Energi Mega Persada Kembali Gelar Restrukturisasi Utang

Rabu, 06 Maret 2019 | 06:08 WIB
Energi Mega Persada Kembali Gelar Restrukturisasi Utang
[]
Reporter: Intan Nirmala Sari | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - .

 

JAKARTA. PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) akhirnya bisa kembali meneruskan rencana merestrukturisasi utang. Ini berkat persetujuan pemegang saham dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) ketiga, setelah dua RUPS sebelumnya gagal mencapai kuorum.

Investor Relations ENRG Herwin Hidayat mengatakan, setelah mendapat restu pemegang saham lewat RUPS kemarin, ENRG berencana melunasi fasilitas pinjaman dari PST Finance Ltd senilai US$ 50 juta. Skema pelunasannya dengan pembiayaan kembali atau refinancing.

Elektra Asset Ltd menjadi kreditur anyar perusahaan dengan mengucurkan pinjaman sekitar US$ 50 juta hingga US$ 60 juta. "Kemudian, yang dimintakan persetujuan dari investor adalah perseroan bisa menjadikan saham saham-perseroan di beberapa aset sebagai agunan demi mendapatkan fasilitas pinjaman baru tersebut," kata Herwin, Senin (5/3).

Dengan pinjaman baru itu, ENRG mengaku bisa menghemat beban bunga hingga sebesar US$ 4 juta atau sekitar Rp 60 miliar setiap tahun. Sebab bunga pinjaman dari Elektra sebesar 15% dengan tenor dua tahun.

Sedangkan bunga dari PST sekitar 23%. "Jadi akan ada interest cost saving atau penghematan beban bunga 8% per tahun. Diharapkan ini dapat menambah nilai bagi pemegang saham, karena tidak terlalu membebani laporan rugi ke depan," tutur Herwin.

Pinjaman baru tersebut sejatinya tidak mengurangi jumlah utang perusahaan. Tapi, efek efisiensi dari berkurangnya beban bunga diharapkan bakal menguntungkan ENRG.

Penghematan dana sekitar Rp 60 miliar tersebut diyakini bisa dimanfaatkan untuk mendanai kebutuhan operasional perusahaan. "Diharapkan pinjaman baru masuk secepatnya di kuartal pertama atau kedua," ungkap Edoardus Ardianto, Direktur Keuangan dan Chief Finance Officer ENRG, pada kesempatan yang sama.

Dia menambahkan, ENRG akan terus memperbaiki posisi keuangan sepanjang tahun ini. Perusahaan juga akan menggelar penawaran umum saham terbatas (PUT) atau rights issue. ENRG sudah mendapat restu dari pemegang saham terkait aksi korporasi yang menjadi bagian dari restrukturisasi utang ini pada September 2018.

Sesuai peraturan, kata dia, ENRG punya waktu 12 bulan setelah RUPS. "Saat ini kami tengah finalisasi skema, termasuk menyelesaikan laporan keuangan 2018, karena untuk bisa menyerahkan prospektus harus disertai laporan keuangan," tutur Edoardus.

Sebagai informasi, sampai Juni 2018 pinjaman jangka panjang Energi Mega Persada berkisar US$ 200 juta dan porsi utang jangka pendek sebesar US$ 90 juta. Namun sampai pertengahan November 2018 lalu, jumlah utang jangka panjang turun menjadi sekitar US$ 170 juta. Sementara utang jangka pendek turun menjadi US$ 80 juta.

Analis Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan menilai, saham ENRG belum cocok untuk jangka panjang. Saham ini lebih cocok untuk transaksi jangka pendek memanfaatkan sentimen refinancing.

Bagikan

Berita Terbaru

Prospek KEEN Masih Solid Ditopang Masifnya Pengembangan Proyek Energi Hijau
| Senin, 20 April 2026 | 12:00 WIB

Prospek KEEN Masih Solid Ditopang Masifnya Pengembangan Proyek Energi Hijau

Beroperasinya PLTS Tobelo ini akan memperkuat portofolio EBT PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN) dan menciptakan recurring income.

