Emas Global Anjlok dan Emas Antam Ikut Tertekan, Saatnya Akumulasi Bertahap

Minggu, 13 September 2026 | 15:54 WIB
Emas Global Anjlok dan Emas Antam Ikut Tertekan, Saatnya Akumulasi Bertahap
[ILUSTRASI. Harga emas (REUTERS/Angelika Warmuth)]
Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas global yang tengah terguncang, menyimpan berkah untuk masuk ke emas Antam yang juga diperkirakan ikut terkoreksi.

Harga emas global minggu ini mengalami tekanan empat hari berturut-turut. Pada perdagangan Kamis (10/9), harga emas dunia ditutup turun 1,84% ke level US$ 4.317 per ons troi. Level tersebut menjadi yang terendah sejak 6 Agustus 2026.

Mengutip Reuters, harga emas spot sudah turun lebih dari 2% sepanjang pekan ini, per Jumat (11/9). Pada pukul 00.20 GMT, pergerakan harga emas spot sempat naik tipis 0,3% menjadi US$ 4.326,88 per ons troi. Harga emas berjangka AS juga turun 1,2% di level US$ 4.407,30 per ons troi.

Pengamat komoditas dan pendiri Traderindo.com Wahyu Tribowo Laksono mengatakan bahwa koreksi harga emas global memberikan transmisi langsung yang membuat harga emas batangan domestik, termasuk emas Antam.

"Emas Antam berpotensi mengalami penyesuaian koreksi lanjutan atau bergerak tertekan dalam waktu dekat," ujar Wahyu kepada KONTAN, Jumat (119).

Baca Juga: Saham ANTM Jadi Favorit Asing, Fundamental Tetap Kokoh Meski Harga Emas Terkoreksi

Walau begitu, koreksi harga emas global bisa sebagian diredam oleh pergerakan nilai tukar rupiah yang masih berada di bawah tekanan terhadap dolar AS. Sebagai informasi saja, pada penutupan pasar Jumat (11/9), nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,36% ke level Rp 17.611 per dolar Amerika Serikat.

Wahyu juga menjabarkan penyebab tekanan harga emas ini. Tekanan utama datang dari lonjakan harga komoditas energi di mana minyak mentah US WTI melonjak melampaui level US$ 100 per barel dan Brent menembus kisaran US$ 108 per barel.

Kenaikan tajam ini dipicu oleh eskalasi geopolitik global, termasuk gangguan jalur pasokan di Selat Hormuz serta pergerakan di kawasan Bab el-Mandeb yang memicu kekhawatiran atas lonjakan imported inflation secara global.

Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Yields) yang melompat tinggi dan posisi nilai tukar dolar terhadap rupiah yang tertekan di kisaran Rp 17.593 turut memperketat likuiditas global serta memicu potensi arus modal keluar (capital outflow) dari pasar negara berkembang.

Tak hanya itu, rilis data PPI AS yang panas menunjukkan Indeks Harga Produsen (PPI) AS yang dirilis lebih tinggi dari perkiraan, dan mencerminkan bahwa tekanan inflasi di tingkat rantai pasok industri kembali memanas.

Data ini memicu aksi borong komoditas oleh pengelola dana investasi (commodity hedge fund) sebagai instrumen lindung nilai terhadap siklus inflasi baru.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan

Berita Terbaru

Minyak dan Batubara di Level Tinggi, Saham Energi Mana yang Masih Menarik Dikoleksi?
| Minggu, 13 September 2026 | 16:10 WIB

Minyak dan Batubara di Level Tinggi, Saham Energi Mana yang Masih Menarik Dikoleksi?

MEDC menjadi pilihan untuk mendapatkan eksposur terhadap minyak, sedangkan AADI dan ITMG menarik terhadap harga thermal coal.

Emas Global Anjlok dan Emas Antam Ikut Tertekan, Saatnya Akumulasi Bertahap
| Minggu, 13 September 2026 | 15:54 WIB

Emas Global Anjlok dan Emas Antam Ikut Tertekan, Saatnya Akumulasi Bertahap

Prospek emas Antam masih sangat solid untuk tren jangka panjang, sehingga momentum pelemahan harga saat ini dapat dimanfaatkan oleh investor.

Sudah Dua Dekade Menanti Obligasi Daerah
| Minggu, 13 September 2026 | 09:46 WIB

Sudah Dua Dekade Menanti Obligasi Daerah

Obligasi daerah memaksa disiplin yang selama ini sulit dibangun lewat mekanisme administratif semata.

Langkah Manis Jasa Menemani Lari
| Minggu, 13 September 2026 | 06:30 WIB

Langkah Manis Jasa Menemani Lari

Di tengah tren lari yang semakin ramai, aktivitas lari bisa menjadi peluang usaha yang mampu memberikan cuan menggiurkan.

 
Emisi Melandai Saat Performa Bisnis Mendaki
| Minggu, 13 September 2026 | 06:20 WIB

Emisi Melandai Saat Performa Bisnis Mendaki

Di tengah tantangan menyeimbangkan profit dan keberlanjutan, Maybank berhasil mencetak pertumbuhan bisnis sekaligus mengurangi emisi karbon.

Bunga Ultra Mikro Makin Murah, Pindar Cari Ruang Baru
| Minggu, 13 September 2026 | 06:15 WIB

Bunga Ultra Mikro Makin Murah, Pindar Cari Ruang Baru

Pembiayaan digital tak lagi hanya berkutat pada kebutuhan konsumsi. Sudah ada modal untuk warung, pertanian, hingga kerajinan.

Bank Makin Gencar Manfaatkan Teknologi Akal Imitasi
| Minggu, 13 September 2026 | 06:15 WIB

Bank Makin Gencar Manfaatkan Teknologi Akal Imitasi

Akal imitasi mulai dipakai bank untuk mempercepat pembukaan rekening, membaca pola transaksi, hingga mendukung pengelolaan risiko.

Mengenal Buah Buni, si Kaya Vitamin C
| Minggu, 13 September 2026 | 06:10 WIB

Mengenal Buah Buni, si Kaya Vitamin C

Di pasar tradisional di Jawa Barat tampak pedagang khusus buah buni menggelar dagangan mereka di trotoar.

Ambisi Proyek Geotermal dan Penolakan Warga
| Minggu, 13 September 2026 | 06:10 WIB

Ambisi Proyek Geotermal dan Penolakan Warga

Pengembangan panas bumi di Indonesia masih menemui banyak tantangan. Salah satunya, penolakan masyarakat sekitar. Kenapa?

Narasi Politis BBM Subsidi
| Minggu, 13 September 2026 | 06:05 WIB

Narasi Politis BBM Subsidi

​Harga minyak mentah dunia kembali menembus US$100 per barel. Minyak Brent bahkan ditutup di level US$101,21 per barel pada Rabu (9/9).

INDEKS BERITA

Terpopuler