Ekonomi Indonesia dalam Bayang-Bayang Defisit dan Perang Dagang

Senin, 27 Mei 2019 | 05:38 WIB
Ekonomi Indonesia dalam Bayang-Bayang Defisit dan Perang Dagang
[]
Reporter: Narita Indrastiti | Editor: Narita Indrastiti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Hampir lima tahun menjabat, pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla belum mampu mendongkrak angka pertumbuhan ekonomi dari kisaran 5%. Ini masih jauh dari ambisi Jokowi di awal periode kepemimpinan tahun 2014 silam yang ingin membawa ekonomi tumbuh hingga 7%.

Karena itulah, meski Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan Jokowi dan Ma'ruf Amin sebagai pemenang Pilpres 2019, tak ada euforia "Jokowi Effect" yang berimbas besar ke pasar, seperti yang terjadi dalam pilpres sebelumnya. Kisruh penolakan hasil Pilpres 2019 juga menjadi salah satu penyebab pelaku pasar merespon dingin. Selain berharap kondisi politik kembali stabil. pasar juga menanti terobosan Jokowi untuk mengejar pertumbuhan ekonomi.

Tantangan yang membayangi pemerintahan baru bukan cuma dari dalam negeri, tapi juga dari kondisi ekonomi global yang sedang panas. Perang dagang Amerika Serikat dan China makin sengit. Pada 10 Mei 2019, Presiden Donald Trump menaikkan tarif impor produk asal China senilai US$ 200 miliar menjadi 25%.

Sumber: BPS

Perang dagang yang tak berkesudahan membuat ekspor makin lesu. Jadi bukannya surplus, defisit neraca perdagangan malah makin melebar. Dampaknya juga pendapatan negara dari kegiatan ekspor impor tahun ini tidak akan seperti tahun lalu. Belum lagi, harga komoditas cenderung murah. Penerimaan negara dari perpajakan per April 2019 hanya sebesar Rp 436,4 triliun atau turun 4,7% secara year on year (yoy).

Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, defisit perdagangan mencapai US$ 2,5 miliar pada April 2019. Ini merupakan defisit terbesar sepanjang sejarah Indonesia. Defisit neraca perdagangan membengkak seiring merosotnya ekspor nonmigas yang dibarengi impor tinggi.

Pada Januari-April 2019, total ekspor hanya US$ 53,20 miliar, turun 9,39% dibanding periode sama tahun 2018 yang sebesar US$ 58,71 miliar. Impor juga melemah 7,24% menjadi US$ 55,77 miliar. Defisit neraca dagang empat bulan pertama tahun ini pun membengkak dari US$ 1,40 miliar menjadi US$ 2,56 miliar.

Tekanan berat neraca dagang tentunya bisa mempengaruhi defisit neraca transaksi berjalan atawa current account defisit (CAD). Per kuartal I-2019 CAD mencapai US$ 7 miliar atau setara 2,6% dari produk domestik bruto (PDB). Angka ini jauh lebih lebar dibanding periode kuartal I-2018 sebesar US$ 5,19 miliar atau 2,01% PDB.

Sumber:BPS

Seluruh kondisi ini membuat Bank Indonesia (BI) merevisi proyeksi CAD dari 2,5% terhadap PDB menjadi 3%. Bersamaan dengan itu, BI juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2019 berada di bawah titik tengah kisaran 5%–5,4%. 

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengakui kalau situasi saat ini mirip 2014-2015, yakni ekspor dan impor turun. Lemahnya kinerja ekspor menjadikan perekonomian tumbuh lambat. Sehingga, saat ini ekspor sulit diandalkan sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi. 

Tekanan dari eksternal juga membuat pemerintah memprediksi nilai tukar rupiah akan berkubang di kisaran Rp 15.000 per dollar AS pada tahun ini.

Gejolak ekonomi global sulit dihindari. Sehingga, wajar saja jika tak ada target terlalu ambisius untuk jangka pendek. Untuk tahun depan, pemerintah memasang target pertumbuhan ekonomi pada kisaran 5,3%–5,6% dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2020. Adapun target inflasi sekitar 2%–4% dan nilai tukar rupiah Rp 14.000–Rp 15.000 per dollar AS. 

Pemerintah ingin mempertahankan defisit anggaran 2020 pada kisaran 1,75%–1,52% terhadap PDB. Target ini lebih rendah dari target APBN 2019 sebesar 1,84% terhadap PDB. 

