Emas dan Kredibilitas

Selasa, 27 Januari 2026 | 06:10 WIB
Emas dan Kredibilitas
[ILUSTRASI. TAJUK - R Cipta Wahyana (KONTAN/Indra Surya)]
Cipta Wahyana | Senior Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas di pasar global kembali menembus rekor baru dan untuk pertama kalinya melampaui US$ 5.000 per troy ounce (31,1 gram). Di dalam negeri, harga emas fisik juga kian mendekati Rp 3 juta per gram. Ini sinyal: investor tengah mencari rasa aman. 

Kenaikan emas, sekitar 66% di 2025 dan 15% tahun ini, bukan sekadar euforia komoditas. Ini cermin kegelisahan investor terhadap risiko geopolitik, ketidakpastian arah suku bunga global, dan membengkaknya beban fiskal banyak negara. Dalam situasi ini, kualitas pengelolaan risiko domestik negara berkembang seperti Indonesia diuji.

Tekanan di pasar keuangan Indonesia belakangan ini mencerminkan realitas itu. Rupiah bergerak di kisaran Rp16.800–Rp16.900 per dolar AS, mendekati titik terlemah historis. Imbal hasil SBN tenor 10 tahun terus naik, menandakan meningkatnya premi risiko yang diminta investor. Arus dana asing dari pasar obligasi dan instrumen moneter pun berbalik keluar. Di tengah kondisi itu, BI menahan bunga acuan di 4,75%, sebuah pilihan defensif yang menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar dan kredibilitas kebijakan menjadi prioritas utama.

Namun, moneter bukan satu-satunya faktor yang dicermati. Risiko fiskal semakin menjadi perhatian. Beban bunga utang pemerintah diperkirakan menyerap 15%–16% belanja negara, sementara kebutuhan pembiayaan APBN 2026 mendekati Rp800 triliun. Angka ini belum menandakan krisis, tetapi cukup untuk membuat investor global lebih cermat menilai disiplin fiskal dan konsistensi kebijakan pemerintah.

Lapisan risiko lain datang dari pasar saham. Seperti ditulis Bloomberg, perubahan metodologi penghitungan free float oleh MSCI berpotensi memicu keluarnya dana pasif asing dari Indonesia hingga US$ 2,3 miliar. Ini bukan sekadar isu teknis indeks, melainkan ujian kualitas pasar: likuiditas, struktur kepemilikan, dan kepastian aturan main.

Di sisi lain, Indonesia masih memiliki bantalan. Cadangan devisa berada di kisaran US$ 156 miliar. Ekonomi riil tetap tumbuh sekitar 5%, inflasi berada dalam target, dan kredit investasi melaju. Namun, di dunia yang makin resah, mungkin, itu belum cukup.

Tantangan utama Indonesia saat ini bukan semata mengejar pertumbuhan lebih tinggi, melainkan menjaga keyakinan. Di tengah tren menghindari risiko (risk-off), kepercayaan adalah aset termahal. Seperti emas, nilainya ditentukan oleh konsistensi kebijakan dan kredibilitas pengelolaannya.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Jangan Belanja untuk Senang, Merana Kemudian
| Minggu, 02 Agustus 2026 | 09:15 WIB

Jangan Belanja untuk Senang, Merana Kemudian

Simak tanda-tanda terjebak doom spending, dan bagaimana cara mengatasinya.                          

Rapor Juli Positif, Bisakah Reksadana Saham Cuan Tahun Ini?
| Minggu, 02 Agustus 2026 | 08:35 WIB

Rapor Juli Positif, Bisakah Reksadana Saham Cuan Tahun Ini?

Rata-rata reksadana saham cetak kinerja positif sebulan terakhir. Namun, menutup tahun ini dengan kinerja positif, masih akan menantang.

Kapan Waktu yang Tepat Bagi Investor Melakukan Profit Taking?
| Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:05 WIB

Kapan Waktu yang Tepat Bagi Investor Melakukan Profit Taking?

Profit taking terencana bukan tanda hilangnya keyakinan terhadap pasar. Melainkan menjaga hasil jerih payah agar tidak menguap.

Jersey Lokal Meraup Peluang Saat Demam Olahraga Meradang
| Minggu, 02 Agustus 2026 | 00:34 WIB

Jersey Lokal Meraup Peluang Saat Demam Olahraga Meradang

Tren olahraga kini melanda berbagai kalangan, seperti apa pengaruhnya ke bisnis jersey lokal dalam negeri?

Cabai Gendot dari Dieng yang Super Pedas
| Minggu, 02 Agustus 2026 | 00:11 WIB

Cabai Gendot dari Dieng yang Super Pedas

​Di Jawa Barat, cabai gendot dikenal dengan nama cabai tit super, tit paris dan jatilaba. Asal-usul nama tit super dan tit paris tidak jelas.

Angkutan Antarkota Topang Bisnis Weha Transportasi Indonesia (WEHA)
| Sabtu, 01 Agustus 2026 | 20:10 WIB

Angkutan Antarkota Topang Bisnis Weha Transportasi Indonesia (WEHA)

Pertumbuhan pendapatan ditopang bisnis jasa angkutan antarkota yang meningkat 16,7% yoy selama semester I-2026

Laba Bersih Gudang Garam (GGRM) pada Semester I-2026 Melejit 2.440%
| Sabtu, 01 Agustus 2026 | 12:02 WIB

Laba Bersih Gudang Garam (GGRM) pada Semester I-2026 Melejit 2.440%

PT Gudang Garam Tbk (GGRM) mencatat lonjakan laba signifikan di tengah merosotnya penjualan di semester I-2026.

Rogoh Dana Rp 100 Miliar, Elnusa (ELSA) Siap Buyback Saham
| Sabtu, 01 Agustus 2026 | 11:57 WIB

Rogoh Dana Rp 100 Miliar, Elnusa (ELSA) Siap Buyback Saham

Periode buyback saham PT Elnusa Tbk (ELSA) akan berlangsung sejak 3 Agustus hingga 2 November 2026.​

Pendapatan Masih Jeblok, Laba ASII Ikut Anjlok
| Sabtu, 01 Agustus 2026 | 11:52 WIB

Pendapatan Masih Jeblok, Laba ASII Ikut Anjlok

Segmen alat berat dan jasa pertambangan jadi pemberat kinerja PT Astra International Tbk (ASII) di semester I-2026.

Bunga Acuan Ditahan, IHSG Menguat Sepekan
| Sabtu, 01 Agustus 2026 | 11:41 WIB

Bunga Acuan Ditahan, IHSG Menguat Sepekan

Salah satu sentimen utama penguatan IHSG keputusan bank sentral Amerika Serikat, The Fed yang menahan suku bunga acuan di kisaran 3,5%-3,75%.​

INDEKS BERITA

Terpopuler