Dwi Guna Laksana (DWGL) Bidik Kontrak Pasokan Batubara Bagi PLTU Cilacap & Jawa 7

Rabu, 10 Juli 2019 | 06:20 WIB
Dwi Guna Laksana (DWGL) Bidik Kontrak Pasokan Batubara Bagi PLTU Cilacap & Jawa 7
[]
Reporter: Amalia Fitri, Yasmine Maghfira | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Dwi Guna Laksana Tbk sedang menjajaki tender pasokan batubara ke pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Cilacap dan PLTU Jawa 7 milik PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) alias PLN. Masing-masing proyek setrum tersebut membutuhkan batubara sebanyak 1 juta-2 juta ton per tahun.

PLTU Cilacap berkapasitas 1.000 megawatt (mw) dan merupakan ekspansi dari proyek sebelumnya. Sementara PLTU Jawa 7 berkapasitas 2x1.000 mw dan terbagi dalam dua unit dengan daya listrik sama besar. PLN menargetkan keduanya masuk tahap commercial operation date (COD) atau uji operasional secara komersial tahun ini.

Adapun PLN dan anak usahanya yakni PT PLN Batubara, merupakan pelanggan terbesar Dwi Guna. Selama kuartal I-2019 misalnya, transaksi PLN dan PLN Batubara bernilai Rp 381,31 miliar atau setara dengan 89,55% terhadap total pendapatan mereka.

Mengintip materi paparan publik Juli 2019, Dwi Guna menjual batubara ke 10 PLTU melalui PT Sinergi Laksana Bara Mas. Kesepuluh PLTU itu meliputi Tanjung Awar Awar (Jawa Timur), Paiton Baru (Jawa Timur), Pacitan (Jawa Timur), Endog (Nusa Tenggara Barat), Ropa (Nusa Tenggara Timur) dan Ternate (Maluku Utara). Empat PLTU lain yakni Manado (Sulawesi Utara), Kendari (Sulawesi Tenggara), Barru (Sulawesi Selatan), dan Pulang Pisau (Kalimantan Tengah).

Tahun ini Dwi Guna sudah menetapkan target penjualan 3,5 juta ton batubara. Biasanya musim dingin akan meningkatkan permintaan batubara pada kuartal IV. "Banyak orang memerlukan batubara untuk menghangatkan tubuh," kata Panca Budi Idaman Tan Hendra, Direktur PT Dwi Guna Laksana Tbk, usai rapat umum pemegang saham (RUPS), Selasa (9/7).

Dari Januari–Juni 2019, Dwi Guna sudah menjual 1,3 juta ton batubara. Artinya, perusahaan berkode saham DWGL di Bursa Efek Indonesia (BEI) tersebut masih harus mengejar penjualan 2,2 juta ton pada semester II.

Kalau seluruh target penjualan 2019 terpenuhi, Dwi Guna memperkirakan perolehan pendapatan Rp 2,3 triliun. Sebagai perbandingan, pendapatannya tahun lalu Rp 1,44 triliun. "Kami juga optimistis bisa menutup kerugian tahun ini," kata Hendra.

Dwi Guna menanggung rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau rugi bersih paling tidak sejak 2016 hingga kuartal I-2019. Dalam rentang periode itu, rugi bersih terbesar terjadi pada tahun 2017 yakni Rp 850,89 miliar.

Tahun ini, Dwi Guna cuma menyediakan dana belanja modal Rp 1 miliar. Mereka memanfaatkannya untuk membangun fasilitas penunjang pelabuhan.

Haluan bisnis masih sama

Sejak April 2019, pengendali PT Dwi Guna Laksana Tbk adalah perusahaan investasi asal Singapura yang bernama Hawthorn-Capital Investment Pte Ltd. Namun hingga kini, belum ada tanda-tanda perubahan bisnis Dwi Guna.

Operasional Dwi Guna berjalan seperti biasa. "Kami pun masih menunggu perintah dari induk tapi secara detail, belum ada perubahan," ujar Herman Fasikhin, Direktur Utama PT Dwi Guna Laksana Tbk, Selasa (9/7).

Sebelumnya PT Energi Batubara Indonesia melepas 51,9% kepemilikan saham atas Dwi Guna kepada Hawthorn-Capital senilai Rp 426,16 miliar. Duit tersebut untuk melunasi utang PT Sinarmas Multifinance.

