Harga Saham IPO Melesat, Jangan Buru-Buru Diembat

Jumat, 28 Juni 2019 | 17:57 WIB
Harga Saham IPO Melesat, Jangan Buru-Buru Diembat
[]
Reporter: Dupla Kartini | Editor: Dupla Kartini

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sebanyak 17 emiten resmi mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang enam bulan pertama pada tahun ini. Emiten pendatang baru didominasi oleh sektor perdagangan, jasa, dan investasi. Setidaknya, ada empat emiten yang menjalankan bisnis perhotelan, travel dan pariwisata. Lalu, satu perusahaan jasa konsultasi keuangan, dan satu lagi pemilik klub sepakbola.

Selain sektor jasa dan perdagangan, 11 emiten lainnya tersebar dari beragam sektor, yaitu properti, infrastruktur, consumer goods, transportasi, dan aneka industri. 

Tak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, mayoritas saham IPO melesat di hari perdana perdagangan. Bahkan sebagian besar terkena penolakan otomatis oleh sistem di bursa karena menyundul batas atas kenaikan harga alias auto rejection atas (ARA).

Misalnya, saham PT Citra Putra Realty Tbk (CLAY) yang melejit 70% pada hari pertama melantai di bursa pada 18 Januari. CLAY terkena auto rejection pada hari perdana, sebab dengan harga pelaksanaan IPO sebesar Rp 180, hanya diperkenankan naik maksimal 70%.

Laju kenaikan saham CLAY berlanjut pasca-IPO. Hingga Kamis (27/6), saham pengelola hotel dan resor milik OSO Grup ini tercatat telah meroket 1.672% dari harga IPO. CLAY pun menjadi jawara kenaikan tertinggi.

Di antara deretan pendatang baru, hanya saham PT Communication Cable Systems Indonesia Tbk (CCSI) yang kurang bertenaga. Pada perdagangan perdana 18 Juni, saham produsen kabel ini ditutup turun 1,6%, kendati sempat melonjak 40% pada awal transaksi. Hingga Kamis (27/6), harganya melemah sekitar 11,20% dari harga IPO.

Daftar IPO di BEI Pada Semester I-2019

Emiten Listing  Nilai Emisi (Rp miliar Harga IPO (Rp/saham) Kenaikan di Hari Perdana (%) Harga per 27 Juni 2019 (Rp/saham) Return (%)
FOOD 8-Jan 20,2 135 68,88 152 12,59
POLI 10-Jan 657,44 1.635 49,85 (ARA) 1.020 -37,61
BEEF 10-Jan 128,13 340 14,12 210 -38,23
NATO 18-Jan 206 103 69,90 (ARA) 695 574
CLAY 18-Jan 93,60 180 70 (ARA) 3.190 1.672
JAYA 21-Feb 43,28 288 50 (ARA) 122 -57,63
COCO 20-Mar 33,26 198 69,69 (ARA) 920 364
MTPS 10-Apr 200 320 50 (ARA) 1.185 270
CPRI 11-Apr 85,42 125 55,20 76 -39,20
HRME 12-Apr 125,33 105 69,52 (ARA) 350 233
POSA 10 Mei 255 150 69,33 (ARA) 420 180
JAST 16 Mei 50,04 246 49,59 (ARA) 610 147,96
FITT 11-Jun 22,44 102 69,61 (ARA) 126 23,53
BOLA 17-Jun 350 175 69,14 (ARA) 370 111,42
CCSI 18-Jun 50 250 -1.60 222 -11,20
SFAN 19-Jun 39,95 188 69,15 (ARA) 600 219
POLU 26-Jun 43,20 288 50 (ARA) 540 87,50
             
Sumber: Bloomberg, Riset KONTAN        

Perlu historikal

Kendati mayoritas harga saham naik saat pertama kali melantai di BEI, toh, tak semua melanjutkan reli. Setidaknya, empat saham telah bergerak ke bawah harga IPO, setelah menikmati kenaikan cukup signifikan di awal listing

Tengok saja saham PT Armada Berjaya Trans Tbk (JAYA) yang kini diperdagangkan 57% lebih rendah daripada harga pelaksanaan IPO. Padahal, saat pertama listing, saham perusahaan pengangkutan barang kargo ini terkena auto rejection lantaran naik sampai 50%.

