Berita Bisnis

Hanggara Patrianta, Memupuk Karier 30 Tahun di Pabrik Pupuk

Sabtu, 31 Juli 2021 | 06:00 WIB
Hanggara Patrianta, Memupuk Karier 30 Tahun di Pabrik Pupuk

Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Azis Husaini

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Pada tahun 2021 ini, genap 30 tahun Hanggara Patrianta berkarier di PT Pupuk Kaltim. Pria yang akrab disapa Ipong ini masih mengingat jelas bahwa  keputusannya melamar di perusahaan pelat merah tersebut, langsung membawa dirinya keluar dari kota kelahirannya  di Yogyakarta. 

Lahir tahun 1965 di Kota Pelajar, Hanggara merupakan anak ketiga dari lima bersaudara. Ayahnya adalah seorang dosen di IKIP Yogyakarta atau yang saat ini lebih dikenal dengan Universitas Negeri Yogyakarta. Sedangkan sang ibu merupakan ibu rumah tangga. 
 
Dia bercerita bahwa ketertarikannya terjun ke dunia kimia dan pabrikan tidak serta merta muncul. Bahkan ia mengaku, awalnya ayah dan ibunya mengharapkan dirinya menjadi seorang dokter dan mengambil jurusan kedokteran di perguruan tinggi.
 
 Masalahnya, Hanggara sejak kecil memiliki ketakutan dengan darah sehingga keinginan orang tua itu sempat membuatnya bimbang. "Sebagaimana banyak orangtua zaman dulu, orang tua saya juga menginginkan salah satu anaknya berprofesi sebagai dokter," ujarnya, Kamis  (29/7).
 
Pertimbangannya agar saat sepuh nanti, mereka bisa dirawat oleh anaknya yang berprofesi dokter. Tetapi sayangnya, Hanggara termasuk orang yang takut dengan darah. Akhirnya pilihannya pun jatuh pada Teknik Kimia Universitas Gajah Mada. 
 
Ia berhasil masuk pada tahun 1984 dan lulus pada tahun 1990. Ia mengaku, memiliki waktu kelulusan sedikit lama. Saat lulus di tahun 1990 itu dirinya langsung mendapatkan pekerjaan pertamanya di PT Pupuk Kaltim. 
 
Ia mengaku, semasa kuliah dirinya banyak terlibat aktif di Gelanggang Mahasiswa UGM, sebuah organisasi bagi mahasiswa yang menyukai olahraga dan aktivitas fisik. Hanggara menceritakan, sejak kecil dirinya memang  senang bermain badminton atau bulu tangkis. 
 
Menekuni badminton sejak kelas 2 SD, Hanggara pun berhasil menyabet juara 3 kejuaraan Bulu Tangkis Nasional Ganda Junior pada tahun 1983. 
 
Berkat bulu tangkis pula, dirinya berkesempatan mengunjungi berbagai kota untuk mengikuti kejuaraan. Hanggara mengatakan, prestasinya di bidang olahraga tersebut adalah salah satu yang membuatnya sangat bangga hingga kini.
 
Ia menambahkan, kecintaannya pada bidang olahraga itu  juga ikut menumbuhkan rasa sporitifitas dan kompetitif. Sementara mengikuti kegiatan organisasi menumbuhkan kemampuan untuk berhubungan dan berkomunikasi dengan orang lain. 
 
Agustus tahun 1984, Hanggara lulus dari UGM dan memutuskan untuk mendaftarkan diri menjadi insinyur muda di PT Pupuk Kaltim. Saat itu, Perusahaan memang sedang aktif merekrut lulusan baru sebagai karyawan di kampusnya. 
 
Setelah mengikuti serangkaian proses penerimaan, dia akhirnya mantap membawa koper besarnya pindah ke Bontang, Kalimantan Timur pada bulan Oktober di tahun yang sama.  
 
"Karena saya lulusan Teknik Kimia, maka penempatannya di Bontang saat itu, jika tidak di pabrik bagian pengembangan ditempatkan di bagian proses. Nah, saya ditempatkan di bagian pabrik. Tepatnya saya ditempatkan di pabrik Pupuk Kaltim I, pabrik paling tua yang didirikan pada tahun 1970," ujarnya.
 
Ia bercerita, pabrik Pupuk Kaltim I awalnya akan didirikan di kapal untuk mengolah amonia dan urea. Tetapi karena kesulitan eksekusi, pabrik itu dipindahkan ke darat dan baru beroperasi maksimal pada tahun 1984. Proses pemindahan pabrik Pupuk Kaltim I ke darat ini memakan waktu sampai 7 tahun lamanya. 
 
Dihadapkan dengan pengalaman bekerja di lapangan, Hanggara pun dihadapkan pada banyak sekali masalah. Salah satunya pabrik kerap mengalami mati listrik 4 sampai 5 kali dalam sebulan. Namun, semua itu tetap memberikan pengalaman berharga buat dirinya. 
 
Ada banyak rekan kerja yag menjadi  sosok panutan baginya, baik itu  para atasan hingga pegawai operator. Dia melihat bagaimana para atasannya saat itu memiliki pandangan dan pendekatan tertentu dalam bekerja dan menyelesaikan masalah. 
 
Dia juga belajar dari pegawai operator dalam mengatasi setiap masalah yang muncul di pabrik.  "Jadi di sana, saya lebih banyak berhadapan dengan hal-hal teknis daripada teori. Dari sini pula saya belajar bagaimana proses kinerja pabrik ammonia, apa saja kendala yang dialami dan bagaimana cara mengatasinya. Saya juga langsung belajar dari orang-orang profesional dan berpengalaman di sana," tambahnya. 
 
Pengalaman 20 tahun bekerja sebagai insinyur, membuatnya mengenal seluk beluk Pabrik Pupuk Kaltim I. Pada tahun 2000, Hanggara dipindahkan ke PT Pupuk Kaltim IV. Saat itu dipercaya ia terlibat dalam sebuah proyek.
 
Berkat pengalamannya di bidang operasional set-up, ia diminta membantu timnya bekerjasama dengan orang-orang dari Jepang. Pada tahun 2011, dirinya diangkat menjadi SVP Teknik Manajemen PT Pupuk Indonesia. 
 
Hanggara menjelaskan, pada tahun tersebut PT Pupuk Kaltim Group membuat holding yang dahulu bernama PT Pupuk Sriwijaya. Ia diminta untuk pindah ke PT Pupuk Indonesia yang tugasnya membawahi 
 
PT Pupuk Sriwijaya di Palembang, PT Petrokimia Gresik, PT Pupuk Kujang Cikampek, dan juga PT Pupuk Kaltim itu sendiri. 
 
Sepanjang 5 tahun memegang posisi itu, Hanggara dipercaya menjadi Direktur Teknik dan Pengembangan untuk PT Pupuk Kujang di Cikampek. Hanggara ditugaskan di Cikampek hingga tahun 2020 dan pada 2021 kembali "pulang kampung" ke Bontang atau PT Pupuk Kaltim IV sebagai Direktur Operasi dan Produksi.  
 
Hal terpenting yang patut dicatat dari industri pabrik kimia yang digelutinya adalah meminimalkan angka kecelakaan kerja. Sebab, proses produksi pabrik kimia  penuh dengan risiko.    


Baca juga