IHSG Fluktuatif, Saatnya Beralih ke Saham-Saham Pemberi Dividen

Kamis, 09 April 2020 | 07:35 WIB
IHSG Fluktuatif, Saatnya Beralih ke Saham-Saham Pemberi Dividen
[ILUSTRASI. Karyawan melintas di depan papan pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia Jakarta, Senin (6/4). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan kenaikan yang terjadi sejak akhir pekan lalu. Senin (6/4), IHSG menguat lagi dan merupakan kenaikan dalam tiga h]
Reporter: Narita Indrastiti | Editor: Narita Indrastiti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Wabah virus corona masih menghantui pasar keuangan dunia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun sudah turun cukup dalam sepanjang tahun ini, mencapai 26,56%. Karena itulah, ketimbang hanya memburu capital gain di tengah pasar yang volatile, Anda bisa mulai mencari untung dari saham-saham yang konsisten memberikan dividen. 

Dalam riset yang ditulis analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Handiman Soetoyo dan Kevin Suryajaya, Rabu (8/4), investasi dividen biasanya merupakan strategi investasi yang lambat namun stabil. Mungkin butuh waktu lima tahun atau lebih untuk menghasilkan return yang diinginkan.

Baca Juga: Proyeksi IHSG: Dijegal Aksi Jual Asing  

Namun kabar baiknya, harga saham belakangan ini anjlok cukup dalam. Sehingga, bisa meningkatkan imbal hasil dan berpotensi memperpendek periode pengembalian investasi (payback period).

Dalam pemilihan saham pemberi dividen, Mirae menyarankan untuk memperhatikan saham-saham yang tak hanya konsisten memberikan dividen, namun juga konsisten mencetak profit. 

Jumlah dividen biasanya bervariasi dan tergantung dengan kinerja perusahaan. Ada perusahaan yang sedang tumbuh, ada juga yang pertumbuhan kinerjanya sangat bergantung dengan suatu siklus seperti harga komoditas ataupun pola konsumsi.

Ada pula perusahaan yang menawarkan dividen tinggi, namun tak menunjukkan pertumbuhan selama bertahun-tahun. Di sinilah investor harus cermat. 

Baca Juga: IHSG anjlok 26,56% dari awal tahun, ini rekomendasi analis untuk saham-saham big cap

Selain memperhatikan kinerja, dividen juga bisa diinvestasikan kembali agar hasil investasi lebih optimal. "Selain itu, sebaiknya portofolio saham dividen terdiri dari berbagai industri. Ketidakpastian selalu ada, maka, sebaiknya tetap diversifikasi," tulis riset tersebut. 

Biasanya, perusahaan BUMN cenderung lebih konsisten dalam kebijakan pembayaran dividen. Kecuali, perusahaan BUMN yang kerap merugi seperti GIAA, KRAS, NIKL, dan INAF. Namun, yield dividen perusahaan BUMN tak terlalu istimewa. Rata-rata yield dividen BUMN di tahun lalu hanya sebesar 2,8%. PTBA dan BJTM menjadi perusahaan BUMN yang memberi imbal hasil dividen terbesar, yakni sebesar  8,2% dan 6,6%. 

Lalu berdasarkan sektornya, sektor perbankan memiliki tingkat pembayaran dividen yang lebih tinggi ketimbang sektor lainnya. Selain itu, pendapatannya biasanya konsisten, sehingga ada peluang tingkat dividen bisa lebih tinggi dari waktu ke waktu. 

Namun, perlu diperhatikan, risiko bisnis perbankan ialah likuditas dan tingkat kredit macet alias non performing loan (NPL). Wabah covid-10 ini diperkirakan bakal mempengaruhi NPL bank. 

Perusahaan BUMN yang merupakan lembaga pemerintah juga biasanya dibayangi risiko intervensi yang dapat mempengaruhi perusahaan. Misalnya, harga gas industri yang dialami PGAS, suku bunga KUR di BBRI, dan diskon tarif tol yang dialami JSMR. 