Nah, apakah pergerakan harga saham IPO sejauh ini sudah bisa menggambarkan prospeknya?

Herditya Wicaksana, Analis MNC Sekuritas, menjelaskan, secara teknikal, prospek saham yang baru IPO belum terlihat, sebab belum terbentuk historikalnya. Apalagi, belum terlihat demand dan supply yang sebenarnya di pasar. “Paling tidak perlu waktu setahun,” kata dia.

Menurut Herditya, kenaikan tajam yang terjadi pada saham pendatang baru umumnya disebabkan permintaan investor yang lebih besar (oversubscribe) dibandingkan jumlah saham yang ditawarkan emiten. Kenaikan harga juga bisa didorong ekspektasi positif investor terhadap prospek emiten. Itu karena penggunaan dana IPO ditujukan untuk ekspansi atau pengembangan usaha, bukan untuk membayar utang.

Kepala Riset Narada Asset Management Kiswoyo Adi Joe mengatakan, dari sisi fundamental, prospek emiten baru bisa terlihat setelah dua tahun listing di bursa. “Biasanya perusahaan kalau mau IPO dipercantik. Nah, setelah dua tahun IPO akan kelihatan aslinya,” kata dia.

Analis OSO Sekuritas Sukarno Alatas mengatakan, memang agak berisiko memilih saham yang baru saja IPO, jika momennya kurang pas. Namun, setidaknya untuk saham-saham yang listing setahun lalu, sudah mulai ada gambaran. “Bisa lihat trennya dulu. Kalau turun, hindari dulu sampai ada sinyal pembalikan arah. Kemudian, hasil kinerja kuartal pertama 2019 bisa menjadi acuan untuk memilih,” papar dia.

Herditya sependapat. Dia bilang, saat bertransaksi saham baru IPO, selain acuan harga sedang fase uptrend, penting juga mencermati kinerja keuangan dan perkembangan kegiatan usahanya.

Saham pilihan

Kepala Riset Artha Sekuritas Frederik Rasali menilai, semua perusahaan yang masuk daftar IPO di BEI memiliki prospek yang menarik. Tetapi, tak semuanya bisa serta merta dibeli ketika IPO. Investor harus melihat prospek industri secara keseluruhan. Sektor konsumer dan perbankan bisa menjadi fokus investor pada tahun ini. “Pilihan lainnya sektor infrastruktur. Tapi, memang pertumbuhan anggaran infrastruktur di APBN sudah melambat,” ujarnya.

Sementara, Sukarno menilai, tak banyak emiten pendatang baru di semester pertama yang prospek bisnisnya menarik. Salah satunya, saham PT Estika Tata Tiara Tbk (BEEF) bisa masuk watchlist. Pertimbangan dia, prospek BEEF menarik seiring rencana ekspansi. Produsen daging sapi dan produk olahannya ini berencana menambah 10 jaringan distribusi pada tahun ini, yang akan diperluas ke luar Jawa.

Menurut prospektus IPO, dari Rp 128 miliar dana yang diraih, manajemen BEEF akan menggunakan 70% untuk modal kerja. Sisa 30% untuk investasi perluasan kandang dan membangun dua fasilitas produksi. Pemegang merek dagang Kibif ini akan menambah kapasitas bisnis penggemukan dan penjualan sapi dari 1.000 ekor per bulan menjadi 2.000 sapi. Usaha ini melengkapi bisnis daging olahan yang berkapasitas 1.500 ton per bulan.

Sejalan dengan ekspansi, BEEF membidik pendapatan tahun ini mencapai Rp 1,4 triliun. Berdasarkan laporan keuangan tahun 2018, pendapatan BEEF naik tipis 5,84% year on year (yoy) menjadi Rp 895,93 miliar. Sedangkan, laba bersih  nya hanya naik 0,38% menjadi Rp 29,72 miliar.

