Harga Nikel Tertekan Oversupply, ini Prospek dan Emiten yang Berpotensi Tahan Banting

Kamis, 29 Oktober 2026 | 08:09 WIB
Harga Nikel Tertekan Oversupply, ini Prospek dan Emiten yang Berpotensi Tahan Banting
[ILUSTRASI. Presiden luncurkan program hilirisasi di Malut (ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA)]
Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga nikel global masih dibayangi kelebihan pasokan atau oversupply yang membuat ruang pemulihan harga logam industri ini terbatas.

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi emiten nikel, terutama dalam menjaga margin keuntungan di tengah tekanan harga jual dan biaya operasional.

Melansir The Investing Rabu (28/10), harga nikel global berada di kisaran US$ 15.600 per ton, sekitar 20% di bawah level tertinggi tahun ini sebesar US$ 19.448 per ton yang tercatat pada 5 Mei 2026.

Tekanan harga tersebut terjadi di tengah penumpukan persediaan setelah pasar mengalami surplus selama beberapa tahun, sementara permintaan dari industri baterai belum tumbuh sekuat yang diharapkan.

Persediaan nikel di gudang London Metal Exchange (LME) tercatat mencapai 282.504 ton pada 12 Oktober 2026, mendekati level tertinggi tahun ini sebesar 289.506 ton pada 25 Februari 2026.

Baca Juga: Bedah Tuntas Akuisisi Tambang Nikel PACK: Nilai Jumbo Versus Kualitas Laba Proforma

Senior Investment Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta pun menilai tekanan harga nikel mencerminkan persoalan fundamental berupa kelebihan pasokan yang belum sepenuhnya diimbangi permintaan.

"Tekanan harga nikel global di kisaran US$ 15.600 per ton menunjukkan bahwa pasar nikel masih menghadapi persoalan fundamental berupa kelebihan pasokan (oversupply) yang belum sepenuhnya terserap oleh permintaan," papar Nafan kepada KONTAN, Rabu (28/10).

Kondisi ini cukup signifikan karena harga nikel berpengaruh langsung terhadap realisasi harga jual, margin keuntungan, arus kas operasional, dan kemampuan emiten untuk membiayai ekspansi.

Dia juga memandang bahwa penumpukan persediaan nikel di gudang London Metal Exchange (LME) juga mengindikasikan bahwa proses penyeimbangan pasar masih membutuhkan waktu.

Tetapi walau demikian, penurunan harga tidak serta-merta membuat seluruh emiten nikel mengalami tekanan dengan besaran yang sama, mengingat masing-masing perusahaan memiliki struktur biaya produksi, kualitas cadangan, tingkat integrasi bisnis, dan komposisi produk yang berbeda.

Pemulihan harga nikel tetap akan sangat bergantung pada kemampuan pasar menyerap kelebihan pasokan, terutama melalui penyesuaian produksi dari produsen berbiaya tinggi dan pengendalian ekspansi kapasitas baru.

Tak hanya itu, prospek permintaan dari industri baja nirkarat (stainless steel) tetap menjadi faktor penting, mengingat sektor ini merupakan pengguna utama nikel.

Selain itu, pertumbuhan industri kendaraan listrik (EV), peningkatan produksi baterai, serta perkembangan teknologi penyimpanan energi dapat menjadi katalis tambahan, meskipun realisasi permintaan baterai masih berpotensi berada di bawah ekspektasi.

