Berita Bisnis

Harga Anjlok di Bawah Biaya Produksi, Nasib Peternak Ayam Terancam

Selasa, 25 Juni 2019 | 12:00 WIB
Harga Anjlok di Bawah Biaya Produksi, Nasib Peternak Ayam Terancam

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nasib peternak ayam ras (broiler) rakyat semakin terjepit. Bukan hanya merugi, tak sedikit dari mereka yang terpaksa harus gulung tikar akibat kondisi pasar tak mendukung.

Banyak faktor pemicunya. Mulai dari tingginya biaya sarana produksi akibat kenaikan harga bibit ayam atau day old chicken (DOC), harga pakan, serta kelebihan stok ayam broiler di pasaran lantaran banjir pasokan dari peternakan raksasa.

Efeknya, harga jual ayam di tingkat peternak merosot tajam, jauh di bawah harga pokok penjualan (HPP) yang ditetapkan pemerintah.

Saat yang sama, Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 96/2018 tentang Harga Acuan Pembelian di Tingkat Petani dan Harga Acuan Penjualan di Tingkat Konsumen tidak bertaji melindungi nasib peternak kecil.

Tak pelak, peternak daerah mulai berteriak. Dari Yogyakarta, misalnya, para peternak ayam bertekad akan membagikan 5.000 ayam ras secara gratis ke warga. Ini sebagai pertanda sektor perunggasan nasional terpuruk.

Aksi serupa bahkan akan terjadi di daerah-daerah lain. "Tidak hanya peternak Yogyakarta, peternak di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat mengalami hal yang sama," ujar Sekjen Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan) Sugeng Wahyudi kepada KONTAN, Senin (24/6).

Saat ini, kata dia, rata-rata harga daging ayam ras di tingkat peternak berkisar Rp 10.000 per kilogram (kg), sedang biaya produksi sudah mencapai Rp 18.500 per kg.

Menurut Sugeng, harga ayam ras di tingkat peternak sempat menyentuh Rp 6.000 per kg hingga Rp 7.000 per kg, sedang harga di konsumen mencapai Rp 35.000 per kg. "Ini sangat memukul peternak, sekaligus membuktikan koordinasi Kemdag dan Kemtan kurang baik," tandas dia.

Ketua Asosiasi Peternak Layer Nasional Ki Musbar Mesdi menguatkan ketidakberdayaan pemerintah menstabilkan harga ayam ras. "Kalau ada over supply di pasar, memang benar. Tapi, aneh, harga ayam karkas menjulang tinggi ketimbang ayam ras," ungkap dia.

Padahal, 80% ayam yang dipasarkan saat ini dalam bentuk ayam ras, bukan karkas. Kini, nilai jual ayam karkas menyentuh Rp 30.000 per kg.

Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemdag Tjahya Widayanti mengakui harga ayam ras turun tapi itu akibat kelebihan pasokan. "Ini sedang dipelajari," kata dia.

Hasil rapat analisa sebelumnya, pemerintah memutuskan akan menarik 30% bibit unggas untuk mengendalikan over supply. "Tapi saya tak punya hak dan wewenang soal ini (penarikan 30%) tanya Kemtan. Kami berpegang bahwa harga itu cerminan supply dan demand saja," kilah dia.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kemtan I Ketut Diarmita tak menampik disparitas harga. "Nyata-nyata ini permainan distributor atau broker, harga di pasar stabil tinggi, di peternak hancur lebur," sebut dia.

Terkait harga bukan kewenangan Kemtan, tapi Kemdag sesuai Permendag No. 96/2018. "Tugas saya di produksi. Jika produksi meningkat, artinya tugas saya berhasil. Soal harga diatur di Permendag No. 96/2018," tandas dia.

Wakil Ketua Komite Tetap Industri Pakan dan Veteriner Kadin Indonesia Sudirman mengatakan harga akan normal bila pemerintah menjalankan fungsi pengendalian pasokan. "Penurunan harga ini terburuk selama tiga hingga empat tahun terakhir," ujar dia. Menurut dia, Kemtan punya kewenangan pengendalian melalui Permentan No. 32/2017.

 

Reporter: Agung Hidayat, Kenia Intan, Lidya Yuniartha
Editor: Herry Prasetyo


Baca juga