Emiten Tambang Kerek Produksi Batubara Berkalori Tinggi

Jumat, 03 Mei 2019 | 06:44 WIB
Emiten Tambang Kerek Produksi Batubara Berkalori Tinggi
[]
Reporter: Yoliawan H | Editor: Narita Indrastiti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren penurunan harga batubara disiasati emiten produsen batubara dengan efisiensi dan menambah produksi batubara berkalori tinggi. Sebab, batubara berkalori tinggi memiliki harga lebih tinggi dan relatif stabil dibandingkan dengan batubara berkalori rendah.

PT Bumi Resources Tbk (BUMI) salah satunya. Emiten Grup Bakrie ini menargetkan produksi batubara sebesar 88 juta ton-90 juta ton tahun ini. Rata-rata kalori batubara yang dihasilkan 5.000 GAR.

Direktur BUMI Dileep Srivastava menjelaskan, melalui anak usahanya yakni PT Kaltim Prima Coal (KPC), BUMI memproduksi batubara dengan tingkat kalori 4.700 GAR–6.700 GAR. Sedangkan produksi batubara anak usahanya yang lain, PT Arutmin Indonesia, memiliki kalori 4.200 GAR sampai 6.300 GAR. "Produksi batubara kalori tinggi diprediksikan 33%, sedangkan produksi kalori rendah sebesar 67%," ujar Dileep kepada KONTAN, Kamis (2/5).

Menurut dia, Arutmin akan menggenjot produksi batubara kalori tinggi menjadi 7 juta ton hingga 8 juta ton sepanjang tahun ini. Angka tersebut naik dua kali lipat jika dibandingkan tahun lalu.

Selain meningkatkan produksi, kata Dileep, BUMI akan membayar utang US$ 200 juta-US$ 250 juta tahun ini untuk memicu laba. "Sehingga BUMI dapat menekan beban bunga US$ 45 juta," ujar dia.

Selain BUMI, PT United Tractors Tbk (UNTR) akan memproduksi batubara berkalori tinggi. Menurut Sara K Loebis, Sekretaris Perusahaan UNTR, emiten ini akan meningkatkan batubara kokas menjadi 1,5 juta ton tahun ini, naik dari produksi tahun lalu yang sebesar 800.000 ton.

Sementara produksi thermal coal naik jadi 5,5 juta ton dari tahun lalu 4,7 juta ton. Rata-rata batubara UNTR berkalori 5.800 GAR–6.700 GAR. "Dari trading kami harap bisa 2 juta ton. Sehingga penjualan batubara kami tahun ini total bisa 9 juta ton, naik dari 2018 sebesar 7 juta ton," ujar dia.

Emiten lain, PT Bukit Asam Tbk (PTBA), hingga kuartal I-2019 telah menjual batubara kalori tinggi 500.000 ton. Padahal sepanjang tahun lalu PTBA menjual 700.000 ton batubara kalori tinggi. Tahun ini PTBA membidik penjualan 3,8 juta ton ke pasar Jepang.

Bagikan

Berita Terkait

Berita Terbaru

Kemiskinan Indonesia Turun ke 8,25% pada 2025, Tapi Tekanan Biaya Hidup Masih Tinggi
| Senin, 09 Februari 2026 | 17:33 WIB

Kemiskinan Indonesia Turun ke 8,25% pada 2025, Tapi Tekanan Biaya Hidup Masih Tinggi

Secara jumlah, penduduk miskin Indonesia tercatat 23,36 juta orang, menyusut 490 ribu orang dibandingkan Maret 2025.

Tambahan Anggaran PU Rp 36,91 Triliun, Harapan Baru atau Sekadar Penyangga bagi BUMN?
| Senin, 09 Februari 2026 | 13:00 WIB

Tambahan Anggaran PU Rp 36,91 Triliun, Harapan Baru atau Sekadar Penyangga bagi BUMN?

Upaya Pemerintah menambah anggaran Rp 36,91 triliun guna mempercepat pembangunan infrastruktur, dianggap bisa menjadi suplemen bagi BUMN Karya.

Ramadan Dongkrak Trafik Data, Saham ISAT Masih Layak Dicermati?
| Senin, 09 Februari 2026 | 11:00 WIB

Ramadan Dongkrak Trafik Data, Saham ISAT Masih Layak Dicermati?

Kinerja PT Indosat Tbk (ISAT) ada di jalur pemulihan yang semakin berkelanjutan. Sejak akhir 2025, ISAT mencatat lonjakan signifikan trafik data.

Ditopang Normalisasi AMMN & Tambahan PI Corridor, Kinerja MEDC Diproyeksikan Melesat
| Senin, 09 Februari 2026 | 08:37 WIB

Ditopang Normalisasi AMMN & Tambahan PI Corridor, Kinerja MEDC Diproyeksikan Melesat

Dalam jangka pendek, saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dipandang masih dalam fase downtrend.

Prospek ERAL Masih Menarik, Meski Tengah Menanti Kepastian Insentif Mobil Listrik
| Senin, 09 Februari 2026 | 08:25 WIB

Prospek ERAL Masih Menarik, Meski Tengah Menanti Kepastian Insentif Mobil Listrik

PT Sinar Eka Selaras Tbk (ERAL) berencana menambah gerai baru sekaligus menghadirkan produk dan merek baru di berbagai segmen usaha.

Free Float Naik ke 15%, Emiten yang Tak Butuh Pendanaan Pasar Modal bisa Go Private?
| Senin, 09 Februari 2026 | 08:00 WIB

Free Float Naik ke 15%, Emiten yang Tak Butuh Pendanaan Pasar Modal bisa Go Private?

Di rancangan peraturan terbaru, besaran free float dibedakan berdasarkan nilai kapitalisasi saham calon emiten sebelum tanggal pencatatan.

Menakar Daya Tarik Obligasi ESG: Menimbang Return dan Feel Good
| Senin, 09 Februari 2026 | 07:31 WIB

Menakar Daya Tarik Obligasi ESG: Menimbang Return dan Feel Good

Obligasi bertema ESG dan keberlanjutan akan meramaikan penerbitan surat utang di 2026. Bagaimana menakar daya tariknya?

Dharma Polimetal (DRMA) Produksi Baterai Motor Listrik
| Senin, 09 Februari 2026 | 07:29 WIB

Dharma Polimetal (DRMA) Produksi Baterai Motor Listrik

Strategi tersebut ditempuh melalui penguatan kapabilitas manufaktur, diversifikasi produk bernilai tambah, serta integrasi ekosistem bisnis.

Pebisnis Minta Kepastian Izin Impor Daging Sapi
| Senin, 09 Februari 2026 | 07:23 WIB

Pebisnis Minta Kepastian Izin Impor Daging Sapi

Para pelaku usaha tengah menantikan kepastian izin impor yang belum terbit. Padahal, saat ini sudah melewati waktu proses.

Kebijakan Pemerintah Jadi Sorotan, Dampak Buruknya ke Pasar SBN
| Senin, 09 Februari 2026 | 06:50 WIB

Kebijakan Pemerintah Jadi Sorotan, Dampak Buruknya ke Pasar SBN

Investor asing mencatat jual neto Rp 2,77 triliun di SBN. Tekanan jual ini diprediksi berlanjut hingga Kuartal I 2026. Pahami risikonya.

INDEKS BERITA

Terpopuler