Berita

Ekonom Memperkirakan Pangan, Emas dan Pendidikan Sebabkan Inflasi di Agustus

Senin, 02 September 2019 | 08:02 WIB

ILUSTRASI. Harga cabai

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Para ekonom memprediksi indeks harga konsumsi (IHK) pada Agustus 2019 meningkat, baik dalam basis month to month (mom) maupun year-on-year (yoy). Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan data resmi IHK Agustus 2019, Senin (2/9).

Penyebab inflasi antara lain tingginya harga bahan pangan khususnya, cabai. Kenaikan harga emas serta biaya pendidikan juga ikut mendorong laju inflasi bulan Agustus.

Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro memperkirakan inflasi Agustus 2019 sebesar 0,13% (mom), dan bila secara year on year meningkat menjadi sebesar 3,2%. Kondisi ini berbanding terbalik dengan Agustus 2018 terjadi deflasi 0,05%, Agustus 2017 -0,07% dan Agustus 2016 -0,02%.

"Sejumlah bahan pangan turun harga, tapi cabai hingga biaya pendidikan lebih mendorong inflasi. Bahkan bulan Agustus 2019 kemarin menjadi puncak (lonjakan) biaya pendidikan karena tahun akademik baru," terang Andry, Minggu (1/9).

Baca Juga: Turun Sepanjang Agustus, Simak Arah Gerak IHSG di Bulan September premium

Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy juga memprediksi inflasi Agustus 2019 sebesar 0,2%. Bahan pangan jadi pendorong utama inflasi, terutama cabai. Inflasi bahan pangan diprediksi akan sebesar 0,09% (mom). "Kemarau panjang ini membuat produksi berkurang. Sementara bisa dilihat, permintaan cabai juga masih tinggi sehingga timbul ketidakseimbangan," katanya.

Harga rata-rata cabai rawit hijau di pasar tradisional Jakarta pada Agustus sekitar Rp 70.000 per kilogram (kg). Harga tersebut terus naik dibandingkan rata-rata Juli sekitar Rp 60.000 per kg.

Lalu, tren kenaikan harga emas yang berlangsung sejak awal bulan juga mendorong inflasi. Harga logam mulia bersertifikat ANTAM pada 1 Agustus 2019 Rp 702.500 per gram, sedangkan akhir bulan menjadi Rp 763.000 per gram. "Lonjakan harga emas mendorong 1/3 inflasi Agustus," kata Ekonom Bahana Sekuritas Satria Sambijantoro.

Baca Juga: Prediksi Kurs Rupiah: Disetir Negosiasi Dagang AS-China

Ekonom BCA David Sumual memproyeksi inflasi Agustus 2019 sebesar 0,17% (mom) atau bila secara yoy sebesar 3,5%. Ekonom Maybank Luthfi Ridho memproyeksi inflasi Agustus ada di angka 0,22% (mom) atau bila dilihat secara tahunan sebesar 3,6% (yoy).

Tingginya inflasi Agustus harus menjadi perhatian pemerintah. Pasalnya, inflasi berasal dari bahan pangan, sedangkan musim kemarau masih panjang.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi, musim penghujan di Indonesia akan terlambat sekitar 10 sampai 20 hari. BMKG memperkirakan, hujan akan turun pada Oktober 2019 dan November 2019.

 

Reporter: Bidara Pink
Editor: Thomas Hadiwinata

IHSG
6.236,69
0.28%
17,26
LQ45
985,92
0.27%
2,68
USD/IDR
14.100
0,57
EMAS
753.000
0,00%

Baca juga