Efek Pembukaan Keran Ekspor, Harga CPO Mulai Menurun

Senin, 27 Juni 2022 | 04:20 WIB
Efek Pembukaan Keran Ekspor, Harga CPO Mulai Menurun
[]
Reporter: Nur Qolbi | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Memasuki akhir Juni 2022 harga jual minyak sawit mentah alias crude palm oil (CPO) merosot. Berdasarkan data Bloomberg, harga CPO kontrak pengiriman September 2022 di RM 4.664 per ton, Jumat (24/6).

Harga tersebut turun 16,94% dibanding harga pada akhir pekan sebelumnya yang sebesar RM 5.454 per ton. Bahkan, dibanding akhir Mei 2022, harga CPO telah turun 23,94%. Penurunan itu menyebabkan lonjakan harga CPO sepanjang tahun terpangkas menjadi 15,3%. Padahal, sebelumnya harga CPO bisa naik 61,16% sepanjang Januari-April 2022. 

Analis BRI Danareksa Sekuritas Andreas Kenny mengatakan, penurunan harga CPO tersebut terjadi karena membanjirnya pasokan akibat dibukanya keran ekspor CPO. Pemerintah juga menerapkan kebijakan flush out alias percepatan penyaluran ekspor sehingga eksportir yang tidak tergabung dalam program sistem informasi minyak goreng curah (SIMIRAH) bisa melakukan ekspor.

Baca Juga: Dharma Satya Nusantara (SDNG) Serap Capex Sekitar Rp 210 Miliar di Kuartal I-2022

Sentimen pemberat bagi harga CPO juga berasal dari kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi resesi global di tengah inflasi tetap tinggi.Meskipun begitu, untuk semester II-2022, Andreas melihat ada peluang bagi harga CPO untuk naik kembali.

Pendorong kenaikan ini terkait dengan adanya fenomena La Nina ketiga di Amerika Selatan dan Amerika Utara. Fenomena ini berpotensi menurunkan produksi CPO karena efek kekeringan. "Perkiraan harga CPO di paruh kedua 2022 secara rata-rata berada di RM 6.000 per ton," kata Andreas, Senin (13/6).

Ekspor CPO

Analis Maybank Investment Bank Ong Chee Ting dalam riset 14 Juni 2022 menyampaikan, pencabutan larangan ekspor Indonesia memberikan tekanan pada harga CPO. Apalagi, tiga minggu setelah pemerintah mencabut larangan CPO pada 23 Mei 2022, ekspor belum kembali ke tingkat normal sehingga mengakibatkan penumpukan stok.

Oleh sebab itu, pemerintah Indonesia memberikan izin ekspor khusus atas 1,16 juta ton CPO (hingga 31 Juli) kepada 41 perusahaan di bawah program flush out. Progam ini mengharuskan perusahaan tersebut membayar biaya khusus sebesar US$ 200 per ton di luar pajak ekspor.

Baca Juga: Mendag Minta Pabrik kelapa Sawit Beli TBS Minimal di Harga Rp 1.600 per Kg

"Seiring dengan hal ini pemerintah Indonesia memungkinkan lebih banyak minyak sawit untuk diekspor, kami memprediksi tekanan harga yang lebih besar pada harga CPO global, terutama di semester II-2022," tutur Ong.

Adapun Analis Mirae Asset Sekuritas Juan Harahap dan Rizkia Darmawan berharap pemerintah mendorong volume ekspor minyak sawit ke depan untuk mengantisipasi kelebihan pasokan domestik. Produksi minyak sawit Indonesia diprediksi mencapai puncaknya pada semester II. Hal ini sesuai dengan target pemerintah untuk menaikkan harga tandan buah segar (TBS) dalam negeri.

Di antara saham dalam coverage-nya, Mirae Asset Sekuritas melihat bahwa PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) menjadi emiten yang paling terdampak kebijakan baru tersebut. Pasalnya, AALI mempunyai porsi ekspor yang signifikan, yakni sekitar 50% dari total penjualan. "Akan tetapi, kami melihat dampak netral terhadap pendapatannya karena semua volume penjualannya diarahkan ke pasar domestik," tulis Juan  dalam riset 20 Juni 2022.

Sementara itu, secara keseluruhan, Mirae Asset Sekuritas mempertahankan sikap overweight untuk sektor perkebunan Indonesia. PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) menjadi saham favoritnya, karena LSIP memiliki tingkat oil extraction rate (OER) lebih tinggi dibandingkan emiten lainnya. Kelebihan lain adalah penjualan LSIP banyak di dalam negeri, memiliki neraca kuat tercermin dari posisi kas.               

Baca Juga: Ekspor Menyusut, Stok CPO pada April 2022 Meningkat

Simak rekomendasi masing-masing emiten CPO berikut: 

Astra Agro Lestari (AALI)
Pencabutan larangan ekspor menjadi kabar menguntungkan bagi AALI sebab hampir sebagian penjualannya diperuntukkan ke pasar ekspor. Saat kebijakan ekspor berubah-ubah pada awal 2022, AALI juga dapat beradaptasi, terlihat dari top line tetap terjaga. Pada kuartal I-2022, pendapatan bersih AALI naik 30,7% yoy menjadi Rp 6,58 triliun. 
Rekomendasi: Buy Target harga: Rp 14.500
Juan Harahap, Mirae Asset Sekuritas

