIB

Potensi Tekanan Ganda dari Beban Energi

Penutupan Selat Hormuz bisa memanaskan harga minyak mentah di pasar global dan berdampak pada beban energi

Risiko Bisnis Pelayaran Meningkat
| Selasa, 03 Maret 2026 | 06:13 WIB

Risiko Bisnis Pelayaran Meningkat

Sejumlah perusahaan asuransi telah menarik perlindungan risiko perang (war risk insurance) untuk kapal yang melintas di kawasan tersebut.

INDEKS BERITA

Terpopuler