Nah, pada kuartal I-2019, emiten ini telah membukukan pendapatan Rp 278,27 miliar, naik 38% yoy. Sementara, laba bersih nya melompat 115% menjadi Rp 14,95 miliar.

Selain prospek bisnis, menurut analisa Sukarno, dari sisi pergerakan teknikal ada peluang BEEF menguat dan mengakhiri konsolidasi. Pada Kamis (27/6), harga BEEF ditutup di Rp 210. Harganya memang lebih rendah daripada harga IPO sebesar Rp 340. Tapi, sebulan terakhir, harganya sudah beranjak naik. “Dalam jangka pendek, jika mampu menguji Rp 220, target selanjutnya bisa mencapai level Rp  250,” prediksi Sukarno. 

Saham lain yang menurut Sukarno layak dilirik adalah PT Bliss Properti Indonesia Tbk (POSA). Tapi, saham ini hanya untuk trading. Saham pengembang properti ini masih berpeluang menguat dengan adanya katalis  insentif pajak. Seperti kita tahu, pemerintah menaikkan batas minimal harga jual properti yang dikutip Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM) menjadi Rp 30 miliar dari semula Rp 20 miliar. Sementara PPh hunian mewah diturunkan dari 5% menjadi 1%.

Prediksi Sukarno, jika lanjut reli, saham POSA berpeluang menyentuh Rp 620 per saham. Kamis (27/6), harganya ditutup di level Rp 420.

Antre IPO

Di semester kedua, masih ada belasan calon emiten yang antre untuk IPO. Salah satunya, PT Eastparc Hotel Tbk yang bakal melantai di bursa pada 5 Juli 2019. 

Sektor perhotelan dan pariwisata tampaknya mulai gencar mencari pendanaan di pasar modal. Di semester pertama saja, ada empat emiten pendatang baru yang menjalankan bisnis tersebut.

Dari sisi bisnis, pariwisata dan perhotelan punya kans seiring perkembangan gaya hidup masyarakat. Kendati begitu, bisnis ini bukan tanpa tantangan. Menurut Sukarno, dalam jangka pendek, sentimen harga tiket pesawat bisa memengaruhi kinerja perusahaan. Masyarakat masih butuh penyesuaian terkait harga tiket. Praktis, sektor pariwisata agak lesu meski dalam jangka panjang masih berprospek.    

Daftar Antrean IPO di BEI 
       
Emiten Harga IPO Jumlah Saham IPO Target Listing
PT Krida Jaringan Nusantara Tbk  Rp 202 30% 1 Juli
PT Indonesian Tobacco Tbk  Rp 219 7,8% 4 Juli
PT Darmi Bersaudara Tbk  Rp 150 22,57% 4 Juli
PT Bima Sakti Pertiwi Tbk  Rp 100 20% 5 Juli
PT Eastparc Hotel Tbk  Rp 125-Rp 145 10% 5 Juli
PT MNC Vision Networks Tbk  Rp 231-Rp 243 10% 8 Juli
PT Envy Technologies Indonesia Tbk  Rp 350-Rp 475 33,33% 8 Juli
PT DMS Propertindo Tbk  Rp 150-Rp 200 29,13% 9 Juli
PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG Tbk  Rp 12.100 40% 9 Juli
PT Fuji Finance Indonesia Tbk  Rp 105-Rp 120 25%-30% 9 Juli
PT Satyamitra Kemas Lestari Tbk  Rp 193 32,10% 11 Juli
PT Inocycle Technology Group  Rp 240-Rp 380 39,99% 11 Juli
PT Hensel Davest Indonesia Tbk  Rp 396-Rp 525 25% 12 Juli
PT Arkha Jayanti Persada Tbk  Rp 190-Rp 300 25%  
PT Ifishdeco Tbk       
PT Dana Brata Luhur Tbk       
PT Itama Ranoraya Tbk       
PT Net Visi Media Tbk       
PT Andalan Sakti Primaindo Tbk      
       
Sumber: Riset KONTAN      

Bagikan

Berita Terkait

Berita Terbaru

Sudah Masuk Pasar Modal, Danantara Atur Ulang Portofolio Investasi Pasca Putusan MSCI
| Kamis, 29 Januari 2026 | 14:01 WIB

Sudah Masuk Pasar Modal, Danantara Atur Ulang Portofolio Investasi Pasca Putusan MSCI

CIO Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir merespons keputusan MSCI sudah sangat tepat menekankan pada transparansi, keterbukaan, dan likuiditas.