Sesuai ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pada 21 Mei20 Juni 2019, Hawthorn-Capital menggelar tender wajib atas 48,1% saham dengan harga penawaran Rp 95 per saham. Tanggal pembayaran pada 1 Juli 2019.

Bagikan

Berita Terbaru

Bantuan Subsidi Upah Diproyeksi Menjadi Katalis Pendorong Kinerja Sektor Consumer
| Kamis, 01 Oktober 2026 | 17:47 WIB

Bantuan Subsidi Upah Diproyeksi Menjadi Katalis Pendorong Kinerja Sektor Consumer

Dampak bantuan subsidi upah diperkirakan moderat dan tidak berlangsung merata di seluruh subsektor konsumer.

Rights Issue GIAA 124,35 Miliar Saham, Ini Prospek dan Risiko Saham Garuda Indonesia
| Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:51 WIB

Rights Issue GIAA 124,35 Miliar Saham, Ini Prospek dan Risiko Saham Garuda Indonesia

Dari sekitar 550 pesawat yang masih terdaftar untuk beroperasi di Indonesia, hanya 375 pesawat yang benar-benar diterbangkan.

Inflasi September 2026 Naik Jadi 3,28%, Harga Pangan dan Emas Jadi Pendorong
| Kamis, 01 Oktober 2026 | 14:49 WIB

Inflasi September 2026 Naik Jadi 3,28%, Harga Pangan dan Emas Jadi Pendorong

BPS mencatat inflasi berdasarkan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 3,28% secara tahunan atau year on year (yoy) pada September 2026.

Impor Anjlok 11,63%, Surplus Neraca Dagang Tembus US$ 3,55 Miliar pada Agustus 2026
| Kamis, 01 Oktober 2026 | 14:24 WIB

Impor Anjlok 11,63%, Surplus Neraca Dagang Tembus US$ 3,55 Miliar pada Agustus 2026

Neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus US$ 3,55 miliar pada Agustus 2026, melonjak dibandingkan surplus US$ 121,9 juta pada Juli 2026.

RKAB 2026 Diproyeksi Capai 720 Juta Ton, Jadi Katalis Positif Bagi Sektor Batubara
| Kamis, 01 Oktober 2026 | 09:29 WIB

RKAB 2026 Diproyeksi Capai 720 Juta Ton, Jadi Katalis Positif Bagi Sektor Batubara

Keputusan China mengimpor batubara dari Amerika Serikat (AS) dinilai tidak akan mengganggu pangsa pasar batubara Indonesia.

Dividen Interim ASGR dan UNTR Jadi Sentimen, Ini yang Perlu Dicermati Investor
| Kamis, 01 Oktober 2026 | 08:43 WIB

Dividen Interim ASGR dan UNTR Jadi Sentimen, Ini yang Perlu Dicermati Investor

Konsistensi membagikan dividen merupakan sinyal tentang prioritas manajemen, kesehatan arus kas, dan arah prospek masing-masing emiten. 

GEMS Tebar Dividen Interim Tahun 2026 Sebesar US$ 200 Juta
| Kamis, 01 Oktober 2026 | 08:35 WIB

GEMS Tebar Dividen Interim Tahun 2026 Sebesar US$ 200 Juta

PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) akan membagikan dividen interim tahun buku 2026 sebesar US$200 juta kepada pemegang saham.

TOWR Siap Eksekusi Buyback Saham Senilai Rp 500 Miliar
| Kamis, 01 Oktober 2026 | 08:27 WIB

TOWR Siap Eksekusi Buyback Saham Senilai Rp 500 Miliar

Buyback maksimal emiten menara telekomunikasi itu sekitar 1,18 miliar saham. Ini setara 2% dari modal ditempatkan dan disetor TOWR.​

AALI Membagikan Dividen Interim Rp 233 Per Saham
| Kamis, 01 Oktober 2026 | 08:19 WIB

AALI Membagikan Dividen Interim Rp 233 Per Saham

PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) mengumumkan pembagian dividen interim tahun buku 2026, ​dengan nilai total sebesar Rp 449,02 miliar.

Gaet Kredit Rp 6 Triliun dari BBRI dan BMRI, Prospek PTBA Semakin Cerah
| Kamis, 01 Oktober 2026 | 08:10 WIB

Gaet Kredit Rp 6 Triliun dari BBRI dan BMRI, Prospek PTBA Semakin Cerah

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menarik fasilitas pembiayaan Rp 6 triliun dari perbankan untuk modal kerja.

INDEKS BERITA

Terpopuler