Baca Juga: Moody's memangkas outlook Jasa Marga (JSMR) dari stabil menjadi negatif

Rekomendasi saham

Sebenarnya, mudah saja jika ingin melihat saham-saham pemberi dividen yang tinggi. IDX high dividend 20 merupakan indeks konstituen yang terdiri dari 20 saham pembayar dividen dengan yield dividen tertinggi.

Namun dari penilaian Mirae, imbal hasil saham-saham ini cenderung moderat, meskipun telah menggelontorkan triliunan rupiah dari hasil laba bersihnya sebagai dividen. 

Ambil contoh, ASII, BBCA, BBNI, CPIN, KLBF dan TOWR, serta HMSP dan UNVR yang memberikan seluruh laba bersihnya untuk dibagi sebagai dividen ke pemegang saham. 

Nah, ada peluang yang lebih menarik ketimbang saham-saham blue chip tersebut. Aksi jual yang terjadi belakangan ini telah menghasilkan peluang langka untuk mendapat yield dividen lebih tinggi. Dari perhitungan kasar Mirae, ada beberapa saham yang berpotensi memberikan yield dividen lebih dari 10%. 

Tentu saja, saham yang dipilih harus bervariasi dari berbagai sektor. Portofolio saham dividen ini juga bisa terdiri dari high-dividend-stocks yang berpotensi memberikan imbal hasil jangka pendek, serta fair-dividend -stocks yang memiliki potensi pertumbuhan di masa depan. Dividen ini bisa diinvestasikan lagi di beberapa saham blue chip yang berpotensi meningkatkan pembayaran dividennya. 

Meski saham perbankan punya yield dividen yang moderat, namun sektor ini adalah cerminan pertumbuhan ekonomi. Sehingga, jika ekonomi kembali naik, saham bank pun bakal kembali mekar.

Mirae pun merekomendasikan saham BBRI, BMRI, dan BBCA. Saham-saham ini akan memberikan yield tinggi dalam jangka panjang, "Kami juga menyukai BJTM," ujarnya. Selain itu, masih di sektor keuangan, saham ADMF yang sedang dalam fase pertumbuhan tinggi, juga bisa dipilih. ADMF juga memiliki kebijakan dividen yang cukup konsisten. 

"Di sektor pertambangan, PTBA dan ITMG juga menjadi favorit kami karena yield dividen yang sangat tinggi," ujarnya. Meski diliputi fluktuasi harga komoditas, emiten ini berhasil memberikan keuntungan dan menawarkan yield dividen yang menarik. Selain itu, HEXA juga menarik perhatian lantaran memberi dividen tinggi yang konsisten.

Baca Juga: Tiga emiten cum dividen hari ini, simak ulasan dua analis ini

Lalu, bisa dilihat pula UNTR yang baru-baru ini ekspansi ke bisnis penambangan emas. Langkah ini berhasil mengimbangi divisi alat berat yang lesu. Di sisi lain, yield dividen PTRO kemungkinan bisa mencapai 14,8% jika mengacu pada pembayaran dividen secara historis, tetapi perlu dilihat lagi konsistensi pembayarannya. Sementara itu, TLKM juga termasuk perusahaan yang konsisten membagi dividen dan memiliki kinerja keuangan yang kuat. 

Di sektor konstruksi, Mirae merekomendasikan perusahaan swasta seperti TOTL karena memiliki neraca keuangan yang sehat dengan yield dividen yang leih tinggi. Selain itu, WSBP juga cukup menarik karena koreksi tajam yang terjadi belakangan ini dapat meningkatkan imbal hasil dividen di atas 10%. 

Baca Juga: Bank Central Asia (BBCA) Akan Umumkan Besaran Dividen

Di sektor konsumsi, ada UNVR, HMSP, GGRM, dan INDF yang selalu konsisten membagikan dividen serta memiliki kinerja yang kuat. 

Sehingga jika dirangkum, pilihan saham dividen yang direkomendasikan Mirae, di antaranya ADMF, BBCA, BBRI, BJTM, BMRI, GGRM, HEXA, HMSP, INDF, ITMG, PTBA, TLKM, TOTL, UNTR, UNVR, dan WSBP. 

Bagikan

Berita Terbaru

A$1,6 Triliun Dana Pensiun Australia Siap Guyur RI, Ini Proyek Incaran!
| Rabu, 04 Februari 2026 | 14:59 WIB

A$1,6 Triliun Dana Pensiun Australia Siap Guyur RI, Ini Proyek Incaran!