Perubahan Batas Minimum Free Float, Simak Kata Emiten dan Pelaku Pasar
| Kamis, 29 Januari 2026 | 11:00 WIB

Perubahan Batas Minimum Free Float, Simak Kata Emiten dan Pelaku Pasar

Investor global tidak percaya pada data kepemilikan saham yang tertera dalam Laporan Komposisi Kepemilikan Bulanan KSEI maupun BEI.

Sebanyak 43 Saham LQ45 Berdarah-darah, DSSA dan EXCL Pimpin Kejatuhan
| Kamis, 29 Januari 2026 | 08:50 WIB

Sebanyak 43 Saham LQ45 Berdarah-darah, DSSA dan EXCL Pimpin Kejatuhan

Hanya ada dua emiten LQ45 yang mampu menghijau kala efek keputusan MSCI menghantam IHSG: INDF dan MDKA.

Efek Pembekuan MSCI, Investor Disarankan Fokus ke Saham Penyebar Dividen
| Kamis, 29 Januari 2026 | 08:28 WIB

Efek Pembekuan MSCI, Investor Disarankan Fokus ke Saham Penyebar Dividen

Keputusan MSCI bikin Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk dan asing net sell Rp 6,17 triliun sehari.

Menakar Prospek Saham HRTA di Tengah Ambruknya IHSG & Rekor All Time High Harga Emas
| Kamis, 29 Januari 2026 | 08:23 WIB

Menakar Prospek Saham HRTA di Tengah Ambruknya IHSG & Rekor All Time High Harga Emas

Pada 2026 volume penjualan emas HRTA diperkirakan naik menjadi 20,6 ton atau tumbuh 5% secara tahunan.

Tugas 22 Pejabat Baru Bea Cukai di Depan Mata
| Kamis, 29 Januari 2026 | 08:16 WIB

Tugas 22 Pejabat Baru Bea Cukai di Depan Mata

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melantik 22 pejabat baru Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Rabu (28/1)

Chandra Asri Pacific (TPIA) Operasikan Anak Usaha Untuk Layanan Back Office
| Kamis, 29 Januari 2026 | 08:14 WIB

Chandra Asri Pacific (TPIA) Operasikan Anak Usaha Untuk Layanan Back Office

PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) resmi mengoperasikan PT Chandra Asri Sentral Solusi (CASS) sebagai shared service center (SSC).

Pengendali Techno9 Indonesia (NINE) Tuntaskan Penawaran Tender Wajib
| Kamis, 29 Januari 2026 | 08:11 WIB

Pengendali Techno9 Indonesia (NINE) Tuntaskan Penawaran Tender Wajib

PT Techno9 Indonesia Tbk (NINE) resmi mengumumkan hasil akhir dari proses penawaran tender wajib yang dilakukan oleh PT Poh Investments Indonesia.

Sinyal Ketergantungan Pemerintah kepada BI?
| Kamis, 29 Januari 2026 | 08:08 WIB

Sinyal Ketergantungan Pemerintah kepada BI?

Penukaran SBN dinilai membantu fiskal jangka pendek, tetapi berisiko membebani biaya utang          

Investor Asing Borong Jutaan Saham MDKA Saat Emas All Time High, Blackrock Ikut Masuk
| Kamis, 29 Januari 2026 | 08:06 WIB

Investor Asing Borong Jutaan Saham MDKA Saat Emas All Time High, Blackrock Ikut Masuk

Momentum rekor harga emas yang kembali pecah bukan lampu hijau untuk aksi beli MDKA secara membabi buta.

INDEKS BERITA

Terpopuler