Harga Jagung Memukul Kinerja JPFA

Selasa, 21 Juni 2022 | 04:20 WIB
Harga Jagung Memukul Kinerja JPFA
[]
Reporter: Yuliana Hema | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Meningkatnya harga jagung membuat PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) ikut mengerek harga jual produk. Tapi analis menilai cara tersebut tidak serta merta mendorong kinerja sepanjang tahun ini, terutama pada margin laba. 

Analis Ciptadana Sekuritas Asia Michael Filbery menilai, langkah JPFA menaikkan harga jual untuk mengatasi efek kenaikan harga jagung tidak signifikan untuk menopang kinerja. Pasalnya, kinerja Japfa masih tertekan di segmen broiler dan harga jual anak ayam usia sehari (DOC). 

Di sisi lain, kenaikan harga juga memberikan sinyal baik. Analis BRI Danareksa Sekuritas Victor Stefano dalam risetnya juga menuliskan, kenaikan average selling price (ASP) di seluruh segmen menunjukkan adanya peningkatan konsumsi atau daya beli. 

Baca Juga: Kinerja Japfa Comfeed (JPFA) Masih Dibayangi Pergerakan Harga Jual Broiler dan DOC

Michael mengatakan, langkah pemerintah menjalin kerjasama dengan Singapura untuk ekspor ayam cukup positif bagi Japfa. Indonesia nantinya akan mengekspor ayam ke Negeri Singa tersebut untuk menggantikan posisi Malaysia yang menyetop ekspor ayam. Jika berhasil, maka JPFA punya posisi yang baik untuk menangkap pasar ekspor," kata Michael, Senin (20/6).

Michael juga melihat penjualan segmen broiler melonjak pada April-Mei 2022, saat momentum Ramadan dan lebaran. Pada saat itu, harga broiler melonjak menjadi Rp 21.000-Rp 25.000, lebih tinggi dari harga di periode yang sama pada tahun lalu. 

Kondisi ini bisa menopang kinerja JPFA di semester I tahun ini. Pada kuartal I lalu, JPFA masih membukukan kenaikan penjualan bersih 12,61% menjadi Rp 12,14 triliun. Hanya saja beban pokok juga ikut naik, sehingga laba bersih JPFA tercatat hanya Rp 603,73 miliar, atau lebih rendah dari kuartal satu tahun lalu, sebesar Rp 858,66 miliar. Ini menandakan langkah Japfa menaikkan harga jual ternyata tidak cukup mengerek kinerja bottom line. 

Tapi Analis Mirae Asset Sekuritas Emma A. Fauni dalam risetnya menulis, pendapatan JPFA sudah sesuai ekspektasi. Kenaikan penjualan JPFA didorong kenaikan harga jual rata-rata broiler dan DOC. 

Baca Juga: Kokok Emiten Poultry Bakal Kurang Nyaring di Tahun Ini

Tak hanya itu volume penjualan juga meningkat sejalan dengan membaiknya mobilitias penduduk. Segmen pengolahan hasil peternakan dan produk konsumen naik 32,82% yoy menjadi Rp 1,84 triliun. 

Kinerja JPFA juga didorong oleh kenaikan bahan baku yang lebih tinggi dari segmen pakan ternak. Namun, Emma menilai kekuatan JPFA masih berada di segmen peternakan unggas, yang ditopang dari kenaikan harga DOC yang lebih tinggi di pasar.

Margin lab

Namun tidak dipungkiri jika margin operasi JPFA turun dibanding kuartal I-2021. Toh, Emma dan Michael masih yakin harga jagung dan kedelai akan menjadi lebih rendah di kuartal berikutnya, karena datangnya musim panen. 

Baca Juga: Dibayangi Fluktuasi Harga, Simak Rekomendasi Saham Sektor Poultry

Karena itu Emma memprediksi pendapatan JPFA masih akan naik menjadi Rp 47,12 triliun. Sedang laba bersih jadi Rp 2,09 triliun tahun ini. 

Namun, Michael menilai, berbeda dari kuartal sebelumnya, bisnis JPFA bisa terpengaruh kebijakan pemerintah meniadakan culling atau stock adjustment. Ini dapat membuat harga DOC dan broiler kembali rentan pada semester II-2022. 

