Harga Nikel Tertekan Oversupply, ini Prospek dan Emiten yang Berpotensi Tahan Banting
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga nikel global masih dibayangi kelebihan pasokan atau oversupply yang membuat ruang pemulihan harga logam industri ini terbatas.
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi emiten nikel, terutama dalam menjaga margin keuntungan di tengah tekanan harga jual dan biaya operasional.
Melansir The Investing Rabu (28/10), harga nikel global berada di kisaran US$ 15.600 per ton, sekitar 20% di bawah level tertinggi tahun ini sebesar US$ 19.448 per ton yang tercatat pada 5 Mei 2026.
Tekanan harga tersebut terjadi di tengah penumpukan persediaan setelah pasar mengalami surplus selama beberapa tahun, sementara permintaan dari industri baterai belum tumbuh sekuat yang diharapkan.
Persediaan nikel di gudang London Metal Exchange (LME) tercatat mencapai 282.504 ton pada 12 Oktober 2026, mendekati level tertinggi tahun ini sebesar 289.506 ton pada 25 Februari 2026.
Baca Juga: Bedah Tuntas Akuisisi Tambang Nikel PACK: Nilai Jumbo Versus Kualitas Laba Proforma
Senior Investment Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta pun menilai tekanan harga nikel mencerminkan persoalan fundamental berupa kelebihan pasokan yang belum sepenuhnya diimbangi permintaan.
"Tekanan harga nikel global di kisaran US$ 15.600 per ton menunjukkan bahwa pasar nikel masih menghadapi persoalan fundamental berupa kelebihan pasokan (oversupply) yang belum sepenuhnya terserap oleh permintaan," papar Nafan kepada KONTAN, Rabu (28/10).
Kondisi ini cukup signifikan karena harga nikel berpengaruh langsung terhadap realisasi harga jual, margin keuntungan, arus kas operasional, dan kemampuan emiten untuk membiayai ekspansi.
Dia juga memandang bahwa penumpukan persediaan nikel di gudang London Metal Exchange (LME) juga mengindikasikan bahwa proses penyeimbangan pasar masih membutuhkan waktu.
Tetapi walau demikian, penurunan harga tidak serta-merta membuat seluruh emiten nikel mengalami tekanan dengan besaran yang sama, mengingat masing-masing perusahaan memiliki struktur biaya produksi, kualitas cadangan, tingkat integrasi bisnis, dan komposisi produk yang berbeda.
Pemulihan harga nikel tetap akan sangat bergantung pada kemampuan pasar menyerap kelebihan pasokan, terutama melalui penyesuaian produksi dari produsen berbiaya tinggi dan pengendalian ekspansi kapasitas baru.
Tak hanya itu, prospek permintaan dari industri baja nirkarat (stainless steel) tetap menjadi faktor penting, mengingat sektor ini merupakan pengguna utama nikel.
Selain itu, pertumbuhan industri kendaraan listrik (EV), peningkatan produksi baterai, serta perkembangan teknologi penyimpanan energi dapat menjadi katalis tambahan, meskipun realisasi permintaan baterai masih berpotensi berada di bawah ekspektasi.
Sementara dari sisi eksternal, pelemahan dolar AS, penurunan suku bunga global, dan membaiknya aktivitas manufaktur juga dapat mendukung sentimen komoditas.
