Harga AADI Turun 30% dari Rekor Tertinggi, Fundamental Melemah atau Pasar Pesimistis?

Selasa, 23 Juni 2026 | 22:03 WIB
Harga AADI Turun 30% dari Rekor Tertinggi, Fundamental Melemah atau Pasar Pesimistis?
[ILUSTRASI. Saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) mulai menunjukkan tanda pemulihan dalam jangka pendek. ]
Reporter: Sugeng Adji Soenarso | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) mulai menunjukkan tanda pemulihan dalam jangka pendek. Pada perdagangan Senin (22/6), saham AADI ditutup menguat 2,86% ke level Rp 8.100 per saham.

Meski demikian, tekanan masih terasa jika dilihat dalam horizon yang lebih panjang. Dalam sepekan terakhir saham AADI masih melemah 2,11% dan jika dihitung dari puncak harga atau all time high (ATH) di Rp 11.675 pada 31 Maret 2026, maka AADI sudah turun 30,62%.

Analis Senior Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas menilai, koreksi AADI bermula dari aksi profit taking setelah reli yang cukup kuat pada kuartal pertama. "Namun, sentimen negatif semakin menguat setelah perseroan merilis laporan keuangan kuartal I-2026 yang menunjukkan penurunan kinerja baik dari sisi pendapatan maupun laba bersih," ujarnya kepada KONTAN, Senin (22/6).

Harga saham AADI sempat kembali mendekati level tertinggi sebelumnya di Rp 11.600. "Sehingga publikasi kinerja tersebut menjadi katalis yang memicu perubahan sentimen pasar," sambungnya.

Menurut Sukarno, pasar mulai mempertanyakan keberlanjutan pertumbuhan laba AADI. Pasalnya, sebagai emiten batubara, profitabilitas perusahaan sangat sensitif terhadap perubahan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) batubara.

Baca Juga: Kredit Kontruksi Menanjak, Tapi Risikonya Masih Tinggi

Praktisi Pasar Modal, Sunar Susanto melihat pelemahan kinerja kuartal pertama memang menjadi salah satu faktor yang membebani pergerakan saham. Selain itu, aksi jual investor asing yang berlangsung bertahap turut memperbesar tekanan terhadap harga saham AADI.

Senin (22/6), AADI mencatat jual bersih Rp 60,77 miliar dan sebulan terakhir telah mengakumulasi jual bersih Rp 640,35 miliar. Jika dilihat dari saat mencapai ATH, asing mengakumulasi jual bersih Rp 136,64 miliar.

Namun tidak semua analis melihat koreksi tersebut sebagai cerminan memburuknya fundamental.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand menilai pelemahan AADI lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal, mulai dari koreksi IHSG, aksi ambil untung setelah kenaikan signifikan, hingga ketidakpastian terkait persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026.

Di tengah koreksi tersebut, Abida justru melihat nilai fundamental AADI masih menarik. Bahkan, BRI Danareksa menaikkan asumsi ASP AADI untuk tahun 2026 ke US$ 77 per ton seiring harga Newcastle di US$ 130 per ton.

"Ini mendorong upgrade earnings 2026-2027 sebesar 44%-84%," sebutnya.

Selain itu, katalis pendukung AADI dari status IUPK, penurunan biaya produksi, serta pertumbuhan kontribusi anak usaha yang dinilai masih menjadi penopang prospek jangka menengah.

 

 

Analis OCBC Sekuritas, Devi Praharsa turut mengamini. Menurut dia, tekanan terhadap saham-saham tambang dalam beberapa bulan terakhir lebih banyak berasal dari faktor makro dan regulasi. " Status MSCI Indonesia yang masih dibekukan, pelemahan rupiah, dan ketidakpastian kebijakan sektor pertambangan," terangnya.

Oleh sebab itu, Abida menilai pasar masih terlalu pesimistis akan AADI. "Dengan peningkatan proyeksi laba dan juga target harga AADI di Rp 12.400, pasar belum sepenuhnya mengapresiasi dampak positif kenaikan harga batubara," sambungnya.

Meski terdapat perbedaan pandangan mengenai penyebab koreksi, mayoritas analis menilai peluang pemulihan saham AADI masih terbuka.

Baca Juga: Pemerintah Berencana Merevisi Harga DMO, Asa Emiten Batubara Menyala

Sukarno menilai penguatan harga batubara, realisasi produksi yang lebih baik dari ekspektasi, serta potensi pembagian dividen yang menarik dapat menjadi katalis yang mendorong perbaikan valuasi saham. Selain itu, sambung Abida, pemulihan IHSG yang akan membawa AADI ikut rerating.

