Emas Global Anjlok dan Emas Antam Ikut Tertekan, Saatnya Akumulasi Bertahap
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas global yang tengah terguncang, menyimpan berkah untuk masuk ke emas Antam yang juga diperkirakan ikut terkoreksi.
Harga emas global minggu ini mengalami tekanan empat hari berturut-turut. Pada perdagangan Kamis (10/9), harga emas dunia ditutup turun 1,84% ke level US$ 4.317 per ons troi. Level tersebut menjadi yang terendah sejak 6 Agustus 2026.
Mengutip Reuters, harga emas spot sudah turun lebih dari 2% sepanjang pekan ini, per Jumat (11/9). Pada pukul 00.20 GMT, pergerakan harga emas spot sempat naik tipis 0,3% menjadi US$ 4.326,88 per ons troi. Harga emas berjangka AS juga turun 1,2% di level US$ 4.407,30 per ons troi.
Pengamat komoditas dan pendiri Traderindo.com Wahyu Tribowo Laksono mengatakan bahwa koreksi harga emas global memberikan transmisi langsung yang membuat harga emas batangan domestik, termasuk emas Antam.
"Emas Antam berpotensi mengalami penyesuaian koreksi lanjutan atau bergerak tertekan dalam waktu dekat," ujar Wahyu kepada KONTAN, Jumat (119).
Baca Juga: Saham ANTM Jadi Favorit Asing, Fundamental Tetap Kokoh Meski Harga Emas Terkoreksi
Walau begitu, koreksi harga emas global bisa sebagian diredam oleh pergerakan nilai tukar rupiah yang masih berada di bawah tekanan terhadap dolar AS. Sebagai informasi saja, pada penutupan pasar Jumat (11/9), nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,36% ke level Rp 17.611 per dolar Amerika Serikat.
Wahyu juga menjabarkan penyebab tekanan harga emas ini. Tekanan utama datang dari lonjakan harga komoditas energi di mana minyak mentah US WTI melonjak melampaui level US$ 100 per barel dan Brent menembus kisaran US$ 108 per barel.
Kenaikan tajam ini dipicu oleh eskalasi geopolitik global, termasuk gangguan jalur pasokan di Selat Hormuz serta pergerakan di kawasan Bab el-Mandeb yang memicu kekhawatiran atas lonjakan imported inflation secara global.
Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Yields) yang melompat tinggi dan posisi nilai tukar dolar terhadap rupiah yang tertekan di kisaran Rp 17.593 turut memperketat likuiditas global serta memicu potensi arus modal keluar (capital outflow) dari pasar negara berkembang.
Tak hanya itu, rilis data PPI AS yang panas menunjukkan Indeks Harga Produsen (PPI) AS yang dirilis lebih tinggi dari perkiraan, dan mencerminkan bahwa tekanan inflasi di tingkat rantai pasok industri kembali memanas.
Data ini memicu aksi borong komoditas oleh pengelola dana investasi (commodity hedge fund) sebagai instrumen lindung nilai terhadap siklus inflasi baru.