Tabel Asumsi Dasar Ekonomi Makro APBN 2014-2020

Indikator 2014 2015 2016 2017 2018 APBN 2019 KEM-PPKF* 2020
Pertumbuhan ekonomi (% yoy) 5,1 4,8 5 5,1 5,15 5,3 5,3-5,6
Inflasi (% yoy) 8,36 3,35 3,02 3,6 3,13 3,5 2,4
Nilai tukar rupiah (USD/IDR) 11.878 13.392 13.307 13.384 14.427 15.000 14.000-15.000
Suku bunga SPN 3 bulan (%) 5,83 5,97 5,66 5 4,95 5,3 5-5,6
Harga minyak mentah Indonesia (US$/barel) 97 49,2 40,2 51,2 67,5 70 60-70
Lifting minyak (ribu barel/hari) 794 778 829 804 776 775 695-840
Lifting gas (ribu barel setara minyak/hari) 1.224 1.195 1.180 1.142 1.136 1.250 1.190-1.300

Sumber: Kementerian Keuangan

Mendorong industri manufaktur

Sejatinya, Jokowi sudah banyak memberi insentif untuk memacu ekonomi. Namun, 16 paket kebijakan dan insentif fiskal yang diberikan, belum punya dampak signifikan.  Persoalan dasar soal industrialisasi belum berjalan lancar. Menurut Mohammad Faisal, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, hal ini perlu jadi bahan evaluasi.

Pekerjaan rumah yang cukup krusial untuk pemerintahan baru nanti masih seputar memperbaiki neraca perdagangan dan defisit anggaran. Pendeknya, pemerintah harus bisa memacu ekspor dan mengurangi impor. 

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listyanto mengatakan, alasan pertumbuhan ekonomi stagnan dalam beberapa tahun terakhir lantaran pertumbuhan industri hanya sekitar 4%.

Berdasarkan catatan BPS, pada kuartal pertama 2019, industri manufaktur masih menjadi penyumbang terbesar PDB dengan porsi 20,07%. Angka itu naik tipis dari porsi sepanjang 2018 yang sebesar 19,86%.

Namun, laju pertumbuhannya melambat. Jika pada kuartal I-2018, sektor ini mampu tumbuh 4,6% yoy, pada kuartal I-2019, manufaktur hanya tumbuh 3,86% yoy.

Menurut Eko, akses industri untuk menjangkau pasar seharusnya bisa makin diperluas. Beberapa sektor industri lain juga harus dipacu. Misalnya, industri makanan dan minuman yang selalu memiliki permintaan tinggi.

"Sektor industri dasar seperti baja dan petrokimia juga bisa terus digenjot karena permintaannya besar," ujarnya kepada KONTAN, Jumat (24/5). 

*Sumber:BPS

Selain itu, komoditas sawit yang berlebih juga bisa diserap di dalam negeri dengan memaksimalkan program biodiesel 20% (B20). Bahkan jika dimungkinkan, bauran CPO bisa lebih dimaksimalkan hingga 100%. Sehingga, ketergantungan terhadap minyak fosil bisa dikurangi.

Dalam visi-misinya, Jokowi bersama Ma'ruf akan menjadikan pembangunan sumber daya manusia (SDM) sebagai titik tekan dalam Nawa Cita II. Eko sepakat dengan hal ini. Jika SDM bisa dipacu agar lebih berkualitas, maka pertumbuhan ekonomi lebih mudah terdongkrak. 

Selain fokus pada SDM dan industrialisasi, pengembangan sektor pertanian juga harus dievaluasi. Pasalnya, berbagai upaya yang selama ini dilakukan pemerintah untuk mendorong sektor pertanian belum menghasilkan dampak besar.

Kegagalan pemerintah memenuhi kebutuhan bahan pangan membuat harga beberapa komoditas pertanian melejit. "Misalnya, bawang putih. Impornya sangat besar. Ini bagian dari ketidakmampuan pemerintah untuk mendorong ketersediaan. Pemerintah seharusnya bisa mempermudah akses ke produk pertanian," kata dia. 

Eko menilai, jika ketiga sektor ini bisa dibenahi, maka ada optimisme ekonomi bisa melaju ke 6%. Untuk mencapai angka itu, setidaknya pertumbuhan industri bisa tumbuh sekitar 8% atau di atas PDB. 