Dari sisi teknikal, Sunar menilai level Rp 7.700 menjadi area krusial yang perlu dijaga. "Selama bertahan di atas level tersebut, peluang rebound masih terbuka dengan target menuju kisaran Rp 8.850 hingga Rp 10.000," kata dia.

Adapun bagi investor, strategi yang ditempuh bergantung pada profil masing-masing. Analis berpandangan investor yang telah memiliki saham AADI dapat mempertimbangkan untuk tetap menahan posisi sambil mencermati perkembangan harga batubara, kepastian RKAB, dan kinerja operasional perusahaan pada kuartal berikutnya.

"Bagi investor yang belum masuk, lebih tunggu overhang mereda," tutup Devi.

Bagikan

Berita Terbaru

Garudafood (GOOD) Menahan Kenaikan Harga Produk
| Senin, 13 Juli 2026 | 22:25 WIB

Garudafood (GOOD) Menahan Kenaikan Harga Produk

Pihaknya mengakui tekanan inflasi masih berpotensi memengaruhi struktur biaya, terutama pada komponen bahan baku dan biaya operasional.

Rumor Dual Listing AMMN di Hong Kong Mencuat, Agoes Projosasmito: Belum Ada Rencana
| Senin, 13 Juli 2026 | 11:30 WIB

Rumor Dual Listing AMMN di Hong Kong Mencuat, Agoes Projosasmito: Belum Ada Rencana

PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) lebih dulu menggelar dual listing di Papan Utama HKEX dan melantai pada 26 Juni 2026.

Menakar Efek Mandatori Bioetanol E20 Terhadap Emiten Produsen Etanol
| Senin, 13 Juli 2026 | 10:30 WIB

Menakar Efek Mandatori Bioetanol E20 Terhadap Emiten Produsen Etanol

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan bahwa pada tahun depan program mandatori bioetanol E20 akan berlaku. 

Smelter HPAL SLNC Bakal Beroperasi, Prospek MDKA Makin Berseri
| Senin, 13 Juli 2026 | 09:30 WIB

Smelter HPAL SLNC Bakal Beroperasi, Prospek MDKA Makin Berseri

Salah satu katalis positif bagi MDKA berasal dari akan beroperasinya smelter HPAL milik PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC).

Biaya Energi Menyusut, Margin Emiten Tambang Mineral Bisa Pulih
| Senin, 13 Juli 2026 | 09:18 WIB

Biaya Energi Menyusut, Margin Emiten Tambang Mineral Bisa Pulih

Biaya energi turun, profitabilitas emiten tambang diprediksi membaik di paruh kedua 2026. AMMN dan INCO paling sensitif terhadap perubahan ini.

Penguatan Dolar Amerika Masih Menekan Mata Uang Asia
| Senin, 13 Juli 2026 | 08:45 WIB

Penguatan Dolar Amerika Masih Menekan Mata Uang Asia

Rupiah melemah 0,58% pekan lalu, mencapai Rp 18.065 per dolar AS. Ketegangan geopolitik dan suku bunga AS jadi pemicu. Simak proyeksi selengkapnya

Sudah Saatnya KPI Direksi BEI Diperluas
| Senin, 13 Juli 2026 | 08:24 WIB

Sudah Saatnya KPI Direksi BEI Diperluas

Target ambisius BEI Rp 30.000 triliun terancam. Peningkatan kualitas IPO dan daya tarik emiten asing jadi kunci agar dana global masuk.

Produksi dan Penjualan Emas BRMS Mengalami Kenaikan di Kuartal II-2026
| Senin, 13 Juli 2026 | 08:14 WIB

Produksi dan Penjualan Emas BRMS Mengalami Kenaikan di Kuartal II-2026

Kenaikan volume penjualan emas sekitar 50% dibandingkan kuartal sebelumnya akan mampu mengimbangi pelemahan harga jual rata-rata.

Keyakinan Investor Anjlok, Net Sell Deras, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Senin, 13 Juli 2026 | 08:08 WIB

Keyakinan Investor Anjlok, Net Sell Deras, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Investor belum memiliki keyakinan kuat untuk meningkatkan eksposur risiko. Di sisi lain, investor asing terus mencetak net sell. 

Prospek Harga Emas Pekan Ini: Geopolitik, Inflasi, hingga Bank Sentral Jadi Penentu
| Senin, 13 Juli 2026 | 07:47 WIB

Prospek Harga Emas Pekan Ini: Geopolitik, Inflasi, hingga Bank Sentral Jadi Penentu

Arah pergerakan emas tetap sangat bergantung pada hasil berbagai data ekonomi Amerika Serikat yang akan dirilis pekan ini.

INDEKS BERITA

Terpopuler