London Sumatra Indonesia (LSIP)
LSIP memiliki tingkat oil extraction rate (OER) lebih tinggi dibandingkan dengan emiten CPO lainnya. LSIP juga tak terdampak dari kebijakan pemerintah yang melarang ekspor. Sebab penjualan LSIP hanya ke pasar domestik. LSIP juga unggul karena mempunyai neraca yang kuat tercermin dari posisi kas bersih.
Rekomendasi: Buy Target harga: Rp 2.110
Yasmin Soulisa, Ciptadana Sekuritas

Dharma Satya Nusantara (DSNG)
DSNG diprediksi mencatatkan kinerja solid sepanjang tahun 2022, didukung peningkatan harga CPO dan permintaan yang lebih tinggi, meski jumlah produksinya lebih rendah. Penjualan DSNG 100% mengalir ke pasar domestik. Strategi efisiensi yang dilakukan DSNG, diyakini berpotensi menumbuhkan margin perusahaan.
Rekomendasi: Buy Target harga: Rp 720
Aqil Triyadi, MNC Sekuritas

Baca Juga: Buy Saham LSIP, Berikut Ulasan dari Analis Ciptadana Sekuritas

Sawit Sumbermas (SSMS)
SSMS sedang mengkaji rencana penambahan kapasitas produksi dengan membangun pabrik baru. Namun, rencana ekspansi ini belum akan direalisasikan pada tahun ini. Saat ini kapasitas pabrik kelapa sawit SSMS sebesar 540 metrik ton (MT) per jam. SSMS akan menambah satu pabrik jika seandainya kapasitas saat ini belum cukup.
Rekomendasi: Buy Target harga: Rp 2.000
Andreas Kenny, BRI Danareksa Sekuritas

Bagikan

Berita Terbaru

Portofolio Direktur Allo Bank Ganda Raharja: Untung dari Diversifikasi Portofolio
| Minggu, 08 Maret 2026 | 04:30 WIB

Portofolio Direktur Allo Bank Ganda Raharja: Untung dari Diversifikasi Portofolio

Direktur Allo Bank Ganda Raharja buka-bukaan strategi investasinya. Ia berhasil alokasikan 30% dana di emas digital. Simak cara lengkapnya

Rupiah Melemah, Konflik Global & Rating Indonesia Ancam Ekonomi
| Minggu, 08 Maret 2026 | 04:00 WIB

Rupiah Melemah, Konflik Global & Rating Indonesia Ancam Ekonomi

Rupiah melemah ke Rp16.925/USD Jumat lalu. Konflik global dan rating Fitch jadi pemicu utama. Simak proyeksi dan dampaknya di sini.

Manis Cuan Bisnis Buah dari Timur Tengah
| Minggu, 08 Maret 2026 | 02:55 WIB

Manis Cuan Bisnis Buah dari Timur Tengah

Tingginya minat masyarakat terhadap kurma membuat bisnis buah khas Timur Tengah ini menjanjikan bagi pelaku usaha.

Banyak Dicari, Bisnis Emas Bank Syariah Kian Mendaki
| Minggu, 08 Maret 2026 | 02:50 WIB

Banyak Dicari, Bisnis Emas Bank Syariah Kian Mendaki

Sebagai aset save haven, pamor emas semakin berkilau di tengah panasnya konflik di Timur Tengah seperti saat ini. 

Ujian Diplomasi BoP
| Minggu, 08 Maret 2026 | 02:35 WIB

Ujian Diplomasi BoP

​Ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga berpotensi memicu volatilitas harga energi dan meningkatkan ketidakpastian ekonomi global. 

Rahasia Bisnis Xurya Menambang Cuan dari Cahaya
| Minggu, 08 Maret 2026 | 02:30 WIB

Rahasia Bisnis Xurya Menambang Cuan dari Cahaya

Meningkatnya kebutuhan energi bersih di sektor industri membuka peluang bisnis besar bagi PT Xurya Daya Indonesia (Xurya).

 
Rekomendasi Larangan Datang Saat Bisnisnya Tumbuh Mekar
| Minggu, 08 Maret 2026 | 02:20 WIB

Rekomendasi Larangan Datang Saat Bisnisnya Tumbuh Mekar

BNN merekomendasikan larangan total vape di Indonesia. Usulan itu mendapat pertentangan karena bisnisnya sudah kadung membesar.

Biaya Operasional Membengkak, Laba Cinema XXI (CNMA) Tergerus di Sepanjang 2025
| Sabtu, 07 Maret 2026 | 09:56 WIB

Biaya Operasional Membengkak, Laba Cinema XXI (CNMA) Tergerus di Sepanjang 2025

Mayoritas pendapatan  PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk (CNMA) berasal dari penjualan tiket sebesar Rp 3,6 triliun. 

Laba Bersih Petrosea (PTRO) Melonjak 197,01% di Sepanjang 2025
| Sabtu, 07 Maret 2026 | 09:48 WIB

Laba Bersih Petrosea (PTRO) Melonjak 197,01% di Sepanjang 2025

Mayoritas pendapatan PTRO pada 2025 berasal dari segmen pertambangan, dengan kontribusi sebesar US$ 441,27 juta.

Disetir Sentimen Perang AS-Iran dan Penurunan Outlook RI, IHSG Anjlok 7,89% Sepekan
| Sabtu, 07 Maret 2026 | 09:44 WIB

Disetir Sentimen Perang AS-Iran dan Penurunan Outlook RI, IHSG Anjlok 7,89% Sepekan

Anjloknya kinerja IHSG sepanjang pekan ini, antara lain, dipicu sentimen konflik AS-Iran dan penurunan outlook Indonesia oleh Fitch Ratings. 

INDEKS BERITA

Terpopuler