Sementara itu menurut Faisal, diplomasi perdagangan dengan negara mitra juga harus ditingkatkan untuk mengurai masalah ekspor. "Misalnya masih ada hambatan nontarif di ekspor kelapa sawit. Hal seperti ini harus dibereskan dengan diplomasi," ujarnya. Sudah saatnya pula, Indonesia mencari pasar ekspor baru agar tidak selalu bergantung dengan negara tujuan ekspor utama. 

Tugas Jokowi-Maaruf untuk memulihkan ekonomi memang tak mudah. Namun, para ekonom ini menilai tetap ada harapan ekonomi Indonesia dalam lima tahun ke depan bisa keluar dari zona lima persen.

Bagikan

Berita Terbaru

Saham Big Caps Jadi Buruan dan Buangan Investor Asing
| Senin, 05 Januari 2026 | 08:43 WIB

Saham Big Caps Jadi Buruan dan Buangan Investor Asing

Pada 2026, asing diproyeksi akan kembali berburu saham bank big caps​.  Di sepanjang 2025, investor asing mencatatkan net sell Rp 17,34 triliun.​

Dana Asing Dukung Stabilitas Rupiah 2026
| Senin, 05 Januari 2026 | 08:40 WIB

Dana Asing Dukung Stabilitas Rupiah 2026

Arus modal asing pada 2026 diperkirakan akan lebih banyak mengalir ke pasar saham Indonesia         

Data Transaksi Kripto Masuk Radar Ditjen Pajak
| Senin, 05 Januari 2026 | 08:23 WIB

Data Transaksi Kripto Masuk Radar Ditjen Pajak

Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 108 Tahun 2025 mengatur pelaporan transaksi kripto di atas US$ 50.000

Kontradiksi Grup Salim: Saat BUMI Melesat 210%, Raksasa Konsumer Justru Terjerembap
| Senin, 05 Januari 2026 | 08:18 WIB

Kontradiksi Grup Salim: Saat BUMI Melesat 210%, Raksasa Konsumer Justru Terjerembap

Prospek saham Grup Salim 2026 memasuki fase matang. Intip analisis performa BUMI yang melesat 210% hingga rekomendasi trading buy ICBP..

Saham TLKM Jadi Unggulan Sektor Telko di 2026, Diborong JP Morgan, FMR dan Invesco
| Senin, 05 Januari 2026 | 07:59 WIB

Saham TLKM Jadi Unggulan Sektor Telko di 2026, Diborong JP Morgan, FMR dan Invesco

Fundamental dinilai kuat, simak peluang saham TLKM mencapai target harga Rp 4.000 per saham di tahun 2026.​

Direktur Utama KB Bank: Corporate Banking Jadi Mesin Pertumbuhan Utama
| Senin, 05 Januari 2026 | 07:33 WIB

Direktur Utama KB Bank: Corporate Banking Jadi Mesin Pertumbuhan Utama

Kunardy Darma Lie, Direktur Utama KB Bank, mengandalkan disiplin risiko dan kecepatan eksekusi sebagai kunci transformasi. 

Menakar Kekuatan Saham Saratoga (SRTG) Mengejar Target 1.780 Usai Fase Konsolidasi
| Senin, 05 Januari 2026 | 07:33 WIB

Menakar Kekuatan Saham Saratoga (SRTG) Mengejar Target 1.780 Usai Fase Konsolidasi

Analis proyeksikan target harga hingga 1.780 didorong sinyal technical rebound dan prospek fundamental 2026.

Stabil Tapi Rapuh
| Senin, 05 Januari 2026 | 06:10 WIB

Stabil Tapi Rapuh

Selain menjaga ekonomi tetap bergerak, anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) mesti menyiapkan mesin pertumbuhan berikutnya.

Kinerja Saham Barang Baku Masih Bisa Melaju
| Senin, 05 Januari 2026 | 06:05 WIB

Kinerja Saham Barang Baku Masih Bisa Melaju

Kinerja saham-saham di sektor barang material (IDX Materials) berpotensi kembali tumbuh positif pada 2026.

Mengawali Pekan di Awal Tahun di Tengah Aksi Trump, Cek Rekomendasi Saham Hari Ini
| Senin, 05 Januari 2026 | 05:52 WIB

Mengawali Pekan di Awal Tahun di Tengah Aksi Trump, Cek Rekomendasi Saham Hari Ini

Perhatian pasar akan tertuju pada rilis data neraca perdagangan dan inflasi. Keduanya berpotensi mempengaruhi pergerakan pasar saham domestik.

INDEKS BERITA

Terpopuler