Michael menilai outlook untuk segmen poultry sepanjang tahun ini masih netral. Ia memprediksi penjualan JPFA bisa tumbuh 12,2% secara tahunan menjadi Rp 50,34 triliun tahun ini, Tapi laba bersih stagnan di Rp 2 triliun. 

Meski begitu, ketiga analis masih merekomendasikan beli saham JPFA. Michael dan Emma sama-sama menargetkan JPFA di harga Rp 2.000. Sementara, Victor menurunkan target harga saham JPFA dari Rp 1.900 menjadi Rp 1.800 per saham. 

Baca Juga: Simak Rekomendasi Teknikal untuk PGAS, ARTO dan JPFA pada Perdagangan Kamis (16/6)

Bagikan

Berita Terbaru

Menyesap Harumnya Dividen, Mewaspadai Penurunan Harga
| Kamis, 24 September 2026 | 08:51 WIB

Menyesap Harumnya Dividen, Mewaspadai Penurunan Harga

Sejumlah emiten dari berbagai sektor akan mencatatkan cum dividen interim pada akhir bulan September 2026

Kredit Perbankan Melaju Kencang Agustus 2026
| Kamis, 24 September 2026 | 08:06 WIB

Kredit Perbankan Melaju Kencang Agustus 2026

Pertumbuhan kredit perbankan mencapai 13,65% pada Agustus 2026, tetapi ekspansinya masih belum merata antarbank dan segmen.

Kebijakan Insentif Bank Sentral Mulai Menurunkan Kepemilikan Bank di SBN
| Kamis, 24 September 2026 | 08:01 WIB

Kebijakan Insentif Bank Sentral Mulai Menurunkan Kepemilikan Bank di SBN

Penempatan dana perbankan pada SBN mulai menunjukkan penurunan menyusul implementasi insentif KLM Pendalaman Pasar Uang 

Laba Melompat, Kinerja Saham ADMR Jalan di Tempat
| Kamis, 24 September 2026 | 07:41 WIB

Laba Melompat, Kinerja Saham ADMR Jalan di Tempat

Meski meraih kinerja keuangan positif, harga saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) justru stagnan

Semakin Bergigi dengan Elektrifikasi
| Kamis, 24 September 2026 | 07:37 WIB

Semakin Bergigi dengan Elektrifikasi

Sejumlah emiten di sektor layanan transportasi mulai aktif mengoperasikan kendaraan listrik dan hibrid

Rupiah Masih Rawan Melemah
| Kamis, 24 September 2026 | 07:18 WIB

Rupiah Masih Rawan Melemah

Nilai tukar rupiah menguat setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan BI rate di level 5,75%.

Lonjakan Harga Bahan Baku Bisa Menekan Kinerja JPFA, Simak Rekomendasi Sahamnya
| Kamis, 24 September 2026 | 07:16 WIB

Lonjakan Harga Bahan Baku Bisa Menekan Kinerja JPFA, Simak Rekomendasi Sahamnya

Mengukur peluang dan tantangan kinerja PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) di tengah kenaikan harga ayam dan bahan baku

BI Rate Bertahan, Reksadana Pendapatan Tetap Masih Beri Cuan
| Kamis, 24 September 2026 | 07:12 WIB

BI Rate Bertahan, Reksadana Pendapatan Tetap Masih Beri Cuan

Level suku bunga yang masih tinggi membuat harga obligasi yang menjadi aset dasar reksadana pendapatan tetap (RDPT) menghadapi tekanan.​

Ancaman Arus Keluar Dana Asing Masih Besar
| Kamis, 24 September 2026 | 07:10 WIB

Ancaman Arus Keluar Dana Asing Masih Besar

Spread suku bunga Indonesia dan global menyempit, aset rupiah berpotensi menjadi kurang menarik bagi investor

APBN 2026 Dihantui Lonjakan Harga Minyak
| Kamis, 24 September 2026 | 06:44 WIB

APBN 2026 Dihantui Lonjakan Harga Minyak

Harga minyak mentah berjangka jenis Brent masih berada di level US$ 100 per barel                   

INDEKS BERITA

Terpopuler