KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren penurunan harga batubara disiasati emiten produsen batubara dengan efisiensi dan menambah produksi batubara berkalori tinggi. Sebab, batubara berkalori tinggi memiliki harga lebih tinggi dan relatif stabil dibandingkan dengan batubara berkalori rendah.
PT Bumi Resources Tbk (BUMI) salah satunya. Emiten Grup Bakrie ini menargetkan produksi batubara sebesar 88 juta ton-90 juta ton tahun ini. Rata-rata kalori batubara yang dihasilkan 5.000 GAR.
Direktur BUMI Dileep Srivastava menjelaskan, melalui anak usahanya yakni PT Kaltim Prima Coal (KPC), BUMI memproduksi batubara dengan tingkat kalori 4.700 GAR–6.700 GAR. Sedangkan produksi batubara anak usahanya yang lain, PT Arutmin Indonesia, memiliki kalori 4.200 GAR sampai 6.300 GAR. "Produksi batubara kalori tinggi diprediksikan 33%, sedangkan produksi kalori rendah sebesar 67%," ujar Dileep kepada KONTAN, Kamis (2/5).
Menurut dia, Arutmin akan menggenjot produksi batubara kalori tinggi menjadi 7 juta ton hingga 8 juta ton sepanjang tahun ini. Angka tersebut naik dua kali lipat jika dibandingkan tahun lalu.
Selain meningkatkan produksi, kata Dileep, BUMI akan membayar utang US$ 200 juta-US$ 250 juta tahun ini untuk memicu laba. "Sehingga BUMI dapat menekan beban bunga US$ 45 juta," ujar dia.
Selain BUMI, PT United Tractors Tbk (UNTR) akan memproduksi batubara berkalori tinggi. Menurut Sara K Loebis, Sekretaris Perusahaan UNTR, emiten ini akan meningkatkan batubara kokas menjadi 1,5 juta ton tahun ini, naik dari produksi tahun lalu yang sebesar 800.000 ton.
Sementara produksi thermal coal naik jadi 5,5 juta ton dari tahun lalu 4,7 juta ton. Rata-rata batubara UNTR berkalori 5.800 GAR–6.700 GAR. "Dari trading kami harap bisa 2 juta ton. Sehingga penjualan batubara kami tahun ini total bisa 9 juta ton, naik dari 2018 sebesar 7 juta ton," ujar dia.
Emiten lain, PT Bukit Asam Tbk (PTBA), hingga kuartal I-2019 telah menjual batubara kalori tinggi 500.000 ton. Padahal sepanjang tahun lalu PTBA menjual 700.000 ton batubara kalori tinggi. Tahun ini PTBA membidik penjualan 3,8 juta ton ke pasar Jepang.
