Hubungan Indonesia-Singapura dan Tetangga yang Respek
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tensi di kawasan ASEAN menghangat. Dipicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia, kemudian diikuti protes dan penyelidikan dari negeri tetangga, kini Indonesia dan Singapura saling bersahutan. Dalam perkembangan terbaru, Indonesia memutuskan untuk memangkas ekspor gas pipa ke Singapura sebesar 31 billion British thermal units per day (bbtud). Menanggapi langkah itu, Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong menyatakan semua pihak mesti menghormati dan berkomitmen terhadap kontrak komersial yang telah disepakati.
Hubungan Indonesia dan Singapura memasuki fase esensial. Jika tak dikelola dengan baik, situasi kawasan bisa semakin runyam dan berpotensi menekan aktivitas perekonomian kedua negara. Sudah sepatutnya Indonesia dan Singapura kembali duduk bersama, memperkuat diplomasi, bukan justru menyuburkan sentimen nasionalisme sempit. Setiap perbedaan perlu disikapi secara jernih, dengan mengedepankan kepentingan jangka panjang ketimbang reaksi sesaat.
Hubungan bilateral memang tidak selalu berjalan mulus. Perbedaan pandangan mengenai berbagai isu, mulai dari kedaulatan, keamanan, hingga kerja sama ekonomi, merupakan bagian dari dinamika hubungan antarnegara. Namun, persoalan akan menjadi lebih rumit ketika komunikasi diplomatik tersisih oleh pernyataan keras, saling curiga, atau tekanan opini publik.
Indonesia dan Singapura memiliki banyak kepentingan bersama. Singapura merupakan salah satu mitra penting Indonesia dalam perdagangan dan investasi. Sebaliknya, Indonesia memiliki posisi strategis bagi stabilitas kawasan, rantai pasok, ketahanan pangan dan energi, serta prospek pertumbuhan ekonomi Asia Tenggara. Hubungan yang memburuk berisiko menimbulkan biaya ekonomi dan mengurangi kepercayaan pelaku usaha.
Diplomasi juga tidak boleh berhenti pada pertemuan pejabat tinggi. Saluran komunikasi antarkementerian, forum bisnis, pertukaran akademisi, hingga hubungan antarmasyarakat perlu terus dijaga. Semakin banyak ruang komunikasi yang terbuka, semakin besar peluang mencegah kesalahpahaman. Di sisi lain, pemerintah harus menyampaikan perkembangan persoalan secara transparan dan proporsional kepada publik.
Hanya saja, menjaga hubungan baik bukan berarti mengalah atau mengabaikan kepentingan nasional. Kita harus saling respek. Seperti pesan tokoh AS, Benjamin Franklin: Cintai tetanggamu, tetapi jangan merobohkan pagar tanamanmu.