Ilusi Pertumbuhan, Growth Tanpa Value
| Senin, 20 April 2026 | 09:54 WIB

Ilusi Pertumbuhan, Growth Tanpa Value

Paradoks China paling tajam  Negara berkembang, mentransformasi diri.  Tapi transformasi ekonomi saja tidak cukup memenangkan kepercayaan pasar.

ESG Indosat (ISAT): Mengandalkan AI dan ESG Sebagai Kunci Transformasi
| Senin, 20 April 2026 | 09:31 WIB

ESG Indosat (ISAT): Mengandalkan AI dan ESG Sebagai Kunci Transformasi

PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (ISAT) bertransformasi agar hasilnya berdampak nyata bagi lingkungan dan masyarakat.

Kinerja Jaya Sukses Makmur Sentosa (RISE) Melonjak Signifikan di Kuartal I-2026
| Senin, 20 April 2026 | 08:37 WIB

Kinerja Jaya Sukses Makmur Sentosa (RISE) Melonjak Signifikan di Kuartal I-2026

Hingga kuartal I-2026, perusahaan ini membukukan pendapatan sebesar Rp 173,1 miliar, meningkat sekitar 36% secara tahunan dibandingkan tahun lalu.

Operator Seluler Lirik Prospek Jaringan 5G
| Senin, 20 April 2026 | 08:27 WIB

Operator Seluler Lirik Prospek Jaringan 5G

Saat ini industri masih fokus pada penyelesaian integrasi jaringan dan penggelaran jaringan dalam upaya peralihan jaringan ke 5G.

Dolar AS Melemah: Yen, Yuan, Franc Swiss Beri Peluang Keuntungan?
| Senin, 20 April 2026 | 08:22 WIB

Dolar AS Melemah: Yen, Yuan, Franc Swiss Beri Peluang Keuntungan?

Pelemahan Dolar AS membuka potensi penguatan mata uang safe haven. Cari tahu mana yang paling menarik dan strategi terbaik untuk investor.

Geopolitik dan RKAB Bayangi Emiten Batubara, Cek Rekomendasi Sahamnya
| Senin, 20 April 2026 | 08:19 WIB

Geopolitik dan RKAB Bayangi Emiten Batubara, Cek Rekomendasi Sahamnya

Kinerja emiten batubara kuartal II 2026 bisa membaik ditopang harga tinggi. Cari tahu tantangan global dan domestik yang membatasi pertumbuhan

Guyuran Buyback Rp 5 Triliun & Tuah Divestasi Kestrel, Saham AADI Masih Layak Diburu?
| Senin, 20 April 2026 | 07:59 WIB

Guyuran Buyback Rp 5 Triliun & Tuah Divestasi Kestrel, Saham AADI Masih Layak Diburu?

Divestasi Kestrel Coal Group Pty. Ltd., diproyeksi bakal menyuntikkan dana segar dalam jumlah signifikan.

Racik Ulang Insentif Pajak di Era Global Minimum Tax
| Senin, 20 April 2026 | 07:25 WIB

Racik Ulang Insentif Pajak di Era Global Minimum Tax

Evaluasi tersebut tercantum dalam naskah urgensi perubahan PMK Nomor 130/PMK.010/2020 tentang Fasilitas Pengurangan Pajak Penghasilan (PPh) Badan

Awal Pekan Bermodal Net Sell Rp 2,31 Triliun, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Senin, 20 April 2026 | 07:17 WIB

Awal Pekan Bermodal Net Sell Rp 2,31 Triliun, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Sepanjang pekan lalu, total jenderal investor asing mencatatkan aksi jual alias net sell sekitar Rp 2,31 triliun.

INDEKS BERITA

Terpopuler