Misi bisnis Australia lebih konkret, dengan investor institusi A$ 1,6 triliun mencari peluang di Indonesia. Pahami mengapa mereka tertarik.

Hubungan Dagang Australia–Indonesia Menguat, Investasi Energi Hijau Jadi Fokus
| Rabu, 04 Februari 2026 | 14:41 WIB

Hubungan Dagang Australia–Indonesia Menguat, Investasi Energi Hijau Jadi Fokus

Hubungan ekonomi Indonesia-Australia makin solid. Austrade ungkap potensi investasi di energi hijau, SDM, dan hilirisasi. Cek sektor prioritasnya!

Penjualan BBM dan Lahan JIIPE Melesat, Potensi Dividen dari Saham AKRA Menggoda
| Rabu, 04 Februari 2026 | 09:35 WIB

Penjualan BBM dan Lahan JIIPE Melesat, Potensi Dividen dari Saham AKRA Menggoda

Total penjualan lahan industri PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) sepanjang tahun 2025 tembus 84 hektare (ha).

Batas Atas Investasi Asuransi & Dapen di Saham Naik, Penegak Hukum Harus Paham Pasar
| Rabu, 04 Februari 2026 | 09:05 WIB

Batas Atas Investasi Asuransi & Dapen di Saham Naik, Penegak Hukum Harus Paham Pasar

Investasi dapen dan asuransi bisa menjadi buffer namun mereka harus diberikan kepastian hukum agar tak jadi korban di kemudian hari.

Seminggu Terbang 23%, Saham Samator (AGII) Jadi Primadona di Tengah Pasar yang Labil
| Rabu, 04 Februari 2026 | 08:14 WIB

Seminggu Terbang 23%, Saham Samator (AGII) Jadi Primadona di Tengah Pasar yang Labil

Permintaan gas industri mayoritas datang dari pelanggan tetap dengan kontrak jangka menengah hingga panjang.

Fundamental Kuat, Prospek Phapros (PEHA) Masih Sehat
| Rabu, 04 Februari 2026 | 07:42 WIB

Fundamental Kuat, Prospek Phapros (PEHA) Masih Sehat

Prospek PT Phapros Tbk (PEHA) pada 2026 dinilai semakin membaik seiring perbaikan fundamental kinerja dan fokus bisnis ke produk bermargin tinggi.

MSCI Effect Menghantam Saham Konglomerasi, Duo Indofood ICBP dan INDF Justru Menari
| Rabu, 04 Februari 2026 | 07:39 WIB

MSCI Effect Menghantam Saham Konglomerasi, Duo Indofood ICBP dan INDF Justru Menari

Jauh sebelum badai MSCI menghantam IHSG, saham INDF dan ICBP sejatinya sudah berada di fase bearish.

Sinergi Inti Andalan Prima (INET) Menuntaskan Akuisisi Saham PADA
| Rabu, 04 Februari 2026 | 07:37 WIB

Sinergi Inti Andalan Prima (INET) Menuntaskan Akuisisi Saham PADA

PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) telah membeli sekitar 1,68 juta saham PADA di harga Rp 63 per saham.  

Saham EXCL Paling Banyak Dibeli Investor Asing, Vanguard & Dimensional Tambah Muatan
| Rabu, 04 Februari 2026 | 07:10 WIB

Saham EXCL Paling Banyak Dibeli Investor Asing, Vanguard & Dimensional Tambah Muatan

Investor asing tertarik dengan EXCL seiring potensi perbaikan kinerja setelah proses merger dengan Smartfren Telecom selesai.

Kurs Rupiah Menguat 0,26% Lawan Dolar AS, Ada Apa di Baliknya?
| Rabu, 04 Februari 2026 | 06:45 WIB

Kurs Rupiah Menguat 0,26% Lawan Dolar AS, Ada Apa di Baliknya?

Penguatan rupiah didorong oleh membaiknya sentimen risiko (risk-on) di pasar global akibat berita kesepakatan tarif antara AS dengan India.

INDEKS BERITA

Terpopuler