Sementara dari sisi eksternal, pelemahan dolar AS, penurunan suku bunga global, dan membaiknya aktivitas manufaktur juga dapat mendukung sentimen komoditas.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

Setelah The Fed Menahn Suku Bunga, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini, Kamis (29/10)
| Kamis, 29 Oktober 2026 | 08:57 WIB

Setelah The Fed Menahn Suku Bunga, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini, Kamis (29/10)

Pasar keuangan domestik masih dibayangi sejumlah tekanan. Seperti pelemahan rupiah, arus keluar modal asing dan kenaikan yield SBN.​

Rupiah di Ujung Tanduk, Ini Daftar PR Pemangku Kepentingan Agar Kembali Menguat
| Kamis, 29 Oktober 2026 | 08:54 WIB

Rupiah di Ujung Tanduk, Ini Daftar PR Pemangku Kepentingan Agar Kembali Menguat

Dalam skenario negatif, nilai tukar rupiah berisiko melemah menuju Rp 18.500–Rp 19.000 per dolar AS.

ELSA Ajukan Letter of Intent ke PHE: Cek Proyeksi Kinerja dan Pandangan Analis
| Kamis, 29 Oktober 2026 | 08:27 WIB

ELSA Ajukan Letter of Intent ke PHE: Cek Proyeksi Kinerja dan Pandangan Analis

Hingga kuartal III-2026, pendapatan ELSA tumbuh 15,8% YoY menjadi Rp 12,13 triliun dan laba bersih melesat 29,4% YoY menjadi Rp 681,55 miliar.

Niramas Ekspor Perdana Jeli ke Kawasan Karibia
| Kamis, 29 Oktober 2026 | 08:25 WIB

Niramas Ekspor Perdana Jeli ke Kawasan Karibia

PT Niramas Utama Tbk (JELI), produsen makanan dan minuman bermerek Inaco yakin kinerja perusahaan membaik di semester II-2026. 

ADHI Meraih Kontrak Baru Rp 9,4 Triliun Sampai Kuartal III 2026
| Kamis, 29 Oktober 2026 | 08:24 WIB

ADHI Meraih Kontrak Baru Rp 9,4 Triliun Sampai Kuartal III 2026

PT Adhi Karya Tbk (ADHI) membukukan kontrak baru senilai Rp 9,4 triliun hingga akhir kuartal III-2026.

Harga Nikel Tertekan Oversupply, ini Prospek dan Emiten yang Berpotensi Tahan Banting
| Kamis, 29 Oktober 2026 | 08:09 WIB

Harga Nikel Tertekan Oversupply, ini Prospek dan Emiten yang Berpotensi Tahan Banting

Tekanan industri turut membayangi lewat lonjakan stok nikel di China dan pelonggaran RKAB. Kondisi tersebut memicu banjir pasokan nikel nasional.

Laba IMPC Tumbuh 37,5% hingga Kuartal III-2026, Simak Prospek dan Target Sahamnya
| Kamis, 29 Oktober 2026 | 08:07 WIB

Laba IMPC Tumbuh 37,5% hingga Kuartal III-2026, Simak Prospek dan Target Sahamnya

Perbaikan posisi keuangan IMPC tercermin dari penurunan rasio utang terhadap EBITDA menjadi 0,5 kali.

Kinerja AUTO Ditopang Manufaktur di Kuartal III-2026
| Kamis, 29 Oktober 2026 | 08:03 WIB

Kinerja AUTO Ditopang Manufaktur di Kuartal III-2026

PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 15% secara tahunan di akhir kuartal III-2026.

Volatilitas Saham BRIS: Asing Jual-Beli, Analis Kompak Beri Saran Wait and See
| Kamis, 29 Oktober 2026 | 07:55 WIB

Volatilitas Saham BRIS: Asing Jual-Beli, Analis Kompak Beri Saran Wait and See

Langkah BRIS menggelar rights issue di tengah kondisi pasar yang tertekan membuat investor menyikapinya lebih berhati-hati.

The Fed Tahan Suku Bunga, Technical Rebound IHSG Bisa Berlanjut
| Kamis, 29 Oktober 2026 | 07:51 WIB

The Fed Tahan Suku Bunga, Technical Rebound IHSG Bisa Berlanjut

Penguatan IHSG mengindikasikan technical rebound setelah indeks beberapa kali mendapat respons beli di area support.

INDEKS BERITA

Terpopuler